Berhemat untuk Sedekah
7 Mei 08 13:20 WIB

Oleh Murni Wijayati

Setelah makan siang di warung dekat pasar, Puji mengajak saya untuk melihat 
baju Roma. Roma merupakan singkatan dari Rombeng Malaysia, istilah untuk 
menyebut Pakaian dan tekstile bekas yang diimpor dari luar negeri.

Tak seperti namanya, Rombeng Malaysia tak hanya barang bekas yang berasal dari 
Malaysia saja. Bisa jadi berasal dari Hongkong, Singapura atau Malaysia, namun 
tetap saja dinamakan Roma alias Rombeng Malaysia. Isinya bermacam-macam 
tekstile seperti baju, handuk, gordyn, sprei, bedcover, kadang ada juga tas, 
yang jelas semuanya bekas dipakai orang lain. Barang-barang yang di negri 
asalnya sudah dibuang oleh pemiliknya, namun di Indonesia masih laku dijual 
dengan harga yang bervariasi tergantung kondisinya.

Dengan perasaan enggan saya turuti permintaannya, sebenarnya saya risih masuk 
ke toko pakaian bekas. Siapa tahu banyak kuman berkeliaran di antara baju-baju 
bekas itu. Mungkin juga ada sedikit perasaan gengsi masuk ke toko rombeng, 
seperti nggak bisa beli baju baru saja. Namanya juga rombeng, meski kualitasnya 
bagus tetap saja barang bekas. Lebih baik beli baju yang baru meski kualitasnya 
tidak lebih baik. Begitu pikir saya saat itu

Suatu malam, Puji cerita tentang Ibu angkatnya sebut saja Bu In. Bu In seorang 
kepala sekolah sebuah SD di Pangkalan Bun. Beliau seorang yang keras dalam 
mendidik anak, namun selalu bersedia membantu kesulitan orang lain, baik 
diminta ataupun tidak. Seringkali Puji diminta menemani ibu angkatnya pergi ke 
Roma dan memilih baju bekas yang masih bagus untuk dibagikan pada saudara dan 
tetangga. Teman-temannya juga sering nitip untuk dibelikan baju Roma. Karena 
seringnya, sampai-sampai para pedagang Roma menjadi hafal, bahkan tiap kali ada 
barang kiriman datang, pedagang roma menelpon bu In. Jadi Bu In bisa milih baju 
yang bagus-bagus duluan.

Penasaran dengan kebiasaan bu In, Puji pun bertanya:

"Bu, kenapa sih suka beli baju Roma, Padahal ibu kan bisa beli baju yang baru?"

"Puji, kita harus budayakan hidup hemat meskipun hanya untuk beli baju. Di satu 
sisi kita bisa berhemat dan disisi lain kita dapat memberi sesuatu kepada orang 
yang membutuhkan. Baju Roma itu kan masih bagus-bagus, setelah dicuci dan 
disetrika masih pantas diberikan ke orang lain."

Ah, jawaban sederhana namun sangat dalam artinya bagi saya. Jawaban yang 
menginspirasi saya untuk meruntuhkan kesombongan karena kegengsian dan 
kerisihan saya terhadap baju Roma. Suatu saat saya harus beli Roma meski hanya 
sekali saja. Bukan baju mungkin (selain risih kayaknya susah cari ukuran yang 
pas), tapi bisa aja gordyn atau selimut. Toh setelah itu bisa dicuci dengan air 
panas atau dilaundry supaya kumannya mati. Sayangnya sampai saat ini keinginan 
itu belum sempat terlaksana karena saya harus pindah dari Pangkalan Bun ke 
Palangkaraya. Tapi setidaknya saya tak lagi memandang sebelah mata pada mereka 
yang membeli baju di Roma, siapa tahu prinsip mereka sama dengan Bu In. Ingin 
berhemat agar bisa bersedekah, wallahu a'lam.

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8506160016-berhemat-sedekah.htm?other

Kirim email ke