Menjemput Rezeki dengan Berkah
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah
yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang
itu dan tempat penyimpanannya. Semunya tertulis dalam Kitab yang
nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS Huud [11]: 6)

Kita diciptakan oleh Allah dilengkapi dengan rezeki. Rezeki
ditentukan setelah empat bulan di perut ibu. Rezeki ada yang baik
atau yang buruk, tergantung cara mengambilnya. Rezeki yang buruk
karena cara mengambilnya yang buruk.

Setiap makhluk sudah ada rezekinya. Misalnya, Allah menciptakan
pohon terbatas gerakannya. Karena pohon tak lincah maka makanannya
didekatkan lewat akar. Rezekinya didekatkan, ini sengaja diatur oleh
Allah.
Begitupun binatang, misalnya singa, pada waktu masih bayi dia tak
bisa mengejar kijang, maka Allah menyediakan air susu di tubuh
induknya. Ketika air susunya berhenti, Allah menggantinya dengan
makanan yang diburu induknya. Setelah besar dia berburu sendiri.
Makin kuat fisiknya, makin tinggi kualitas ikhtiarnya.

Begitupun manusia, dalam perut ibu rezekinya masuk lewat tali ari-
ari karena belum bisa berbuat. Setelah lahir, walau tali ari-ari
digunting, tetap saja bertemu dengan rezekinya lewat air susu ibu.
Saat air susu berhenti, Allah menyediakan berbagai makanan yang
kalau lapar tinggal menangis, maka rezeki akan datang. Makin dewasa
harus makin gigih ikhtiarnya menjemput rezeki karena Allah telah
menyiapkan kekuatan fisik, akal dan indera perasa.

Karenanya kita jangan malas mencari nafkah, binatang pun selalu
berikhtiar untuk mendapatkan rezekinya. Rasulullah pernah terkesan
kepada burung yang pergi dengan perut kosong, tapi setelah terbang
kembali dengan perut kenyang. Jadi, kuncinya adalah terbang
(bergerak) dan itu tak bisa didapatkan dengan sayap yang malas.
Binatang yang tak mempunyai akal saja mati-matian iktiar hingga bisa
bertemu dengan rezekinya. Mustahil manusia yang mempunyai akal tak
bertemu dengan rezekinya.

Di negeri kita tak kurang sarjana ekonomi, tapi kebanyakan fakultas
ekonomi hanya mempelajari teori ekonomi duniawi yang kapitalis.
Padahal kita membutuhkan para ekonom yang komprehensif, yang selain
mengerti teori ekonomi juga kuat iman dan bisa meraih rezekinya.
Dengan kata lain kita membutuhkan para ekonom yang ahli dzikir,
fikir dan ikhtiar.

Allah sudah menyiapkan perangkat ikhtiar lahiriah dan ruhiah. Kita
membutuhkan tokoh-tokoh ekonomi yang tak hanya kuat berpikir, tapi
juga bisa menggerakkan potensi. Membangkitkan kondisi ekonomi tak
hanya dengan teori duniawi belaka, tetapi juga harus dengan teori
tentang bagaimana Allah membimbing kita menemukan rezeki.

Negeri kita sekarang sedang krisis ekonomi, harga barang naik.
Pemerintah dan rakyat masing-masing mempunyai kewajiban yang
berbeda. Beban pemerintah lebih berat daripada rakyat hingga
pertanggungjawabannya di hadapan Allah lebih tinggi. Karenanya para
pejabat harus sekuat tenaga mencari jalan dengan kreatif agar rezeki
dari Allah sampai kepada rakyat.

Kita pun harus memilih para pemimpin yang memiliki kapasitas
keimanan dan keilmuan yang baik agar dengan kepemimpinannya bisa
membuka pintu rezeki bagi kita.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai rakyat menghadapi krisis ekonomi
ini? Pertama, kita harus khusnudzon kepada Allah karena Allah sesuai
dengan persangkaan hamba-Nya. Kalau kita yakin Allah akan menjamin,
pasti akan bertemu dengan rezeki kita.

Kedua, kita harus mengevaluasi sikap kita terhadap rezeki yang Allah
berikan. Ada orang yang diberi rezeki, namun rezekinya berubah
menjadi musibah karena salah menyikapinya. Jangan-jangan Allah telah
memberi banyak, tetapi kita kufur nikmat.

Misalnya para perokok yang gajinya Rp 600 ribu, kalau sehari merokok
dua bungkus (per bungkus Rp 7 ribu), maka sebulan menghabiskan Rp
450 ribu. Sisanya hanya Rp 150 ribu hingga makanan istri dan anaknya
tak layak. Ini zalim dan mempersulit diri sendiri karena sudah
penghasilannya sedikit juga tak dimanfaatkan secara optimal.

Ketiga, lihatlah ikhtiar kita. Jangan-jangan ikhtiar kita belum
benar, malas atau tak dengan ilmu. Segala sesuatu harus dengan ilmu,
termasuk untuk mendapatkan rezeki, kalau tak pernah mencari ilmu,
tak akan bertemu dengan rezekinya. Tak mau mencari ilmu sama dengan
tak mau mendapatkan rezeki.

Selain gigih ikhtiar mencari rezeki, kita juga harus melakukan
amalan yang disukai Allah. Amalan yang bisa membuka pintu rezeki
misalnya shalat tepat waktu, memperbanyak istigfar, silaturahmi, dan
sedekah.

Ya Allah, bukakan hati kami agar selalu yakin Engkaulah satu-satunya
penjamin rezeki. Bimbinglah kami agar dapat menyempurnakan ikhtiar
menjemput rezeki-Mu dengan cara yang Engkau ridhai.

Sumber : http://republika.co.id


Legal disclaimer
-------------------------
This email may contain confidential and/or legally privileged information. 
If you are not the intended recipient (or have received this email by error), 
please notify the sender immediately and delete this email. 
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this 
email is strictly forbidden.


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke