Hikmah 'Tragedi Zakat' Pasuruan
Rabu, 17 September 2008 10:50
Di balik musibah, memang selalu ada hikmah. Tragedi Pasuruan membuat ibadah 
zakat populer, memunculkan kesadaran perlunya bayar zakat melalui lembaga amil, 
sekaligus mempertanyakan: mengapa masih banyak orang (muzaki) yang tidak 
memercayai lembaga zakat?



TRAGEDI saat pembagian dana zakat oleh H. Syaikon di Pasuruan Jawa Timur (15/9) 
mengindikasikan beberapa hal dan mengandung sejumlah hikmah.

Pertama, H. Syaikon tidak mempercayai Lembaga Zakat untuk menyalurkan dana 
zakatnya kepada yang berhak. Syaikon tidak sendirian karena pembagian zakat 
langsung ke penerima seperti yang dilakukan H Syaichon, banyak dilakukan para 
dermawan di Kota mapun Kabupaten Pasuruan. Jadi, mungkin juga bukan karena 
tidak percaya, tapi ada hal lain, misalnya keinginan muzaki untuk 
"demonstratif".

Jika niatnya "demonstratif", tepat komentar Ketua Komisi VIII DPR Hasrul Azwar: 
"akan bisa lebih terhindar dari bencana kalau pemilik (muzaki) secara diam-diam 
membagikan (zakatnya), tidak demonstratif.". Pemberian zakat secara 
demonstratif, selain terbukti dapat menimbulkan tragedi, juga rawan memunculkan 
perasaan riya' dalam diri muzaki. Riya adalah syirik kecil yang dapat 
menghapuskan pahala ibadah. Selain itu, menurut pakar ekonomi Islam, Dr. H. 
Muhammad Syafi'i Antonio, M. Ec, mudharat pendistribusian zakat secara langsung 
antara mustahiq (penerima zakat) dan muzakki (pemberi zakat) di antaranya 
adalah adanya "parade kemiskinan", yakni dengan menunjukkan mana si kaya dan si 
miskin.

Kedua, muncul seruan sekaligus kesadaran akan pentingnya lembaga amil zakat 
sebagai pengelola dana zakat. Zakat sebagiknya dititipkan kepada lembaga amil 
yang tentu sudah memiliki program khusus pemberdayaan dana zakat.

Ketiga, lembaga zakat naik daun dengan adanya seruan/kesadaran tentang perlunya 
zakat dititipkan kepada amil zakat, namun di sisi lain juga berkembang sorotan 
kepada LAZ, mengapa banyak orang yang seperti H. Syaikon, yakni tidak memilik 
penyaluran zakat melalui amil, malah langsung dibagikan sendiri?

Dari sini, tragedi Pasuruan berkembang menjadi sorotan terhadap lembaga atau 
badan amil zakat (LAZ/BAZ). Menteri Agama Maftuh Basuni menilai, musibah 
pembagian zakat di Pasuruan diakibatkan karena kurang percayanya masyarakat 
terhadap lembaga amil zakat yang ada. Menurut Menag, lembaga amil zakat perlu 
melakukan introskpeksi diri untuk menunjukkan bahwa pihaknya dapat mengelola 
zakat secara transparan dan profesional.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), KH. Didin Hafidhuddin, saat 
konferensi pers di Kantor Baznas, Jakarta, Selasa (16/9), menegaskan perlunya 
lembaga-lembaga amil zakat diawasi. Masih rendahnya tingkat kepercayaan umat 
Islam dalam menyalurkan zakat melalui lembaga amil zakat karena dikhawatirkan 
tidak tepat sasaran. "Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap badan 
amil zakat, maka perlu dibentuk lembaga yang bertugas mengawasi proses 
penyaluran zakat kepada para mustahik dan memberikan informasi kepada 
masyarakat tentang kinerja amil zakat tersebut," katanya.

Keempat, popularitas ibadah zakat kini naik daun. Ibadah zakat selama ini tidak 
sepopuler sholat dan haji. Padahal, zakat sama wajibnya dengan sholat dan haji. 
Orang yang tidak mengeluarkan zakat, berarti memakan harta orang lain 
(mustahiq). Harta yang tidak dizakati tidak  bersih, juga tidak akan berkah. 
Maka, dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat. 

Di balik musibah, memang selalu ada hikmah. Wallahu a'lam. Wasalam.*

http://www.warnaislam.com/rubrik/taman/2008/9/17/39015/Hikmah_Tragedi_Zakat_Pasuruan.htm

Kirim email ke