Saya jadi inget ketika Umar Bin Khatab sedang membaca injil, Rosullulah
SAW memerintahkan untuk membuang/melempar Injil itu...

 

Jika orang sekualitas Umar, yang notabene kelurusan akhidah dan
ketinggian ilmunya tidak diragukan, bahkan mungkin orang terbaik ketiga
setelah Rosul & Abubakar, tidak diijinkan oleh Rosullulah untuk membaca
Injil, lantas bagimana dengan kita? Jika kita tinggal di sebelah gereja,
bukan hanya membaca malah kita tiap hari dibacakan injil jadi kita
tinggal dengerin...

 

Saya sendiri sekitar 6-7 tahun yang lalu pernah tinggal di depan rumah
pak Sinaga RT 2,  yang pada hari2 tertentu mengadakan kebaktian (
kutbah, pembacaan Injil & nyanyian.)..anak kamipun yang saat itu baru
berusia  2 tahunan biasa bermain di pak rumah Sinaga..waktu itu kamipun
terbahak-bahak ketika melihat kelucuan anak  kami yang belajar bicara,
saat  menirukan nyanyian " Halleluya... halelluya.." Namun apakah bener2
lucu....??

 

Rasanya masih lucu dan menenteramkan ketika melihat anak kedua kami yang
saat ini berusia 2 tahun, menirukan lagi dari CD  " Nabi Nuh..nabi
Alloh.. ratusan tahun usianya.. berdakwah tak  kenal lelah walau sedikit
pengikutnya...."  atau ketika membacakan do'a sebelum tidur yang tidak
bisa membedakan antara "ahya" dan "ayah...

 

Untuk sepeker, jika andaikata ada pendapat yang menyatakan bid'ah
misalnya, saya kok masih suka mendengarkan"kebid'ahan" pak Haji yang
teriak2 mengingatkan kita untuk sholat berjamaah, atau pembacaan tafsir
Ibnu Katsir  dari al Ikhlas.  Atau pujian shalawat Nariah dari speaker
Ar royyan, yang jika dilantunkan dengan lembut sesaat sebelum cahaya,
bisa melelehkan airmata kita tanpa kita sadari,,  dibandingkan dengan
mendengarkan suara puji-pujian..halleluya...., 

 

Benar  & salah.

 

Sering kali kita berbeda pendat ketika dihadapkan kepada suata fakta.
Perbedaan hal-hal mendasar sering disebabkan karena perbedaan standar
nilai yang kita pakai. Kita hidup di jaman  global ini, banyak sekali
ideology berikut system  nilainya yang saling berebut pengaruh. Kita
umut muslim sudah sepatutnya menjadikan nilai islam ( syara'), sebagai
landasan bertindak kita kita, sebagai qiyadah fikriyah kita.  Ibarat
alat ukur kita harus samakan standarnya. Kita nggak bisa ribut karena
perbedaan data suhu ruang misalnya hanya karena yang satu memakai
thermometer Celcius, yang satu lagi Fahrenheit. 

 

Sebagai ilustrasi, kasus AA Gym, yang menurut saya menderita "sangsi
social" yang luarbiasa hinga bisnisnya hancur, pondoknya sepi, cekal di
TV dlll hanya karena beliau Poligami.

Poligami jika kita ukur dengan nilai nilai barat, adalah perbuatan
Kriminal." it's crime" kata temen saya Marieke Lock dari Belanda,  yang
pelakunya bisa di penjara. Jika kita ukur dengan nilai Pak Harto,
berarte melanggar PP 10 yang bisa dicopot jabatanya.  Nilai di sebagian
masyarakat jawa sendiri menganggap pelaku poligami disebut sebagai orang
yang "cluthak".

Nah bagaimana dengan Islam sendiri..?? Apakah  Rosullulah dan para
sahabat adalah pelaku criminal? Apakah  beliau -beliau orang yang
serakah? Bagimana pendapat kita terhadap poligami tersebut.?

 

Silahkan meng-kalibrasi nilai diri kita masing!

 

 

Ini pendapat pribadi saya mohon maaf jika kurang berkenan... lanjut..!

 

Wassalam, sodikin

 

________________________________

From: jaerony [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, April 10, 2008 5:17 PM
To: [email protected]; 'AL Ikhlash'
Subject: Rumah Dekat Gereja

 

Asslmkm.Wr.Wb.

Sekedar sharing dari milis sebelah dan tidak bermaksud membenarkan atau
menyalahkan  ....

Silakan berdiskusi, karena "menunjukkan kekuatan" juga kadang menjadi
hal yang penting asal bukan berbentuk kesombongan komunitas.

 

Wass / Jaerony.-

 

 

*****************************************

 

Original Message: Abu Farhan <mailto:[EMAIL PROTECTED]>  

To: [EMAIL PROTECTED] 

 

Wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,

(1) Saya bertetangga dengan gereja Protestan sudah 19 tahun; bahkan kami
berada di RT yang sama. Hampir separuh panjang tembok pagar rumah saya
menempel pada tembok bangunan gereja, tetapi saling membelakangi. Umat
Nashara merupakan seperempat jumlah warga RW kami karena perumahan kami
memang semula ditujukan untuk umat yang memanfaatkan gereja tersebut.
Kegiatan gereja tersebut bukan hanya untuk kebaktian pada hari Sabtu dan
Ahad, melainkan hampir setiap hari dan setiap malam, terutama untuk
latihan menyanyi. Bahkan mereka meramaikan gereja pada hari-hari besar
umat Islam dan umat lain; tanpa bertenggang rasa. Kita memahami bahwa
menyanyi itu bagian dari peribadatan mereka. Persiapan peringatan
hari-hari besar mereka memakan waktu berhari-hari. Puncak acara sangat
meriah dan bising dan itu terjadi sepanjang hari/malam. Jangankan
nyanyian, mengobrol pun terdengar jelas dari rumah saya. Dengan berbagai
pertimbangan, kami tidak pindah rumah. Oleh karena itu, tidak ada cara
lain, kecuali berdamai dengan keadaan. Kami seisi rumah telah terbiasa
(maksud saya, tidak terlalu merasa terganggu) dengan kebisingan,
termasuk nyanyian sepanjang hari/malam.


(2) Saya membenarkan saran saudara-saudara saya agar Saudaraku Faruq
pindah apabila memungkinkan. Apabila sekarang mengontrak rumah, pindah
bukanlah masalah. Namun apabila rumah sekarang ini milik sendiri dan
bermaksud pindah, tentu perlu banyak pertimbangan. Disadari bahwa
memilih tempat tinggal bukanlah hal mudah. Memilih rumah di dekat masjid
dan di lingkungan muslim juga bukan menjamin ketenangan keluarga.
Sebagai contoh, apabila tinggal di sebelah masjid yang tidak bermanhaj
salaf, pengeras suara boleh jadi dipakai secara berlebihan untuk hal-hal
yang tidak mengikuti teladan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam,
misalnya membaca tahlil dan surat Yasin setiap malam Jum'at dan ketika
ada orang meninggal dunia, muratal dan shalawat menjelang setiap shalat
fadhu, tarhim menjelang shalat Subuh, panggilan membangunkan sahur
selama bulan Ramadhan, dan masih banyak lagi. Apakah kita tidak
terganggu? 


(3) Apabila Anda memutuskan tetap tinggal di rumah yang sekarang, tidak
ada cara lain, kecuali berdamai dengan keadaan. Anda mau tidak mau harus
memperkuat keislaman keluarga Anda untuk menetralisasi pengaruh buruk.
Nyanyian gereja memang dapat menimbulkan kekacauan pikir pada anak-anak
yang boleh jadi memuji-muji nyanyian mereka. Apalagi seandainya
anak-anak sampai mengikuti/meniru lagu beserta syair yang mereka
nyanyikan. Pengalaman dari saudara-saudara kita
perlu direnungkan.


(4) Tampaknya muluk untuk berpikiran bahwa kita mampu menyebarkan Islam
kepada umat lain. Keyakinan setiap orang tidak mudah berubah, kecuali
apabila Allah subhanahu wa ta'ala memberi petunjuk. Bagaimana pun perlu
memperlihatkan kepada mereka bagaimana akhlak mulia yang diajarkan oleh
Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Biarlah mereka sendiri yang
menilai bagaimana ajaran Islam dan perilaku muslim. 

 

(5) Pengurus gereja juga tahu bahwa saya pengurus masjid karena mereka
juga warga RW kami dan bahkan pendeta pun disediakan rumah di RW kami.
Pengurus masjid kami mendorong jama'ah masjid kami untuk membeli
rumah-rumah di sekitar masjid sehingga semakin banyak muslim yang
bertempat tinggal di sekitar masjid. Kami baru pada taraf menggagas
pengumpulan dana waqaf perluasan masjid untuk membeli rumah seorang
Nashara di samping masjid. Rumah di depan masjid juga dimiliki oleh
orang Nashara.


(6) Secara singkat, saran saya tidak muluk, yakni : 

(a) berdamai dengan keadaan yang tidak sebagaimana diharapkan; 

(b) perkuat keislaman diri dan keluarga; 

(c) berupaya berbudi pekerti luhur; dan 

(d) berupaya sedapat-dapatnya memperbaiki lingkungan menjadi lebih
islami demi memelihara keislaman keluarga kita dan demi kemudahan ibadah
kita.

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberi kekuatan dan kemudahan kepada
Anda sekeluarga.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Abu Farhan

 


> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Faruq <[EMAIL PROTECTED]>
> Kepada: [EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
 
> Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh,
 
> Mohon nasehat manakala rumah kita berada di dekat gereja, jaraknya
sekitar 3 rumah. Dimana seringkali terdengar nyanyian-nyanyian dari
gereja. Bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan kita dan bagi
perkembangan anak-anak kita?

> Jazakumullah
> Faruq

__,_._,___ 

Kirim email ke