FYI, semoga bermanfaat.
-----Original Message-----
From: IND, Hatta, Mohammad
Sent: Wednesday, June 04, 2008 10:16 AM
Subject: FW: [Buletin Al Islam] Insiden Monas, Waspadai Adu-Domba Umat
Islam!
Berikut adalah petikan Buletin AL Islam untuk edisi jumat.
Kiranya isu adu domba bener2 terjadi disini.. bener2 gak adil..
[Edisi 408]. Prihatin. Itulah rasa yang ada
menyaksikan kondisi umat Islam saat ini. Rakyat tengah
mengalami keterpurukan ekonomi akibat kenaikan harga
bahan bakar minyak (BBM). Berbagai penolakan terus
terjadi dimana-mana. Pada 1 Juni 2008 siang
berlangsung demo penolakan kenaikan BBM di depan
Istana Negara Jalan Medan Merdeka Utara yang
diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan
dihadiri oleh berbagai ormas. Sebagaimana dimuat
berbagai media massa, acara tersebut berlangsung
damai. Namun, pada saat yang hampir bersamaan terjadi
'Insiden Monas', yaitu bentrokan antara Aliansi
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB) dengan massa yang beratribut Front Pembela
Islam (FPI) di Lapangan Silang Monas ke arah Jalan
Medan Merdeka Selatan. Belakangan dibantah bahwa yang
bentrok itu bukanlah FPI melainkan Komando Laskar
Islam (KLI).
Berbagai kecaman langsung bermunculan mulai dari
Presiden, politisi, dan sebagian tokoh. Reaksi
demikian muncul karena adanya pemberitaan tentang aksi
kekerasan yang terjadi. Padahal tidak ada asap kalau
tidak ada api.
Provokasi
Pakar komunikasi Universitas Hasanuddin, Aswar Hasan,
mengatakan, bentrokan antara FPI dan AKKBB adalah efek
dari "kekerasan simbolik" yang selama ini terjadi.
Aksi-aksi sporadis kalangan liberal-seperti melecehkan
MUI dan merendahkan wibawa ulama (ingat pelecehan dan
penghinaan Adnan Buyung kepada KH Ma'ruf Amien, tokoh
NU dan Ketua MUI di Radio BBC beberapa waktu
lalu)-selalu mendapat tempat terhormat di media massa
dan TV. "Jadi, sesungguhnya 'kekerasan simbolik' itu
sudah lama dilakukan kalangan liberal terhadap
kalangan Islam yang lain," ujar Aswar
(Hidayatullah.com, 2/6/2008).
AKKBB merupakan kelompok yang giat membela Ahmadiyah.
Padahal Ahmadiyah telah dinyatakan sesat oleh berbagai
organisasi seperti keputusan Majma' al-Fiqih al-Islami
Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1985, Fatwa
MUI tentang Ahmadiyah tahun 2005, termasuk Nahdlatul
Ulama dan Muhammadiyah. Bahkan Badan Koordinasi
Pengawas Kepercayaan dan Keyakinan Masyarakat
(Bakorpakem) pada 16 April 2008 menetapkan Ahmadiyah
sebagai aliran yang menyimpang dari Islam. Namun,
surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pelarangan
Ahmadiyah belum juga dikeluarkan oleh Pemerintah.
Sementara itu, AKKBB terus berusaha mencegah keluarnya
SKB tersebut.
Di tengah situasi psikologis seperti itu, setidaknya
sejak 15 Mei 2008, terpampang iklan petisi di situs
resmi AKKBB, yang disebar ke berbagai milis, dan
akhirnya dirilis di beberapa media massa nasional
mulai tanggal 26 Mei 2008. Petisi bertajuk "Mari
Pertahankan Indonesia Kita!" itu dikoordinasikan oleh
ICRP dan Aliansi Bhineka Tunggal Ika dan disebar di
beberapa milis di Indonesia. Sebagaimana diketahui,
Aliansi Bhineka Tunggal Ika adalah kelompok yang
pernah menggerakkan kalangan lesbian, homo, para
pelacur dan penyanyi dangdut untuk menyampaikan sikap
penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Anti
Pornografi dan Pornoaksi (APP). Dilihat dari
pendukungnya pun terdiri dari ideolog sosialis,
aktivis Ahmadiyah, sebagian warga non-Muslim dan kaum
liberal.
Iklan petisi tersebut berisi pembelaan terhadap
Ahmadiyah. Bukan hanya itu, petisi itu juga berusaha
mengadu-domba umat Islam dengan Pemerintah dengan
menyatakan, "Kami menyerukan, agar Pemerintah, para
wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum untuk
tidak takut terhadap tekanan yang membahayakan
ke-Indonesia-an itu."
Provokasi terus terjadi. Majalah Tempo edisi 5-11 Mei
2008 menulis, "Kecemasan di mana-mana. Ketakutan
merajalela. Majelis Ulama Indonesia harus bertanggung
jawab atas semua ini." Di bagian lain Tempo menulis,
"Majelis Ulama sudah selayaknya meminta maaf kepada
warga Ahmadiyah. Menjatuhkan fatwa sesat pada aliran
itu berarti memberikan lampu hijau kepada gerombolan
penyerang Ahmadiyah untuk bertindak anarkistis."
Ingat, pemilik majalah Tempo adalah Goenawan Mohamad
yang juga penggiat AKKBB dan apel akbar. Kalau bukan
provokasi terhadap umat Islam, lantas untuk apa
tulisan menghina ulama itu?
Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol. Heru Winarko
mengatakan kepada media massa pada 1 Juni 2008 bahwa
AKKBB menurut rencana hanya berdemo di Cempaka Barat,
lalu ke depan Kedubes AS, dan berikutnya ke Bundaran
Hotel Indonesia. Di ketiga tempat tersebut polisi
sudah menyiapkan pengamanan. Di Monas, mereka tidak
meminta pengamanan. "Tapi, mengapa mereka malah masuk
Monas?" ujarnya.
Ada keanehan di sini. Selain itu, Juru Bicara
Ahmadiyah Mubarik mengatakan, sebenarnya dia sudah
memperkirakan akan terjadinya insiden tersebut. Namun,
dia mengaku enggan untuk membatalkan rencana aksinya
(Hidayatullah, 2/6/2008).
Bukankah ini berarti pembiaran terjadinya insiden
tersebut? Lebih dari itu, seorang anggota AKKBB
tertangkap kamera membawa pistol dalam Insiden Monas.
Dalam konferensi KLI diputar sebuah video yang
memperlihatkan seorang peserta aksi berkaos putih,
dengan sebuah pita merah putih di lengan kirinya,
sempat mengeluarkan sebuah senjata api. (Hidayatullah,
2/6/2008). Lebih dari itu, menurut pengakuan peserta
dari FPI, ada provokasi dari panitia (Detik.com,
3/6/2008).
Berdasarkan hal tersebut, benar apa yang dikatakan
oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amidhan
bahwa insiden di Silang Monas tersebut tidak
serta-merta kesalahan massa beratribut FPI saja.
Amidhan menilai apa yang selama ini dilakukan AKKBB
juga amat provokatif alias memancing-mancing kemarahan
umat Islam. Salah satunya adalah tindakan AKKBB yang
menyertakan wakil-wakil agama lain selain agama Islam
untuk ikut-ikutan membela kelompok sesat Ahmadiyah
(Eramuslim, 2/6/08).
Pertanyaannya adalah mengapa Pemerintah dan DPR begitu
sigap bersikap dalam insiden tersebut tetapi cenderung
abai terhadap SKB pelarangan Ahmadiyah? Kalau terhadap
mereka yang luka fisik dalam insiden Monas pemerintah
dengan sigap bereaksi, tentu saja seharusnya
pemerintah lebih sigap lagi terhadap persoalan
Ahmadiyah yang telah menodai ajaran Islam dan melukai
perasaan jutaan umat Islam.
KH Hasyim menyatakan, "Sebenarnya, masalah Ahmadiyah
ini bukan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan,
tetapi masalah penodaan agama tertentu, dalam hal ini
adalah Islam." Beliau juga menyesalkan sikap
Pemerintah yang tidak tegas terhadap persoalan
Ahmadiyah. (Republika.co.id, 3/6/2008).
Rois Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Miftahul Akhyar, juga
menyatakan insiden Monas membuktikan SKB Ahmadiyah
mendesak dikeluarkan (RCTI, 3/6/2008).
Menghancurkan Islam
Melihat pola masa lalu, insiden seperti ini akan
melahirkan beberapa hal.
Pertama: pengalihan isu. Semula isu yang dominan
adalah tuntutan kenaikan harga BBM dan pembubaran
Ahmadiyah yang telah dinyatakan menyimpang oleh
Bakorpakem. Kini, isu seakan bergeser menjadi isu
pembubaran ormas Islam tertentu. Ketua Lembaga
Penyuluh Bantuan Hukum PBNU, M Sholeh Amin
mengingatkan jangan sampai pengalihan isu demikian
dibiarkan. (Republika.co.id, 3/6/2008).
Kedua: stigmatisasi ormas Islam. Dari banyak komentar
dan opini media massa digambarkan betapa buruknya
wajah kaum Muslim yang sebenarnya justru membela
kemurnian akidahnya.
Ketiga: menghancurkan organisasi Islam yang secara
terbuka menentang pornografi-pornoaksi, kemungkaran,
dan syariah Islam. Lihatlah, pasca Insiden Monas,
Adnan Buyung Nasution dan Goenawan Mohamad menuntut
pembubaran beberapa ormas Islam yang tidak terkait
sama sekali dengan insiden tersebut. Bahkan mereka
mendesak Menteri Hukum dan HAM untuk mengajukan
permohonan ke pengadilan lalu meminta hakim untuk
membubarkan Majelis Ulama Indonesia (Hidayatullah.com,
2/6/2008).
Tuntutan serupa pernah dilontarkan saat Munas MUI
mengeluarkan fatwa haramnya sekularisme, liberalisme
dan pluralisme; bahkan saat isu pornografi-pornoaksi.
Padahal MUI tidak terlibat dalam insiden tersebut.
Jadi, yang sedang terjadi sebenarnya adalah upaya
membungkam orang dan organisasi yang secara tegas
menyuarakan Islam. Lantas siapa yang diuntungkan?
Tentu, mereka yang tidak menginginkan Islam kuat dan
mereka yang tidak menginginkan Indonesia kuat. Mereka
ingin putra-putri negeri Muslim terbesar ini terus
porak-poranda. Mereka yang diuntungkan adalah kaum
kafir imperialis dan para kompradornya. Menarik
dicatat, sebagian tokoh pendukung Ahmadiyah itu adalah
para tokoh penting di balik Reformasi 1998 yang
mendapat bantuan dana 26 juta dolar AS dari USAID
untuk menjalankan agenda AS. Bantuan dana ini dapat
dilihat dalam The New York Times (20 Mei 1998).
Bahkan, salah satu rekomendasi The Rand Corporation
dalam menundukkan Islam adalah mencegah aliansi antara
kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis. Caranya
adalah dengan mengadu-domba.
Karena itu, sungguh bijak pernyataan Ketua Umum PBNU
KH Hasyim Muzadi Hasyim yang menyesalkan penggunaan
dan pelibatan nama NU dan kelompok NU dalam masalah
ini. "Karena relevansinya tidak ada antara NU dan
Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa lalu ditulis korban
itu adalah orang NU?" ujarnya. Oleh karena itu, KH
Hasyim mengingatkan pihak-pihak yang ingin menggiring
NU, terutama badan otonom NU seperti GP Ansor, Ikatan
Pencak Silat Pagar Nusa, Lakpesdam NU agar
menghentikan provokasinya. (Detik.com, 3/6/2008).
Wahai kaum Muslim:
Hendaknya kita tidak mudah terprovokasi dan
diadu-domba oleh kafir penjajah yang memang sangat
ingin memecah-belah kesatuan umat Islam. Kita pun
jangan sampai terdorong untuk memprovokasi dan
mengadu-domba sesama Muslim karena Rasulullah saw.
bersabda:
<لاَ
يَدْخُلُ
الجَنَّةَ
نَمَّامٌ>
Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba
(Mutaffaq 'alaih).
Rasulullah saw. teladan kita pun telah mengingatkan,
bahwa umat Islam tidak akan pernah hancur oleh
kekuatan luar yang berasal dari musuh-musuh Islam,
kecuali ketika kita sudah saling menghancurkan satu
sama lain:
<وَإِنِّي
سَأَلْتُ
رَبِّي
ِلأُمَّتِي
أَنْ لاَ
يُهْلِكَهَ&#
1575;
بِسَنَةٍ
عَامَّةٍ
وَأَنْ
َلا
يُسَلِّطَ
عَلَيْهِمْ
عَدُوًّا
مِنْ
سِوَى
أَنْفُسِهِ&#
1605;ْ
فَيَسْتَبِ&#
1610;حَ
بَيْضَتَهُ&#
1605;ْ
وَإِنَّ
رَبِّي
قَالَ
يَا
مُحَمَّدُ
إِنِّي
إِذَا
قَضَيْتُ
قَضَاءً
فَإِنَّهُ
لاَ
يُرَدُّ
وَإِنِّي
أَعْطَيْتُ&#
1603;َ
ِلأُمَّتِك&#
1614;
أَنْ لاَ
أُهْلِكَهُ&#
1605;ْ
بِسَنَةٍ
عَامَّةٍ
وَأَنْ
َلاَ
أُسَلِّطَ
عَلَيْهِمْ
عَدُوًّا
مِنْ
سِوَى
أَنْفُسِهِ&#
1605;ْ
يَسْتَبِيح&#
1615;
بَيْضَتَهُ&#
1605;ْ
وَلَوْ
اجْتَمَعَ
عَلَيْهِمْ
مَنْ
بِأَقْطَار&#
1616;هَا
أَوْ
قَالَ
مَنْ
بَيْنَ
أَقْطَارِه&#
1614;ا
حَتَّى
يَكُونَ
بَعْضُهُمْ
يُهْلِكُ
بَعْضًا
وَيَسْبِي
بَعْضُهُمْ
بَعْضًا>
Sungguh, aku telah memohon kepada Tuhanku bagi umatku
agar mereka tidak binasa karena wabah kelaparan dan
agar musuh dari kalangan selain mereka sendiri tidak
dapat menguasai mereka hingga masyarakat mereka
terjaga. Sungguh, Tuhanku kemudian berfirman, "Wahai
Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan suatu
putusan maka putusan itu tidak dapat ditolak. Sungguh,
Aku telah memberimu bagi umatmu bahwa mereka tidak
dibinasakan oleh wabah kelaparan dan musuh selain dari
kalangan mereka tidak dapat menguasai mereka sehingga
masyarakat mereka terjaga sekalipun dikepung dari
berbagai penjuru, hingga mereka saling menghancurkan
satu sama lain dan saling menawan satu sama lain." (HR
Muslim).
Komentar:
Dewan Da'wah Peringatkan Rekayasa Opini Kasus Monas
(Hidayatullah.com, 3/6/2008).
Sangat mungkin tujuannya untuk mengadu-domba umat
Islam. Waspadalah!
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR.
Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam
gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang
disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)