Antara Springbed-ku dan Tikar Rasulullah



Bulan ini adalah bulan penuh discount bila kita berbelanja di mall wilayah

Jakarta. Katanya karena menyambut hari jadi kota Jakarta setiap tanggal 22

Juni. Seperti juga kemarin malam, sebuah mall besar mengadakan “midnight

sale” untuk berbagai produk yang ditawarkan dengan harga “miring”. Sudah

pasti para pengunjung akan membludak membanjiri setiap sudut mall tersebut,

tidak terkecuali aku. Dengan perasaan penasaran, ku“satroni” mall tersebut

sepulang kantor bersama beberapa rekan kerja yang memang hoby “berburu

discount” di mall-mall. Selepas maghrib, kami meluncur menuju mall dengan

penuh harap mendapatkan barang berkualitas dengan harga “sangat” pantas.

Sesampai di sana, kami melihat mall sudah penuh sesak oleh pengunjung yang

memenuhi setiap counter barang berlabel “discount”. Kami menembus kerumunan

manusia, mencari barang yang menarik. Sampailah di tengan mall, tempat yang

paling menyemut pengunjungnya, terlihat mereka sedang berebut “bantal”.

Kami jadi penasaran dan ikut menyerbu timbunan bantal yang tertulis 300-an

ribu menjadi 99 ribu “saja”, segera kami ikut berebut mendapatkannya.

Dengan susah payah berhasil kudapatkan dua buah bantal, tiba-tiba di

sebelah kiriku seorang ibu berjilbab menarik bantal di tanganku, tampak dia

dengan semangat empat lima mencoba mendapatkannya. Akhirnya kurelakan

sebuah bantal lepas dari tanganku. Memang bantal-bantal tersebut terkenal

dengan kualitas dan kelembutannya. Harga tidak jadi soal karena sudah

mendapat discout enam puluh persen lebih. Wajarlah menjadi rebutan para

pengunjung, pikirku.



Setelah “penyerbuan” ke daerah bantal, kami lanjutkan “browsing” ke tempat

lainnya. Belum lengkap membeli bantal jika tidak disertai sarungnya. Aku

melihat sebuah sarung bantal “unik” bermotif batik. Setelah kulihat

harganya yang juga “miring” dari seratus ribu menjadi empat puluh lima

ribu, langsung kuambil sarung bantal tersebut. Perjalanan kami tidak

terhenti sampai di situ. Setiap sudut mall, tak luput dari “operasi

sweeping” kami. Alhasil uang enam ratus ribu rupiah melayang dari saku.

Entah teman-temanku, berapa rupiah yang sudah dikeluarkan dari koceknya.

Yang aku yakin, transaksi di mall malam itu bisa mencapai ratusan juta atau

malah miliaran rupiah. Sungguh angka yang spektakuler untuk kondisi bangsa

saat ini.



Sesampai di rumah, kukeluarkan semua barang belanjaan. Bantal dan sarungnya

langsung masuk ke kamar tidur, sejenak aku tertegun “Untuk apa aku membeli

bantal dan sarungnya dengan nilai seratus empat puluh empat ribu rupiah?”

karena di atas springbed masih utuh bantal pemberian istriku setahun lalu.

Walau harganya hanya tiga puluh ribu rupiah, kelembutannya tetap terasa

serta bentuknya masih sempurna setelah sekian waktu menopang berat kepala

dan tubuhku.


Baru terpikir, uang yang kukeluarkan untuk sebuah bantal dan sarungnya

adalah separuh dari Dana Bantuan Langsung Tunai yang diterima warga tak

mampu setiap bulannya. Uang yang cukup tak cukup, harus cukup menutupi

kenaikan harga-harga mengikuti naiknya BBM. Mereka yang tak mampu,

jangankan memikirkan membeli sebuah bantal, untuk makan sederhanapun harus

berhitung dengan dana yang mereka punya. Kami, aku dan teman-teman di

kantor, tak terlalu repot memikirkan makan hari ini atau makan untuk

hari-hari esok. Gaji kami lebih dari cukup untuk membeli makan kami

sekeluarga, keperluan rumah tangga, biaya sekolah anak-anak, bahkan masih

bisa untuk membayar asuransi pendidikan mereka.



Malamnya saat sholat Isya, aku “berkeringat” mengingat kisah Rasulallah.

Betapa beliau begitu bersahajanya, sehingga istri Beliau, Aisyah terharu

melihat Baginda Rasul tidur hanya beralaskan tikar, tanpa empuknya bantal

dari bulu angsa yang biasa digunakan para raja-raja. Bahkan sering beliau

tidur dengan perut kosong di ganjal batu menahan lapar, karena sekerat roti

miliknya diberikan pada tetangganya yang lebih membutuhkan. Harta beliau

lebih banyak dipergunakan untuk umat, perjuangan dan kepentingan agama

Allah.

Kini kami para pengikutnya, berleha-leha di atas springbed empuk dengan

bantal lembut berselimut hangat serta perut kekenyangan. Tidak peduli

dengan saudara lainnya yang kurang beruntung yang hidup di tenda-tenda

pengungsian ataupun di bawah-bawah jembatan, menanti tak pasti akan hari

esok. Begitu banyak televisi menayangkan anak-anak kurang gizi dan

orang-orang kelaparan yang berpacu dengan “maut”.


Sementara kami yang lebih beruntung, lebih memilih membeli bantal empuk

yang lebih sering melenakan kami hingga terlewat berjamaah di masjid

setelah Adzan Subhuh dikumandangkan.


Lebih menyesakkan lagi, kami tak berhitung mengeluarkan uang lebih hanya

untuk kenyamanan sebuah kamar tidur, ketimbang pembangunan sebuah rumah

Allah yang kami sumbang ala kadarnya. Sebuah rumah Allah yang kelak akan

mengantarkan kami ke “peraduan” terakhir, yang akan kami huni

selama-lamanya di akhirat nanti.




Ya Rasulallah, betapa jauh jarak kami darimu

Betapa jauh sifat kami dengan kedermawananmu



Ya Rasulallah betapa kami ingin sepertimu

Betapa kami sangat mencintai dan merindukanmu



[EMAIL PROTECTED]


(Saat gemerlapnya Pesta Perayaan Ulang Tahun Ibu Kota - 22 Juni)

Kirim email ke