Saya Khilaf dan Minta Maaf
DPR menganggap 'orang sakit' yang mengaitkan zakat dengan
terorisme.
JAKARTA -- Pengamat intelijen Dr Wawan Hari Purwanto mengaku
khilaf dan meminta maaf atas pernyataannya yang mengaitkan ajaran
zakat, infak, dan shadaqah (ZIS) dalam Islam dengan pendanaan
aksi terorisme. Dia juga membantah sebagai agen intelijen,
apalagi bertugas untuk melakukan kampanye hitam (black campaign)
terhadap Islam.
''Ini kekhilafan. Maka dengan hati yang tulus, lillahita'ala,
saya menyatakan menyesal dan minta maaf. Saya tidak akan
melakukan lagi hal yang akan dianggap menyerang agama yang saya
anut,'' kata Wawan ketika ditelepon Republika, tadi malam.
Penegasan itu disampaikan Wawan setelah pada sore kemarin
memberikan klarifikasi dalam jumpa pers di kawasan Cikini,
Jakarta Pusat. Dalam beberapa hari terakhir, ulahnya mendapat
kecaman terutama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan
Amil Zakat Nasional (Baznas). Kalangan DPR juga bereaksi keras.
''Orang sakit yang mencurigai dana zakat untuk aksi terorisme.
Itu sesat dan menyesatkan. Jangan cari popularitas dengan cara
begitu,'' kata anggota Fraksi Bintang Pelopor Demokrasi (BPD),
Ali Mochtar Ngabalin.
Menteri Pertahanan (Menhan) Kabinet Bayangan di DPR, Yuddy
Chrisnandi, menilai yang mengidentikkan terorisme dengan Islam
merupakan pikiran yang sangat sesat. ''Dia harus meminta maaf
secara terbuka kepada umat Islam,'' kata politikus Partai Golkar
itu.
Anggota Komisi Hukum (III) dan Fraksi PKS, Soeripto, menilai
pernyataan Wawan tidak mencerminkan seorang pengamat independen.
''Dia harusnya memberikan informasi yang akurat. Jangan
sembarangan dan ceroboh, seakan-akan ada misi tertentu,'' kata
tokoh intelijen ini. Gara-gara pernyataan itu, lanjut Soeripto,
citra Islam di Indonesia kembali memburuk. Terutama citra lembaga
zakat yang kini dicurigai jadi tempat mengumpulkan dana untuk
terorisme.
Apakah pernyataan Wawan ada kaitannya dengan kegiatan intelijen
yang gencar memojokkan Islam, Soeripto mengaku tidak tahu. Namun,
ia menganalisis, Wawan membuat pernyataan itu di Semarang (Jawa
Tengah) sebagai tempat pelatihan Detasemen Khusus (Densus)
88/Antiteror yang bekerja sama dengan Amerika Serikat dan
sekutunya. ''Ia membangun opini seakan-akan untuk menyuplai
informasi ke Densus,'' kata Soeripto.
Membantah rekayasa
''Saya tidak menyangka, kekhawatiran saya terhadap penyalahgunaan
dana ZIS, kok jadi begini? Yakinlah, tak ada rekayasa dan
tendensi apa pun untuk menyudutkan ajaran Islam,'' ujar peneliti
dan dosen di sejumlah perguruan tinggi itu.
Dia mengaku sebagai seorang Muslim yang taat. ''Saya ini lahir di
Kudus, sebuah kota santri. Saya juga menjadi panitia pembangunan
sebuah masjid di Cijantung, Jakarta Timur, yang dananya juga dari
ZIS,'' katanya. Bahwa ada sejumlah intelektual Muslim yang
diperalat musuh Islam untuk melakukan serangan dari dalam, Wawan
menepis sebagai bagian dari kelompok tersebut. ''Di dunia Barat
saya malah gencar membela Islam dan tidak mungkin merusak agama
sendiri yang rahmatan lil'alamin,'' katanya.
Pernyataannya mengenai zakat, ujar Wawan, adalah spontanitas
ketika menjawab pertanyaan wartawan. Ia mencontohkan kasus di
Arab Saudi yang penggunaan dana zakatnya diawasi oleh pemerintah
untuk mencegah penyalahgunaan.
Namun, berdasarkan penelitiannya, selama ini tidak ada bukti
bahwa dana zakat telah diselewengkan untuk kegiatan terorisme di
Indonesia. Ia menegaskan, pernyataannya sekadar untuk
kewaspadaan. ''Kalau dana zakat itu sampai disalahgunakan, maka
yang akan terkena imbasnya umat Islam sendiri,'' katanya.
Sebagai peneliti yang aktif di Lembaga Pengembangan Ketahanan
Nasional (LPKN), Wawan mengaku dekat dengan berbagai kalangan
dari dunia Barat maupun Timur, baik dari pihak moderat maupun
radikal. Kerjanya hanya meneliti atau memberikan ceramah mengenai
wawasan kebangsaan seperti di Lembaga Ketahanan Nasional
(Lemhannas), Departemen Pertahanan, Kejaksaan Agung, dan Badan
Intelijen Negara (BIN) atau lembaga-lembaga intelijen TNI. ''Saya
bukan anggota BIN, tapi suka ceramah di lembaga-lembaga
intelijen,'' tukas Wawan.
Penulis buku Teroris Under Cover itu juga meyakini bahwa aksi
terorisme sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. ''Itu
hanyalah oknum yang mengatasnamakan dan ingin merusak Islam,''
tegasnya. zam/djo/evy
-- A. Yahya Sjarifuddin
A. Yahya Sjarifuddin [On Wed Jul 09, 2008 at 04:33:15PM +0700] wrote:
Naudzubillahiminzalik...
Rabu, 09 Juli 2008
Ajaran Zakat Diserang
Muncul tuduhan digunakan untuk aksi terorisme.
SEMARANG -- Meski mengaku bicara tanpa fakta, pengamat intelijen
Dr Wawan Hari Purwanto melempar wacana ke publik bahwa dana
zakat, infak, dan shadaqah (ZIS) yang terkumpul dari umat Islam
di Indonesia perlu diteliti ''untuk memutus pendanaan teroris'',
yang dikutip media di Jawa Tengah (Jateng). Majelis Ulama
Indonesia (MUI) mengecam teror opini ini.
MUI menilai pernyataan Wawan sangat tendensius dan telah
menyakiti umat Islam di Indonesia. Sebab, dana ZIS selama ini
hanyalah untuk memberdayakan ekonomi dari dan untuk umat Islam.
Bahkan, menjadi tulang punggung pemberdayaan fakir miskin atau
kaum dhuafa yang dianjurkan Alquran dan Hadis.
''Sangat menyakiti umat Islam jika zakat dituding untuk membiayai
kegiatan terorisme,'' ungkap Ketua MUI Jateng, KH Drs Ahmad
Darodji MSi, kepada Republika, di Semarang, Selasa (8/7). Wawan
dituntut menjelaskan aliran dana zakat dari mana, dikelola oleh
badan amil zakat (BAZ) atau lembaga amil zakat (LAZ) mana yang
diduga digunakan untuk mendanai kegiatan terorisme. ''Dia harus
mengklarifikasi agar tidak menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman
masyarakat terhadap lembaga ZIS. Badan Intelijen Negara (BIN) pun
harus menegur Wawan yang telah menyudutkan umat Islam,'' katanya.
Jelas arahnya
Di Jakarta, Sekretaris Umum MUI, Ichwan Syam, menduga pernyataan
Wawan dikeluarkan untuk menciptakan stigma negatif terhadap
sistem zakat yang mampu mengangkat derajat ekonomi kaum Muslim.
Ia meminta umat Islam untuk berhati-hati.
Perbuatan seperti itu, menurut Ichwan, memang sedang banyak
dilakukan oleh musuh Islam atau yang diperalat oleh mereka yang
membenci Islam. Tujuannya untuk mendegradasikan ajaran-ajaran
Islam. Sebelumnya, degradasi telah dilakukan terhadap ajaran
jihad. ''Sekarang giliran ajaran zakat yang diserang.
Jangan-jangan ini hanya pancingan. Mungkin nanti ajaran shalat
dan sedekah ikut diserang,'' kata Iwan kepada Republika, di
Jakarta, Selasa (8/7).
Saat ini, lanjut Ichwan, tren isu terorisme sedang marak. Kalau
Wawan tidak bisa membuktikan pernyataannya dengan bukti-bukti
yang autentik, bisa dipastikan dia membonceng isu terorisme ini
untuk menyudutkan ajaran Islam. ''Dia harus dituntut membuktikan
pernyataannya.'' Dalam Islam, jelas Ichwan, pembagian zakat harus
sesuai asnaf yang jelas. Berdasarkan praktiknya di Indonesia,
zakat ini lebih banyak disalurkan untuk fakir miskin, pekerjaan
sosial seperti sabilillah, rumah ibadah, dan pendidikan.
Semua itu sudah jelas diatur oleh agama. ''Orang lain menduga
kita bisa menipu-nipu agama sendiri,'' kata Ichwan. Menanggapi
protes keras MUI, Wawan Hari Purwanto mengakui belum memiliki
fakta adanya kegiatan terorisme di Indonesia yang dibiayai dari
dana ZIS. ''Saya harap umat Islam tak tersinggung dengan
pernyataan itu. Saya tak menuduh siapa pun. Apa yang saya
sampaikan itu hanya sebuah early warning (peringatan dini).
Jangan sampai uang ZIS digunakan untuk kegiatan seperti itu,''
paparnya.
Pengamat intelijen dan anggota Komisi III DPR, Suripto (Fraksi
PKS), menganggap tudingan dana zakat untuk terorisme terlalu
jauh. Namun, wacana tersebut jelas arahnya, yaitu untuk
menghancurkan citra institusi zakat dan membuat masyarakat Muslim
enggan berzakat. ''Harusnya kalau memberikan analisis disertai
dengan fakta-fakta. Jangan sampai masyarakat menjadi enggan
berzakat gara-gara takut digunakan untuk kegiatan terorisme,''
tandas Suripto. owo/djo/dwo/hri.
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=340641&kat_id=3
Dr Wawan Hari Purwanto SH MH
(Kudus, 10 November 1965) Istri: Arsi Argasanti Anak: Lukman
Harun Satrio Negoro dan Nur Wahid Wijoyo Kusumo Pendidikan:
S1-Hukum Internasional FH Universitas Diponegoro (1989), S2-Hukum
Ekonomi Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2001), dan S3-Hukum
Bisnis Universitas Padjajaran (2006)
Pekerjaan/Jabatan: Pengamat Intelijen, Direktur Lembaga
Pengembangan Kemandirian Nasional, dosen Lemhanas, Dephan, dan
Litbang Mabes Polri, anggota Tim Sosialisasi Wawasan Kebangsaan
Wakil Presiden, Tim Sosialisasi Perjanjian Helsinki, dan Tim
Penyelesaian Kasus Poso Non Militer.
Buku: Terorisme Ancaman Tiada Akhir, Risk Management Of Banking,
dan Konflik Poso
Hobi: mengkoleksi pakaian adat Nusantara dan luar negeri.
http://www.suaramerdeka.com/harian/0704/01/bincang02.htm
-- A. Yahya Sjarifuddin
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Abu Hurairah R.A. berkata bahwa Rasulullaah SAW. telah bersabda, Sebagian
dari kebaikan keislaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak
berguna baginya. (Hadits hasan diriwayatkan oleh Tirmidzi, dan lainnya)
--
Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 270.4.3/1527 - Release Date: 6/30/2008
6:07 PM