Beri Saya Kail
Selasa, 12 Agustus 2008 09:28
Setahun yang lalu, saya mendapat 'bantuan' berupa dana untuk membiayai
pendidikan anak-anak saya dari salah seorang pakde kesayangan. Dia kakak persis
di atas ibu saya. Diharapkan, saya jadi tidak dipusingkan mencari biaya untuk
menyekolahkan anak saya. Tapi saya ini bukan pengangguran lho. Cuma yang saya
hasilkan memang untuk hidup sekedar cukup saja, belum berlebih.
Menerima uang itu berarti saya mendapat amanah yang nantinya harus saya
pertanggung jawabkan kelak. Paling tidak, saya harus bisa menunjukkan kepada
pakde saya, hasil berupa sekolah anak saya yang tidak menunggak bayarannya.
Yah, niat baik harus diimbangi dengan hasil seperti yang diharapkan.
Tidak berapa lama, pakde saya meninggal. Dan dengan begitu, berarti tanggung
jawab saya semakin besar untuk masalah 'dana pendidikan' itu. Amanah dari orang
meninggal. Kalau sampai salah, bisa-bisa nanti dituntut di akhirat.
Mungkin anda pikir, enak benar hidup saya ini. Hidup diberi uang seperti itu.
Tapi saya malah merasa malu. Karena bisa-bisa timbul omongan dan contohnya
seperti yang barusan itu. Dianggap enak-enakan mendapat uang dari orang yang
sudah mau meninggal. Walau mungkin si pemberi tidak bermaksud begitu. Mereka
dengan tulus ikhlas memberi uang dan saya juga dengan tulus ikhlas menerimanya.
Tapi 'kan kita tidak pernah tahu hati orang lain, yang mungkin dia berpikir
seperti yang di atas tadi. Dan menghadapi omongan orang, saya lebih memilih
diam. Daripada nantinya orang lain sakit hati, lebih baik saya telan saja
omongan mereka.
Kalau mau protes, saya sebetulnya ingin sekali protes. Jangan menuding saya
yang tidak-tidak, yang cuma duduk menengadah tangan. Sekali-kali tidak. Tapi,
yah itu tadi. Saya lebih suka berdiam diri. Lelah dan buang waktu saja untuk
menanggapi omongan orang.
Dari dulu, saya sudah bertekad untuk tidak minta pada orang lain, kecuali
memang itu ada balas jasa atau timbal balik. Mungkin orang lain menganggap saya
ini pemalas, tapi saya tidak begitu. Daripada saya disantuni, lebih baik beri
saya pekerjaan yang memang sesuai dengan kemampuan saya. Dan bayarlah sesuai
dengan apa yang saya kerjakan.
Sering kali, saya diajak kerja. Jarang-jarang saya meminta pekerjan. Dan
alhamdulillah, selalu saja tersedia pekerjaan. Memang, rejeki sudah diatur
sedemikian rupa. Ada saja yang datang dari sumber-sumber yang tidak
disangka-sangka. Tidak banyak, memang. Tapi ya itu tadi, cukup. Bila berlebih,
pasti sudah ada tangan-tangan lain yang berhak untuk menjadi 'tampungan' rejeki
yang saya terima. Entah itu sesuatu yang harus dibayarkan, atau hutang atau
cuma sekedar ada orang minta tolong. Sampai-sampai istri saya bilang, "Ini duit
kayak aer. Nggak pernah gitu awet.. Ada aja yang bikin ni duit keluar ato kudu
dibayar." Ah, rejeki sudah ada yang mengatur. Kalau itu hak kita, pasti dia
akan sampai juga. Bila itu hak orang lain, paling sebentar mampir di tangan.
Berikan saya kail, itu yang menjadi motto hidup saya. Bila saya hanya diberikan
ikannya saja, maka bisa-bisa seumur hidup saya cuma dicemooh dan menjadi
pemalas. Saya lebih suka membantu siapa saja, tidak perduli apa dan bagaimana
orang itu. Asalkan memang yang dimintakan untuk dibantu adalah hal yang tidak
bertentangan dengan norma serta akhlaq yang berlaku. Dengan keahlian ala
kadarnya, sebagai contoh, saya mau membantu membuatkan sebuah situs yang bisa
bermanfaat bagi orang lain. Tapi jikalau sebuah situs porno misalnya, walau
dibayar dengan jaminan tidak akan pernah kekurangan seumur hidup, sudah pasti
saya tolak. Bukan apa-apa, pertanggungjawaban kelak di akhirat nanti, yang saya
tidak sanggup untuk menjalaninya.
Dan saya berharap, jerih payah saya dibayar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Tidak mudah memang bagi saya untuk menetapkan angka-angka karena sungkan
rasanya. Saya lebih senang jikalau orang merasa puas dengan apa yang saya
kerjakan lalu membayar berdasar rasa kepuasan itu. Yah, tidak mungkin toh, bila
pekerjaan yang diminta senilai 5 juta misalnya, lalu saya kerjakan dengan
kualitas kurang dari itu. Biasanya lebih malah. Tapi, lagi-lagi, saya sungkan
untuk menetapkan harga. Orang yang mengerti dan paham, pasti tahu nilai sebuah
pekerjaan. Daripada saya tetapkan harga, lalu ternyata saya tidak bisa mencapai
hasil yang diinginkan? Bukan cuma klien yang kecewa, saya juga merasa sudah
bekerja tidak sesuai dengan hasil yang diminta.
penulis :
H. N. Dewantara
Berawal dari iseng-iseng belajar PHP karena ingin membuat sistem
pendataan berbasis web untuk alumni SMA-nya.
Setelah merasa cukup pede untuk menerima tawaran pembuatan situs, maka
dimulailah "petualangan" di dunia maya.
Pernah kuliah di Gunadarma mengambil jurusan Teknik Komputer. Tapi karena
merasa otak sudah penuh dan jenuh, akhirnya keluar di tingkat 2.
Lalu karena pernah sempat jalan-jalan 2 minggu di Jepang, membuatnya jadi
tertarik untuk kuliah Sastra Jepang di Dharma Persada. Tapi memang merasa tidak
bakat untuk kuliah, akhirnya ditinggalkan juga.
Anak dari Alex Aly Rachim, pendiri majalah Suara Masyarakat Belitung ini,
mulai mengasah kemampuan menulisnya dengan mengisi rubrik di situs ini.
http://www.warnaislam.com/rubrik/kolom/2008/8/12/34091/Beri_Saya_Kail.htm