Kapan Tidurnya? Rabu, 10 September 2008 10:59 Adalah pemandangan yang 'biasa' terlihat di kantor-kantor, bila waktu mendekati zhuhur dan ashar, wajah-wajah kuyu sambil memelototi layar komputer. Atau pada jam istirahat, mata-mata yang biasanya 'jalang' mencari santapan, kini tertutup sayu usai salat dan bergelimpanganlah mereka di sudut-sudut musalla kantor atau di masjid-masjid. Puase nih bang, critenye kite..
Lumrah, wajar, itu biasa, kayak nggak tau aja.. Adalah ungkapan permisif yang dilontarkan para shoimers. Ya, ini bulan Ramadhan. Bulan dimana umat Islam melaksanakannya dengan cara yang cukup atraktif, puasa bersama. Biasanya di luar bulan Ramadhan, mereka yang berpuasa tidak terlalu kentara. Hanya orang-orang yang beriman dan beramal salih yang gemar melakukan puasa senin kemis. Mengikuti sunnah Nabi. Pun bagi mereka yang sampai detik ini belum juga didekati jodoh atau mereka yang atas petunjuk wangsit, melaksanakan puasa guna menguatkan lahir batin. Apapun nawaitunya, yang pasti saat ini, bulan ini, seluruh umat Islam, apapun warnanya, beriman atau 'sekedar menggugurkan kewajiban', melaksanakan puasa bareng. Sahur bareng, buka bareng. Ah, indahnya melihat kebersamaan. Setelah sebelumnya gontok-gontokan entah karena masalah partai, masalah pilkada, masalah-masalah yang remeh temeh tapi terlalu dibesar-besarkan. Kini semua saling berlomba-lomba memberikan buka puasa, buka bersama. Walau harga-harga sudah melambung tinggi jauh sebelum Ramadhan dan ditambah lagi dengan niat pemerintah menaikkan harga gas elpiji karena sebagai broker, mendapatkan komisi gede dari pihak importir. Itu kata koran lho, bukan saya yang membuat-buat berita. * * * Manajemen waktu di bulan Ramadhan agak susah-susah gampang. Susah bila anda orang yang di luar bulan Ramadhan saja memang sudah berantakan masalah manajemen waktu. Siang banyak ngantuk di kantor, sementara malam malahan begadang. Memang sih, ini bulan penuh berkah. Tapi Nabi sendiri juga nggak segitu ngoyonya. Nabi salat seperti biasa, hanya salat sunnahnya diperbanyak, diperlama. Tilawah Qur`an (tadarus) juga sama, dzikir juga sama. Lalu yang membedakan kualitas ibadah Nabi dengan kita-kita ini yang malam jadi siang, siang jadi malam, itu seperti apa? Nabi memulai harinya dengan biasa saja saat Ramadhan. Nabi juga melakukan salat dhuha seperti biasanya. Lalu salat zhuhur dan setelah itu Nabi melakukan qaylulah yang berasal dari kata 'qalil' yang artinya sedikit. Jadi Nabi sedikit tidur saat siang itu. 'Sedikit' di sini teknisnya bisa jadi hanya beberapa menit. Mungkin 15 menit, tapi tidur yang berkualitas. Sementara yang terjadi di sini malahan molor ampe ashar..! Salat ashar Nabi, buka puasa Nabi, salat maghrib Nabi sampai salat isya Nabi, kurang lebih tidak jauh berbeda. Bacaan, kemudian dzikir, salat sunnah, semuanya sama. Nah, setelah salat isya, Nabi langsung tidur. Ini yang membedakan. Kalau kita di sini mungkin tadarusan dulu, ngobrol dulu, pengajian dulu, dsb. Lagi pula, Nabi itu salat isya bukan jam 7 malam, tapi hampir jam 8 atau malah mendekati jam 9. Kenapa begitu? karena mungkin saja masih banyak keperluan dari umat yang belum terlayani oleh beliau. Nabi paling tidak suka bila selesai salat isya, masih ngobrol, kongkow-kongkow, nonton sinetron Ramadhan (emang udah aja tipi jaman segitu?) dan sebagainya. Nabi selalu menyelesaikan semua urusan, lalu salat isya berjama'ah (ta`khir) dan langsung tidur. Anggaplah tidurnya Nabi jam 8 malam dan bangun jam 2 pagi. Cukupkan tidur 6 jam? Bangun terus qiyamullail, salat tahajjud. Lho, emang Nabi nggak ngadain tarawih? Belum ada kalee zaman segitu. Kan sudah saya ceritakan, bahwa tarawih itu hasil bid'ahnya Umar bin Khattab. Baca dulu dong artikel sebelumnya. Selesai itu, Nabi sahur mepet waktu. Jadi sekira shubuh itu jam 4.30, Nabi sahur jam 4.15 gitu. Lho, apa nggak penuh nantinya perut? Juga kalau salat shubuh perut penuh, apa nggak eneg? Nanti dulu.. Nabi pun salat shubuhnya 'tidak tepat waktu'. Adzan jam 4.30, mungkin salat shubuh jam 5 malah. Apa boleh? Ya.. boleh saja. Asal jangan salat shubuhnya jam 8 misalnya.. Dan begitulah kehidupan.. berjalan begitu lagi.. dan lagi.. Kalau kita lihat, Nabi tidur cukup 6 jam sehari. Dan siangnya setelah salat zhuhur, Nabi sesempatnya qaylulah atau tidur sejenak. Ibarat sebuah komputer, siang itu badan cukup di booting ulang sejenak. Jadi tidak ada cerita Nabi itu siangnya loyo, nguap selebar-lebarnya terus molor di pojokan masjid. Tapi itukan Nabi.. Lho, memang apa bedanya dengan kita? Nabi kan juga manusia, bukan cuma rocker yang juga manusia. Semua perbuatan Nabi yang memang bisa dan boleh kita kerjakan, maka kita boleh dan bisa kerjakan. Nabi juga makan, tidur dan menikah. Nabi melarang puasa yang terus menerus, tahajjud yang semalaman dan tidak menikah, hanya maunya beribadah seumur hidup. Saya pernah dengar ada seorang ulama terkenal zaman dulu yang dia salat shubuhnya masih menggunakan wudhu salat isyanya. Wuih, berarti semalaman tidak tidur? Hehehe.. mungkin tidak begitu maksudnya. Siapa tau, sang ulama itu malahan salat isyanya sebelum tahajjud, terus sahur terus salat shubuh. Cuma dianggap 'wah' saja. Bukan berarti sang ulama itu sehabis salat isya terus begadang semalaman dalam rangka ibadah sunnah Ramadhan, entah itu tilawah atau salat sunnah. Tapi apa tidak boleh? Boleh kok.. boleh.. Tapi nanti malah dianggap bid'ah, karena Nabi malah tidak mencontohkan seperti itu kecuali sekali-sekali. Eh iya, tadi kan saya bilang sang ulama itu salat isya, tahajjud, sahur terus salat shubuh. Lho, memang kalau makan tidak membatalkan wudhu? Makan apaan dulu. Kalau makan yang memang dimakruhkan atau diharamkan, so pastilah batal. Tapi, yang membatalkan wudhu kan bukan makan dan minum, melainkan keluar sesuatu dari 'kedua lubang' depan dan belakang. Kentut dan buang air, itu yang membatalkan wudhu. Sedangkan makan berarti memasukkan sesuatu ke dalam mulut. Masa batal sih wudhunya? Penutup Sekedar informasi, di 'markas' warnaislam ini kondisinya seperti ini; Iqbal yang bagian pemberitaan standby terus. Memantau berita-berita yang ada lalu menuliskannya untuk anda, para pembaca. Iqbal itu hebat juga. Hanya butuh sekian jam saja untuk tidur. Biasanya setelah shubuh baru tidur, karena berita dari luar negeri jam segitu sudah tengah malam di negara mereka. Mulai lagi jam 10-11. Nah sayalah yang kadang menggantikan menuliskan berita. Jadi mohon maaf bila beritanya hanya singkat-singkat saja. Maklum, saya masih kurang ahli dalam penulisan berita. Dan apalagi berita bahasa Inggris, masih kurang lancar dalam menerjemahkan. Semoga kami bisa memberikan yang terbaik bagi anda.. penulis : H. N. Dewantara http://www.warnaislam.com/rubrik/kolom/2008/9/10/39578/Kapan_Tidurnya.htm

