Detik-detik Kebangkitan Nasional Oleh Jojo Wahyudi Selepas Isya, telepon di rumah berdering. Aku langsung mengangkatnya ”Assalaamualaikum” “Waalalikum salam, dik masih simpan persediaan minyak tanah tidak?” di seberang terdengar suara kakak iparku “Wah Mas, sudah lama tidak pakai mitan lagi. Sudah pakai gas, lho memang Mas masih pakai mitan? “ ujarku “Masih lah, kan tidak dapat jatah tabung gas gratis dari kelurahan. Sudah empat hari ini antri mitan dari pagi sampai siang, tidak pernah dapat” katanya dengan kecewa. Aku terpikir masih menyimpan sebuah kompor gas hasil doorprize saat acara ulang tahun kantor. Tinggal mencari tabungnya saja. Langsung kutawarkan padanya, lumayan tidak keluar biaya terlalu tinggi ketimbang harus membeli tabung sekaligus kompornya. “Terima kasih banyak ya. Tapi ngomong-ngomong apakah memang tidak dipakai ? tanyanya kurang yakin. “Tidak Mas, ini hadiah saat acara kantor.”jawabku “Sekali lagi terima kasih ya.”ulangnya “Saya kira dapat jatah konversi minyak tanah dari pemerintah he he he”aku ikut tertawa mendengar candanya “Anak-anak sudah tidur?” lanjutnya “Belum, sedang nonton acara HarKitNas di TV mas.” “Oiya. Katanya di semua saluran TV ya ? “Iya, memang Mas tidak nonton? Ramai lho, di isi ribuan penari, ribuan TNI – Polri, ribuan pelajar & mahasiswa, ribuan olah-ragarawan pencak silat, pokoknya semuanya serba seribu. Kalau di total semua pengisi acaranya bisa puluhan ribu orang.” “ck ck ck .... banyak sekali pemainnya.”sambutnya dengan decakan,”Apa saja acaranya?” “Luar biasa Mas, TNI kita bisa mematahkan besi dengan tangan kosong, bahkan memecahkan semen beton dengan kepala tanpa topi baja. Belum lagi ilmu bela dirirnya, lincah sekali, dengan mata tertutup bisa melompati lingkaran kobaran api. Lalu Polri kita tak kalah cekatannya, dengan rampak ribuan anggotanya memperagakan ilmu bela diri hanya dengan tameng menghadapi segala situasi, khususnya demo masal yang akhir-akhir ini sering terjadi.” “Hanya dengan tameng?” Koq berbeda dengan di lapangan?”kakak iparku bertanya dengan heran tak percaya. “Wah kalau yang itu saya tidak tahu Mas. Tapi kalau di lapangan Gelora Bung Karno ini mereka hanya berbekal tameng dengan gerakan menangkis serangan.” “oooo.... begitu ya? Harusnya mulai sekarang untuk menghadapi demo masyarakat atau mahasiswa, entah itu menolak kenaikan BBM ataupun menolak eksploitasi alam dll, bisa melibatkan TNI kita ya. Kan mereka sudah terbiasa memecahkan beton dengan kepala serta mematahkan besi dengan tangan kosong. Jadi mereka tak akan terpengaruh dengan lemparan batu para pendemo, apalagi pukulan sebatang kayu atau bambu. Bukannya menurunkan pasukan yang kadang mempersenjatai diri dengan gas air mata dan peluru karet, bahkan kadang ada oknum yang membawa peluru tajam. Ya jelas tidak imbang lah......” “Kalau hanya untuk memecahkan beton dengan kepala dan mematahkan besi dengan tangan, para pesilat kita juga sanggup Mas. Naratornya bilang para pesilat kita berjaya di kejuaraan dunia pencak silat yang baru lalu di Thailand. Mereka merebut juara umum dengan meraih lima emas, empat perak dan empat perunggu.” “oooo... hebat juga ya orang Indonesia bisa memenangi kejuaraan bela diri di tingkat internasional. Ada baiknya pemerintah mulai memikirkan untuk melatih para TKI dan TKW kita dengan ilmu pencak silat, agar mereka bisa membela diri dan tidak selalu disewenang-wenangi majikannya di negeri jiran.” “Ingat negeri jiran......., baru saja tampil kesenian tradisionil Reog Ponorogo yang belum lama ini di klaim sebagai kebudayaan negara tetangga kita, walau akhirnya diralat dan disepakati sebagai kebudayaan asli Indonesia. Dengan semangat ribuan penarinya menggoyangkan topeng dengan juntaian bulu burung merak ke segala arah. Indah sekali. Naratornya tak kalah semangat saat melihat atraksi Reog tersebut, dengan bangga menyebutnya sebagai aset negara yang tidak bisa diambil begitu saja oleh negara lain, kita harus mempertahankannya sebagai martabat bangsa” “oooo.... Reog Ponorogo tampil juga toh....... Seharusnya bukan cuma Reog yang harus kita jaga dan pertahankan, melainkan semua yang ada di bumi pertiwi ini harus kita jaga dan pertahankan sebagai aset negeri dan untuk martabat dan kemakmuran seluruh rakyat bangsa ini. Coba kamu lihat berita TV akhir-akhir ini, berapa juta kubik kayu kita yang “hanyut” ke negeri jiran karena ternyata cukong-cukongnya berasal dari sana, yang dengan modal kuat menyumbat mulut penegak hukum dan penguasa daerah yang masih gamang dengan kekuasaan otoritasnya. Coba lihat juga berapa banyak pulau-pulau kita yang lenyap dari peta, karena klaim mereka dan sebagian juga tenggelam karena pasirnya dikeruk tangker-tangker raksasa mereka untuk kemudian pasir-pasir tersebut dipindahkan guna memperluas pulau-pulau mereka. Belum lagi minyak kita yang di tenggak perusahaan pengeboran asing. Timah kita ludes dijamah tangan-tangan kotor. Emas kita yang habis dikuras. Sangat disayangkan kita tak bisa menjaga dan mempertahankan semua itu” “Tapi Mas, lagu “Rasa Sayange” salah satu lagu asli kita yang juga aset tak ternilai itu bisa kita pertahankan dari klaim mereka. Bahkan bapak Presiden sempat pula menciptakan lagu-lagu nasional dan merekamnya ke dalam pita dan cakram. Dalam acara HarKitNas ini beliau juga menciptakan sebuah lagu bertemakan Ke-Bangkitan Indonesia yang dinyanyikan dengan merdu bersamaan dengan munculnya bendera merah putih raksasa yang di bawa oleh ribuan TNI Polri kita. Luar biasa sekali.” “Memang sangat luar biasa. Tentu acara akbar seperti itu mengeluarkan dana yang tidak sedikit ya?”nada bicara kakak iparku mulai menurun. “Sudah tentu Mas. Saya teringat waktu masih kuliah dulu di jaman Orde Baru, sering diajak Dosen Seni Pertunjukan ikut acara-acara semacam ini. Lumayan lho honornya, bisa untuk bayar uang kos dua bulan. Belum lagi mendapat biaya transportasi serta konsumsi selama latihan, bisa ngurang-ngurangi jatah makan... he he he.....” aku terkekeh mengingat masa lalu. “Sayang sekali ya biaya sebesar itu hanya untuk acara beberapa jam saja dan dinikmati oleh segelintir penduduk negeri ini yang sebagian besar sedang kesusahan mendapatkan minyak tanah, telur dan bahan makanan yang semakin melonjak tinggi tak terjangkau rakyat miskin. Jangan-jangan apa yang pernah di tulis koran beberapa waktu lalu benar, bahwa terlihat gejala Indonesia mengalami Kebangkrutan Nasional. Ya Allah semoga hal ini tidak sampai terjadi ” “Ya tapi kan Mas, acara ini juga hanya seratus tahun sekali, dan acaranyapun bisa ditonton seluruh rakyat Indonesia melalui televisi.”ujarku menghiburnya, yang mungkin masih galau karena empat hari mengantri minyak tanah tanpa hasil. (Bojong Gede - Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008, Kami Tetap Mencintaimu Indonesiaku)

