Edukasi Asuransi : 4 cara menolak Berasuransi

Posted by: "Ilnayuti Sari"

Wed Dec 10, 2008 5:29 pm (PST)

Ada 4 alasan yang sering dijadikan sebagai alasan untuk tidak membeli alias
menolak membeli asuransi.

*No Trust*

Calon nasabah *belum memiliki kepercayaan kepada perusahaan asuransi*. Bisa jadi karena paradigma lama yang menganggap asuransi adalah penipu. Untuk itu mari kita ajak calon klien untuk mengetahui bagaimana kinerja perusahaan asuransi, berikan pemahaman yang diperlukan oleh calon nasabah, perkenalkan perusahaan asuransi tempat agent bekerja. Nasabah juga dipersilahkan untuk 'window shopping' terlebih dahulu, melihat2 mana yang cocok dan memberikan keyakinan yang lebih baik.

*No Need*

Calon nasabah merasa *belum memerlukan proteksi*. Belum menyadari akan
adanya kebutuhan yang pasti akan ia tanggung di masa depan. Nasabah belum
menyadari akan adanya resiko yang pasti akan dia tanggung di kehidupannya
sekian tahun ke depan. Resiko yang pasti dihadapi yaitu : adanya keluarga yang
pasti akan meninggal dunia, masa tua yang pasti akan tiba, dan resiko
terjangkiti penyakit kritis yang kemungkinan akan diderita sebagai akibat
dari gaya hidup saat ini (misalnya : merokok sehingga kemungkinan penderita
penyakit kanker paru). Agent berkewajiban memberikan pemahaman tentang
bagaimana asuransi akan menyelamatkan dan membantu kehidupan mereka dimasa depan. Karena bilamana nasabah menyadari urgensi dari sebuah perlindungan, maka asuransi adalah hal pertama yang akan dibelinya.

*No Hurry*

Biasanya karena kurangnya pemahaman tentang pentingnya asuransi maka calon nasabah *merasa tidak perlu buru2 untuk memproteksi dirinya*. Ada juga yang sudah paham pentingnya namun merasa masih sehat atau masih muda sehingga merasa tidak perlu terburu2 membeli polis. Resiko tidak bicara tua-muda ata usehat-sakit. Resiko dapat menimpa siapa saja dimana saja. Semakin cepat terproteksi maka semakin cepat juga manfaat akan dinikmati.

*No Money*

Calon nasabah sudah memahami arti pentingnya proteksi namun *terkendala pada biaya*. Asuransi sama halnya dengan menabung. Setiap mereka yang bekerja maka idealnya sisihkan 10-20 % penghasilan untuk tabungan, dan tabungan ini sebaiknya dibagi kedalam 2 pos, yaitu tabungan di bank dan di asuransi. Tabungan di bank untuk proteksi jangka pendek-menengah, sementara di asuransi untuk proteksi jangka menengah-panjang. Bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana namun sudah menyadari arti pentingnya asuransi, saran saya adalah : belilah polis yang paling sesuai dengan budget yang anda miliki saat ini. Yang paling memungkinkan adalah asuransi jiwa
(berjangka/wholelife) dengan Uang Pertanggungan maksimal yang bisa dicapai
oleh budget Anda. Bicara asuransi jiwa, ini sangat penting untuk melindungi
penghasilan bila tejadi resiko meninggal dunia. Untuk itu belilah polis
dengan tertanggung adalah pencari nafkah utama terlebih dahulu (sebagai
polis pertama), untuk selanjutnya bila ada rezeki dan seiring meningkatnya
pendapatan maka bisa membeli polis kedua, ketiga, dan selanjutnya sesuai
dengan kebutuhan lainnya (dana pension, dana pendidikan, dll)

Demikian secara singkat saja ulasan mengenai 4 alasan menolak berasuransi.
Dalam pada itu, agent yang baik haruslah dapat mencarikan jalan keluar
bagaimana agar nasabah dapat terproteksi dengan kendala yang dimilikinya,
namun bilamana calon nasabah bersikeras untuk tidak mau diproteksi alangkah
bijaknya bila agent tidak memaksa calon nasabah, yang penting adalah berikan
pemahaman secara maksimal, karena yang membutuhkan asuransi adalah calon
nasabah, bukan agent J.

***

Ilnayuti Sari - Financial Planner - Manulife FInancial
YM : yuridza - Gtalk : ilnaridzal - 08179994848 - 92140025

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke