Penanaman Jiwa Wirausaha
Oleh : K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

JIKA jiwa wirausaha tertanam dari awal pada diri kita, bisa kita pastikan kita 
tidak akan pernah takut menghadapi situasi apa pun. Kalau saja bangsa ini 
dikelola oleh orang-orang yang berjiwa wirausaha baik, maka kondisi sesusah apa 
pun akan mudah ditanggulangi.

Dalam menjalani hidup ini pun kita harus selalu bisa ambil hikmahnya. 

Hikmah pertama adalah berhati-hati untuk menjalani masa kecil atau masa mudah 
kita. Merintis usaha sejak kecil tidaklah masalah jika kewajiban utama kita 
berjalan dengan baik. Sembari kuliah sebaiknya kita juga berdagang 
kecil-kecilan untuk mencari nafkah sendiri. Hikmah kedua, modal utama dalam 
kita menjalani hidup ini adalah kredibilitas.

Muhammad sebelum diangkat menjadi seorang nabi adalah seseorang yang tidak 
memiliki apa-apa untuk dijadikan modal. Tapi kenapa pada akhirnya beliau 
menjadi orang kaya? Ternyata modalnya adalah bahwa beliau seorang yang sangat 
dapat dipercaya oleh orang lain. 

Modal kita itu adalah nama baik kita. Jangan takut tentang modal uang. 
Sebenarnya, nilai uang itu kecil karena yang mahal itu adalah nama baik kita. 
Faktor pertama yang membuat Rasulullah dihormati adalah karena beliau adalah 
orang yang sangat jujur. 

Mulai sekarang jangan pernah terpikir untuk berbuat licik. Tidak boleh kita 
berdusta karena dengan dusta seseorang bisa kehilangan uang, kehilangan 
kepercayaan, dan kehilangan hidup. Saat ditanya umur saja kadang-kadang kita 
harus berdusta. Kenapa harus begitu? Kelihatannya memang sepele, tapi yang 
sepele itu mampu merusak sistem yang ada. 

Jangan pusing kalau ternyata kita disisihkan, diremehkan, dan dikeluarkan 
karena kita jujur tentang sesuatu daripada kita diterima karena kita berdusta. 
Kalau kita diterima karena bohong, maka selama itu kita tidak akan pernah 
menikmati hidup kita, karena kita hidup dalam ketakutan terhadap kebohongan 
tersebut yang sudah pasti suatu saat akan terbongkar. Mencari rezeki itu tidak 
usah pakai bohong. Allah SWT tahu akan kebutuhan kita melebihi pengetahuan kita 
tentang diri kita sendiri. Jatah rezeki kita sudah Allah tetapkan. Tidak 
mungkin Allah menciptakan kita tanpa dengan rezekinya. 

Perlu kita ketahui, harta yang merupakan rezeki bagi kita itu ada tiga macam. 
Pertama, apa yang kita makan sebagai penguat tubuh kita, yaitu rezeki yang 
dijaminkan. Kedua, rezeki yang digantungkan. Dan rezeki yang ketiga adalah 
rezeki yang dijanjikan. Allah menjanjikan, barang siapa yang menjadi ahli 
syukur terhadap nikmat yang ada, maka Allah akan "membeli"-nya. Jadi, setiap 
kali kita mendapat uang, mengapa tidak langsung kita potong untuk zakat dan 
sedekah. Sesungguhnya dengan begitu rezeki kita tidak akan berkurang melainkan 
akan bertambah dan bertambah terus. 

Maka dari itu, mulai saat ini jangan pernah terpikir untuk berbuat licik. 
Pilihlah kejujuran sebagai gaya hidup. Berjualan dengan tetap menjaga kejujuran 
akan membantu kita untuk mendapatkan untung yang berkah. Sebab, apa gunanya 
mendapat untung yang banyak tetapi tidak ada berkah sedikit pun? Dalam hal ini, 
kepercayaan itu mahal harganya. Jangan sampai kita berbuat curang dalam menakar 
dan usahakan menepati semua janji yang kita berikan pada orang lain. Jika para 
pedagang itu jujur, maka para pelanggannya akan merasa puas. Jangan pernah 
takut untuk tidak memiliki uang, tapi takutlah kalau uang yang kita punyai 
tidak membawa berkah. 

Selain kejujuran, resep kedua dalam berwirausaha adalah cakap. 

Rasulullah sendiri ternyata seorang yang sangat cakap dalam pekerjaannya. Ciri 
orang yang cakap itu orientasinya adalah kepuasan. Saat seseorang memasuki toko 
kita, mereka merasa puas karena disambut dengan salam dan sambutan yang ramah. 
Begitu juga kepuasan mereka didukung oleh kebebasan mereka untuk melihat-lihat 
isi toko kita dan mereka tidak dipaksa untuk membeli. Kedatangan pengunjung 
sendiri ke toko tersebut sebenarnya merupakan berkah yang didapat oleh 
pemiliknya. 

Jujur dan cakap akan menghasilkan keadilan. Seperti halnya Rasulullah saw. yang 
selalu bersikap adil. Adil di sini berarti mendapat keuntungan yang 
proporsional. Jika kita serakah, maka kita telah berbuat licik dan picik. Tiada 
lagi keuntungan kita membawa keberkahan. 

Pengertian untung dalam Islam adalah kalau kita berhasil menguntungkan sebanyak 
mungkin orang lain. Kalau orang lain puas, orang lain senang walaupun kita 
untungnya sedikit, tapi untungnya jangka panjang, maka kita termasuk orang yang 
untung. Kita mendapat keuntungan kalau orang lain merasa puas dengan kerja 
kita. Itulah investasi terbesar yang mahal bagi usaha kita. 

Maka dari itu, jangan sekali-kali kita ukur keuntungan dengan uang, karena uang 
hanya bisa bertahan di tangan kita sekejap saja, kemudian hilang dengan 
berpindah tangan. Tapi kepuasan orang akan masuk ke hati. Dan kepuasan itu akan 
berpengaruh besar pada kemajuan usaha kita karena dengan demikian kita telah 
melakukan promosi dan publikasi secara tidak langsung tentang keberadaan usaha 
kita yang dapat memberikan kepuasan kepada para konsumen. 

Maka, sekali lagi, jangan pernah kita mengukur kesuksesan itu dengan uang. 
Kesuksesan adalah ketika kita punya ilmu, punya pengalaman, punya nama baik, 
dan punya berkah. Uang itu hanyalah bonus dari Allah. 

Dan yang terakhir yang ketiga, jiwa entrepreneurship ini sangat bergantung 
kepada kreativitas yang inovatif. Kalau kita memiliki uang, maka kreativitas 
kita bermain di sana. Dengan uang yang kita miliki, kita bisa menambah ilmu, 
wawasan dan sekaligus dijadikannya modal. Daripada kita memiliki uang banyak 
yang hanya disimpan saja dan tidak digunakan untuk menghasilkan sesuatu, maka 
percuma saja kita memilikinya jika kita tidak dapat menikmati dan 
memanfaatkannya untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Sementara itu, kita 
hidup di dunia ini tidaklah lama. 

Oleh karena itu, untuk apa kita mengumpul-ngumpulkan harta dan hanya 
menghitung-hitungnya saja? Ingat, ketiga resep di atas: jujur, cakap, dan 
kreatif-inovatif akan dapat membantu para wirausahawan untuk menjalankan 
usahanya dengan baik dan penuh keberkahan. 

Mudah-mudahan uraian sederhana ini bisa menggugah hati kita sehingga mampu 
melakukan perbaikan detik demi detik. Wallahu a'lam.

Sumber: pikiran rakyat

===================================================

Mari Memulai Usaha 

Hobi dan keterampilan bisa dimanfaatkan untuk memulai usaha. Contohnya? 

Punya usaha (bisnis) sendiri? Itu memang keinginan banyak orang, termasuk para 
wanita. Apalagi di zaman serba mahal seperti sekarang. Punya usaha untuk 
menambah penghasilan keluarga tak pelak menjadi dambaan para wanita, utamanya 
ibu rumah tangga. 

Masalahnya, memulai usaha bukanlah sesuatu yang mudah. ''Mau usaha apa ya? 
Bingung deh,'' begitu kalimat yang kerap meluncur dari bibir Riyanti, ibu rumah 
tangga yang telah sejak lama ingin berbisnis. Tapi rupanya, meski tahun demi 
tahun berganti, ibu dua anak ini tak kunjung menemukan jawaban dari pertanyaan 
itu. Mudah-mudahan, saran dari perencana keuangan, Mike Rini, berikut ini bisa 
membantu Riyanti dan para ibu lainnya untuk memulai usaha. 

Menurut Rini, wanita memang harus berani melakukan sesuatu untuk menambah 
penghasilan keluarga. Apalagi di saat ekonomi sulit seperti sekarang. ''Ibu-ibu 
rumah tangga harus mempunyai penghasilan sendiri. Besar atau kecil nominalnya, 
itu nomor sekian yang penting dengan usaha tersebut ada kemandirian dari 
ibu-ibu rumah tangga,'' papar Mike. Tak perlu muluk-muluk dengan langsung 
membuka usaha berskala besar. Pilih saja usaha rumahan. Usaha ini lebih murah, 
tidak perlu menyewa tempat, dan Anda masih bisa menangani urusan rumah tangga. 

Bagaimana caranya memulai bisnis rumahan ini? Ibaratkan saja bisnis ini seperti 
bernapas, makan, dan mandi. Maksudnya, kata Mike, jadikan bisnis ini sebagai 
kegiatan rutin sehari-hari, sebagaimana pekerjaan rumah tangga. Contohnya, 
berjualan makanan yang Anda masak sendiri. Bisa juga memilih bisnis yang 
dilatarbelakangi oleh hobi atau keterampilan Anda, semisal: menjahit, berkebun, 
merangkai bunga, membuat pernak-pernik, dan lainnya. Anda yang terampil 
menjahit, bisa membuka jasa menjahit baju atau membuka butik yang menjual 
busana-busana hasil kreasi Anda. Suka berkebun? Membuka nurseri mungkin cocok 
untuk Anda. Lain lagi jika Anda hobi memasak. Membuka jasa katering bisa jadi 
pilihan yang menjanjikan. 

Modal
Pilihan usaha sudah ditentukan. Tapi, bagaimana dengan modalnya? Syukur-syukur 
suami bersedia membantu. Jika keuangan suami tak memungkinkan, modal awal bisa 
diambil dari tabungan. Tabungan juga tak mencukupi? Mike menyarankan untuk 
menyisihkan sejumlah dana dari anggaran belanja. Bila jurus inipun tak bisa 
dilakukan karena serba mepet, mau tak mau Anda harus bekerja sama dengan orang 
lain.

Bisa juga Anda mengalihkan bisnis bukan dalam bentuk produk melainkan jasa. 
Pilihannya cukup beragam, semisal menjadi babysitter, guru les, menerima order 
menjahit, dan lainnya. Keunggulan dari bisnis jasa adalah tak memerlukan modal 
besar. ''Paling ongkos pulang pergi ke tempat tujuan. Untuk promosi, bisa dari 
mulut ke mulut, malah ada juga yang menempelkan pengumuman di sekolah, tembok 
atau pohon.'' 

Terkadang, seseorang memiliki modal tapi hanya sedikit. Sebutlah misalnya, 
kurang dari Rp 1 juta. Bisa apa dengan uang sejumlah ini? Jangan kecil hati 
dulu. Menurut Mike, banyak pilihan bisnis dengan modal di bawah Rp 1 juta. 
Misalnya, menjual gorengan, bubur kacang hijau, masakan matang, bisnis multi 
level marketing (MLM), dan lainnya.

Bisnis seperti ini memang sudah ditekuni banyak orang. Artinya, tingkat 
persaingan sangat ketat. Tapi, jangan takut dengan persaingan. ''Jadikan 
persaingan sebagai kompetisi yang sehat dan membuat para ibu makin kreatif,'' 
ujar Mike. Jika Anda berbisnis makanan, ciptakan masakan dengan resep yang 
berbeda dibandingkan yang lain. Bentuk, kemasan, dan penyajian juga harus 
dibuat semenarik mungkin. Jangan lupakan pula pelayanan yang baik agar pembeli 
senang. 

Ketika mulai berbisnis, utamanya mereka yang bermodal kecil, kerapkali disergap 
rasa malu. Muncul pula kecemasan jika usahanya gagal atau merugi. ''Singkirkan 
pikiran seperti itu. Namanya usaha pasti ada untung-rugi. Kalau usaha gagal, 
mungkin Anda akan malu. Itu wajar. Tapi mengapa harus malu, toh Anda bukan 
maling atau koruptor,'' kata Mike bersemangat. Bila dijalankan dengan baik, 
bisnis rumahan bisa balik modal dalam waktu dua tahun. Bila dalam waktu dua 
tahun, modal belum juga kembali, artinya ada sesuatu yang harus diperbaiki. 
Cobalah introspeksi diri di mana kesalahannya. 
Nah, kini Anda sudah siap berbisnis, bukan? vie 

sumber : Republika

Kirim email ke