Pohon yang Digugurkan Daun Dosanya

Tiap-tiap yg berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan 
keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada 
Kamilah kamu akan dikembalikan. (QS 21:35)

Di saat terbaring di ranjang, ketika sakit menggerumus, wajahmu Emak yang 
membayang. Wajahmu Emak menjadi obat yang menumbuhkan kekuatan di tubuh. Bayang 
kehadiranmu Emak, menjadi spirit kekuatan, ketika setiap orang sakit senantiasa 
merasa tiada berdaya. Tapi, lelaki berusia 50-an yang terbaring di ranjang 
sebuah rumah sakit, kini merasa berdaya. Betul, beberapa hari sebelumnya, ia 
merasa menjadi manusia sia-sia lantaran tidak mampu menanggung rasa sakit. 
Bahkan, ia merasa Allah yang belakangan kian rajin dihampiri-Nya, menampik 
kasihnya. Bukankah bila Ia membalas kasihnya, demikian ia berpikir, tidak akan 
mengirimkan sakit kepadanya?

Di puncak rasa putus asa, lelaki berusia 50-an itu, teringat kepada almarhumah 
emaknya. Emaknya menghabiskan sebagian kehidupannya dengan deraan sakit. 
Pelbagai jenis penyakit, mulai jantung, hipertensi, kanker, silih berganti 
menggerumus tubuh sang emak. Bahkan, vertigo yang kemudian turut melumpuhkan 
sistem saraf, membuat perempuan tua itu terbaring terus menerus selama lebih 
tujuh tahun. Akibatnya, ketika lima anaknya menikah, membuatnya tidak dapat 
sepenuhnya meneguk kegembiraan seperti jamaknya orangtua yang menikahkan 
putra-putrinya. Ia hanya berbaring sendirian membayangkan rona keriaan di wajah 
anak-anaknya.

Begitu menderita kehidupanmu, wahai Emak? Sang emak justru belajar makna 
kesabaran dari setiap penyakit yang silih berganti mendera. Tiada keluhan 
berkepanjangan. Ia tidak menyesali Allah yang belum juga memberi kesembuhan 
padanya. Anak-anaknya jarang menemukannya berlinang air mata ketika 
kehidupannya hanya sebatas ranjang. Sebaliknya, ia tetap melaksanakan ibadah 
ketika hanya mampu berbaring, menghabiskan waktunya dengan berzikir.

Kendati kehidupannya sebatas ranjang, perempuan tua itu tetap semangat 
mengikuti perkembangan yang ada di luar kamarnya. Bahkan, lebih mengagumkan 
lagi, ia menjadi sumber wejangan: tidak hanya bagi anak-anaknya tetapi handai 
taulan yang mengunjunginya. Tak jarang, ia menasihati handai taulan yang 
tertimpa musibah ringan laiknya jemari tertusuk duri, agar bersabar dan tawakal.

Tak mengherankan, bagi anak-anaknya termasuk pria berusia 50-an yang diserang 
sakit, sang emak menjadi simbol kesabaran dan keikhlasan dalam menempuh ujian 
sakit. Tapi, siapakah yang mengirim spirit untuk mampu bertahan? Ketika 
anak-anaknya pernah mengeluh karena kasihan melihat orang tuanya terus menerus 
terbaring, sang emak justru yang menyabarkan. "Sakit itu ujian bagi kesabaran. 
Ini belum seberapa. Nabi Ayub saja yang menjadi utusan Allah lebih parah 
menerima cobaan sakit tetapi ia tetap tawakkal. Saat ia sujud, ulat yang ada di 
borok kepalanya terjatuh, tetapi dipungutnya dan dikembalikannya ke tempat 
semula," ujar sang emak mengutip kisah dari guru mengajinya semasa sehat.

Memang, Ayub menjadi simbol kesabaran, di tengah derita sakit. Allah pun 
mengisahkan: dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya 
Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang 
Maha Penyayang di antara semua penyayang" (QS 21:83). Tiada seikhlas Ayub dalam 
menerima sakit sehingga Allah mengirimkan kesembuhan seperti sang emak di usia 
senjanya menerima kesembuhan-Nya.

Mengapa Ayub -dan agaknya emaknya- dapat tawakal? Nabi Ayub merupakan refleksi 
dari kesabaran dalam menerima penderitaan sakit. Ayub menjadi sumber inspirasi 
bagi emak maupun setiap Muslim yang sabar dalam menerima cobaan-Nya. Bukankah 
Allah telah menjanjikan ujian dan cobaan untuk membuktikan keimanan seperti 
terkandung di dalam Alquran: Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan (saja) 
mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?.Dan 
sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka (QS 29: 2-3).

Cobaan itu dapat dalam pelbagai bentuk: penyakit, meninggal orang yang 
dikasihi, maupun musibah. Ujian pun dapat hadir dengan rupa kekayaan yang 
melimpah. Tragisnya, terkecuali pelbagai penderitaan, kita seringkali merasa 
kekayaan dan kesenangan bukan cobaan, sehingga tergelincir lupa diri. Tak ayal, 
telah menjadi 'kodrat' manusia, ketika hidupnya senang melupakan Allah dan 
bersikap sebaliknya ketika mengalami kesengsaraan. Semua itu menyebabkan Nabi 
Muhammad bersabda, ''sesungguhnya bagi setiap umat ada ujian dan ujian bagi 
umatku ialah harta kekayaan" (HR Turmudzi).

Demi menegaskan hal itu, Nabi suatu kali bersabda: "Demi Allah! Bukanlah 
kefakiran atau kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi justru 
aku khawatir kemewahan dunia yang kalian dapatkan sebagaimana telah diberikan 
kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu 
sehingga binasa, sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula" (HR Bukhari).

Cobaan sebagai bentuk ujian seringkali dilipatgandakan bagi hamba yang alim dan 
berusaha menghampiri-Nya. Kenapa? Semakin seseorang ingin menghampiri-Nya, 
semakin Allah berusaha menguji kadar keimanannya. Tidak mengherankan, semua 
nabi mengalami pelbagai cobaan, seperti Ayub dengan penyakit maupun Ibrahim 
yang diperintahkan menyembelih anak kesayangannya. Nabi Muhammad pun bersabda: 
"Tingkat berat ringannya ujian disesuaikan dengan kedudukan manusia itu 
sendiri. Orang yang sangat banyak mendapatkan ujian itu adalah para nabi, 
kemudian baru orang yang lebih dekat derajatnya kepada mereka berurutan secara 
bertingkat. Orang diuji menurut tingkat ketaatan kepada agamanya" (HR Turmudzi).

Dengan demikian, selaiknya kita tidak menduga-duga bila seseorang yang 
menderita akibat cobaan, sebagai bentuk hukuman. Kenapa? Dengan ujian yang 
berat, sang insan belajar sabar dan ikhlas, untuk menerima segenap cobaan. 
Bukankah Nabi Ayub -maupun sang emak dalam kisah ini- menggunakan cobaan berupa 
penyakit sebagai sarana membangun ikhlas dan ibadah?

Kemampuan menjadikan cobaan sebagai sarana beribadah sekaligus sabar dan 
ikhlas, sejatinya menghantar seseorang menghampiri dan menjadi kekasih-Nya; 
suatu maqom yang menjadi idaman pejalan ruhani. Dengan kesabaran dan keikhlasan 
menerima ujian tersebut, sejatinya pejalan ruhani akan menemui-Nya, dalam 
keadaan tiada berdosa (lihat HR Muttafaq alaih dan Turmudzi). Maka, wahai Emak, 
engkaulah melalui keikhlasan dalam menerima cobaan, menjadi pohon yang 
digugurkan daun dosanya.

sumber : kebunhikmah.com

http://blog.abbahatun.com/2008/06/12/pohon-yang-digugurkan-daun-dosanya.html


Kirim email ke