Assalamu'alaikum wr wb
Email ini dikirim oleh teman anda  almasdi rahman dari situs Swaramuslim.net
mudahan menembah wawasan kita 
Untuk melihat isi silahkan click berikut ini :

http://swaramuslim.net/comments.php?id=5971_0_15_0_C

Lima Perkara Tolak Ahmadiyah

Hb Muhammad Rizieq Syihab Lc MA
Ketua Umum Front Pembela Islam/Ketua Rabithoh ‘Alawiyah dan Anggota Majelis 
A’la Dewan Imamah Nusantara serta Kandidat Doktor Bidang Syariah di Universiti 
Malaya.

Membaca tulisan Shamsir Ali di Republika, Jumat (23/5), yang berjudul Ahmadiyah 
Menjawab :link, saya memandang perlu menanggapinya karena penuh dengan penipuan 
dan penyesatan. Shamsir hanya mengemukakan sejumlah persamaan antara Ahmadiyah 
dan Islam sambil menyembunyikan segudang perbedaan keduanya. 

Lalu, dia mengambil kesimpulan Ahmadiyah sama dengan Islam. Padahal, antara 
Ahmadiyah dan Islam tidak berarti bahwa Ahmadiyah itu sama dengan Islam, 
sebagaimana banyaknya persamaan antara monyet dan manusia tidak berarti monyet 
itu sama dengan manusia.

Saya akan menyoroti tulisan Shamsir terkait lima persoalan. 

Pertama, soal kenabian. Ahmadiyah memang mengakui Muhammad SAW nabi dan rasul, 
tapi Ahmadiyah tidak mengakuinya sebagai penutup para nabi. Ahmadiyah mengakui 
Nabi Muhammad SAW sebagai Khaatamun Nabiyyiin, tetapi dengan makna stempel para 
nabi atau semulia-mulianya para nabi, bukan dengan arti penutup para nabi. 
Kalaupun Ahmadiyah terkadang menerima Muhammad sebagai penutup para nabi, 
dibatasi hanya nabi yang membawa syariat yang ditutup, sedang nabi yang tidak 
bawa syariat tetap ada sampai akhir zaman.

Dalam kitab Tadzkirah hal 493 baris 14 tertulis bahwa Mirza Ghulam Ahmad (MGA) 
dijadikan sebagai rasul dan di hal 651 baris ketiga tertulis bahwa Allah 
memanggil MGA dengan panggilan Yaa Nabiyyallaah (Wahai Nabi Allah). Shamsir Ali 
pura-pura memuji Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang istimewa dan termulia, 
padahal dalam kitab Tadzkirah hal 192, 368, 373, 496, dan 579 disebutkan bahwa 
MGA makhluk terbaik di alam semesta yang mendapat karunia Allah yang tidak 
pernah didapat oleh selainnya. 

Shamsir juga menyatakan MGA Al-Masih. Padahal, dalam Tadzkirah disebutkan MGA 
bukan hanya Al-Masih, tapi MGA adalah Al-Masih putra Maryam ( Hal 192, 219, 
222, 223, 243, 280, 378, 380, 387, 401, 496, 579, 622, 637, dan 639). Di sini 
Shamsir Ali berusaha menyembunyikan keanehan akidahnya.

Dalam kitab Tadzkirah hal 412 baris kedua dan hal 436 baris 2-3 tertulis bahwa 
MGA disamakan dengan anak Allah dan di hal 636 baris 13 disamakan pula dengan 
’Arsy. Tadzkirah menyebutkan kedudukan MGA sama dengan ketauhidan dan keesaan 
Allah (hal 15, 196, 223, 246, 368, 276, 381, 395, 496, 579, 636). Lalu MGA 
menyatu dengan Allah dan menjadi Allah, lalu MGA yang menciptakan langit dan 
bumi (hal 195-197, 696 dan 700). Di hal 51 baris 4 tertulis firman Allah kepada 
MGA Yaa Ahmad yatimmu ismuka wa laa yatimmu ismii (Hai Ahmad, sempurna namamu, 
dan tidak sempurna nama-Ku). Lihat juga di hal 245, 277, dan 366.

Kedua, soal Kitab Suci. Ahmadiyah memang mengakui Alquran Kitab Suci yang 
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tapi Ahmadiyah tidak mengakuinya sebagai 
Kitab Suci terakhir. Kalaupun Ahmadiyah mengakui Alquran sebagai Kitab Suci 
terakhir, dibatasi hanya sebagai wahyu syariat yang terakhir, sedang wahyu 
nonsyariat tetap ada sampai akhir zaman. 

Menurut Ahmadiyah, kitab Tadzkirah kumpulan wahyu suci dari Allah SWT kepada 
MGA yang kedudukannya sama dengan Kitab Suci. Shamsir Ali boleh mengelak 
tentang penisbahan penulisan Tadzkirah kepada MGA, tapi dia tidak bisa 
memungkiri bahwa isi kandungan Tadzkirah berasal dari MGA.

Isi Tadzkirah menurut Ahmadyah kumpulan wahyu Allah SWT kepada MGA. Dia juga 
tidak bisa mengelak bahwa yang tulis, cetak, perbanyak, dan sebarluaskan 
Tadzkirah ke seluruh dunia adalah Ahmadiyah sendiri. Dalam 12 poin komitmen 
Ahmadiyah, Departemen Agama tertanggal 14 Januari 2008 dinyatakan Tadzkirah 
catatan pengalaman rohani MGA.

Pada awal kitab Tadzkirah tertulis bahwa Tadzkirah adalah Wahyun Muqoddas 
(wahyu yang suci). Di hal 43 baris 8, tertulis ucapan MGA Khoothobani Robbii wa 
Qoola (Tuhanku bicara langsung kepadaku dan berfirman). Di Hal 278, 369, 376, 
dan 637 tertulis Allah menurunkan Tadzkirah di sekitar Qodiyan. Di hal 668 
baris 12 tertulis MGA sama dengan Alquran dan dia akan mendapatkan Al-Furqon.

Bagaimana bisa disamakan antara Islam yang beriman bahwa Muhammad penutup para 
nabi dan Alquran Kitab Suci terakhir dengan Ahmadiyah yang beriman bahwa 
setelah Muhammad ada nabi baru bernama MGA, dan bahwa setelah Alquran ada kitab 
suci baru bernama Tadzkirah yang diturunkan kepada MGA di Qodiyan, India? 

Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam yang berakidah lurus dan benar 
dengan akidah aneh Ahmadiyah yang meyakini MGA makhluk yang termulia, dan 
namanya lebih sempurna dari nama Allah serta MGA sama dengan ’Arsy' dan anak 
Allah. Bahkan, menyatu dengan Allah dan jadi Allah? Ini persoalan ushuluddin 
yang sangat prinsip dan mendasar.

Ketiga, soal Ahmadiyah antek kolonialisme, bukan fitnah, tapi MGA sendiri yang 
mengaku. Dalam kitab Ruhani Khazain yang merupakan kumpulan karya MGA, Vol 3 
Hal 21, MGA menyatakan kesediaan berkorban nyawa dan darah bagi Inggris yang 
saat itu menjajah India. Di hal 166 pada volume yang sama, MGA mewajibkan 
berterima kasih kepada Inggris yang diakui sebagai pemerintah yang diberkahi. 
Di volume 8 Hal 36, MGA mengaku sebagai pelayan setia Inggris, lihat juga di 
volume 15 Hal 155 dan 156. Puncaknya di volume 16 hal 26 dan vol 17 hal 443, 
MGA menghapuskan hukum jihad.

Pada 1857 tatkala terjadi pemberontakan besar yang dilakukan kaum Muslimin 
India terhadap penjajah Inggris, ayah MGA yang bernama Ghulam Murtaza 
(Murtadha) ikut pasukan Inggris untuk membantai kaum Muslimin. MGA sendiri yang 
cerita dalam kitab Tuhfah Qaishariyah hal16.

Itulah sebabnya Ahmadiyah disayang dan dipelihara Inggris hingga hari ini. Itu 
pula yang menjadi sebab Belanda tertarik menghadirkan Ahmadiyah di Indonesia 
pada 1925. Para pelajar Jawa dan Sumatra di India yang disebut-sebut Shamsir 
Ali sebagai pembawa Ahmadiyah ke Indonesia hanya kamuflase. Intinya mereka 
antek Belanda.

Dalam sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, Inggris, Portugis, dan 
Jepang di Indonesia tidak ada seorang Ahmadiyah pun yang terlibat. Ada pun nama 
seorang Ahmadiyah yang disebut-sebut Shamsir Ali sebagai anggota Panitia 
Pemulihan Pemerintahan RI dan mendapat Bintang Jasa Kehormatan dari Pemerintah 
RI masih harus diteliti dan diperiksa kebenarannya. 

Kalaupun benar, itu tidak berarti menjadi bukti kebenaran Ahmadiyah. Banyak 
antek penjajah saat menjelang kemerdekaan RI balik badan secara tiba-tiba untuk 
mendukung Pemerintah RI. Mereka menyalip di tikungan dan menjadi pahlawan 
kesiangan. Mereka pengkhianat yang mencari selamat dan manfaat. 

Keempat, soal legalitas Ahmadiyah di Indonesia. Ahmadiyah pernah dilegalkan 
berdasarkan SK Menteri Kehakiman RI No JA / 23 / 13 tertanggal 13 Maret 1953 
yang kemudian dimuat dalam Tambahan Berita Negara RI No 26 tanggal 31 Maret 
1953. Tapi, patut diperhatikan, SK itu kadaluwarsa dan secara hukum tidak 
berlaku dengan adanya Perpres No 1 Tahun 1965 tentang Penodaan Agama dan KUHP 
Pasal 156a tentang Penistaan Agama.

Karenanya, legitimasi Ahmadiyah terus dikoreksi secara berturut-turut melalui 
berbagai SK yang melarang Ahmadiyah di berbagai daerah, antara lain SK Kejari 
Subang, Jabar, Tahun 1976, SK Kejati Sulsel Tahun 1977, SK Kejari Lombok Timur 
Tahun 1983, SE Dirjen Bimas Islam, Depag, Tahun 1984, SK Kejari Sidenreng, 
Sulsel, Tahun 1986, SK Kejari Kerinci, Jambi, Tahun 1989, SK Kejari Tarakan, 
Kaltim, Tahun 1989, SK Kejari Meulaboh, Aceh Barat, Tahun 1990, SK Kejati Sumut 
Tahun 1994, SKB Muspida Kuningan, Jabar, Tahun 2003, SKB Muspida Bogor, Jabar, 
Tahun 2005, Rekomendasi Bakorpakem 18 Januari 2005 tanggal 16 April 2008. 

Kelima, soal prestasi dunia Ahmadiyah. Shamsir begitu bangga dengan banyaknya 
cabang Ahmadiyah di dunia, pembangunan tempat ibadah, sekolah, stasiun 
televisi, dan sebagainya. Lalu, dia menjadikan semua itu sebagai bukti 
kebenaran Ahmadiyah. 

Apakah keberhasilan Yahudi dan Nashrani di dunia berarti mereka benar dan 
lurus? Sekali-kali tidak. Islam sangat menghargai kebebasan beragama, tapi 
Islam tidak pernah menolerir penodaan agama. Islam mengharamkan pemaksaan umat 
agama lain untuk masuk ke dalam agama Islam, bahkan mengharamkan segala bentuk 
penghinaan dan gangguan terhadap umat agama lain. 

Agama lain, seperti Kristen , Budha, dan Hindu memiliki agama dan konsep ajaran 
sendiri sehingga mesti dihargai dan dihormati serta tidak boleh diganggu selama 
mereka tidak mengganggu Islam. Sedang Ahmadiyah mengatasnamakan Islam, tapi 
menyelewengkan ajaran Islam sehingga mereka sudah menyerang, mengganggu, dan 
merusak Islam. Itulah penodaan agama. Karenanya, mereka mesti dilawan dan 
dilenyapkan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. (RioL )

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah 
Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. 
Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam 
gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang 
disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi) 

Kirim email ke