----- Original Message -----
From: Muhammad Syukuri
Sent: Wednesday, December 24, 2008 10:31 AM
(sumber : www.dakwatuna.com )
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu (Muhammad) siarkan".
(Ad-Dhuhaa: 11)
Tahadduts bin ni'mah merupakan istilah yang sudah lazim dipakai untuk
menggambarkan kebahagiaan seseorang atas kenikmatan yang diraihnya. Atas
anugerah itu ia perlu menceritakan atau menyebut-nyebut dan
memberitahukannya kepada orang lain sebagai implementasi rasa syukur yang
mendalam. Perintah untuk menceritakan dan menyebut-nyebut kenikmatan pada
ayat di atas, pertama kali memang ditujukan khusus untuk Rasulullah saw.
Namun, perintah dalam ayat ini tetap berlaku umum berdasarkan kaedah "amrun
lir Rasul Amrun li Ummatihi" (perintah yang ditujukan kepada Rasulullah,
juga perintah yang berlaku untuk umatnya secara prioritas).
Ibnu Katsir mengemukakan dalam kitab tafsirnya, berdasarkan korelasi ayat
per ayat dalam surah Ad-Dhuha, "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang
yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
bingung, lalu Dia memberimu petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang
yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Oleh karena itu, siarkanlah
segala jenis kenikmatan tersebut dengan memujinya, mensyukurinya,
menyebutnya, dan menceritakannya sebagai bentuk i'tiraf (pengakuan) atas
seluruh nikmat tersebut."
Para ulama tafsir sepakat bahwa pembicaraan ayat ini dalam konteks
mensyukuri nikmat yang lebih tinggi dalam bentuk sikap dan implementasinya.
Az-Zamakhsyari, misalnya, memahami tahadduts bin ni'mah dalam arti
mensyukuri segala nikmat yang dianugerahkan oleh Allah dan menyiarkannya.
Lebih luas lagi Abu Su'ud menyebutkan, tahadduts bin ni'mah berarti
mensyukuri nikmat, menyebarkannya, menampakkan nikmat, dan memberitahukannya
kepada orang lain.
Dalam konteks itu, Ibnul Qayyim dalam bukunya Madrijus Salikin mengemukakan
korelasi makna antara memuji dan menyebut nikmat. Menurut beliau, memuji
pemberi nikmat bisa dibagikan dalam dua bentuk: memuji secara umum dan
memuji secara khusus. Memuji secara umum adalah dengan memuji sang pemberi
nikmat sebagai yang dermawan, baik dan luas pemberiannya. Sedangkan memuji
yang bersifat khusus adalah dengan memberitahukan dan menceritakan
kenikmatan tersebut. Sehingga tahadduts bin ni'mat merupakan bentuk
tertinggi dari memuji Allah Zat Pemberi nikmat.
Berdasarkan makna ayat di atas, mayoritas ulama salaf menganjurkan agar
memberitahukan kebaikan yang dilakukan oleh seseorang jika ia mampu
menghindarkan diri dari sifat riya' dan agar bisa dijadikan contoh oleh
orang lain. Sehingga secara hukum, tahadduts bin ni'mah dapat dibagi kepada
dua kategori: jika terhindar dari fitnah riya', ujub, dan tidak akan
memunculkan kedengkian pada orang lain, maka sangat dianjurkan untuk
menyebut dan menceritakan kenikmatan yang diterima oleh seseorang.
Namun, jika dikhawatirkan akan menimbulkan rasa dengki, dan untuk
menghindarkan kerusakan akibat kedengkian dan tipu muslihat orang lain, maka
menyembunyikan nikmat dalam hal ini bukan termasuk sikap kufur nikmat. Lebih
tegas Imam Asy-Syaukani berpendapat bahwa tahadduts bin ni'mah bukan
termasuk bagian dari tafaakhur (berbangga-bangga) maupun takabbur yang
sangat dibenci oleh Allah swt. seperti dalam firmanNya, "Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri". (Luqman:
18)
Tahadduts bin ni'mah dalam konteks yang lebih luas, tidak hanya atas
kenikmatan materi yang diterima seseorang. Atas kesungguhan beribadah dan
taufiq untuk menjalankan amal shalih juga layak dan tidak ada salahnya untuk
diceritakan dan diberitahukan kepada orang lain. Ini sebagai sebuah ungkapan
rasa syukur dan agar bisa ditiru serta dijadikan contoh. Namun, tentu kepada
mereka yang diharapkan mengikuti kebaikan dan amal shalih tersebut.
Al-Hasan bin Ali mengemukakan pernyataannya tentang hal itu, "Jika engkau
mendapatkan kebaikan atau melakukan kebaikan, maka sebutlah dan ceritakanlah
di depan saudaramu yang kamu percayai bahwa ia akan mengikuti jejak yang
baik tersebut." Kebiasaan seperti ini pernah dilakukan oleh Abu Firas,
Abdullah bin Ghalib, seperti yang dituturkan oleh Imam Al-Qurthubi dalam
tafsirnya, "Setiap kali aku bangun pagi, aku biasa menyebut amal yang aku
lakukan di malam hari; aku sholat sekian, berdzikir sekian, membaca
Al-Qur'an sekian dan sebagainya." Ketika para sahabatnya mempertanyakan yang
dilakukan oleh Abu Firas termasuk dalam kategori riya', dengan tenang ia
menjawab, "Allah memerintahkan dalam ayat-Nya untuk menceritakan kenikmatan,
sedangkan kalian melarang untuk menyebut kenikmatan?"
Di sini sangat jelas bahwa tahadduts bin ni'mah merupakan salah satu kendali
agar tidak terjerumus ke dalam kelompok yang dikecam oleh Allah karena
menyembunyikan nikmat dan mengingkarinya serta tidak mengakui anugerah
tersebut berasal dari Allah swt. Allah berfirman, "Mereka mengetahui nikmat
Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang kafir." (An-Nahl: 83).
Tentang penduduk Negeri Saba' yang ingkar dan enggan mensyukuri nikmat,
Allah menggambarkan akhir kehidupan mereka yang mendapat azab. "Sesungguhnya
bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu
dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka
dikatakan): Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan
bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan
(Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka
Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun
mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit,
pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan
kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang
demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir."
(Saba': 15-17)
Dalam beberapa hadits Rasulullah dinyatakan bahwa Tahadduts dengan
kenikmatan yang diraih merupakan salah satu dari impelemtasi syukur seorang
hamba kepada Sang Pemberi nikmat, yaitu Allah. Dalam hal ini, At-Tirmidzi
menukil sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa ia
berkata, "Barangsiapa yang diberi kebaikan (kenikmatan), hendaklah ia
membalasnya; Jika ia tidak punya sesuatu untuk membalasnya, hendaklah ia
memuji pemberinya. Karena sesungguhnya apabila ia memuji berarti ia telah
mensyukuri dan berterima kasih kepadanya. Akantetapi, jika ia
menyembunyikannya, berarti ia telah mengingkari kebaikannya." Dalam hadits
lain dijelaskan masing-masing bentuk implementasi syukur secara lebih
terperinci:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ
يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ
التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ
رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Dari An-Nu'man bin Basyir berkata, "Rasulullah saw. berkhutbah di atas
mimbar menyampaikan sabdanya: 'Barangsiapa tidak mensyukuri yang sedikit,
berarti tidak bisa mensyukuri yang banyak. Barangsiapa tidak berterima kasih
kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Sesungguhnya
menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur dan meninggalkannya adalah
kufur. Bersatu akan membawa rahmat dan bercerai-berai akan mendatangkan
adzab'." (Musnad Imam Ahmad, no. 17721)
Adalah anugerah Allah jika kita diberi kemampuan dan taufiq untuk senantiasa
mensyukuri segala nikmatNya. Al-Hasan Al-Basri pernah berpesan,
"Perbanyaklah oleh kalian menyebut-nyebut nikmat, karena sesungguhnya
menyebut-nyebutnya sama dengan mensyukurinya." Memang memperlihatkan
kenikmatan merupakan sesuatu yang sangat dipuji oleh Allah karena Allah
sangat cinta kepada hambaNya yang diberi nikmat lantas ia menampakkan atau
memperlihatkan nikmat tersebut dalam sikap atau penampilan.
Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan
bertentangan dengan kenikmatan yang diterimanya. Seperti yang dikisahkan
oleh Imam Al-Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui
Rasulullah saw. dengan berpakaian lusuh dan kumal serta berpenampilan yang
membuat sedih orang yang memandangnya. Melihat keadaan demikian, Rasulullah
bertanya, "Apakah kamu memiliki harta?" Sahabat tersebut menjawab, "Ya,
Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku." Maka Rasulullah
berpesan, "Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu."
(Syu'abul Iman, Al-Baihaqi)
Mudah-mudahan kenikmatan yang semakin banyak mengalir mewarnai kehidupan
kita, mampu kita jadikan sebagai modal untuk memperkuat dan memperbaiki
semangat pengabdian kita kepada Allah dalam bentuk amal sholeh yang
diridhoiNya. Tahadduts bin ni'mah yang kita lakukan semata untuk mendapatkan
perhatian Allah, bukan perhatian dan pujian dari manusia. Namun begitu,
harapan dari tahadduts bin ni'mah tersebut semoga akan bisa membangkitkan
semangat orang lain untuk sama-sama menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan
pada bangsa tercinta ini.
Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)