Abraham David Mandey : Pendeta yang mendapat Hidayah Allah
Kisah Mualaf - Kisah Rohaniawan/Budayawan
Friday, 24 June 2005 17:00
Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa perjalanan hidupnya
merupakan suatu kasus yang langka dan unik. Betapa tidak, Abraham David Mandey
yang selama 12 tahun mengabdi di gereja sebagai "Pelayan Firman Tuhan ",
istilah lain untuk sebutan pendeta, telah memilih Islam sebagai "jalan hidup"
akhir dengan segala risiko dan konsekuensinya. Di samping itu, ia yang juga
pernah menjadi perwira TNI-AD dengan pangkat mayor, harus mengikhlaskan diri
melepas jabatan, dan memulai karir dari bawah lagi sebagai kepala keamanan di
sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Cerita Beliau ini, - mohon maaf - tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan
Institusi tertentu karena apa yang telah terjadi Beliau terima dengan ikhlas
dan tawakal, Beliau hanya ingin menceritakan proses bagaimana Beliau mendapat
hidayah dan tantangannya sebagai mualaf - red.
Saya terlahir dengan nama Abraham David di Manado, 12 Februari 1942.
Sedangkan, Mandey adalah nama fam (keluarga) kami sebagai orang Minahasa,
Sulawesi Utara. Saya anak bungsu dan tiga bersaudara yang seluruhnya laki-laki.
Keluarga kami termasuk keluarga terpandang, baik di lingkungan masyarakat
maupun gereja. Maklum, ayah saya yang biasa kami panggil papi, adalah seorang
pejabat Direktorat Agraria yang merangkap sebagai Bupati Sulawesi pada awal
revolusi kemerdekaan Republik Indonesia yang berkedudukan di Makasar.
Sedangkan, ibu yang biasa kami panggil mami, adalah seorang guru SMA di
lingkungan sekolah milik gereja Minahasa.
Sejak kecil saya kagum dengan pahlawan-pahlawan Perang Salib seperti
Richard Lion Heart yang legendaris. Saya juga kagum kepada Jenderal Napoleon
Bonaparte yang gagah perwira. Semua cerita tentang kepahlawanan, begitu
membekas dalam batin saya sehingga saya sering berkhayal menjadi seorang
tentara yang bertempur dengan gagah berani di medan laga.
Singkatnya, saya berangkat ke Jakarta dan mendaftar ke Mabes ABRI. Tanpa
menemui banyak kesulitan, saya dinyatakan lulus tes. Setelah itu, saya resmi
mengikuti pendidikan dan tinggal di asrama. Tidak banyak yang dapat saya
ceritakan dari pendidikan militer yang saya ikuti selama 2 tahun itu, kecuali
bahwa disiplin ABRI dengan doktrin "Sapta Marga"-nya telah menempa jiwa saya
sebagai perwira remaja yang tangguh, berdisiplin, dan siap melaksanakan tugas
negara yang dibebankan kepada saya.
Meskipun dipersiapkan sebagai perwira pada bagian pembinaan mental,
tetapi dalam beberapa operasi tempur saya selalu dilibatkan. Pada saat-saat
operasi pembersihan G-30S/PKI di Jakarta, saya ikut bergabung dalam komando
yang dipimpin Kol. Sarwo Edhie Wibowo (almarhum).
Setelah situasinegara pulih yang ditandai dengan lahirnya Orde Baru tahun
1966, oleh kesatuan saya ditugaskan belajar ke STT (Sekolah Tinggi Teologi)
milik gereja Katolik yang terletak di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat. Di STI
ini, selama 5 tahun (1966-1972) saya belajar, mendalami, mengkaji, dan diskusi
tentang berbagai hal yang diperlukan sebagai seorang pendeta. Di samping
belajar sejarah dan filsafat agama Kristen. STT juga memberikan kajian tentang
sejarah dan filsafat agama-agama di dumia, termasuk studi tentang Islam.
Menjadi Pendeta.
Sambil tetap aktif d TNI-AD, oleh Gereja Protestan Indonesia saya
ditugaskan menjadi Pendeta II di Gereja P***** (edited) di Jakarta Pusat,
bertetangga dengan Masjid Sunda Kelapa. Di gereja inilah, selama kurang lebih
12 tahun (1972-1984) saya memimpin sekitar 8000 jemaat yang hampir 80 persen
adalah kaum intelektual atau masyarakat elit.
Di Gereja P***** (edited) ini, saya tumpahkan seluruh pengabdian untuk
pelayanan firman Tuhan. Tugas saya sebagai Pendeta II, selama memberikan
khutbah, menyantuni jemaat yang perlu bantuan atau mendapat musibah, juga
menikahkan pasangan muda-mudi yang akan berumah tangga.
Kendati sebagai pendeta, saya juga anggota ABRI yang harus selalu siap
ditugaskan di mana saja di wilayah Nusantara. Sebagai perwira ABRI saya sering
bertugas ke seluruh pelosok tanah air Bahkan, ke luar negeri dalam rangka tugas
belajar dari markas, seperti mengikuti kursus staf Royal Netherland Armed
Forces di Negeri Belanda. Kemudian, pada tahun 1969 saya ditugaskan untuk
mengikuti Orientasi Pendidikan Negara-negara Berkembang yang disponsoni oleh
UNESCO di Paris, Prancis.
Dilema Rumah Tangga
Kesibukkan saya sebagai anggota ABRI ditambah tugas tugas gereja, membuat
saya sibuk luar biasa. Sebagaipendeta, saya lebih banyak memberikan perhatian
kepada jemaat. Sementara,kepentingan pribadi dan keluarga nyaris tergeser.
Istri saya, yang putri mantan Duta Besar RI di salah satu negara Eropa, sering
mengeluh dan menuntut agar saya memberikan perhatian yang lebih banyak buat
rumah tangga.
Tetapi yang namanya wanita, umumnya lebih banyak berbicara atas dasar
perasaan. Karena melihat kesibukan saya yang tidak juga berkurang, ia bahkan
meminta agar saya mengundurkan diri dan tugas-tugas gereja, dengan alasan
supaya lebih banyak waktu untuk keluarga. Tenth saja saya tidak dapat menerima
usulannya itu. Sebagai seorang "Pelayan Firman Tuhan" saya telah bersumpah
bahwa kepentingan umat di atas segalanya.
Problem keluarga yang terjadi sekitar tahun 1980 ini kian memanas,
sehingga bak api dalam sekam. Kehidupan rumah tangga saya, tidak lagi harmonis.
Masalah-masalah yang kecil dan sepele dapat memicu pertengkaran. Tidak ada lagi
kedamaian di rumah. Saya sangat mengkhawatirkan Angelique, putri saya
satu-satunya. Saya khawatir perkembangan jiwanya akan terganggu dengan masalah
yang ditimbulkan kedua orang tuanya. Oleh karenanya, saya bertekad harus
merangkul anak saya itu agar ia mau mengerti dengan posisi ayahnya sebagai
pendeta yang bertugas melayani umat. Syukur, ia mau mengerti. Hanya
Angeliquelah satu-satunya orang di rumah yang menyambut hangat setiap
kepulangan saya.
Dalam kesunyian malam saat bebas dan tugas-tugas gereja, saya sering
merenungkan kehidupan ramah tangga saya sendiri. Saya sering berpikir, buat apa
saya menjadi pendeta kalau tidak mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan
buat rumah tangganya sendiri. Saya sering memberikan khutbah pada setiap
kebaktian dan menekankan hendaknya setiap umat Kristen mampu memberikan kasih
kepada sesama umat manusia. Lalu, bagaimana dengan saya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu semakin membuat batin saya resah. Saya
mencoba untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, semuanya sudah terlambat. Istri saya
bahkan terang terangan tidak mendukung tugas-tugas saya sebagai pendeta. Saya
benar-benar dilecehkan. Saya sudah sampal pada kesimpulan bahwa antara kami
berdua sudah tidak sejalan lagi.
Lalu, untuk apa mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak saling
sejalan? Ketika niat saya untuk "melepas" istri, saya sampaikan kepada
sahabat-sahabat dekat saya sesama pendeta, mereka umumnya menyarankan agar saya
bertindak lebih bijak. Mereka mengingatkan saya, bagaimana mungkin seorang
pendeta yang sering menikahkan seseorang, tetapi ia sendiri justru menceraikan
istrinya? Bagaimana dengan citra pendeta di mata umat? Begitu mereka
mengingatkan.
Apa yang mereka katakan semuanya benar. Tetapi, saya sudah tidak mampu
lagi mempertahankan bahtera rumah tangga. Bagi saya yang terpenting saat itu
bukan lagi persoalan menjaga citra pendeta. Tetapi, bagaimana agar batin saya
dapat damai. Singkatnya, dengan berat hati saya terpaksa menceraikan istri
saya. Dan, Angelique, putri saya satu-satunya memilih ikut bersama saya.
Mencari Kedamaian
Setelah kejadian itu, saya menjadi lebih banyak melakukan introspeksi.
Saya menjadi lebih banyak membaca literatur tentang filsafat dan agama.
Termasuk kajian tentang filsafat Islam, menjadi bahan yang paling saya sukai.
Juga mengkaji pemikiran beberapa tokoh Islam yang banyak dilansir media massa.
Salah satunya tentang komentar K.H. E.Z. Muttaqin (almarhum) terhadap
krisis perang saudara di Timur Tengah, seperti diYerusalem dan Libanon. Waktu
itu (tahun 1983), K.H.E.Z. Muttaqin mempertanyakan dalam khutbah Idul Fitrinya,
mengapa Timur Tengah selalu menjadi ajang mesiu dan amarah, padahal di tempat
itu diturunkan para nabi yang membawa agama wahyu dengan pesan kedamaian?
Saya begitu tersentuh dengan ungkapan puitis kiai dan Jawa Barat itu.
Sehingga, dalam salah satu khutbah saya di gereja, khutbah Idul Fitni K.H. E.Z.
Muttaqin itu saya sampaikan kepada para jemaat kebaktian. Saya merasakan ada
kekagetan di mata para jemaat. Saya maklum mereka terkejut karena baru pertama
kali mereka mendengar khutbah dari seorang pendeta dengan menggunakan referensi
seorang kiai Tetapi, bagi saya itu penting, karena pesan perdamaian yang
disampaikan beliau amat manusiawi dan universal.
Sejak khutbah yang kontroversial itu, saya banyak mendapat sorotan.
Secara selentingan saya pemah mendengar "Pendeta Mandey telah miring."
Maksudnya, saya dinilai telah memihak kepada salah satu pihak. Tetapi, saya
tidak peduli karena yang saya sampaikan adalah nilai-nilai kebenaran.
Kekaguman saya pada konsep perdamaian Islam yank diangkat oleh KH. E.Z.
Muttaqin, semakin menarik saya lebih kuat untuk mendalami konsepsi-konsepsi
Islam lainnya. Saya ibarat membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya, dan setelah
masuk, saya ingin masuk lagi ke pintu yang lebih dalam. Begitulah
perumpamaannya. Saya semakin "terseret" untuk mendalami, konsepsi Islam tentang
ketuhanan dan peribadahan
Saya begitu tertarik dengan konsepsi ketuhanan Islam yang disebut
"tauhid". Konsep itu begitu sederhana, lugas, dan tuntas dalam menjelaskan
eksistensi Tuhan yang oleh orang Islam disebut Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Sehingga, orang yang paling awam sekalipun akan mampu mencemanya. Berbeda
dengan konsepsi ketuhanan Kristen yang disebut Trinitas. Konsepsi ini begitu
rumit, sehingga diperlukan argumentasi ilmiah untuk memahaminya.
Akan halnya konsepsi peribadatan Islam yang disebut syariat, saya
melihatnya begitu teratur dan sistematis. Saya berpikir seandainya sistemper
ibadatan yang seperti ini benar benar diterapkan, maka dunia yang sedang kacau
ini akan mampu di selamatkan.
Pada tahun 1982 itulah saya benar-benar mencoba mendekati Islam. Selama
satu setengah tahun saya melakukar konsultasi dengan K.H. Kosim Nurzeha yang
juga aktif di Bintal (Pembinaan Mental) TNI-AD. Saya memang tidak ingin gegabah
dan tergesa-gesa, karena di samping saya seorang pendeta, saya juga seorang
perwira Bintal Kristen dilingkungan TNI-AD. Saya sudah dapat menduga apa yang
akan terjadi seandainya saya masuk Islam.
Tetapi, suara batin saya yang sedang mencari kebenaran dan kedamaian
tidak dapat diajak berlama-lama dalam kebimbangan. Batin saya mendesak kuat
agar saya segera meraih kebenaran yang sudah saya temukan itu.
Oh, ya, di samping Pak Kosim Nurzeha, saya juga sering berkonsultasi
dengan kolega saya di TNI-AD. Yaitu, Dra. Nasikhah M., seorang perwira Kowad
(Korps.Wanita Angkatan Darat) yang bertugas pada BAIS (Badan Intelijen dan
Strategi) ABRI.
Ia seorang muslimah lulusan UGM (Universilas Gajah Mada) Yogyakarta,
jurusan filsafat. Kepadanya saya sering berkonsultasi tentang masalah-masalah
pribadi dan keluarga. Ia sering memberi saya buku-buku bacaan tentang pembinaan
pribadi dan keluarga dalam Islam. Saya seperti menemukan pegangan dalam
kegundahan sebagai duda yang gagal dalam membina rumah tangganya.
Akhirnya, saya semakin yakin akan hikmah dibalik drama rumah tangga saya.
Saya yakin bahwa dengari jalan itu, Tuhan ingin membimbing saya ke jalan yang
lurus dan benar. Saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan melepas
kebenaran yang telah saya raih ini.
Akhimya, dengan kepasrahan yang total kepada Tuhan, pada tanggal 4 Mei
1984 saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat dengan bimbingan Bapak K.H.
Kosim Nurzeha dan saksi Drs. Farouq Nasution di Masjid Istiqial. Allahu Akbar.
Hari itu adalah hari yang amat bersejarah dalam hidup saya. Han saat saya
menemukan diri saya yang sejati.
Menghadapi Teror
Berita tentang keislaman saya ternyata amat mengejutkan kalangan gereja,
termasuk di tempat kerja saya di TNI-AD. Wajar, karena saya adalah Kepala
Bintal (Pembinaan Mental)Kristen TNI-AD dan di gereja, saya adalah pentolan.
Sejak itu saya mulai memasuki pengalaman baru, yaitu menghadapi tenor dan
berbagai pihak. Telepon yang bernada ancaman terus berdening. Bahkan, ada
sekelompok pemuda gereja di Tanjung Priok yang bertekad menghabisi nyawa saya,
karena dianggapnya telah murtad dan mempermalukan gereja.
Akan halnya saya, di samping menghadapi teror, juga menghadapi persoalan
yang menyangkut tugas saya di TNI AD. DGI (Dewan Gereja Indonesia), bahkan
menginim surat ke Bintal TNT-AD, meminta agar saya dipecat dan kedinasan
dijajaran ABRl dan agar saya mempertanggungjawabkan perbuatan saya itu di
hadapan majelis gereja.
Saya tidak penlu menjelaskan secara detail bagaimana proses selanjutnya,
karena itu menyangkut rahasia Mabes ABRI. Yang jelas setelah itu, saya menerima
surat ucapan tenima kasih atas tugas-tugas saya kepada negara, sekaligus
pembebastugasan dan jabatan saya di jajaran TNT-AD dengan pangkat akhir Mayor.
Tidak ada yang dapat saya ucapkan, kecuali tawakal dan ménerima dengan
ikhlas semua yang tenjadi pada diri saya. Saya yakin ini ujian iman.
Saya yang terlahir dengan nama Abraham David Mandey, setelah muslim
menjadi Ahmad Dzulkiffi Mandey, mengalami ujian hidup yang cukup berat.
Alhamdulillah, berkat kegigihan saya, akhirnya saya diterima bekerja di sebuab
perusahaan swasta. Sedikit demi sedikit kanin saya terus menanjak. Setelah itu,
beberapa kali saya pindah kerja dan menempati posisi yang cukup penting. Saya
pennah menjadi Manajer Divisi Utama FT Putera Dharma. Pernah menjadi
Personel/General Affairs Manager Hotel Horison, tahun 1986-1989, Dan, sejak
tahun 1990 sampai sekarang saya bekerja di sebuah bank terama di Jakarta
sebagai Safety & Security Coordinator.
Kini, keadaan saya sudah relatif baik, dan saya sudah meraih semua
kebahagiaan yang selama sekian tahun saya rindukan. Saya sudah tidak lagi
sendiri, sebab Dra. Nasikhah M, perwira Kowad itu, kini menjadi pendamping saya
yang setia, insya Allah selama hayat masih di kandung badan. Saya menikahinya
tahun 1986. Dan, dan perikahan itu telah lahir seorarig gadis kedil yang manis
dan lucu, namariya Achnasya. Sementara, Angelique, putri saya dari istri
pertama, sampai hari ini tetap ikut bersama saya, meskipun ia masih tetap
sebagai penganut Protestan yang taat.
Kebahagiaan saya semakin bertambah lengkap, tatkala saya mendapat
kesempatan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama istri tercinta pada
tahun 1989.
http://www.mualaf.com/kisah-a-pengalaman/muallaf-rohaniawan/16-kisah-rohaniawanbudayawan/111