Keberkahan dan Profesionalisme
19 Mei 08 05:41 WIB

Oleh Sabrul Jamil

Saya pernah berkesempatan mempresentasikan sistem informasi rumah sakit di 
kawasan Ungaran dan Ambarawa. Banyak pengalaman menarik. Namun, bagi saya, yang 
paling meninggalkan kesan adalah salah satu obrolan kami dengan direktur salah 
satu rumah sakit tersebut.

Pak direktur yang dokter tersebut terlihat sangat perhatian terhadap 
pengembangan sumber daya manusia. Salah satu buktinya adalah upaya beliau 
'menyekolahkan' seorang anak buahnya untuk mendalami ilmu rakit merakit 
komputer.

Singkat cerita, anak buah tadi usai mengikuti training yang biayanya beliau 
sebutkan jutaan rupiah tersebut. Apa yang terjadi kemudian?

Ternyata, setelah itu, komputer-komputer yang jumlahnya tidak banyak di rumah 
sakit tersebut jadi lebih sering bermasalah. Ada saja komponen yang harus 
diganti. Di sisi lain, anak buah tadi juga membuka bisnis jual beli komputer, 
dengan segmen dokter-dokter dan karyawan lain di rumah sakit itu. Namun selalu 
saja ada masalah dengan komputer yang mereka beli. Ada saja komponen yang harus 
diganti.

Pak direktur, pada mulanya, tidak langsung curiga. Namun akhirnya beliau 
melakukan cross check. Ketika suatu saat terjadi lagi masalah dengan komputer, 
beliau mengundang ahli komputer dari pemda. Ternyata disimpulkan bahwa komputer 
yang dikatakan rusak tersebut baik-baik saja.

Selanjutnya bisa ditebak. Pak direktur segera mengambil langkah-langkah 
pencegahan, anak buah yang berkhianat tadi dimutasi ke bagian lain. Aksesnya ke 
ruang komputer dihalangi. Sebab, setiap kali anak buah tadi keluar dari ruang 
komputer, selalu ada saja komputer yang rusak. 
Tamatlah karir si anak buah tadi. Para langganannya juga menjadi tidak percaya 
lagi.

Ada kenyataan mendasar yang sederhana dari cerita di atas. Kemampuan teknis 
semata tidak cukup sebagai syarat sukses. Moralitas, seperti amanah dan 
kejujuran, merupakan syarat mutlak lainnya.

Jujur, amanah, tepat janji, merupakan ciri mukmin sejati. Hal ini berlaku untuk 
seluruh disiplin kehidupan. Saya menyebutnya sebagai bagian mutlak 
profesionalisme, yang berlaku dalam kehidupan keluarga, rumah tangga, 
pekerjaan, da'wah, politik, aktifitas sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya.

Hal ini terwujud misalnya dalam soal ketepatan waktu. Jam karet dan janji yang 
meleset adalah cacat serius dalam profesionalisme. Dampaknya adalah memudarnya 
kepercayaan orang lain terhadap kita.

Orang lain itu mungkin anak kita, yang diam-diam sering kecewa dengan sering 
mangkirnya si orang tua dari janjinya. Atau mungkin klien, yang meragukan 
profesionalitas kita karena terlambatnya kita menyerahkan hasil pekerjaan. Atau 
atasan kita, yang sering mendapati kita gagal menyelesaikan pekerjaan tepat 
waktu. Atau mungkin bawahan kita, yang menilai kita cedera janji, karena gaji 
yang sering terlambat, atau janji dan harapan perusahaan yang terlalu mudah 
diucapkan namun tak kunjung terwujud.

Namun ketidakjujuran, ketidakmampuan menepati janji, terkadang bukanlah karena 
itikad buruk. Maksudnya, bisa jadi kita tidak mampu menepati janji karena 
kelemahan kita dalam mengukur diri, dan bukan bermaksud untuk bersikap curang.

Misalnya, kita mungkin begitu saja berjanji kepada anak kita untuk pulang sore, 
hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. Kita tidak merasa perlu menengok ke 
agenda kerja untuk mengukur volume kerja pada hari itu.

Pada episode lain, kita mungkin mudah saja menyanggupi permintaan klien, dengan 
harapan mendapatkan proyek, tanpa benar-benar mengukur kemampuan diri dalam 
menyelesaikan proyek tersebut. Atau bisa jadi kita mengiyakan saja tenggat 
waktu yang ditetapkan atasan, tanpa benar-benar mengetahui kesanggupan kita 
untuk memenuhi tenggat waktu tersebut. Dalam kasus-kasus seperti ini, mungkin 
kita tidak berniat ingkar janji, namun hasil akhirnya adalah sama.

Kenyataan lainnya yang sering kita temui adalah mudahnya kita berlindung di 
balik kata Insya Allah. Kita mengucapkan hal itu bukan dengan keyakinan untuk 
memenuhi janji, namun justru sebaliknya, sebagai taktik untuk berkelit, karena 
kita pada dasarnya kurang yakin mampu memenuhi janji tersebut.

Akibatnya, sering kita temui di masyarakat, jika berjanji diiringi dengan 
ucapan Insya Allah, akan langsung dicurigai akan tidak mampu memenuhi janji 
tersebut. Padahal, biarlah saya ulangi sekali lagi, Insya Allah hanya diucapkan 
dengan keyakinan kesanggupan untuk memenuhi janji tersebut, seraya menyadari 
bahwa ada hal-hal di luar kuasa kita, yang kita serahkan kepada Allah untuk 
memberikan jalan keluar. Seharusnya, tak perlu berjanji jika memang tak yakin 
sanggup memenuhi. Cukup katakan bahwa kita tak berani menjanjikan, dan jangan 
berlindung di balik kata Insya Allah.

Kembali ke awal tulisan tentang anak buah yang tidak amanah tadi, karirnya yang 
kini terhenti merupakan akibat dari ketidakprofesionalannya sendiri. Caranya 
menjalani profesi tidak membawa keberkahan dalam hidupnya.

Ketidakberkahan adalah isyarat ketidakbahagiaan. Begitulah yang akan terjadi 
pada setiap individu yang tidak amanah.

Namun, selalu ada pintu tobat. Bukankah Allah Maha Penerima Tobat hambaNya yang 
serius dalam bertobat?

Sabruljamil.multiply.com

http://www.eramuslim.com/atk/oim/8517165438-keberkahan-dan-profesionalisme.htm

Kirim email ke