Oleh Amanda
sumber: eramuslim.com
" Ya Alloh hidupkanlah aku dalam keadaan miskin dan matikan aku
dalam keadaan miskin dan dipadang mahsyar kumpulkanlah aku
bersama orang-orang miskin....!" Sepenggal do'a dari nabi besar
Muhammad S.A.W.
Saya yakin, sebagian besar dari kita enggan untuk membaca do'a
ini. bahkan mungkin kita membaca do'a agar dipermudah urusan dan
dipermurah rezeki. Pernahkan kita berkaca dan membayangjkan
menjadi miskin itu adalah kenikmatan duniawi dan kemanisan iman
yang sesungguhnya.
Berapa banyak dari kita yang mengeluh gaji kecil, potongan ini
itu dari kantor yang membuat take home pay yang kita terima hanya
sedikit. Berapa banyak dari kita terutama kaum hawa yang iri
melihat harta tetangga rumah atau tetangga kantor dan
menghalalkan seagala cara untuk memperolehnya.
Pernah kita berpikir atau membayangkan bagaimana rasanya tidur
dikolong jembatan, mandi dengan air sungai jakarta yang terkenal
keruh dan sumber penyakit. Apakah mereka menginginkan makan di
fastfood yang hanya harga saja mahal, padahal jika kita membuat
sendiri jauh lebih enak? Dengan alasan, beda??
Apakah mereka menginginkan AC, TV Flat plus DVD, mobil mewah yang
pajak tahunannya melambung tinggi belum bensin bahkan rumah besar
yang perawatan mahal. Berapa banyak kita buang waktu hanya untuk
memperoleh dan mengurusi harta yang tidak dibawa mati. Berapa
banyak waktu yang hilang karena kita lebih mencintai harta
daripada iman yang lama-lama terkikis habis, hanya timbul setahun
sekali saja yaitu pada Ramadhon?
Kita sekolah tinggi hanya demi gengsi dan gelar, sedang mereka
untuk sekolah gratis saja sulit sekali. Berapa banyak ibu
melahirkan yang meninggal karena tidak sanggup ke rumah bersalin.
Berapa banyak batita dan balita yang terkena gizi buruk sedang
kita enak mengunyah burger yang harganya puluhan ribu rupiah.
Pernah membayangkan nikmat dan bahagia hidup susah? Selam ini
kita diiming-imingi oleh sinetron tentang enaknya hidup dalam
kemewahan. Dalam hidup susah, kita lebih dekat kepada Alloh dan
juga kepada manusia, kita lebih memahami perasaan orang, jauh
dari sifat egois, sombong apalagi takabur.
Dengan hidup susah, kita tidak perlu "ngoyo" mencari harta
apalagi harus merawat harta tersebut. Sedang di akhirat nanti
harta yang tidak ditunaikan kewajibannya hanya akan menjadi
penghalang hisab kita, belum lagi harta yang ditunaikan secara
haram maka hanya akan menyengsarakan kita beribu tahun lama nya
dibanding dengan tahun dunia yang hanya hitungan detik.
Masih ada waktu, minimal kita jangan bersedih atas kekurangan
harta. Jadikan pelajaran ini adalah awal untuk tidak mencintai
dunia dan siap hidup susah dengan segala jaminan yang dijanjikan
oleh Alloh SWT.
Jangan tumbuhkan sikap iri atas kelebihan karuni/ rezeki yang
Alloh berikan untuk orang lain. Alloh jauh lebih mengetahui apa
yang hambanya butuhkan. Bersyukurlah atas apa yang tidak Alloh
beri untuk kita.
Janganlah dunia menipumu. Hanya mereka yang tertipu yang
menjadikan dunia sebagai tujuan. Sedangkan orang yang beriman
secara benar, hanya mencintai kampung akherat.
Ya Alloh yang membolak balikan hati manusia, tetapkanlah hati
kami atas keimanan kepada-Mu. Amin
Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu. Dan Sesungguhnya
Yang Demikian itu Sungguh Berat, Kecuali Bagi Orang-Orang yang
Khusyu [ Al Baqarah : 45 ]
**YATHIE**
__,_._,___
-- A. Yahya Sjarifuddin
http://www.eramuslim.com/atk/oim/8402130056-hidup-susah...mau.htm
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR.
Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam
gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang
disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)