Ustadz Komaruddin Cholil   |   Ujian Allah


Ujian bukan hanya yang bersifat musibah, namun kenikmatan  hidup adalah ujian 
yang lebih besar.



TANDA-tanda orang bertakwa menurut Sayidina Usman bin Affan ada lima.  Pertama, 
tidak suka bergaul kecuali bergaul dengan orang-orang yang sholeh/sholehah, 
yang menjaga lisannya.  Kita bergaul dengan orang-orang sholeh karena akan 
mendapatkan banyak dakwah, masukan, kritik yang membangun dan ketenangan. 
Kedua, jika mendapat musibah duniawi, ia menganggapnya sebagai ujian dari Allah 
SWT. Sebab, salah satu yang mengangkat diri kita di mata Allah adalah lulusnya 
kita dari ujian yang diberikan-Nya. Ujian bukan hanya yang bersifat bala 
musibah, namun kenikmatan dalam hidup ini adalah ujian yang lebih besar. Karena 
bila diberikan musibah orang lebih mudah ingat kepada Allah namun saat diberi 
ujian kenikmatan, saat itulah Allah benar-benar sedang menguji kita. 


Ketiga, jika mendapat musibah dalam urusan agama ia akan sangat menyesalinya. 
Teringat cerita Sayidina Umar bin Khattab yang ketinggalan satu rakaat shalat 
Ashar di masjid hanya karena sedang asyik berada dalam kebun kurmanya. 
Mengetahui dirinya telah tertinggal satu rakaat dalam berjamaah, Sayidina Umar 
begitu menyesali perbuatannya sehingga kebun kurma yang dianggap sebagai 
penyebab musibah itu pun dijual. 


Keempat, tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan haram dan jika makan tidak 
sampai kenyang.  Ini merupakan manifestasi dari sabda Rasulullah yang berbunyi, 
"Makanlah sebelum engkau lapar dan berhentilah makan sebelum kenyang." Sungguh 
suatu perintah yang seakan-akan mudah dilaksanakan, namun saat mempraktikannya 
dalam kehidupan sehari-hari betapa sulitnya melakukan hal itu. Dari sinilah 
bentuk ketakwaan seorang mukmin dibentuk. 


Kelima, apabila memandang orang lain, orang itu lebih sholeh dari dirinya. 
Sedangkan dirinya adalah orang yang penuh dosa. Nampaknya banyak di antara 
kita, apalagi yang telah diberikan hidayah dari Allah berupa kenikmatan dalam 
beribadah, kemudahan, dalam bertahajud, keringanan dalam berpuasa sunah atau 
keindahan dalam melantunkan ayat-ayat Al Quran, mudah menganggap dirinya lebih 
sholeh dibanding lainnya. Padahal sikap merendah adalah salah satu yang 
dianjurkan oleh Rasul. Belajar tawadhu dan senantiasa melakukan amal ibadah 
tanpa membandingkan dengan orang lain adalah start yang baik untuk meningkatkan 
kualitas ketakwaan diri.  *** 


Juga ada empat waktu yang tidak boleh disia-siakan oleh umat muslim. Pertama, 
waktu untuk bermunajat.  Setiap saat, bahkan saat mau tidur pun disunnahkan 
bertasbih, berzikir atau membaca kalamullah. Bila kita tertidur saat kita 
sedang bermunajat, Insya Allah kita dianggap berdoa selama kita tidur, 
subhanallah. 


Kedua, waktu untuk meminta maaf dan berterima kasih. Tanpa pernah tahu kapan 
kepulangan kita ke Illahi Robbi, manfaatkan waktu yang ada untuk meminta maaf 
atas segala kesalahan kita dan berterima kasih kepada siapa-siapa yang telah 
membantu kita dalam hal apa pun. 


Bagi yang masih memiliki orangtua, sekarang juga kirim doa dan hubungi mereka. 
Ucapkan maaf dan terima kasih atas segala yang telah mereka lakukan kepada 
kita. 


Ketiga, waktu untuk mengevaluasi diri, bertafakur, mengingat-ingat kembali dosa 
yang pernah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya kembali adalah 
perbuatan terpuji. Kadang dengan seringnya kita mengevaluasi diri kita, apa-apa 
yang menjadi kekurangan maupun kelebihan dalam hidup ini, dapat menjadikan 
modal yang berharga untuk masa depan. 


Keempat, waktu untuk beramal sholeh. Tidak perlu menunggu tanggal gajian, 
seberapa pun yang kita miliki saat melihat ada yang sedang membutuhkan, mari 
ulurkan tangan. Allah akan melihat sekecil apa pun amal ibadah kita dan akan 
menggantinya berlipat ganda bila kita ikhlas melakukannya. (*)   *) Ustadz 
Daarut Tauhiid Bandung    

http://www.majalahdzikir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=790&Itemid=91

Kirim email ke