Asslmkm.Wr.Wb. Dari puluhan email yang masuk beberapa hari ini khususnya dengan subjek "Maaf-memaafkan" menjelang Ramadhan ini tidak ada satupun ucapan "Pemberian Maaf". Yang jadi pertanyaan, sebenarnya mudah mana meminta maaf atau memberi maaf?
Di beberapa kesempatan dan artikel memang sering disampaikan berinisiatif lebih dulu untuk minta maaf adalah satu perbuatan terpuji. Tapi ketiadaan pernyataan pemberian maaf apakah tidak mengandung tafsiran bahwa si Fulan menyimpang seabreg dendam? Apakah kita cuma sekedar melunaskan kewajiban kita dengan "meminta maaf" secara otomatis telah sempurna dengan ketiadaan memberi maaf sebagai suatu hak yang patut diterima oleh lawan bicara (atau lawan pendosa)? Untuk itu, dengan hati lapang dengan ini saya memberikan pintu maaf seluas-luasnya bagi sesiapa anggota member ini yang mungkin "merasa telah khilaf" kepada saya dan keluarga. Sebaliknya, mohon dimaafkan .... Tulisan-tulisan saya ... Sikap kami .... Lisan kami .... dsb ....... baik yang tidak disengaja maupun disengaja atau yang menjadikan Anda menjadi berdosa lantaran hal-hal dari kami tersebut. Semoga ini dapat berarti langkah kecil yang bernilai positif. Kemudian di moment Ramadhan yang sebentar lagi hadir saya ingin menghimbau agar pertanyaan ini ditanyakan kepada masing-masing dari kita : "KAPAN TAKWANYA SAYA?". Selamat menghisab diri!!! Wassallam / Jaerony.- *******************************

