From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED] > Subject: [deugm] kaca spion.... > To: [EMAIL PROTECTED] > Date: Sunday, September 14, 2008, 6:19 PM > > ternyata kita semua telah berubah..... dan banyak dari kita berupaya > membela atas perubahan namun, ada banyak hal yang tidak boleh berubah. . > semoga ini bsa memperkaya hati kita > > Kaca Spion "Andy F Noya" > > Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan > Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu > hari ada kerinduan > > dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk baca buku, > melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. > > Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga > suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan > masa lalu. > > Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, > kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. > > Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa > rasanya jauh berbeda? > Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal > rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya > gundah. > > Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu > mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit > saya. > > Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib > yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya > merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika > masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum > buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. > Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di > gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, > warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak > seantero Jakarta . > > Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak > akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring > lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah > TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia. Kemudian > pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi > redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi > pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV. > > Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di > sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya > menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan > kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi > diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari > kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya > rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong > karenanya. Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di > Surabaya .. > > Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan > menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya > bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda > milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. > > Kaca spion mobil itu patah. Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari > pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan > rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong > tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya > tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi > mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada > kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan > sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi > adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya > mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. > Dengan suara keras dia marah-marah danmengancam ibu saya. Intinya dia > meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya. Pria itu, yang cuma saya > kenali dari suaranya yang keras dan tidakbersahabat, akhirnya pergi > setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga > kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu,pada tahun 1970, sangat > besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit > baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktuitu Rp 1.000 per > potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan > tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering Cuma satu. > Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - > harus bisa bertahan hidup sebulan. Setiap bulan ibu harus mengangsur > ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, > atau utusannya, datang untuk mengambil uang.Begitu berbulan-bulan. Saya > lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya > tidak ada habis-habisnya. > Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya > selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? > Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan > melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi? > > Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah > ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik > mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang > kaya. Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban > mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya..Jika > musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. > > Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka > adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya > putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. > Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam > yang terbalaskan. > Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya > di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal > jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak > punya hati nurani. Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado > yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa > gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. > Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. > Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy > Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu > tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan > berbagai jenis makanan.. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di > pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan > mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. > Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencobameyakinkan, "Kamu > berhak untuk itu.. Sebab kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk > untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. > Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua > orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang > saya terima, adaketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya > tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan > gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang > berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. > Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak > sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca > spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam > hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah > satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. > Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika > jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk > tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang > menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng > adalah seorang ibu tuadengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah > anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, > tentu karena melihat mobil saya penyok.. Hanya dalam sekian detik > bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah > saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan > akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut > dan sikunya, berkali-kali meminta maafatas keteledoran anaknya. > Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. > Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.Sementara sang anak terpaku > membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin > mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.Saya tidak boleh membiarkan > benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok > berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. > Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa > merasakan apa yang mereka rasakan.Setidaknya siang itu saya tidak ingin > lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan > dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit. > > >
------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullaah saw. bersabda, Jika semua orang dipenuhi tuntutannya, niscaya akan ada orang yang menuntut harta benda dan darah suatu kaum. Akan tetapi hendaknya ada bukti bagi orang yang menuduh dan ada sumpah bagi yang mengingkari. (Hadits hasan diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan lain-lain, dan sebagiannya dalam ash-Shahihain)

