---------- Forwarded message ----------
From: arda dinata <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue, 9 Sep 2008 09:25:13 +0800 (SGT)
Subject: [mediabaca] Terhindar dari Ketergantungan Duniawi
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], media baca
<[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED]




 [ARDA NEWS] Terhindar dari Ketergantungan Duniawi


Oleh: ARDA DINATA
Email: [EMAIL PROTECTED]
http://ardanews.blogspot.com


Dalam kehidupan ini, hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta
benda dan kekayaan lainnya, bukanlah suatu jaminan atas keselamatan
seseorang bila ia tidak mampu mengelolanya dengan baik. Sebaliknya,
ketiadaannya terhadap kepemilikan kekayaan duniawi tidak akan membuat
sengsara, bila kita berepagangan teguh pada tali Allah Swt.

Untuk itu, agar kita terhindar dari ketergantungan akan cinta dunia
dan tidak mengabaikan terhadap nikmat dunia tersebut, maka diperlukan
adanya keseimbangan dalam memandang kekayaan duniawi ini. Yakni kita
harus berperilaku zuhud terhadapnya. Prinsip utama zuhud adalah
meninggalkan ketergantungan, tetapi bukan serta merta meninggalkan
kepemilikan.

Konsep seperti itulah, seharusnya yang tertanam dalam jiwa seorang
muslim. Petunjuk ini dapat kita temukan dalam Alquran. Allah Swt
berfirman, "Dan bila telah ditunaikan shalat maka bertebarlah kamu di
muka bumi, dan carilah dari karunia Allah. Dan ingatlah Allah dengan
ingat yang banyak, agar kamu semakin beruntung." (QS. Al-Jumuah
[62]:10). Ayat ini dapat menjadi petunjuk akan tidak adanya larangan
atas kepemilikan. Namun, pada keterangan lain Allah Swt melarang tegas
bagi siapa saja yang sangat tergantung kepada dunia semata dan
terkekang oleh perhiasannya. Allah Swt berfirman, "Maka berpalinglah
(hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan yang
tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi." (QS. An-Najm [53]: 29).

Berikut ini, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar
terhindar dari lilitan ketergantungan pada kekayaan duniawi.

Tidak meletakan hal-hal duniawi di hati.

Orang zuhud itu akan meletakan dunia di tangan dan tidak meletakannya
di hati, serta tidak dengan membuangnya. Ini kunci yang pertama bila
kita ingin selamat dengan kekayaan duniawi.

Oleh karena itu, hendaklah ia bersama Allah dan hatinya lebih banyak
didominasi oleh nikmatnya ketaatan, karena hati tidak dapat terbebas
sama sekali dari rasa cinta (baca: cinta dunia atau cinta Allah).
Kedua cinta ini di dalam hati seperti air dan udara di dalam sebuah
gelas.

Itulah sebabnya, barangkali mengapa Hisyam bin Hassan pernah berkata,
"Tiada seorang yang mengagungkan dirham kecuali Allah akan
menghinakannya."

Tidak hanyut dalam memburu kekayaan duniawi.

Perilaku hanyut dalam memburu kekayaan duniawi merupakan sesuatu yang
membahayakan. Sebab sangat mungkin kesempatan dan keseriusan seseorang
dalam memburu kekayaan duniawi akan berakibat manusia lupa akan
kewajibannya berdakwah. Sehingga pada ujungnya, hal itu akan membuat
hatinya beku dan mengeras serta jiwanya menjadi kering.

Sejarah memperlihatkan kepada kita, betapa banyak jiwa-jiwa suci
akhirnya tercemar. Adanya tali ukhuwah yang kuat akhirnya berakhir
dengan kebencian dan kehncuran. Hal demikian, tidak lain disebabkan
adanya persaingan di antara mereka dalam mencari kekayaan duniawi dan
melupakan akhirat. Adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf
ra., kedua sosok yang patut dicontoh, karena ia terkenal kaya, tetapi
selalu berpikir tentang akhirat.

Tidak menumpuk-numpuk kekayaan duniawi.

Setan sebagai musuh manusia, tentu akan selalu berusaha merayu dan
membujuk orang-orang kaya untuk terus menimbun dan menumpuk
kekayaannya, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah. Padahal
kedudukan kekayaan (harta) dalam pandangan Islam adalah harta Allah
sedangkan manusia itu terikat dalam membelanjakannya dengan
ketentuan-ketentuan yang disyariatkan-Nya.

Untuk itu, agar tidak cinta dunia, maka kita harus memposisikan
kekayaan dunia sebagai jalan, bukan satu-satunya tujuan, dan bukan
pula sebagai sebab yang dapat menjelaskan semua kejadian. Sehingga
patut kita renungkan apa yang dikatakan Al Manawy bahwa, "Harta itu
tidak akan tercela dengan sendirinya, maka sesungguhnya harta dunia
itu adalah ladang di akherat. Barangsiapa mengambil harta dunia itu
dengan memelihara hukum syariat, maka Allah akan memberi pertolongan
di akheratnya."

Jadi, kekayaan harta itu bagaimana orang yang memilikinya, karena ia
bisa menjadi jalan kebaikan dan juga bila tidak berhati-hati ia akan
memperbudak diri kita.

Segera menginfakkan kekayaan duniawi yang diperoleh.

Perilaku menumpuk-numpuk kekayaan harta akan berakibat mereka
melupakan orang fakir miskin. Sehingga untuk menghindari hal ini, kita
hendaknya berusaha untuk segera menginfakkan kekayaan yang telah kita
peroleh.

Dalam Alquran, Allah Swt memberi petunjuk kepada kita berkaitan dengan
membelanjakan kekayaan harta ini, yaitu: "Dan orang-orang yang apabila
membelanjakan (harta) mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula)
kikir tetapi adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian." (QS. Al Baqarah [2]: 67).

Lebih jauh, agar kita terhindar dari ketergantungan terhadap kekayaan
dunia, maka kita dilarang untuk menjatuhkan dirinya kepada kehancuran.
Allah berfirman, "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan
berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
berbuat baik." (QS. Al Baqarah [2]: 195).

Salah satu bentuk sikap berbuat baik terhadap kekayaan dunia adalah
dengan segera menginfakkannya di jalan Allah. Nabi saw bersabda, "Hai
anak Adam, sesungguhnya jika engkau memberikan kelebihan untuk
berinfak adalah lebih baik bagimu. Dan jika engkau kikir adalah lebih
buruk bagimu. Dan janganlah kamu boros terhadap kekayaanmu. Dan
bantulah kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dan tangan
di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah." (HR. Muslim,
Turmudzi).

Dalam hadits lain disebutkan, "Jagalah kamu dari sifat kikir, karena
sesungguhnya kebanyakan orang-orang yang sebelum kamu telah binasa,
disebabkan kekikiran." (HR. Dawud).

Akhirnya, apabila tujuan hidup kita tujuannya hanya Allah, maka ketika
mendapat karunia kekayaan duniawi, akan bersimpuh penuh rasa syukur
kehadirat-Nya. Dan sama sekali tidak akan pernah kecewa dengan
seberapa pun yang Allah berikan kepadanya. Jadi, hendaknya dalam diri
ini terhujam tekad bahwa dirinya tidak akan rela dan tidak berniat
sedikit pun untuk menenggelamkan dirinya dengan kekayaan harta yang
dimilikinya di luar tuntunan-Nya. Wallahu'alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam
(MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.

--
Posted By ardanews to ARDA NEWS at 9/07/2008 01:42:00 PM


      
___________________________________________________________________________
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

[Non-text portions of this message have been removed]

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Al Bara radhiyallah anhu ia berkata: Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam 
memiliki dada yang bidang dan lebar, beliau Shalallaahu alaihi wasalam memiliki 
rambut yang terurai sampai ke cuping telinga (bagian bawah telinga), saya 
pernah menyaksikan beliau mengenakan pakaian berwarna merah, belum pernah saya 
melihat sesuatu yang lebih indah daripada itu. (HR. Al-Bukhari) 

Kirim email ke