Yang penting adalah niat di dalam hati.
Satu hal lagi yang perlu diperhatiakan ketika memberikan barang bekas adalah 
bahwa dalam Al-Qur'an, Allah telah memberikan pernyataan bahwa tidak termasuk 
berbuat baik, sebelum memberikan sesuatu yang masih kita cintai. Apakah pakaian 
tersebut masih kita cintai? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Hanya share saja.

  ----- Original Message ----- 
  From: Agus Rasidi 
  To: MILIS DKM AL IKHLAS ; MILIS AR-ROYYAN 
  Sent: Friday, May 09, 2008 12:46 PM
  Subject: [Ar-Royyan-7668] Berhemat untuk Sedekah


  Berhemat untuk Sedekah
  7 Mei 08 13:20 WIB

  Oleh Murni Wijayati

  Setelah makan siang di warung dekat pasar, Puji mengajak saya untuk melihat 
baju Roma. Roma merupakan singkatan dari Rombeng Malaysia, istilah untuk 
menyebut Pakaian dan tekstile bekas yang diimpor dari luar negeri.

  Tak seperti namanya, Rombeng Malaysia tak hanya barang bekas yang berasal 
dari Malaysia saja. Bisa jadi berasal dari Hongkong, Singapura atau Malaysia, 
namun tetap saja dinamakan Roma alias Rombeng Malaysia. Isinya bermacam-macam 
tekstile seperti baju, handuk, gordyn, sprei, bedcover, kadang ada juga tas, 
yang jelas semuanya bekas dipakai orang lain. Barang-barang yang di negri 
asalnya sudah dibuang oleh pemiliknya, namun di Indonesia masih laku dijual 
dengan harga yang bervariasi tergantung kondisinya.

  Dengan perasaan enggan saya turuti permintaannya, sebenarnya saya risih masuk 
ke toko pakaian bekas. Siapa tahu banyak kuman berkeliaran di antara baju-baju 
bekas itu. Mungkin juga ada sedikit perasaan gengsi masuk ke toko rombeng, 
seperti nggak bisa beli baju baru saja. Namanya juga rombeng, meski kualitasnya 
bagus tetap saja barang bekas. Lebih baik beli baju yang baru meski kualitasnya 
tidak lebih baik. Begitu pikir saya saat itu

  Suatu malam, Puji cerita tentang Ibu angkatnya sebut saja Bu In. Bu In 
seorang kepala sekolah sebuah SD di Pangkalan Bun. Beliau seorang yang keras 
dalam mendidik anak, namun selalu bersedia membantu kesulitan orang lain, baik 
diminta ataupun tidak. Seringkali Puji diminta menemani ibu angkatnya pergi ke 
Roma dan memilih baju bekas yang masih bagus untuk dibagikan pada saudara dan 
tetangga. Teman-temannya juga sering nitip untuk dibelikan baju Roma. Karena 
seringnya, sampai-sampai para pedagang Roma menjadi hafal, bahkan tiap kali ada 
barang kiriman datang, pedagang roma menelpon bu In. Jadi Bu In bisa milih baju 
yang bagus-bagus duluan.

  Penasaran dengan kebiasaan bu In, Puji pun bertanya:

  "Bu, kenapa sih suka beli baju Roma, Padahal ibu kan bisa beli baju yang 
baru?"

  "Puji, kita harus budayakan hidup hemat meskipun hanya untuk beli baju. Di 
satu sisi kita bisa berhemat dan disisi lain kita dapat memberi sesuatu kepada 
orang yang membutuhkan. Baju Roma itu kan masih bagus-bagus, setelah dicuci dan 
disetrika masih pantas diberikan ke orang lain."

  Ah, jawaban sederhana namun sangat dalam artinya bagi saya. Jawaban yang 
menginspirasi saya untuk meruntuhkan kesombongan karena kegengsian dan 
kerisihan saya terhadap baju Roma. Suatu saat saya harus beli Roma meski hanya 
sekali saja. Bukan baju mungkin (selain risih kayaknya susah cari ukuran yang 
pas), tapi bisa aja gordyn atau selimut. Toh setelah itu bisa dicuci dengan air 
panas atau dilaundry supaya kumannya mati. Sayangnya sampai saat ini keinginan 
itu belum sempat terlaksana karena saya harus pindah dari Pangkalan Bun ke 
Palangkaraya. Tapi setidaknya saya tak lagi memandang sebelah mata pada mereka 
yang membeli baju di Roma, siapa tahu prinsip mereka sama dengan Bu In. Ingin 
berhemat agar bisa bersedekah, wallahu a'lam.

  http://www.eramuslim.com/atk/oim/8506160016-berhemat-sedekah.htm?other

Kirim email ke