File Error Pahala Kita Sabtu, 06 September 2008 16:39 Seorang karyawan sebuah kontraktor IT yang sehari-harinya bertugas meng-input data-data perusahaan tempat ia bekerja dari pagi pukul 07.30 hingga pukul 17.00 sore hendak berbagi pengalaman dengan Kita, dan selanjutnya kita biarkan ia menceritakan sendiri kisahnya;
"Suatu hari sebagaimana hari-hari sebelumnya, saya memulai pekerjaan memasukkan dan mengolah data ke komputer dengan target 700 data perharinya. Sebuah 'kesalahan kecil' terjadi, ketika menjelang waktu istirahat, saya bermaksud merapikan data-data yang telah saya kumpulkan dan tanpa sengaja tombol kombinasi kibor yang saya hafal bahkan diluar kepala malah terketik 'nyasar' oleh jari saya satu digit ke tombol di dekatnya sehingga oleh komputer perintah yang di-akses terbaca SHIFT+DEL yang berarti Hapus! Maka seketika itu juga folder yang berisi ratusan file yang telah saya kumpulkan tersebut tersapu bersih dari memori komputer. Bersama supervisor yang saat itu berdiri tak jauh dari kursi saya, kami berusaha melacak data yang 'hangus' tersebut. Namun sia-sia, saya harus memulai lagi dari awal dan akhirnya hari itu, target tidak terpenuhi". Hal-hal kehilangan serupa mungkin juga pernah Kamu alami meski tak sama persis, misalnya saat listrik tiba-tiba padam sementara Kamu sedang menyusun skripsi atau saat menyusun laporan keuangan di depan komputer. Dan ketika itu Kamu belum sempat mensave data terakhir Kamu. dan contoh-contoh pengalaman serupa yang kadang semuanya sering terjadi diluar kesadaran dan perhitungan. Kisah diatas menjadi pengalaman berharga agar kita lebih berhati-hati dalam menyimpan data atau barang berharga yang kita miliki. Namun pernahkah Kamu menghubungkannya dengan hikmah lain yang kaitannya dengan tabungan kebaikan Kita? Ya, ketika Kamu telah bekerja keras tidak saja untuk dunia Kamu -karena Kamu adalah seorang Muslim yang beriman kepada hari Akhir-. Oleh sebab itu, setiap bulan Gaji Kamu misalnya dipotong sekian persen dengan suka rela untuk pembangunan mesjid di kompleks perumahan. Atau Kamu terlibat dalam suatu amalan sosial lalu tiba-tiba pahalanya hilang, TERHAPUS! Padahal Kita adalah penyumbang terbesar atau donatur tetap dalam catatan bendaharawan Masjid. Dan juga bahkan di catatan Malaikat yang senantiasa mencatat amal-amal baik Kita tentunya. Bagaimana tabungan kebaikan Kita bisa terhapus pahalanya? Yang pasti, Malaikat pencatat kebaikan Kita tidak akan mungkin melakukan kesalahan sebagaimana Kita atau sebagaimana contoh kasus pertama diatas. Sebab sekali lagi -Insya Allah- Kamu dan Saya bukanlah termasuk orang-orang yang suka berfikir nyeleneh tentang konsep beriman kepada yang Ghaib. Namun sebagaimana juga kasus hilangnya data-data berharga tadi, maka kesalahan yang terjadi tetaplah merupakan kesalahan dan harus dibayar kembali dengan pengorbanan, meski kadang ia terjadi diluar kesadaran Kita. Deteksi, dan Cegah Sebagaimana kesalahan pada kasus data yang hilang, sesungguhnya dapat dicegah dengan memasang perangkat program dan berusaha menguasai teknik back up data yang terpadu. demikianpula listrik yang tiba-tiba padam dapat diantisipasi dengan memasang power saver atau genset, Sedang pada kasus terhapusnya data-data pahala Kamu, maka jika hati ini diibaratkan software komputer, sudah selayaknya kita senantiasa memegang handbook atau buku panduan menggunakannya dari Sang pemilik 'pabrik' hati disamping menjaga simpanan Anda tersebut dari hal-hal yang dapat merusak ataupun bahkan membatalkannya. Namun Ironisnya kadang kita begitu mengabaikan masalah simpanan pahala ini ketimbang simpanan dunia kita. Kita lebih merasa begitu kehilangan dan sayang dengan pengorbanan yang telah dikerahkan daripada kehilangan simpanan kebaikan kita, meski kita juga tahu bahwa ia lebih kekal namun ia seolah tertutupi oleh bayangan kenikmatan dunia yang tadinya juga kita ingin rasakan dari simpanan dunia yang hilang itu. Entah karena lalai dari mengevaluasinya atau sebab-sebab lain hingga muncul perbedaan yang mencolok dalam menyikapi dua jenis kasus kehilangan diatas. Kadang kita terlalu 'berbaik sangka' dengan simpanan pahala kita, bahwa sebenarnya ia tidaklah hilang atau terhapus, sambil menghibur diri dan membuang kekhawatiran yang kita anggap berlebihan itu. Atau malah sebagian kita yang sampai tidak mau peduli, toh yang penting orang-orang tahu bahwa kita ini orang yang baik, dermawan, dan seterusnya. Toh kita juga tidak mendapatkan informasi yang shahih (valid) tentang keadaan yang sebenarnya. Sebab ia adalah sesuatu yang bersifat abstrak di dunia ini. Demikianlah, Kita seringkali lebih mementingkan dan memperhatikan bagaimana orang lain memandang kita (atasan, istri, keluarga dan masyarakat ataupun bawahan). Dan bukan bagaimana Allah memandang kita. Bukankah bisa di deteksi gejala-gejalanya? yang lebih parah lagi adalah mereka yang sudah kehilangan kedua simpanan diatas. Berarti ia harus mengeluarkan usaha yang lebih keras. Kecewa terhadap hilangnya data yang telah kita buat dan olah dalam memori komputer kita hanya karena kekeliruan sepele, sekali lagi memberikan pelajaran bagi kita bahwa kekecewaan yang akan kita rasakan nanti akan lebih dahsyat manakala ter-delete data amalan dalam buku catatan amal kita pada saat menghadapNya. Wallahul Musta'an penulis : Faisal Mursila http://www.warnaislam.com/umum/catatan/2008/9/6/59978/File_Error_Pahala_Kita.htm

