Rumah 1 Pintu Merugikan Konsumen
Selasa, 02 September 2008 07:12
1 Ramadhan atau 1/09/08 menjadi kenangan tersendiri bagi saya. Karena kini saya 
mengudara bersama warnaislam.com yang berkibar dengan idealisme dakwah. Rasa 
haru tak terperikan. Karena pada hari ini pula anak sulung saya sahur dan buka 
puasa terpisah dari kami. Jauh di Gontor-Jawa Timur sana. Hingga kami 
bercucuran air mata saat maghrib awal 1 ramadhan.

Netters sekalian, inilah kehidupan. Yang jelas mari kita tetap berpegang pada 
tali Allah. Allahu shomad. Allah tempat bergantung. Semoga dengan ini hidup 
kita bahagia. Ramadhan kita berkah.

Kali ini saya akan mengulas sedikit tentang salah kaprah yang banyak terjadi di 
lapangan. Banyak BTN atau developer yang kini menawarkan bentuk-bentuk rumah 
yang menarik. Mulai dari yang modern hingga minimalis. Namun sayangnya 
penampilan gambar yang indah itu sering tak diiringi dengan denah yang baik dan 
benar.

Sederhana saja. Rumah tersebut hanya memiliki 1 pintu masuk. Dengan teras kecil 
di depan lalu pintu tersebut terhubung ke ruang tamu yang di sebelahnya 
terletak kamar tidur. Dengan ukuran rumah biasanya T.36 atau T.45 maka 
sepertinya memang tak ada pilihan lain.

Memang developer atau kontraktor akan untung membangun rumah demikian. Karena 
lebih simple dan mudah pembangunannya. Namun untuk konsumen jelas akan 
merugikan. Hal inilah yang jarang diperhatikan oleh pembeli rumah.

Karena idealnya rumah tersebut memiliki minimal 2 pintu masuk. 1 pintu dari 
ruang tamu sebagai publik area dan 1 pintu lagi dari dapur sebagai akses 
service. Bahkan jika keadaan memungkinkan ada yang hingga 3 pintu. Satu pintu 
lagi ke teras samping yang biasa digunakan untuk kumpul keluarga.

Hal ini jelas akan membuat rumah tersebut menjadi ideal. Karena jika ada tamu 
maka anak-anak dapat masuk lewat pintu samping. Pembantu dan tukang gas dapat 
masuk ke dapur langsung walaupun ada pengajian di ruang tamu. Tukang kebon yang 
hendak membersihkan rumput dapat dengan nyaman lalu lalang tanpa mengganggu 
arisan keluarga di ruang tamu.

Sederhana bukan. Namun hal ini justru sering terlewatkan oleh konsumen. Karena 
biasanya konsumen akan merasakannya setelah tinggal-tumbuh dan berkembang di 
rumah tersebut. Hingga pada akhirnya harus dibongkar atau direnovasi di 
kemudian hari. Agak repot kan ? Inilah sebenarnya yang harus dihindari. Kalau 
bisa renovasi tersebut tidak terlalu banyak merubah bentuk asli. Karena tentu 
banyak biayanya.

Jadi mulai saat ini jika anda ingin membeli rumah tolong perhatikan pintu 
masuknya. Usahakan yang memiliki 2 pintu masuk. Akan lebih mudah kelak jika 
direnovasi. Bahkan rumah standard tersebut biasanya akan lebih lama untuk 
direnovasinya.

Nah, sementara ini dulu yang bisa saya berikan. Kita jumpa di kesempatan lain. 
Bagi yang ingin mengajukan konsultasi tentang arsitektur dan rumah tinggal, 
bisa mengirimkan ke email : [EMAIL PROTECTED] dengan subject [arsitektur]  
Insya Allah, saya akan menjawab pertanyaan yang masuk dari anda.

Akhirul kalam,

Wassalaamu'alaikum wr wb

Andan Nadriasta, ST - [EMAIL PROTECTED]

      penulis : 
      Andan Nadriasta, ST 
      Cukup unik masa kecilnya. SD 6 tahun ada di 6 SD terpisah. Mulai dari 
Rantau Kuala Simpang (Aceh), Pangkalan Brandan (Medan), Pekalongan, Jakarta 
hingga Plaju dan Prabumulih di Sumsel. Semua karena mengikuti tugas ayahnya di 
Pertamina.

      Demikian juga SMP dan SMA nya harus di Balikpapan dan Jakarta. Hingga 
lulus tahun '90 dan masuk ke Jurusan Arsitektur di Univ. Pancasila Jakarta, 
karena sejak kecil cita-citanya adalah arsitek.

      Sejak kuliah hingga lulus '97 ia sudah terjun ke lapangan. Karena ia juga 
keponakan dari Ir. Nurhadi yang dulu pernah mengasuh rubrik arsitektur di 
Tabloid NOVA, maka dunia konsultasi dan bangun membangun rumah tak asing lagi. 
Pernah tampil seminggu sekali di koran Republika, kini banyak karyanya yang 
sudah tersebar. Mulai dari pembangunan dan renovasi beberapa masjid hingga yang 
terakhir adalah renovasi rumah Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR.

      Istri beliau adalah Reny Anggrayni, ST yang sekaligus menjadi pengisi 
tetap di Majlis Taklim Ibu-Ibu Al-Falah, membuatnya semakin mantap menapaki 
jalan dakwah ini. Anak sulungnya bersekolah di Gontor dan 2 putrinya masih 
sekolah di SDIT IQRO' serta seorang lagi masih bayi.

      Prinsipnya dunia akhirat. Banyak rumah ustadz yang sudah digarapnya. 
Mulai dari Rumah Ust. Rahmat Abdullah (Alm), Ust. Ahmad Madani, Lc (Alm), Ust. 
Mutamimul Ula hingga TKIT Islamic Centre IQRO' Pondok Gede. Ia juga terlibat 
dalam kepengurusan di Masjid Al-Falah serta menjadi Ketua RT 02/10 Jati Agung 1 
- Kelurahan Jatibening Baru-Pondok Gede.

      Orang tuanya berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah dan penggemar wayang. 
Maka nama Andan Nadriasta diambil dari bahasa sansekerta, yang artinya 'tangan 
yang berkarya'. Nama adalah doa. Kini ia menjadi arsitek muslim.

      
http://www.warnaislam.com/rubrik/arsitek/2008/9/2/25935/Rumah_1_Pintu_Merugikan_Konsumen.htm
     

Kirim email ke