Tukang Mie Ayam Itu...

Oleh Budiyanto

Ia adalah sosok lelaki biasa, umurnya saya tidak tau persis, kira-kira 45 
tahun. Orang-orang memanggilnya dengan nama Bang Leman, mungkin nama aslinya 
Sulaiman, tapi entah lah saya tidak pernah menanyakannya. Dulu rumahnya lumayan 
jauh dengan saya, tapi sejak saya pindah kini ia jadi tetangga saya.

Yang saya tahu sejak saya SD ia sudah berkeliling berjualan mie ayam meski tak 
lewat depan rumah saya, saya termasuk pelanggan setianya. Saya senang makan mie 
ayamnya karena enak dan tidak mahal. Sebenarnya ada alasan lain juga sih, 
kadang kalo saya beli mie ayamnya sering dikasih lebih, kalo beli 2 bungkus eh 
dibikinin jadi 3 bungkus. Saya juga kadang suka tidak enak dengan kebaikannya 
tapi memang orangnya begitu, tidak hanya dengan saya dia berjualan dengan cara 
seperti itu, dengan orang lain yang dia kenal baik juga umumnya begitu. Makanya 
dengan kebaikannya itu pelanggannya semakin bertambah.

Orangnya ramah dan mudah akrab dengan orang lain, kadang kepada orang lain yang 
dikenal tanpa sungkan ia menawarkan dagangannya, bukan menawarkan untuk menjual 
dagangannya tapi menawarkan tulus bukan untuk mendapatkan bayaran. Mungkin 
kesannya basa-basi tapi buat saya tawaran ia begitu tulus. Tak heran walaupun 
agak jauh dari rumah saya tapi saya bela-belain ke rumahnya atau menunggunya di 
tempat biasa ia mangkal untuk membeli dagangannya.

Ujian dari Allah menerpanya. Sejak tahun 2006 ia terserang stroke ringan. 
Praktis usahanya berhenti, berbulan-bulan ia berkutat dengan penyakitnya, 
mencoba berbagai pengobatan alternatif. Saya sempat menjenguknya dan kondisinya 
memang menyedihkan. Ia masih sulit berjalan karena otot kakinya kaku. Untuk 
menopang ekonomi rumah tangganya sehari-hari anak-anaknya bekerja serabutan, 
anak sulungnya bahkan ada yang ke Kalimantan untuk bekerja di sana.

Alhamdulillah sepertinya Allah memberikan kecukupan pada keluarga ini, meski 
mendapat cobaan ia tetap menjaga izzahnya, ia tidak meminta-minta atau 
mengharap belas kasihan orang lain, belas kasihan orang-orang yang dulu ia 
tawari mie ayam dengan tulus tanpa membayar.

Alhamdulillah Tahun 2007 kondisinya sudah membaik, ia mulai bisa berjalan meski 
masih tertatih-tatih. Tak mau bergantung dengan orang lain dan tak mau 
menyusahkan anak-anaknya, ia memilih membuka usaha warung kelontong di halaman 
rumahnya yang asri. Saya sering melihatnya melewati jalan di dekat rumah saya 
untuk pergi belanja kebutuhan warungnya. Ia senang bisa jalan kaki hampir tiap 
hari pergi belanja dan sekalian untuk terapi penyembuhan penyakitnya, begitu 
katanya.

Kini orang baik itu telah menjadi tetangga saya. Aktivitasnya yang kebanyakan 
di rumah membuat ia semakin dekat dengan Allah. Kini ia tidak perlu berangkat 
ke pasar di pagi buta, justru aktivitasnya adalah membangunkan orang lain untuk 
sholat subuh.

Ya betul ia kini menjadi "muadzin tetap" sholat shubuh bahkan hampir di setiap 
waktu sholat di musholla dekat rumahnya. Ia tidak perlu lagi berkeliling 
kampung menjajakan dagangannya, tapi Insya Allah orang sekampung akan 
mendatangi warungnya untuk berbelanja. Ia tidak perlu lagi mendorong gerobaknya 
di tengah teriknya mentari, ia cukup duduk di warungnya ditemani isteri 
tercintanya sambil mengaji.

Sungguh Allah telah memberikan hikmah yang manis di balik setiap ujian yang Ia 
berikan.

http://anandira.multiply.com

Kirim email ke