Biar jadi inspirasi bagi yang mau jadi "Tokoh" nantinya, hehehe
Anton Apriantono, Menteri Termiskin di Kabinet Indonesia Bersatu.
Ke Daerah, dengan Tiket Ekonomi, Nginap di Rumah Petani. Di Kabinet
Indonesia Bersatu, Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono dijuluki
sebagai menteri termiskin.
Sebab, berdasar laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN), total
kekayaannya “hanya” Rp 388.936 juta.
Bagaimana kesehariannya?
RIDLWAN HABIB, Jakarta
Bikin janji untuk bertemu Anton Apriantono
tidak terlalu sulit. Di antara menteri yang duduk di Kabinet Indonesia
Bersatu, pria yang lama menjadi dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu
termasuk yang paling mudah dihubungi melalui ponselnya.
Kemarin sore, Jawa Pos diberi kesempatan bertamu di rumah Anton di kompleks
perumahan dinas para menteri, tepatnya di Jl Widya Chandra V. Begitu masuk
ke halaman rumahnya,
seorang petugas keamanan dengan tulisan nama Sukim di dadanya ramah
mempersilakan masuk. “Cari Bapak ya, silakan langsung saja ke ruang tamu,”
ujarnya.
Halaman depan rumah dinas Anton tampak
bersih. Aneka tanaman hias disusun rapi dalam pot yang berisi tanah liat.
Tidak ada tanaman perindang besar, kecuali sebuah palem kipas yang ditanam
di pojok pagar. Berbeda dari rumah menteri lainnya, di garasi rumah Anton,
hanya ada dua mobil yang diparkir. Yakni, Kijang abu-abu keluaran 1994 dan
mobil dinas rumah dinas menteri-menteri lain yang, selain berisi mobil
dinas, terdapat beberapa mobil lain keluaran terbaru.
“Assalamu ‘alaikum, apa kabar?” kata Anton ramah yang muncul dari ruang
tengah. Pria kelahiran 5 Oktober 1959
tersebut muncul dengan kemeja lengan panjang bercorak garis-garis. “Hari ini
banyak tamu. Maklum, masih suasana Idul Fitri,” ujarnya. Dia menceritakan,
selama Lebaran, keluarganya lebih banyak berada di Jakarta . Hanya hari
pertama keluarganya berkunjung ke Serang dan Bogor ,Jawa Barat.
Pada awal pembicaraan, dia lebih banyak menceritakan tentang kesibukannya
sebagai menteri, sehingga waktu untukkeluarga berkurang. “Karena itu, setiap
di rumah, saya manfaatkan betul
untuk keluarga. Rasanya sih mereka tidak pernah mengeluh,” ungkapnya.
Sejak menjadi menteri, Anton memboyong keluarganya tinggal di rumah dinas.
Rumahnya di Bogor dibiarkan kosong. Di tengah mengobrol dengan Jawa Pos,
putri tunggalnya, Sri Rahayu, masuk membawa secangkir teh.
“Silakan diminum. Kebetulan, saat ini saya sedang puasa Syawal,” kata
menteri yang diusulkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.
Ketika disinggung seputar kekayaannya berdasar LHKPN dan diumumkan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), dia
hanya tersenyum. “Saya bersyukur dianggap begitu (disebut menteri
termiskin). Pokoknya, kalau dibandingkan menteri lain, nggak mungkin bisa
ngejar, apalagi sama Pak Ical (Menko Kesra Aburizal Bakrie yang dijuluki
sebagai menteri terkaya dalam kabinet SBY, Red),” ujarnya lantas tertawa.
Dia menjelaskan, sejak menjadi dosen dan kepala laboratorium di IPB, Anton
terbiasa menabung. Hasilnya, dia mampu membeli aset berupa tanah di Bogor .
Kegemaran berhemat itu diteruskan sampai sekarang. “Sebagian berasal dari
gaji dan uang perjalanan ke luar negeri. Itu pun sudah berlebih,” tegasnya.
Suami Rossi Rozzana tersebut
mengaku, kehidupannya saat masih menjadi dosen sudah cukup. “Apalagi
sekarang, apa sih yang mau kita kejar? Makan saja tak lebih dari sepiring,”
katanya. Sebagai menteri, dia mengaku digaji Rp 19 juta per bulan. Selain
dari gaji, pendapatan Anton diperoleh dari honor menjadi narasumber di
seminar. Sebelum menjadi menteri, dia memang sering
diundang sebagai ahli di bidang kimia pangan. “Tapi, honorarium dari seminar
biasanya dikelola staf,” jelasnya. Menurut doktor lulusan University of
Reading , Inggris, tersebut, kunci perbaikan departemen yang dipimpinnya
bermula dari diri sendiri.
“Kalau pemimpin tak bisa jadi uswah (teladan, Red), jangan berharap anak
buah mengikuti,” ujarnya. Anton lantas mencontohkan saat dirinya melakukan
perjalanan dinas ke daerah menggunakan pesawat. Dia tidak pernah mau naik
kelas bisnis. Dia selalu minta diberi tiket ekonomi. Demikian pula ketika
harus menginap di suatu daerah. Anton tidak pernah mau diinapkan di hotel
berbintang lebih dari tiga. “Kalau menterinya (pakai) ekonomi, anak buahnya
nggak ada yang berani (di kelas) bisnis,” ungkapnya lantas tersenyum.
Menurut dia, budaya Orde Baru, yakni daerah harus selalu menyambut pejabat
pusat dengan servis VVIP, harus dikikis habis. “Saya lebih suka menginap di
rumah petani daripada di
hotel. Mereka itu orang yang apa adanya. Tidak ada yang dibuat-buat, ”
tegasnya. Dia lantas menceritakan pengalamannya ketika menginap di rumah
salah seorang petani di Karawang. “Saat itu, atap rumahnya sudah mau roboh,”
katanya seraya tersenyum lebar. Anton mengaku, saat ini dirinya sedang
memperjuangkan budaya keterbukaan didepartemen yang
dipimpinnya. Salah satu contohnya, nomor HP-nya terbuka bagiseluruh anak
buahnya. Termasuk, pegawai dan penyuluh lapangan di daerah. “Dari mereka,
saya bisa tahu keluhan di lapangan. Termasuk, jika ada laporan korupsi,
langsung saya minta ditindaklanjuti oleh Irjen (inspektorat jenderal, Red),”
jelasnya.
Dia juga sering mengajak anak buahnya outbound (training di alam). “Kalau
dialam, perilaku aslinya terlihat,” ujarnya. Dua minggu sekali, dia
menggelar rapat pimpinan yang diakhiri
dengan masing-masing saling memberi nasihat. “Jadi, kalau tidak sesuai
dengan yang diomongkan, orangnya malu,” katanya. Kesederhanaan tersebut
Anton diakui sekretaris pribadinya, Dr Abdul Munif. “Saya sampai malu karena
bapak sering ngotot pakai kelas ekonomi saat kunjungan ke daerah.
Kadang-kadang, sampai saya akali dengan mengatakan tiket
ekonomi sudah habis,” ungkapnya. Alumnus Bonn University , Jerman, yang
mendampingi Anton sejak sebelum menjadi menteri itu mengaku, hal tersebut
dilakukan untuk menjaga kehormatan Anton sebagai menteri. “Itu kalau
kebetulan sedang bersama menteri lain atau ada tamu dari luar negeri. Kalau
berangkat sendiri, hampir selalu ekonomi,” jelasnya.
Saat mengunjungi daerah, Munif mengaku banyak pejabat dan bupati yang heran
mengetahui kebiasaan Anton. “Awalnya, mereka (bupati dan pejabat daerah)
heran. Tapi, dua tahun ini
sudah biasa. Mereka malah berterima kasih,” ujarnya. Dia menyatakan, satu
hal yang paling berkesan adalah perhatian Anton kepada anak buah. Di
antaranya, Anton selalu mengingat nama dan kebiasaan-kebiasaan kecil
stafnya. “Beliau tak risi mengirimkan ucapan selamat ulang tahun atau
memberikan bantuan ketika ada yang punya gawe,” ungkapnya. (*)
Subhanalloh, pemimpin seperti inilah yang sepatutnya kita contoh. Meskipun
punya jabatan tapi tetap hidup sederhana, tidak ada gengsi-gengsian dimana
kebanyakan pemimpin-pemimpin di negara kita identik dengan kehidupan yang
glamor.
Yang diutamakan adalah bagamana amanah yang dembannya dapat dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya.
Sumber : dari teman-
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)