Menuju Jama’atul Muslimin
Fenomena as-Sahwah al-Islamiah (Kebangkitan Islam) di era abad 15 adalah
sebuah bukti tentang pekabaran Rosulullah tentang umur ummat Islam. Jika
benar apa yang dikatakan oleh hadits tersebut bahwa umur ummat Islam adalah
umur Yahudi ditambah umur Nasrani, dimana para ulama berpendapat bahwa umur
Yahudi adalah 1000 tahun (sampai Isa as datang membawa risalah Nasrani) dan
umur agama Nasrani adalah 500 tahun (sampai Muhammad saw datang membawa
risalah Islam) atau sama dengan 1500 tahun = 15 Abad.
Maka diawal abad 15 ini telah bermunculanlah berbagai jama’atul minal
muslimin diberbagai belahan dunia seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir oleh
Hassan Al-Banna. Kebangkitan ini juga berlaku di Pakistan oleh Imam
al-Maudoodi. Kemudian banyak pula bermunculan jama’ah – jama’ah minal
muslimin yang lain seperti Salafi di Saudi Arabia (walau tak mau disebut
suatu organisasi) oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, Hisbut Tahrir di Palestina
oleh Taqiyudin An Nabahani, Jama’ah Tabligh oleh Maulana Ilyas Al-Kandahlawi
dengan kekhasannya masing – masing. Dimana jama’ah itu kemudian bergerak
keseluruh pelosok dunia.
Kekhasan yang membedakan diantara jama’ah itu adalah dikarenakan prioritas
pembaruan yang paling urgent yang terjadi di daerah dimana pendirinya
tinggal yang berkaitan dengan siyasatu dakwah dan kapasitas masing – masing
pendirinya. Sayangnya diantara mereka saat ini saling mencaci, menyesatkan,
membid’ahkan mengunting dalam lipatan tanpa mau duduk satu meja untuk
mencari kebenaran Islam yang sebenarnya.
Pada Muktamar Jamaah Ikhwanul Muslimin yang dikenali sebagai Muktamar
Khamis, Hassan Al-Banna memberikan nasehat bahwa cirri - ciri Jamaah Islam
(yang insyaAllah adalah Jama’atul Muslimin, bukan jama’atul minal muslimin)
yaitu:
1► Jamaah yang mendukung da'wah Salafiyah
Jamaah yang menyeru masyarakat kembali pada sumber asal Islam, al-Quran dan
as-Sunnah dan kefahaman serta kesungguhan kaum Salaf (generasi awal Islam).
2► Jamaah yang mengamalkan jalan Sunniah
Jamaah yang mewajibkan pelaksanaan Sunnah dalam semua aspek kehidupan
terutama dalam hal berkaitan aqidah dan ibadah.
3► Jamaah yang mengamalkan Hakikat Ruhiyah
Jamaah yang benar ialah memberi penumpuan kuat pada program latihan
peningkatan ruhiyah.
4► Jamaah Politik
Jamaah yang terjun dalam urusan politik kaumnya, jamaah yang terlibat secara
langsung dalam proses politik Negara.
5► Jamaah Riyadah
Jamaah yang juga memberi perhatian pada aspek kesehatan, membangun jatidiri
dan pembangunan jasad dengan berolahraga dan pola hidup sehat.
6► Jama'ah Ilmiah dan Budaya
Jamaah yang benar juga meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan (baik agama
dan duniawi) serta membina budaya dan adab.
7► Jama'ah Persyarikatan Iqtisadiah/Ekonomi
Jamaah yang terlibat dalam kegiatan ekonomi negara baik dari sudut mikro dan
makro.
8► Jamaah Ijtima'iyah
Jamaah yang merupakan tubuh umat, jamaah ini mendapat tempat pada basis
massa diantara manusia di dunia
Itulah garis panduan yang disarankan oleh Hassan Al-Banna.
Andaikata (walau Allah melarang berandai – andai) semua jama’atul minal
muslimin itu bersatu, duduk semeja saling memberi nasehat dan melakukan
perbaikan pada organisasinya atas hasil kritikan jama’ah yang lain maka
insyaAllah ummat akan bersatu. Ataukah Sunatullah bahwa jama’ah – jama’ah
ini akan seperti ini sampai Imam Mahdi datang untuk mempersatukan dan
menjelaskan kekurangannya masing – masing sehingga terbentuk jama’atul
muslimin untuk memerangi Yahudi dan memberikan rahmat bagi semesta alam
dengan keberagaman ideology/agama? Wallahu ‘alam.
http://agussur.multiply.com/journal/item/26
Harokah Islamiyah Menuju Jama’atul Muslimin
Potret Umat Saat Ini
Melihat wajah umat di Indonesia saat ini bisa di bilang coreng-moreng,
carut-marut. Banyak sekali kejadian-kejadian yang cukup membuat ngeri hati
kita saat melihatnya. Korupsi yang meraja lela, kemaksiatan yang terus
menjamur, seakan-akan tidak mau lepas dari umat ini. Belum lagi bencana alam
yang silih berganti menimpa saudara-saudara kita di di bergagai daerah. Dan
yang tak kalah sakitnya bagi umat ini adalah peristiwa Bom yang sering
terjadi.
Mungkin yang paling membuat umat Islam terpukul adalah kembali terjadi
konflik yang terjadi di Poso. Banyak aktivis-aktivis Islam menjadi target
intelijen dan dicurigai sebagai otak dari kerusuhan serta sumber dari
terorisme. Islam dalam keterpurukan fitnah kaum kafir. Apakah semua cobaan
ini bukti murka Allah ? Dan yang menjadi PR bagi umat ini adalah bagaimana
dengan harokah islamiyah menuju jama’atul muslimin dapat terwujud, sehingga
Allah senantiasa memberikan keberkahan, sesuai dengan janji-Nya dalam Surat
Al-A’Raaf ayat 96 :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah
Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi
mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya”
Memupuk semangat harokah islamiyah
Kondisi yang telah terjadi seperti yang telah dibahas di atas tentunya tidak
membuat pesimis atau istilahnya layu sebelum berkembang bagi aktivis-aktivis
dakwah. Ini merupakan cobaan-cobaan yang diberikan oleh Allah bagi umatnya
seperti yang terjadi juga terhadap pendahulu-pendahulu kita, seperti yang
diceritakan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 214 :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?
Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan
bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang
beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah,
sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat“
Demikian juga yang dialami oleh nabi kita Muhammad SAW, begitu berat cobaan
yang beliau alami untuk menegakkan Islam di muka bumi. Hal inilah yang
seharusnya selalu menjadi motivasi kita untuk senantiasa menegakkan Islam
Ada satu hadist yang hendaknya dapat memacu adrenalin, memacu semangat kita
untuk mewujudkan masyarakat yang di dalamnya penuh dengan nilai-nilai Islam,
hadist tersebut juga sering disebut oleh para ulama sebagai babul umara atau
hadist mengenai para pemimpin. Yang dalam dalam hadist ini Nabi Muhammad SAW
memberikan ringkasan sejarah perjalan panjang umat Islam dari awal sampai
akhir nanti, dikatakan bahwa umat Islam dalam perjalan sejarahnya akan
menempuh 5 periode. Periode yang pertama adalah Nubuwah atau periode
kenabian, periode ini Rasulullah hidup bersama umatnya kaum muslimin.
Periode yang kedua adalah khilafah ‘ala minhaj nubuwah atau periode
kekhalifahan yang mengikuti cara-cara kenabian yang disebut juga peride
khulafaur rasidin, periode yang ditandai dengan munculnya sosok
khalifah-khalifah yang jujur, yang adil, yang benar, yang diwakili oleh 4
orang sahabat utama nabi yang langsung mendapat didikan oleh nabi Muhammad
SAW, yaitu Abu Bakar As-Shidiq, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan dan Ali
Bin Abi Thalib. Keempat Khalifah ini memimpin kekhalifahan yang masih
mengikuti cara kenabian. Periode ketiga adalah Mulkan ‘adhon atau raja-raja
yang menggigit, periode ini adalah periode para khalifah-khalifah, amirul
mukminin pemimpin orang-orang beriman yang sebutan mereka tetap khalifah,
tetap berpegang pada Al-Quran dan Sunnah, namun pola yang digunakan dalam
masa itu menggunakan pola kerajaan, sehingga pada waktu itu bermunculan
kerajaan-kerajaan Islam, yang secara garis besar ada 3 kerajaan besar yaitu
Daulah Bani Umayah, Daulah Bani Abasiyah dan yang terakhir adalah Daulah
bani Ustaminyah (kesultanan Ustmani Turki). Kenapa disebut jaman raja-raja
menggigit, karena model pergantian kepemimpinannya menggunakan pola
keturunan raja yang digantikannya atau bisa disebut pola kekeluargaan.
Periode yang keempat adalah mulkan jabariyah atau periode penguasa-penguasa
yang diktator. Menurut para ulama sekarang ini merupakan masa atau berada
pada periode keempat. Dimana pada masa ini para pemimpin atau penguasa sudah
tidak lagi menggunakan Al-Quran dan Sunnah sebagai sumber dari segenap
sumber kehidupan baik individual maupun sosial. Dan berlangsungnya periode
ini tidak dapat dipastikan sampai kapan, Wallahu A’lam bi shawab. Periode
yang terakhir atau kelima adalah kekhalifahan yang mengikuti cara kenabian,
bedanya dengan periode yang kedua adalah para khalifahnya pernah didik
langsung oleh nabi, sedang pada periode kelima tidak. Mengenai kapan
berlangsungnya periode itu tidak ada yang tau selain Allah.
Merujuk hadist nabi tersebut kita hendaknya dapat terus-menerus memupuk
benih-benih harokah islamiyah atau semangat untuk menegakkan Islam di muka
bumi ini untuk mempersiapkan datangnya periode kelima, yang sudah barang
tentu harus didukung dengan kerangka struktural yang kokoh. Meskipun banyak
dari kalangan kita sendiri yang acuh terhadap apa yang disampaikan nabi
dalam hadistnya tersebut, padahal pihak asing sudah mempersiapkan berbagai
cara untuk menggagalkan periode tersebut sesuai dengan perkiraan mereka
bahwa pada tahun sekitar 2020 kejayaan Islam akan terwujud (hasil seminar
National Intelligence Council). Ini juga menguatkan juga sebuah telahan
kritis seorang ulama yang menulis buku Kehancuran Israel di Tahun 2022 serta
buku Yusuf Qordhawi yang berjudul Berita Kemenangan Islam. Tentunya banyak
yang harus kita lakukan, kita perbaiki, kita perbarui. Menurut Muhammad
Thalib (wakil Amir Majelis Mujahidin) ada beberapa cara yang harus dilakukan
untuk memperkuat qiyadah (kepimimpinan) yang Islami yang merupakan pilar
utama dalam mewujudkan jama’atul muslimin (masyarakat Islam yang bernaung
dalam satu kepemimpinan Islam). Adapun yang harus dilakukan adalah:
1. mengurangi kecintaan terhadap dunia dan memperkuat kecintaan terhadap
akhirat,
2. mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil (tidak mencampur yang
haq dengan yang bathil)
3. memperbarui keimanan seperti hadist rasulullah “perbaruilah iman kalian
dengan la ilaha illallah”
4. kembali pada Al-Quran dan Sunnah
Yang menjadi pertanyaan besar buat kita semua adalah “Sudahkah kita dalam
suatu jama’ah yang siap untuk mewujudkan Jama’atul Muslimin?”
http://muantep.wordpress.com/2007/07/16/10/
PROBLEMA STRUKTURAL DALAM KEBANGKITAN ISLAM
Tetapi, mungkinkah kejayaan dan peradaban Islam akan tampil
jika tidak didukung oleh kerangka struktur yang kokoh?
Tidak pernah ada peradaban yang berkembang tanpa dukungan struktural
yang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk
berkembang. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran; kedua, fase
strukturalisasi; dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi
besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah Komunisme, Kapitalisme
Barat, dan tak boleh dilupakan: Zionisme Internasional.
Jika kebangunan (peradaban) Islam modern telah dimulai secara
individu oleh para tokoh dan pemikir seperti Sayyid Jamaluddin al-Afghani,
Dr. Muh. Iqbal, Muh. Abduh, Muh. Rasyid Ridla, dan seterusnya, maka
rintisan pemikiran yang bersifat individual itu disambut secara lebih ter-
tata, diantaranya dua tokoh pemuka da'wah yang tidak bisa dilupakan
jika berbicara tentang kebangkitan Islam, yaitu Abul A'la Maududi dengan
Jama'at Islaminya, dan asy-Syahid Hasan al Banna dengan Ikhwanul
Musliminnya.
Dua pemuka inilah yang meletakkan dasar-dasar struktural gerakan kebangkitan
Islam. Keduanya memiliki gagasan dasar yang sama. Bahwa kejayaan Islam dan
mengembalikan Kekhilafahan Islam harus dimulai dari bawah, artinya persoalan
aqidah yang kokoh, pemahaman syariah yang menyeluruh, dan pembenahan akhlaq
yang benar. Pembenahannya harus dimulai dari tingkat individu, keluarga,
masyarakat, negeri, dan barulah khilafah Islamiyah. Kedua tokoh itu pun
punya
perbedaan sedikit. Maududi dengan Jama'at Islaminya banyak menunjukkan
figurisme Maududi dan lemah dalam kaderisasi. Maududi lebih banyak
berceramah
dan menulis buku daripada 'mencetak' kader. Begitu pula pergerakannya yang
terbatas di anak benua India-Pakistan. Sedangkan pada Ikhwanul Muslimin,
meski asy-Sahid Hassan al Banna adalah tokok utama, tetapi tidak menyebabkan
munculnya figurisme. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak berkurang dengan
meninggalnya Hassan al-Banna. Pergerakannya meluas ke hampir seluruh dunia.
Sekurang-kurangnya pengaruh pemikirannya. Beliau lebih 'mencetak' orang
daripada menulis buku. Dari para muridnya, muncullah pemikiran-pemikiran
yang luar biasa. Bisa diambil contoh, Sayyid Quthb, Muhammad Quthb, Hassan
al-Hudaibi, Umar Tilmisani, Dr. Yusuf Qordhowi, Musthafa Masyhur, Dr. Ali
Juraishah, Syeikh Ahmad Qaththan, Dr. Musthafa as-Siba'io, dan lain-
lainnya. Hassan al Banna dalam usianya yang pendek yaitu 43 tahun, memang
terlalu singkat untuk sampai pada figurisme. Beliau seolah-olah hidup dan
dilahirkan di bumi ini untuk memulai dan meletakkan dasar-dasar pergerakan
dan da'wah Islam yang asli yang telah hilang di kalangan kaum Muslimin
pada abad modern. Metode pergerakannya terus dikembangkan oleh para
muridnya tanpa rasa khawatir akan kehilangan originalitas itu sendiri.
Sementara itu, gelombang kebangkitan Islam terus bergerak
dengan tantangan-tantangan yang semakin berat. Fenomena kebangkitan
Islam muncul di seluruh dunia. Palestina, tanah waqaf Islam, dari
sanalah semangat jihad ditiupkan sampai hari kiamat. Tiupan itu
menumbuhkan Gerakan Intifadhah, gerakan yang sulit ditumpas oleh
Israel dibanding perlawanan negara-negara Arab, Islamic Trend Movement
di Tunisia, Front Keselamatan Islam di Aljazair, Ikhwanul Muslimin di
Jordan, dan perjuangan Mujahidin Afghanistan yang berjuang mengusir
tentara Sovyet. Kebangkitan Islam juga diwarnai dengan berbagai pusat-
pusat studi Islam di Barat dan penerbitan buku-buku Islam yang terus
membanjir. Kenyataan ini tentu membangkitkan optimisme, meski tidak
menutup mata terhadap meningkatnya sekularisme dalam berbagai aspek
kehidupan.
Fenomena kebangkitan Islam di Indonesia juga ditandai dengan beberapa
hal yang menarik dikaji. Di kota-kota besar, di kampus-kampus, di sebagian
kelas menengah, mereka mulai 'belajar' Islam. Isu pembangunan yang dimulai
tahun 70-an dan membawa dampak medernisasi dan sekularisme membuat
terjadinya
arus balik pada tahun 80-an. Mungkin ekses pembangunan yang mengandalkan
per-
tumbuhan ekonomi menyebabkan manusia kekeringan spiritual. Ini yang
menyebab-
kan munculnya berbagai kajian tentang Islam dengan berbagai modelnya.
Fenomena
lain sebelum tahun 80-an, jika berbicara tentang Islam dan gerakannya maka
orang akan menoleh ke organisasi-organisasi Islam atau partai politik Islam
seperti PPP, NU, Muhammadiyah, HMI, PII, dan seterusnya. Seolah-olah yang
punya Islam dan dakwahnya hanyalah mereka. Gejala ini mulai mencair
menjelang
tahun 80-an. Memang nasib dakwah Islam tidak bisa diserahkan hanya pada
organisasi atau partai politik Islam. Di sisi lain muncul kenyataan: organi-
sasi-organisasi itu semakin kurang cekatan dalam merespons aspirasi-aspirasi
Islam. Dalam beberapa segi terjadi beberapa 'keletihan' (fatigue) karena
kurangnya terobosan-terobosan pemikiran yang strategis.
Organisasi-organisasi
itu mulai digugat oleh sebagian pendukungnya karena semakin kabur dalam
menentukan tujuan akhir yang hendak dicapai. Bahkan di kalangan kampus,
HMI kurang mendapatkan pasaran bagi mahasiswa yang mau aktif dan mendalami
Islam. Juga tidak menutup mata tentang gerak organisasi-organisasi tersebut
semakin terbatas. Oleh karenanya muncul kesadaran baru bahwa dakwah Islam
bukanlah monopoli ormas dan orpol Islam, tetapi menjadi kewajiban setiap
individu Muslim. Apakah ia bergabung atau tidak dalam organisasi tersebut
sementara dakwah yang dilakukan secara bebas dalam kelompok-kelompok
kecil, yayasan-yayasan terasa lebih lincah. Kritik lain terhadap ormas-orpol
Islam itu antara lain: gaya kerja dan manajemen yang 'agak kebarat-baratan'
yang melonggarkan nilai-nilai agama yang mereka canangkan sendiri sebagai
doktrin. Misalnya, pemahamannya tentang demokrasi yang cenderung liberal.
Gejala ini memunculkan kecendurungan baru, munculnya isu 'jama'ah'.
Terdapat dua kecendurungan yang saling bertentangan. Satu pihak, mereka yang
alergi dengan isu 'jama'ah'. Biasanya mereka yang sudah mapan aktifitas
dalam ormas-ormas Islam, atau karena kepentingan politiknya sehingga
menganggap isu 'jama'ah' itu adalah isu politik. Atau mereka yang sudah
merasa cukup dengan mengartikan bahwa perintah berjama'ah itu sudah
dilaksanakan dengan melalui ormas-ormas itu. Di pihak lain, mereka
menganggap ormas-ormas itu 'bukanlah jama'ah' sebagaimana yang dimaksudkan
oleh Rasulullah saw., baik karena kelakuan, cara berfikir anggota
pendukungnya, ataupun karena mekanisme yang tidak sesuai dengan sunnah
Rasulullah.
Gejala lain adalah munculnya fenomena sempalan. Sebab utamanya
bisa diduga karena tersumbatnya aspirasi utama kaum Muslimin. Aspirasi
utama (mainstream) - karena halangan politis dan birokratis - menyebab-
kan aspirasi-aspirasi murni Islam tidak tertampung sehingga muncullah
gerakan sempalan, baik di bidang ideologi, pemikiran syari'ah, maupun
pola-pola pergerakan.
Melihat kecendurungan di atas, maka harus ada kajian secara
mendalam dan dewasa. Dan, untuk itulah buku ini ("Menuju Jama'atul
Muslimin" ditulis oleh Ustadz Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir, MA)
http://peradabanalternatif.multiply.com/reviews/item/2
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)