subhanalloh ....

---------- Forwarded message ----------
From: [EMAIL PROTECTED]
<[EMAIL PROTECTED]>
Date: 30 Jun 2008 08:00
Subject: [Milis_Iqra] Hafalan Surat Delisa
To: [EMAIL PROTECTED]



Hafalan Surat Delisa
Author : Tere-liye
published  2007 by Republika

Review by : Nicegreen on
http://www.goodreads.com/book/show/1376220.Hafalan_Shalat_Delisa

Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran
Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi
Usman. Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si
kembar) Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.

Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadarinya sholat
jama'ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal
tanker perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali.
Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi
lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah. Setiap sholat
jama'ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras agar
Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu.

Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas
kepada anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.
Begitu juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal bacaan
sholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha
keras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun
berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaan
sholat dengan sempurna.

Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah membelikan
seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa
senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu.
Tapi entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal bacaan sholat
dengan sempurna.


26 Desember 2004

Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya
nyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba
Delisa lupa bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa.
Delisa mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu
banyak untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah
ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa
Delisa. Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad
Rahman tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan
sahabat-sahabatnya.
"Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu." Nah
jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di sekitar,
tetap khusuk.

Delisa pelan menyebut "ta'awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah".
Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya
pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar".

Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai
bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa.
Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK
SEKETIKA. Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang ratusan
kilometer. Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian
mencuat. Mengirimkan pertanda kelam menakutkan.

Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias
lebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat
Delisa, tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti", lantai
sekolah bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas,
berdebam menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian
pertama kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik.

Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh.
Pecah berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa.
Menembus bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar.
Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu.
Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!

"Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya, wa-ma-ma-ti..."

Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah,
Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah
membasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz
Rahman, sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika
punggungnya digigit kalajengking?

Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama kalinya ia
bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti
sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah...

Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok
sekolah. Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi
yang berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras
... SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang
terjadi. Delisa ingin khusuk. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang
tsunami sempurna sudah membungkusnya. Delisa megap-megap. Gelombang
tsunami tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya
keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih
bersisa. Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah
"i'tidal..." "Al-la-hu-ak-bar..." Delisa harus terus membacanya!
Delisa tidak peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya.

Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum
kepalanya menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy
Allah." Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala
mungil Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk,
menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret.
Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagar
besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudah
tak bisa menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum
berliter air keruh.
Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya.
Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya
patah. Darah menyembur dari mulutnya.

Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur
melepas kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas
papan sekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil
menghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari tangannya
pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang
diatasnya.

"Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur
berbisik sendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah
habis. Ibu Guru Nur bersiap menjemput syahid.

Minggu, 2 Januari 2005

Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya.
Tubuhnya tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat
Tiur yang pucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS
berhasil menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya
dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau,
menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John F Kennedy.
Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di
gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem
tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya.

Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah
juga sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan.
Abi Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari
pingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah
melihat kejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya
menjadi Salam.

Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia
diijinkan pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka
tinggal bersama para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian.
Hari-hari diliputi duka. Tapi duka itu tak mungkin didiamkan
berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang dibangun
kembali dengan sangat sederhana.

Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan
anak-anak korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan
seadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan
sempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang
kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa.
Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai
salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa.

21 Mei 2005

Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit.
Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak
terbolak-balik. Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai
sholat, Delisa terisak. Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia
menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka belajar
menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik.
Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci
tangan di sungai dekat dari situ.
Ketika ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung
belibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya. Delisa
terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang
terbang menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang
sungai.

Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja.
Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang
berbuah. Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah
tersangkut. Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk
Delisa. Diatas semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut
di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka
manusia. Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.

UMMI...............




______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email
______________________________________________________________________

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. -Qs. 16 an-Nahl :125


Berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang
berbekas pada jiwa mereka. -Qs. 4 an-Nisa' : 63


Gabung : [EMAIL PROTECTED]
  Keluar : [EMAIL PROTECTED]
 Situs 1 : http://myiqra.co.cc
 Situs 2 : http://groups.google.com/group/Milis_Iqra
     Mod : [EMAIL PROTECTED]
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=-=-=-
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, 
Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia 
berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya Ya Allah, 
ampunilah ia.  Ya Allah sayangilah ia (Shahih Muslim no. 469) 

Kirim email ke