(Mungkin) Kita Tak Berbeda dengan Kambing
Kamis, 11 Desember 2008 01:00
Ups, jangan tersinggung dulu dengan judul tulisan ini. Kambing yang saya maksud 
adalah hewan kurban yang setiap musim Idul Adha disembelih sebagai bagian dari 
ibadah di bulan Dzulhijjah. Mereka, para hewan kurban, berada dalam antrian 
kematian. Begitu takbir berkumandang sebagai tanda masuk waktu 10 Dzulhijjah, 
saat itu pula genderang kematian dimulai.

Usai sholat Idul Adha, hewan-hewan kurban siap menanti ajal. Suka atau tidak, 
mereka sudah berada dalam antrian untuk disembelih sesuai nomor urut yang 
tertera di tubuh masing-masing atau dikalungkan di leher. Nomor urut satu, maka 
ialah yang berhadapan langsung dengan malaikat maut melalui seorang tukang 
jagal. Berikutnya, nomor dua, tiga, dan seterusnya.

Kemudian satu persatu kambing menemui ajal, meregang nyawa, mengembik 
kesakitan. Tak satupun terlihat siap untuk mati, mungkin tak cukup bekal yang 
mereka bawa. Boleh jadi mereka tak menduga kematian secepat itu menjemputnya, 
namun ketika sudah tiba waktunya tak satupun bisa menolak. Apapun kondisinya, 
harus terima resiko berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa dalam keadaan 
serba kekurangan. Kurang amal, kurang ibadah, kurang taat, kurang segalanya.

Nah, disinilah kesamaan kita dengan hewan-hewan kurban itu. Sesungguhnya kita 
pun tengah berada dalam antrian menunggu ajal. Siap tidak siap, suka tidak 
suka, pada waktunya kita akan bertemu dengan Izrail sang pemutus kenikmatan 
dunia. Sama dengan hewan-hewan kurban yang tak menyadari kapan kematian akan 
tiba, kita pun tak pernah sadar bahwa masa itu sudah dekat, bahkan sangat 
dekat. Kita tertipu dengan kemewahan dunia, gemerlap kebahagiaan yang menyertai 
kehidupan yang dijalani sehingga menganggap kehidupan ini akan abadi. Sampai 
tiba-tiba Izrail sudah berdiri tepat di hadapan, barulah kita sadar, bahwa 
kematian memang selalu datang lebih cepat dari yang kita sangka.

Sama juga dengan kambing dan sapi itu, saat malaikat menjemput ruh ini untuk 
berhadapan dengan Allah, untuk memertanggungjawabkan segala amanah selama di 
dunia, kita benar-benar tak siap dan merasa memiliki banyak kekurangan. Kurang 
amal shaleh, kurang sedekah, kurang zakat, kurang ibadah, kurang taat, kurang 
takwa, kurang peduli, kurang segalanya.

Padahal sebelumnya kita sempat mengira bekal yang disiapkan sudah cukup. 
Ternyata tidak, sama sekali tidak cukup. Sebab kita lupa, bahwa perjalanan 
akhirat jauh lebih panjang, lebih lama dari kehidupan dunia yang sangat 
singkat. Ibarat perjalanan jauh, maka kehidupan dunia ini hanyalah sebuah 
persinggahan sesaat. Kita benar-benar lupa, dan mengira kehidupan dunia akan 
kekal. Padahal keabadian itu ada di kehidupan selanjutnya, bukan di dunia.

Meski tak seperti kambing dan sapi yang dilabeli nomor urut kematian, tetapi 
yakinlah, sesungguhnya kita pun sudah diberi nomor antrian itu. Hanya saja kita 
tak benar-benar tahu berada di antrian berapa kita, apakah masih jauh atau 
justru sangat dekat. Hal inilah yang membuat kita terus terlena dan menyangka 
giliran kita masih jauh. Boleh jadi, besok atau malam inilah waktunya.

Dan bila benar-benar waktu itu tiba, terbelalak lah mata ini karena tak mengira 
secepat itu Izrail tiba. Maka tak sedikit dari kita yang meregang nyawa dengan 
berteriak kesakitan, perih yang tiada pernah dirasakan oleh manusia manapun 
semasa hidup. Lebih perih lagi saat membayangkan ganjaran apa yang bakal kita 
terima di akhirat kelak, sesuai dengan apa-apa yang pernah kita kerjakan di 
dunia.

Kalau seekor kambing mengembik kesakitan saat meregang nyawa, maka kita pun 
berteriak, mata terbelalak, lidah terjulur menahan sakitnya melepas ruh. 
Yakinlah, masih ada yang lebih perih yang bakal kita terima di hadapan Allah 
sesudah sakit meregang nyawa. Itu semua tergantung apa-apa yang kita perbuat 
selama di dunia. Maka tersenyumlah wahai jiwa yang semasa hidupnya dipenuhi 
amal shaleh, dihiasi ketaatan serta menjadikan dirinya matahari bagi kehidupan 
orang lain. Astaghfirullaah. (gaw)

http://www.warnaislam.com/rubrik/monolog/2008/12/11/3600/Mungkin_Kita_Tak_Berbeda_dengan_Kambing.htm

Kirim email ke