Menikmati Sakit
12 Jul 08 05:40 WIB
Oleh Asriwidiarti

Sebagai bunda empat orang anak yang masih kecil-kecil, tampaknya saya
dituntut untuk selalu menjaga kesehatan, karena tenaga yang harus digunakan
untuk menjaga mereka luar biasa besar.
Tetapi, rencana Allah adalah rencana terbaik. Usai mengisi acara rumahku
surgaku di sebuah radio di siang hari, dan saya masih dalam keadaan bugar,
malam harinya saya tiba-tiba merasa lemas, tak bertenaga, keluar keringat
dingin dan detak jantung saya berdetak kencang, lebih dari seratus kali per
menit.
Paginya, saya ke dokter dalam, dan dokter tak menemukan ada penyakit berarti
di badan saya. Ternyata, "sapaan kasih sayang Allah" itu harus saya nikmati
dalam hitungan hari bahkan sampai berbulan-bulan.
Pada awalnya, saya memutuskan untuk dirawat di rumah saja dan di rumah ibu
mertua saya, yang subhanallah, luar biasa baiknya. Tetapi saudara-saudara
saya dalam din tak tega. Mereka "memaksa" saya untuk dirawat di RS setelah
dua bulan saya tergolek di tempat tidur dan meninggalkan semua amanah dan
kesibukan saya.
Mereka pula yang menyiapkan mobil untuk menjemput saya, mempersiapkan
ruangan terbaik untuk rumah sakit, mengatur jadwal untuk menjaga saya karena
suami harus berbagi konsentrasi untuk rumah, antar jemput sekolah anakdan
kesibukan dakwah yang tak mungkin ditinggalkannya dan tak bisa diwakili.
Mereka pula, saudara-saudara cinta saya, yang memikirkan biayanya. Sungguh,
tak mungkin saya mampu membalas jasa mereka semua. Dan Allah telah selesai
mencatatnya.
Setelah diendoskopi, baru diketahui bahwa lambung dan usus saya mengalami
pendarahan. Subhanallah, saya memang tak boleh GR. Dalam puluhan tahun hidup
saya, Allah tak pernah memberi penyakit berarti, dan sekarang saatnya saya
'turun mesin'. Banyak hikmah yang tak mungkin saya catat seluruhnya. Betapa
persaudaraan dalam iman adalah kekayaan yang tak pernah tertebus harganya,
sebagaimana Allah firmankan dalam surat al-Anfal 68. Begitu mendengar saya
dirawat, saudara-saudara saya, yang ditemukan karena ikatan aqidah, dari
berbagai tempat, bergantian menjenguk dan mensupport semangat saya. Sungguh,
sayatak pernah menyangka, betapa besar cinta mereka untuk saudaranya.
"Istirahat saya" tampaknya juga tak bisa diperpendek. Sepulang dari rumah
sakit, saya masih harus mengalami banyak hal. Badan tiba-tiba panas, diare
parah sehingga harus diinfus di rumah, atau lemes yang tampaknya masih
setia. Belum lagi saya masih harus memanage perasaan saya. Saya yang
terbiasa bergerak harus diam di rumah. Rasanya saya begitu tersiksa. Melihat
anak-anak belajar dan bercanda bersama sementara saya sibuk dengan bermacam
rasa yang saya derita, melihat suami saya mesti menyiapkan banyak hal dan
saya tak bisa membantunya atau menyaksikan kesibukan dakwah yang senantiasa
menggeliat sementara saya tak bisa terlibat di dalamnya. Sungguh, saya
menjadi tak nyaman karenanya.
Tetapi Allah memang tak pernah salah meletakkan takdirnya. Kembali
Saudara-saudara cinta saya, bergantian menyemangati saya. Bunda Siti
Urbayatun meninggalkan laptopnya untuk saya agar saya bisa mengetik dan
melupakan penyakit saya, dr.Oom Nurrohimah SP Pd dan dokter Yayukrutin
merawat saya, bu Endah mengambil dua anak saya untuk dijaga di rumahnya,
bahkan sejak saya di rumah sakit, bu Wiwik yang juga mengasuh acara rumahku
surgaku di radio hampirtiap hari mengecek atau menyemangati saya, Ustadzah
Habibah memberikan bantal panasnya dan bu Bustani yang guru SMP IT
senantiasa meminjamkan buku perpustakaan dari sekolahannya untuk menemani
hari-hari sepi saya. Belum lagi akhwat-akhwat yang tak mungkin terbalaskan
kebaikannya.
Subhanallah, sampai saat ini, saya masih harus berkutat dengan sisa-sisa
penyakit sayaditambah problem gigi yang tiba-tiba dan bersamaan datangnya.
Tetapi saya tahu, inilah bentuk kasih sayang Allah untuk mengggugurkan
dosa -dosa saya. Allah tak mungkin tak menyayangi saya. Dan sabar dan syukur
adalah dua mata air yang airnya tak pernah kering memberikan kekuatan. Saya
tahu, saya memang harus banyak belajar untuk melakukan keduanya. Dan sakit
itulah yang mengajari saya untuk mendekati keduanya, secara praktek, tak
cuma teori.dan cinta dari sekeliling saya adalah pembelajaran yang penuh
makna.
Terima kasih ya Allah...terima kasih saudara cinta...Seringkali sakit
memberikan banyak hal yang kita tak bisa dapat kecuali kita memang harus
menjalaninya....


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyalaahu anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa bernafas tiga kali sewaktu minum. (HR. Muttafaq alaih) Yaitu bernafas di luar gelas. Beliau melarang bernafas di dalam gelas sewaktu minum dan beliau juga melarang meniup minuman. (Sebagaimana yang disebutkan dalam HR. At-Tirmidzi)

Kirim email ke