----- Original Message -----
From: andri subandrio
Sent: Friday, December 19, 2008 8:55 AM
Perjalanan Mencari Tuhan | Learn to a [simple] LiFe
Perjalanan Mencari Tuhan
Published by hafidz on March 27, 2007 in bla_blah. Tags: alien, religi.
Sebuah tulisan dari seorang yang ingin mencari tuhan. Cukup panjang sih
tulisannya, tapi bagus untuk kita telaah. Semoga bermanfaat dan selamat
membaca.
1. Latar Belakang
Prinsip utama saya sejak beranjak dewasa sampai sebelum perjalanan umroh ini
adalah : "Tak ada keajaiban". Segala sesuatu harus masuk logika, masuk akal,
dan jauh dari hal-hal yg tak masuk akal. Segala sesuatu mesti ada penjelasan
ilmiahnya.
Oleh karena itu pandangan saya selalu mengacu kepada konsep hukum-hukum
fisika, sosial, dan hukum psikologi. Tak ada kejadian yg pernah bisa
melanggar hukum alam. Setiap pohon pisang akan berbuah pisang, setiap mahluk
hidup mempunyai siklus biologi sesuai spesisnya, setiap apapun didunia ini
tidak ada yg bisa lepas dari hukum absolut alam semesta. Takkan pernah ada
cimpedak berbuah nangka kecuali dalam sajak. Takkan pernah ada orang kebal
peluru. Takkan pernah ada keajaiban, keanehan, atau anomali hukum alam.
Sebelumnya saya hanya tertawa mendengar cerita-cerita keajaiban ataupun
kejadian luar biasa yg kerap terjadi pada orang yg melakukan ibadah haji
atau umroh di tanah suci. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin itu
hanya bohong belaka.
Sehingga ajian saya mengenai telaah agama islam, selalu mengacu kepada
analisa, sentesa, konseptual, dan hipotesa. Pendeknya, tak ada alat yg saya
miliki untuk telaah tsb selain metode ilmiah, sampai saya dipaksa harus
menyadari instrumen lain yg sesungguhnya ada dan tak pernah saya gunakan.
2. Perjalanan I : Jkt-Jeddah
Saya berangkat dengan apa adanya menuju Jeddah. Instruksi saya kepada
secretaries yg membooking perjalanan untuk mengambil paket yg paling murah,
paling singkat, dan paling efisien. Boleh dikata niat saya bukan untuk
ibadah, tapi untuk sebuah hipotesa.
Diperjalanan, saya bertemu dengan seorang Haji yg telah beberapa kali
berhaji dan berumroh, Bp H Tabrani (63), mantan walikota Jakarta Timur,
kelahiran Aceh.
Kamipun terlibat diskusi dipesawat. Saya katakan bahwa saya datang ke Mekkah
bukan untuk cari umur panjang, rejeki, kemakmuran, kekayaan,dsb. Saya
katakan saya hanya ingin mencari petunjuk, hidayah bahwa Al-Qur'an adalah
memang benar datangnya dari Allah dan bukan konsepnya Muhammad. Saya ingin
tahu hipotesa saya benar atau salah.
H.Tabrani berkata, " Insya Allah you akan dapat semua itu. Namun semua akan
tergantung dari cara you memandangnya, apakah fenomena itu adalah sebuah
petunjuk, atau hanya sebuah kebetulan ".
2.1 Kejadian 1
Beberapa saat setelah beliau bicara, tiba-tiba mesin pesawat mati satu.
Penumpang pun diharap kembali ketempat duduk masing-masing dan memasang
sabuk pengaman. Penerbangan baru berlangsung 45 menit. 5 menit kemudian
kedua mesin Boeing 747 disayap kiri mati. Pilot pun memberitahukan bahwa
pesawat harus kembali ke Airport Soekarno Hatta.
Kemudian pesawat mengalami turbulens yg menyeramkan disertai jeritan
penumpang, sementara saya melihat ke jendela pembuangan bahan bakar mulai
dilakukan. Ini merupakan pemandangan yg sama sekali tidak menyenangkan.
Saat itu saya mulai takut dan berfikir tentang kematian. Berkali-kali saya
terbang, baru kali ini mengalami kejadian yg demikian. Apakah tempat yg saya
tuju memang luar biasa ? Ataukah ini hanya kebetulan saja ?
Dengan sisa mesin dan kekuatan yg ada, pesawat terbang miring dan mendongak,
sementara yg saya lihat dibawah hanya lautan lepas. Namun akhirnya pesawat
dapat mendarat di Soekarno Hatta dengan selamat, diiringi beberapa mobil
pemadam yg siap siaga.
Kami semua di inapkan di Horison Hotel-Ancol. Di Hotel diskusi saya dengan
Bp H Tabrani berlanjut.
Saya tanya ; Aca :" Pak Haji, kok susah bener ya mau ke Mekkah aja ?"
"Baru kali ini saya saya naik pesawat kayak begini"
HTabrani : " You kurang niat kali… ini khan bukan perjalanan biasa".
Aca: Apanya yg luar biasa. Secara teknis tetap sama"
HTabrani : " Wah…you boleh pilih, melihat ini sebagai sebuah Kebetulan, atau
sebuah kebesaran Allah ! "
Aca: " Tapi Pak, kenapa kalau Allah mau kasih pelajaran Semua satu pesawat
terkena getahnya, padahal khan Ada penumpang lain seperti Bapak yg sudah
berniat bulat umroh tetapi juga batal ".
H Tabrani : " Andry…you khan tahu tidak semua penduduk Indonesia bobrok
mentalnya, tetapi, jika Allah mau kasih pelajaran khusus - hampir seluruh
rakyat Indonesia terkena dampaknya". "Bisa jadi karena you dengan niat
hipotesa atheis itu - kita semua satu pesawat terkena akibatnya". "Coba
dech.. you pikirin !"
Akhirnya saya mulai tafakur, mencoba untuk merendahkan hati, sholat isya' -
dan membaca niat untuk umroh. Saya mulai membuka-buka buku-buku petunjuk
menjalankan umroh. Walau saya jarang (hampir tidak pernah)berdo' a, saya
baca-baca do'a nya.
2.2 Kejadian 2
Esoknya kami berangkat dengan pesawat lain. Dan ketika itu saya melonjak
kegirangan, karena saya di up-grade ke first class. Waduh,enak juga, 10 jam
terbang tanpa harus berdesakan dengan fasilitas lainnya yg tidak sama dengan
economi.
Tiba-tiba H Tabrani datang, " Wah you koq disini ?"
Aca : "Alhamdulillah saya di up-grade Pak "
HTabrani : " Waduh…enak benerrrr, you udah niat umroh ? "
Aca: " Udah Pak, semalam saya tafakur, berdo'a dan membaca niat"
HTabrani : "Bagus kalau begitu. You sekarang melihat kan Allah bisa
memberikan imbalan kenikmatan secara Langsung "
Aca: "Loh tapi Pak Haji, ini khan petugas maskapai yg Ngatur!?"
HTabrani : " Bukan ! ini Allah yg ngatur, melalui tangan petugas"
Aca : " Wah ini mungkin hanya kebetulan saja Pak !" "Nggak masuk akal kalo
Cuma karena niat, saya langsung diberi kenikmatan oleh Allah ".
HTabrani : " OK… khan saya sudah bilang dari kemarin, semua Terserah you
saja, apakah you mau melihat dengan Kacamata kebetulan, atau kacamata iman!"
H Tabrani pun mulai sewot dengan saya. Entah karena nggak di up-grade atau
karena sikap saya yg dianggapnya wangkeng.
2.3 Kejadian 3
Dipesawat, saya dikenalkan oleh pramugari kepada 2 orang penumpang yg
menekuni manajemen pikiran. Dian, pramugari yg sebelumnya terlibat diskusi
agama dengan saya dan H Tabrani, menyarankan agar masalah saya diungkapkan
kepada mereka. Kamipun berkenalan, seorang bernama Nur Cahyo, seorang lagi
bernama Kartiko (mungkin muridnya).
Saya jelaskan permasalahan utama saya. Akhirnya ia menjelaskan, " Sdr Andry,
selama ini saya tahu anda telah banyak berupaya, namun upaya itu belum
optimum. Apa sebab - karena sdr hanya menggunakan sebahagian yakni bagian
kiri saja dari otak sdr ".
"Karena otak, mempunyai 2 belahan, belahan kiri yg fungsinya untuk
menganalisa, kalkulasi, logika, konsentrasi, hipotesa, dsb, dan belahan
kanan yg berfungsi mencerna keindahan, emosi, seni (spt musik), euphoria,
keimanan, dsb. Kedua belahan otak tsb harus sdr gunakan.Wajar kalau saudara
hanya mengandalkan analisa dan mendewakan sirkuitlogika" .
"Ada daerah kekuasaan Tuhan yg tidak dapat dianalisa dan didiskusikan.
Daerah tsb hanya dapat dicerna oleh perasaan yg kita sebut iman".
"Loh…itu khan basic prinsip Quantum Learning, saya tahu benar itu ", kilah
saya.
"Betul…bagus kalau anda tahu - tapi pernahkah anda terapkan dalam pencarian
ini ?".
Saya mulai bingung dengan pertanyaan Kartiko. Saya tahu benar ilmu itu,
karena saya sering jadi pembicara tentang metode belajar dan bekerja
menggunakan keseimbangan otak kiri - kanan.
Kepala saya seperti dipentung oleh senjata saya sendiri.
Kartiko melanjutkan, "Jika yg sdr cari adalah petunjuk, ia dapat berupa
ilham, mimpi, atau fenomena dan kejadian-kejadian yg tak masuk akal.
Sdr tak akan bisa menelaah semua itu nanti di perjalanan dengan otak
kiri(analisa) saja. Hasilnya akan sdr pisah-pisah dan terlihat tidak
berkaitan satu sama lain. Namun apabila sdr gunakan juga otak kanan
(intuisi/rasa/ iman), hasilnya akan sangat menakjubkan" .
H Tabrani pun ikut terlibat diskusi, dan ia banyak membenarkan perkataan
Kartiko.
Sebelum Kartiko kembali ke kursi duduknya, saya bertanya kepadanya, "Anda
kuliah dimana ?".
Kartiko pun menjawab "Politeknik Mekanik Swiss".
"Astaga, angkatan berapa ?".
"Angkatan 88″, jawabnya.
Akhirnya, kami pun bertambah mesra. Saya mulai menarik hipotesa dengan kedua
belahan otak saya ;
1. Apakah instrumen ini berguna (telaah menggunakan kedua belahanotak) untuk
pencarian saya ?
2.Kenapa saya tak pernah menggunakannya, padahal saya tahu dan gandrung
dengan ilmu itu ?
3. Apakah ia hanya seorang kenalan di pesawat, atau kah sebuah petunjukagar
saya menggunakan instrumen itu
dalam perjalanan sekarang dan nanti?
4.Apakah pertemuan kami ini hanya sebuah kebetulan ?
5.Apakah Kartiko juga seorang yg kebetulan berlatar belakang pendidikan sama
dengan saya sehingga jalan berfikir kami sepertinya klop !?
Saya kembali membahas ini dengan H Tabrani. Beliau seperti biasa sambil
sewot, " Terserah…you mau lihat dari kacamata kebetulan atau kacamata
kebesaran Allah!".
Sayapun mulai tak percaya dengan diri saya. Saya mulai goyah dengan
pandangan saya selama ini.
2.4 Kejadian 4
Akhirnya kami pun tiba di Jeddah, yg kemudian perjalanan disambung
keMadinah.
Malam hari kita berangkat sholat Isya' ke Masjid Nabawi. Disini Rasululloh
dimakamkan, jelas H Tabrani.
"Kok kuburan di Masjid Pak Haji, nggak bener itu !"
"Wah you ini mau sholat apa nggak !". "You khan bisa sholat karena orang yg
dimakamkan disini !".
Tanpa banyak bantah saya ikuti ajakannya sholat diluar (halaman)
Masjid(karena larut, pintu masuk sudah ditutup).
Saya sholat tepat disamping pintu makam Rasululloh, sedang H Tabrani sholat
5 meter didepan saya. Tiba-tiba, baru saja saya takbiratul ihrom, pintu
disamping saya berdebum.
Sayup-sayup berdebum. Seperti suara orang kerja. Tapi lebih mirip suara
orang marah-marah membanting meja atau kursi.
Tiba-tiba perasaan takut saya datang. Akhirnya saya batalkan sholat saya,
pindah menjauhi makam Rasululloh. Makam orang yg saya pikir pembuat
Al-Qur'an. Dan saya mulai dihantui pemikiran tersebut. Sholat saya sudah
nggak bisa khusuk lagi.
"Andry…kamu kenapa pindah sholatnya ?", tanya H Tabrani.
"Nggak tahu tuh Pak, ada suara berisik dipintu, sepertinya pintu itu mau
dibuka orang ", jawab saya.
"Suara berisik apa".
"LohPak Haji nggak denger barusan "
"Enggakah… , Iqbal…kamu dengar suara ?" "Enggak Pak…"
Perasaan saya mulai nggak karuan. Rasa takut dicampur rasa bersalah. Saya
coba analisa pakai belahan kiri, bahwa mungkin posisi saya yg tegak lurus
dengan pintu menyebabkan saya bisa dengar, namun mereka karena tidak tegak
lurus, mereka tak bisa mendengar.
Tapi harusnya juga dengar. Mustahil tidak, karena suara itu keras koq.
Akhirnya saya ceritakan ke H Tabrani tentang perasaan kacau saya.
Saya ceritakan bahwa saya pernah menulis e-mail yg berpendapat apakah semua
ini bisa-bisa nya Muhammad. Kala itu saya tetap menyangsikan kronologi
turunnya wahyu. Hingga saya mensejajarkan posisi Muhammad dengan Napoleon,
Karl Marx, Einstein, Aristoteles, Plato, dan pemikir besar dunia lainnya.
"Wah…kalau you udah sadar itu salah, you mesti minta maaf besok didalam
Masjid, tepat disamping makamnya kalau bisa ", kilah H Tabrani.
Esok hari, pagi-pagi sekali kami bangun, berangkat menuju Masjid Nabawi.
Masjid besar dengan halaman yang juga besar. Dengan terhuyung sambil ngantuk
(karena nggak biasa bangun dan sholat shubuh)saya berjalan menyusuri halaman
Masjid seperti menyusuri 2 kali panjang lapangan bola. Seluruh lantainya
ditutupi Pualam putih.
Setelah melewati pintu utama, saya berjalan memasuki ruang dalam Masjid area
perluasan King Fadh. Saking besarnya, pandangan lepas kita tak dapat melihat
ujung Masjid lainnya. Lantai, dinding dan Tiang ditutupi marmer yg dipolish
licin. Setiap tiang terdapat lubang AC yg dapat mengatur suhu ruangan
otomatis.
Kami terus berjalan menuju Raudah (batas bangunan asli Masjid yg dibangun
Muhammad) melewati area perluasan King Azis. Antara perluasan King Fadh dan
King Azis terdapat Kubah yg dapat terbuka dantertutup otomatis. Sempat
terfikir oleh saya, betapa besar biaya yg diperlukan untuk ini semua.
Namun saya coba tahan pemikiran negatif itu dan menggantikannya dengan
fikiran betapa besar pengaruh Muhammad sampai sekarang hingga dapat terwujud
Masjid sebesar dan seagung ini.
Kami pun hampir mencapai Raudhah, namun tak bisa masuk karena penuhnya.
Setelah sholat Shubuh, saya dianjurkan H Tabrani untuk berdo'a di area
Rhaudah.
"Kenapa…?" , tanya saya.
"Berdoa disana Insya Allah lebih amat makbul (dijawab oleh Allah terhadap
permintaan doa kita).
Sempat terbesit pertanyaan saya, apakah doa orang yg berdoa di Masjid Dago
Atas tidak makbul ?
Namun saya mulai menahan diri terhadap pemikiran dan pertanyaan model itu.
Setelah berdoa, kamipun berdesakan keluar melalui Pintu Jibril, pintu yg
melewati tepat muka makam Rasululloh.
Saya ambil barisan paling kiri, barisan yg paling dekat dengan sisi makam.
Kami berjalan berdesakan, perlahan, penuh sesak namun sangat tertib. Dari
kejauhan saya melihat pagar makam yg didalamnya gelap tak ada cahaya.
Dalam antrian perlahan saya mendekati makam. Didalam pagar terlihat tiga
makam yg ditutupi kain. Saya tak tahu yg mana Makam Rasululloh, yg mana
makam Abu Bakar, dan yg manamakam Khadijah, isteri Nabi.
2.5 Kejadian 5
Disepanjang makam berdiri 4 orang tua dengan badan tinggi bersorban yg
selalu menepis tangan orang yg mencoba memegang pagar dengan meratap.
"Musyrik !!!", hardiknya.
Mereka senantiasa menjaga perilaku setiap orang yg mencoba ziarah dengan
kelakuan aneh. Disini saya mulai mengerti arti Islam sebagai agama Tauhid.
Agama yg berillah hanya dan hanya kepada Allah. Tiada kepada yg lain, tiada
pula kepada para Nabinya.
Nabi hanya sebagai pembawa RisalahNYA, MandatarisNYA, dan bukan tempat untuk
meminta atau berdo'a.
Nabi juga bukanlah anakNYA, karena beranak pinak adalah perilaku ciptaaNYA
dan bukan salah satu sifatNYA/perilakuNYA. Musyrik atau Syirik,
mensyarikatkan Allah dengan sesuatu lainnya adalah satu-satunya perbuatan
dosa yg tidak pernah diampuni Allah.
Bukan maksud saya menyindir, tapi sering kali orang melakukan"HUMANISASI".
Imajinasi bentuk alien (mahluk luar angkasa) tak pernah jauh lari dari
bentuk manusia, berbadan, berkepala, bertangan dan berkaki. Film-film kartun
Hollywood, selalu menampilkan bentuk perilaku binatang yg bertingkah polah
bagai manusia, dan berbentuk fisik yg sudah dirobah menjadi mirip manusia.
Dongeng-dongeng binatang buku cerita untuk anak kecil juga demikian.
Robot-robot sekarang dan masa datang, mengambil analogi kerja tubuh dan
bentuk badan manusia. Sampai-sampai Tuhan atau Dewa-dewa yg digambarkannya
pun mirip bentuk manusia.
Ada pula yg menganalogikan perilaku Tuhannya seperti manusia dengan perilaku
beranak pinak.
Disini saya merasa mendapat petunjuk, bahwa Muhammad NabiNYA, bukan
anakNYA,bukan tempat meminta.
Ketika saya tiba persis dimuka makam, seseorang dengan suara yg berat
dibelakang saya berkata perlahan. Tidak keras namun tidak berbisik. Kedua
tangannya memegang pundak saya dari belakang. Ia berkata dalam bahasa Arab,"
Ya Rasululloh.. .ini aku, aku datang kepadamu, bukan untuk meminta sesuatu
yg lain.
Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu ya Habiballoh.
Aku hanya mengagumimu namun aku tak pernah memujimu.
Aku fikir aku telah menempatkanmu pada posisi yg tinggi, namun ternyata
engkau lebih mulia dari itu. Aku tidak mencela engkau namun aku sadar aku
telah melecehkan engkau. Aku minta maaf ya Rasululloh".
Pembaca, saya dapat mengerti hampir seluruh ucapannya dalam bahasa Arab itu,
namun saya belum pernah belajar Nahu sorob atau bahasa Arab !
Saya jadi bingung sendiri. Saya lihat dipundak saya salah satu tangannya yg
memegang pundak saya dari belakang, besar sekali dan hitam legam. Waktu saya
menolah kebelakang, orang tersebut seperti dari Afrika, tinggi luar biasa,
hitam legam.
Ia mengucapkannya sambil merintih menahan tangis. Rasa haru, menyesal luar
biasa, dan sedikit ketakutan pun menyelimuti saya.
Saya tak ucapkan kata apapun. Semua yg akan saya ucapkan telah diucapkan
orang dibelakang saya dalam bahasa Arab yg saya tiba-tiba mengertinya.
Keluar pintu Jibril, saya menunduk menahan tangis dan haru, agar tak
terlihat H Tabrani dan Iqbal puteranya. HTabrani tahu itu. Merekapun
mempercepat langkah agar tetap didepan saya.
Saya coba cari orang tinggi besar hitam tadi.Mungkin karena ramai kerumunan,
saya tak dapat menemukannya.
Sesampai di Hotel, kamipun mendiskusikannya. Terutama tentang dapat
mengertinya saya terhadap ucapan dalam bahasa Arab.
Saya bilang : "Mungkin begini Pak, karena saya dihantui rasa bersalah,dan
memang saya akan berkata minta maaf, maka persepsi sayaterhadap apa yg
diucapkan orang tadi adalah persepsi fikiran saya".
H Tabrani : "Itu mungkin. Mungkin saja. Tapi mungkin juga petunjuk, bahwa
beliau (Rasululloh) tahu benar isi hati anda, dan beliau dengan ahlaknya yg
mulia sudah memaafkan you tentunya".
Aca : " Ah…masak sich Pak. Sedemikian mudah dan cepatnya saya mendapat
petunjuk"
H Tabrani : " Temen you dan saya khan sudah berkali-kali mengatakan, semua
itu terserah you saja. Apakah you mau anggap itu semua kebetulan atau sebuah
petunjuk. Berkali-kali saya mengatakan - terserah you saja!"
Saya mulai tak banyak membantah. Saya benar-benar mulai berfikir, bahwa tak
ada yg namanya kebetulan. Semua sudah ada aturannya, semua sudah ada sebab
akibatnya. Ada sebuah "hukum sebab-akibat" yg berlaku absolut dialam semesta
ini.
Hukum Sebab-Akibat itu diatas hukum-hukum lainnya. Juga diatas hukum fisika,
sosial, maupun psykologi yg saya anut selama ini.
Saya mulai meyakini ini sebagai Hukum Sunatulloh, dan bukan hukum psikologi.
Bukan efek kebetulan karena rasa bersalah. Bukan efek kebetulan kondisional
akibat suasana yg khusuk, sakral atau magic/angker. Melainkan hukum
Sunatulloh kepada orang yg mencari ridhoNYA, orang yg mencari jalan yg
diridhoNYA. Namun saya tak berani berfikir bahwa saya sudah berada pada
jalan yg benar, dalam "The right track". Namun yg jelas, saya mulai lebih
berhati-hati dan tidak gegabah.
3. Perjalanan di Madinnah
Setelah melewati waktu Zuhur, kami melakukan City Tour, ketempat-tempat
bersejarah antara lain, Masjid Kuba - Masjid pertama di Madinnah yg dibuat
Rasululloh,. Masjid Kiblat - Masjid dimana ditengah sholat Rasululloh
mendapatkan wahyu untuk sholat menghadap Ka'bah/Mekkah, yg sebelumnya
menghadap Masjidil Aqso', sehingga sholat tersebut beliau lakukan 2 roka'at
menghadap Masjidil Aqso' dan 2 roka'at sisanya menghadap Ka'bah. Karena
kasus ini orang Kafir Quraisy berkomentar Muhammad pemimpin yg plin-plan.
Dibimbing oleh Tour Guide, kami berkunjung ke Jabal Uhud, tempat dimana
terjadi Perang Uhud. Terlintas dibenak saya cuplikan film "The Massage"
dimana Hamzah, Panglima perang kaum Mukmin yg dibunuh dengan tombak oleh
salah seorang budak suruhan Hindun, isteri Abu Sofyan, pemimpinkaum kafir
Quraisy yg sangat memusuhi Nabi.
Pada peperangan tsb kaum Muslimin kalah yg disebabkan tindakan indisipliner
pasukan panah.
Kami juga mengunjungi makam Fatimah, dimana dekat makam dahulunya terdapat
parit besar yg dikenal sebagai Perang Khandak. Perang dimana pada saat itu
kaum kafir dari berbagai bangsa dan negara memboikot dan meng-embargo kaum
muslim selama kurang lebih 2 tahun, dimana sekeliling Madinnah pada saat itu
dibuat Parit besar yg memisahkan/melindun ginya. Disini saya melihat bahwa
perjuangan Rasulloh adalah bertahan dan bukan menyerang. Konsep yg diajukan
Rasululloh adalh sebuah konsep dimana penguasa kafir tidak menyukainya.
Konsep tsb hanya mendapat tanggapan dari kaum Anshor yg bertempat tinggal di
Madinnah hingga Nabi harus hijrah/pindah kesana.
Saya akhirnya bertanya kepada Tour Guide, bagaimana dengan tindakan Nabi yg
saya anggap ekspansi nekat yakni tindakan Nabi mengirim surat dari Madinnah
kepada Mekkah, Mesir, Roma,Persia, Abesinia, dan Negos (Ethiopia).
Madinnah tidak sebesar dan sekuat Mekkah, namun tindakan Nabi mengirim surat
kepada Negara-negara tsb adalah nekat (kalau tidak mau dibilang gila).
Analoginya mungkin seperti Vietnam, negara kecil yg baru berdiri, tanpa
angkatan bersenjata yg jelas, mengirim pesan kepada Indonesia, Australia,
Amerika, Rusia, dan European Community untuk takluk dan tunduk dibawah
kekuasaanya.
"Oh tidak, ini tidak seperti demikian ", jawab Tour Guide. "Urusan Raululloh
bukan urusan kekuasaan. Konsep Rasululloh bukan konsep negara, sehingga
surat yg dibuat bukan surat kekuasaan. Surat itu berisikan ajakan beragama
Islam. Konsep Rasululloh adalah konsep agama, bukan konsep pemerintahan" .
"Lho, kalau bukan urusan kekuasaan, bagaimana dengan Daulat BaniUmayah,
kepemimpinan Islam setelah Ali, yg ekspansi kekuasaanya dengan cepat dan
pesat sampai ke Cordova, Spanyol, daratan China, dan berbagai belahan dunia
lain, sehingga Islam tidak hanya bicara didalam Masjid, namun juga
dipemerintahan, dimasyarakat, hingga berlaku hukum yg hanya kita dengar
sekarang secara sayup-sayup 'hukum Islam' ? Bagaimana kita memberlakukan
sebuah peraturan tanpa adanya kedaulatan ? Bagaimana kita bicara rajam bagi
yg berzinah, sementara lokalisasi pelacuran mendapat izin dari pemerintahan
Pemda setempat ? Bagaimana memberlakukan hukum Islam tanpa pemerintahan
Islam?", demikian saya bertanya.
Tour Guide tersebut tak dapat melanjutkan penjelasannya. Sayapun
menjelaskan, "Mas Syaiful…saya mohon maaf loh, saya dalam pencarian, saya
bukan sok tahu, tapi saya memang benar-benar tidak tahu, dan saya
benar-benar ingin tahu, kayak apa sich konsep Rasululloh yg disampaikan pada
saat itu ?".
Tour Guide : "Baiklah, anda silahkan tanya kepada orang yg lebih tahu, saya
terus terang belum tahu benar untuk hal ini ". Aca : "Terimakasih Mas…saya
akan simpan pertanyaan ini".
Beberapa orang mungkin beranggapan ini tidak penting, namun sayaberfikir
bahwa ini sangat penting.
Dalam pencarian / perjalanan ini saya tak menemukan jawaban, namun saya
yakin insya Alloh, suatu saat, dalam pencarian saya yg berikutnya,saya dapat
menemukan jawabannya.. .Amien.
3.1 Kejadian 6
Setelah sholat Ashar, akhirnya kamipun bersiap-siap untuk ber-umroh. PakH
Tabrani mengajarkan saya untuk memakai pakaian Ihrom. Ia menjelaskan untuk
memakai pakaian Ihrom, 2 lembar kain yg dililit di pinggang, satunya lagi di
bahu.
"Latihan pakai kain kafan ", demikian penjelasannya. Meskipun ia bukan
Tourist Guide, namun ia begitu telaten mengajarkannya pada saya. Meskipun
kadang-kadang menghardik saya, seperti waktu saya tanya kenapa koq nggak
boleh pakai celana dalam. Ia hanya menjawab "Jangan didebat !!! ini daerah
otak kanan ! ". Untung saya sudah rada kalem sekarang karena beberapa kali
mengalamiperistiwa2 yg lalu, kalau tidak, mungkin sewotnya H Tabrani
berkelanjutan.
Setelah mengambil niat di Miqod, diperjalanan kami mulai membacaTalbiah :
Labbaik Allohumma labbaik
LabbaikLasyarika laka labbaik
Innalhamda, Wal nikmata, Laka wal mulk
Lasyarikalak
YaAllah, aku datang memenuhi panggilanmu
Tiadasyarikat bagimu
Sesungguhnyasegala puji, segala nikmat, dan segala
kuasa Hanyalah dari engkau.Tiada syarikat bagimu.
Pembacaan Talbiah baik di pesawat maupun di perjalanan/bus, sangat diliputi
rasa haru yg luar biasa.
Kamipun tiba di Mekkah, kota Haram. Hotel kami cukup dekat dengan Masjidil
Haram. Sementara barang-barang diurus oleh petugas travel,kami berwudhu di
Hotel, kami langsung memasuki Masjidil Haram, sebuah Masjid yg paling
terkenal yg mungkin paling tua didunia. Saat itu saya belum merasakan
pesonanya.
Namun setelah melepas sandal dan memasuki Masjid, saya terdiam melihat benda
hitam pekat persegi empat yg berada ditengah-tengah Masjid.Ka'bah ternyata
berukuran lebih besar dari perkiraan saya. Saya menahan tangis didepan
rombongan tapi tak kuasa. Dengkul saya lemas luar biasa.Sulit sekali
menggambarkan pesonanya. Saya kurang tahu persis pada saatitu tapi saya
percaya Iqbal, anak Pak H Tabrani yg pertama kali Umroh juga terdiam tak
bersuara tak bergerak. Ia juga mengalami hal yg sama.
Saya lemas dan duduk. Saya berusaha perlahan-lahan bergerak mendekat, namun
semakin dekat, semakin tak kuasa menahan tangis. Akhirnya saya mulai meraung
seperti anak kecil. Saya menangis sambil duduk tidak mengerti kenapa. Dan
saya tahu persis saat itu saya tidak sedih.
Benda itu berada ditengah-tengah Masjid, besar, besar sekali. Hitam pekat
sekali. Benar-benar saya tak mengira bahwa Ka'bah berukuran sebesar itu.
Saya tidak pernah berfikiran bahwa di dalamnya ada Allah sedang bersemayam.
Sepintas hanya sebuah batu yg disusun dan dilapis kain hitam. Namun saya
melihat sedemikian banyaknya manusia mengitarinya melakukan yg disebut
tawaf. Bukankah ini bukti dari hasil kerja Muhammad.
Analisa saya bermain, apakah sekian banyaknya manusia datang kesini hanya
ditipu satu orang yg bernama Muhammad. Namun intuisi saya juga bermain,
bahwa kegiatan ini pasti bukan baru dimulai kemarin. Kegiatan ini dilakukan
pasti sejak ajaran Muhammad. Pendapat ini adalah pendapat awal saya yg
kemudian di konfirmasikan beberapa hari kemudian oleh H Tabrani bahwa
kegiatan ini sudah ada bahkan sejak milata Ibrahim, bapak besar berbagai
bangsa yg melahirkan agama Yahudi, Nasrani (bukan Kristen) , yg kemudian
juga Islam.
Saya mulai tawaf putaran pertama. Sambil air mata bercucuran (tanpa
malu-malu lagi sebab kanan kiri sayapun demikian) saya dibimbing H Tabrani
membaca do'a-do'a putaran pertama. Posisi kami sangat dekat dengan Ka'bah
dan senantiasa saya semakin merapat kedalam. Kami merasa seperti memasuki
sebuah gravitasi luar biasa yg menarik ketengah.Seolah kami bergerak
perlahan bersama tanpa menginjakbumi (sepertimelayang) , semakin rapat dan
semakin pekat ketengah. Kita tak kuasamenentukan arah (kecuali sedikit),
kita hanya dapat berserah dirimengikuti arus putaran itu. Sambil memegang
buku do'a kecil, saya cobabaca juga artinya. Disitu terdapat do'a permintaan
umur panjang dan
keturunan yg banyak serta soleh.
Saya tanya ke H Tabrani, " Loh Pak…kok ada permintaan seperti ini ya…?. H
Tabrani menjawab, "Ya memang ada, khan saya sudah katakan boleh minta apa
saja".
Pada tawaf putaran kedua, saya kembali membaca do'a khusus untukputaran
kedua - sambil juga melihat artinya. Agaksulit memang karena banyak jama'ah
Iran berbadan besar berdo'a lantangsekali. Kadang saya tak mendengar suara H
Tabrani sehingga sulitmengikuti apa yg didiktenya.
Kembali saya lihat artinya, "Loh…Pak, koq disini ada permintaan terhadap
rezeki yg banyak".
H Tabrani pun kembali menjawab, " Ya memang boleh. Anda saja yg Cuma minta
petunjuk dan nggak mau minta yg lain. Minta harta boleh…habis -kalau tidak -
anda mau minta ke siapa lagi kalau bukan sama dia ".
Pada tawaf putaran ketiga, saya kembali membaca do'a sambil membaca artinya.
Terdapat dengan jelas disitu "Tijarotan Lantabur " yg artinya "perdagangan
yg jauh dari rugi". Saya kembali bertanya dengan lebih antusias karena
masalahnya erat dengan kehidupan saya yg memang bergerak di bidang ini.
"Loh-loh…ini lebih aneh lagi Pak…kok boleh minta dagang agar jauh dari rugi,
ini khan urusan dunia. Bagaimana kita bisa rugi - ya karena manajemen yg
buruk, sedangkan bagaimana kita bisa untung ? ya dengan manajemen yg baik ?
".
Akhirnya H Tabrani mulaisewot lagi, " You khan bilang waktu dipesawat, bahwa
you hanya mintapetunjuk, betul ndak…?" "Betul Pak ", jawab saya. " OK kalau
begitu nggak usah do'a saja…" , tegas H Tabrani.
Analisa dan intuisi saya jalan lagi, dan tiba-tiba saya teringat surat
Al-Fatihah, ayat 4, "Iyya ka na' budu wa iyya ka' nastaiyn".Kepadamul ah
kami menyembah dan hanya kepadamulah kami mintapertolongan. Saya fikir ini
harus berlaku pada semua hal - segala hal -segala sesuatu - termasuk hal-hal
duniawi seperti bisnis.Sehingga musyrik hukumnya jika kita meminta
pertolongan dalam bidang bisnis kepada Kadin, Pemda, Katabelece Pejabat
untuk menggoalkan proyek kita. Haram hukumnya meminta pertolongan kepada
Bagian Purchasing untuk melakukan bisnis dengan kita.
Permintaan tolong hanyalah kepada Allah semata. Adapun,Kadin, Pemda,
Pejabat,dan bag Purchasing, hanyalah perantara. Halini jangan dianggap
sepele, karena ini yg akan menentukan strategi manajemen perusahaan kita,
apakah kita akan melakukan KKN atau melakukannya dengan pendekatan lain.
Akhirnya dengan pemahaman yg seperti ini, saya kembali berdo'a dengan segala
kerendahan hati. Meminta kepada yg mempunyai, memohon kepada pemilik yg
sesungguhnya, meminta kepada Penguasa yg sesungguhnya, penguasa segala
sesuatu, penguasa absolut. Statemen awal saya di pesawat,sekarang terbantai
semua. Saya ternyata tak hanya meminta petunjuk,tetapi saya - dengan
kesadaran baru ini - juga meminta duniawi.
Demikian saya melihat Rahman rohim Allah. Jika kita meminta dunia saja,
Allah mungkin saja berikan, dan mungkin juga tidak. Namun jika kita meminta
keridhoan akhirat - insya Allah kita juga akan mendapat dunia. Persis lagu
Bimbo yg dinyanyikan Sam. Persis juga sama dengan do'a - do'a di akhir tawaf
yakni fiddunia hasanah - wa fil akhiroti khasanah. Saya pun kembali berdo'a
dengan lebih khusuk, dengan kesadaran baru - tanpa banyak pertanyaan lagi.
3.2 Kejadian 7
Usai tawaf, kami menuju sumur zam-zam yg terletak didalam areal
masjidilHaram bagian bawah. Disini saya kembali tercengang. Sebuah mata air
yg hampir tak mungkin ada di daerah ini. Mekkah dapat anda lihat sebagai
pegunungan batu. Masjidil Haram berada di tengah-tengah seperti
lembah,sekelilingny a dapat anda temukan hanyalah bukit batu yg sangat sulit
dihancurkan. Ini pula yg menyebabkan pembangunan konstruksi dikota Mekkah
sangat lamban. Jangankan
tumbuhan subur, kurma pun malas tumbuh disini. Ironisnya, terdapat air sumur
zam-zam yg debitnya luar biasa besar yg dipompa dengan pipa-pipa sampai ke
Madinah, Jeddah, Yaman, dan daerah lainnya selain untuk keperluan orang ber
Hajji. Berjuta-juta orang datang setiap harinya, namun sumur ini tak pernah
ada keringnya. Analisa dan rasa saya mulai jalan. Andaikan memang ada sungai
bawah tanah yg mengalir dibawah Mekkah, akankah bertahan sedemikian lamanya?
Perhitungannya bukan 1400 tahun yg lalu, melainkan perhitungan dari Ibrahim.
Entah berapa ribu tahun. Karena sungai bawah tanah dapat berubah alirannya
hanya dalam kurun waktu puluhan tahun saja. Namun sumur zam-zam ini tak
pernah kering dan senantiasa menyediakan air yg dibutuhkan Jamaah yg datang
ke sini. Seolah olah ia ada memang untuk kebutuhan ibadah ini. Saat itu tak
ada lagi dibenak saya teori kebetulan yg dahulu.
Pada saat Sya'i, rukun Umroh berikutnya, saya melihat manusia banyak yg
berjalan, sebahagian berlari, antara dua bukit batu, Syofa' dan Marwah.
Dipisahkan oleh pembatas tengah, kami mulai melintasi area Sya'i. Sesekali
saya melihat wajah cantik wanita Turki dengan hidung mancung kulit putih
bulu mata boros (Saat tawaf maupun Sya'i dilarang menutup cadar muka - namun
ada sebahagian mazhab melakukannya). Kecantikannya mungkin biasa bagi orang
sana, namun saya mengira pasti luar biasauntuk ukuran orang Melayu. Agak
lama baru saya sadar bahwa saya mulai kurang khusyuk karena melakukan "olah
raga leher".
Akhirnya saya bertanya kepada H Tabrani, " Pak…koq pakai lari-lari segala
sich ?".
"Begini "- jawabnya perlahan, "Dulu sewaktu Siti Khajar, isteri Nabi
Ibrohim, ia berjalan sambil berlari-lari kecil mencari air antara bukit
Syofa' dan bukit Marwah, sementara anaknya Ismail ditinggal sejarak tertentu
dari Ka'bah. Air yg dilihatnya ternyata hanyalah fatamorgana. Sedangkan air
yg sesungguhnya justru keluar didekat kaki Ismail. Dari sini saya pun
semakin yakin dan menarik kesimpulan, bahwa Ka'bah bukan dibangun oleh
Muhammad, melainkan Nabi Ibrohim, pendahulu untuk Musa, Isya, dan Muhammad,
yg melahirkan 3 agama besar, Yahudi, Nasrani, dan Islam.
Seusai Sya'i kami pun menggunting rambut, pertanda selesainya ibadah Umroh
kita. Semoga Makbul. Sesampai di Hotel, kelelahan kami luar biasa. Kaki saya
kering pecah-pecah. Saya belum pernah merasakan pegal-pegal seperti sekarang
ini. Saya fikir, bagaimana dengan kaum wanita atau Ibu-ibu. Pasti lebih
capek. Tapi kelihatannya sama aja tuch. Salah seorang jamaah haji wanita
bercerita tentang anak temannya yg sekarang tinggal di Hotel Hilton Mekkah
yg tak dapat menyelesaikan tawafnya karena mencret(penyakit yg lebih cepat
dari pada jet). Kotoran alias tokainya sedemikian banyaknya sehingga ia pun
kewalahan.
Wueeek…sangat menjijikkan kata jamaah yg lain menambahkan. Kepala
rombongannyapun membawanya pulang kembali ke Hotel. Kami tak tahu bagaiman
ia mengatasi problem mencretnya yg merembes sampai pakaian Ihrom, namun
akhirnya semua tahu, bahwa ia mengenakan celana dalam pada pakaian ihromnya.
Sesuatu yg dilarang dalam Umroh. Saya jadi teringat sewaktu H Tabrani
membentak saya dalam masalah tsb. Pantas - dalam hati saya..
3.2 Kejadian 8
Tak ada yg khusus bagi saya dalam kejadian ini. Kejadian ini terjadi pada
saat saya hendak mencium batu Ka'bah. Disitu terjadi antrean yg luar biasa.
Didepan saya terdapat seorang wanitamuda dan cantik berpakaian Turki yg
hendak mencium batu Ka'bah (sisikiri Ka'bah, bukan Hajarul Aswad). Mungkin
karena pemikiran jijiknya terhadap batu yg sudah dicium oleh jutaan manusia
pada hari itu, makaia mengeluarkan tisu, mengelap, dan menggosok bagian yg
hendak diciumnya. Melihat kejadian itu, Bapak mertua saya pernah
menceritakan perihal yg seperti ini berkaitan dengan gelas stainless air
zam-zamuntuk diminum yg menempel pada setiap keran zam-zam. Seorang Dokter,
kawan Bapak mertua saya pergi Haji, merasa jijik dan mengatakannya kepada
Bapak mertua saya perihal gelas stainless yg sudah diminum berjuta-juta
mulut orang. Ini tidak steril katanya.
Dokter itu meminum juga air zam-zam dengan perasaan jijik/geli. Keesokannya,
apa yg terjadi. Mulutnya bengkak sariawan sampai ke leher. Bapak mertuasaya
mengingatkan akan ucapannya kemarin perihal gelas tersebut. Bapak mertua
mengingatkan sang Dokter untuk meminumnya sekali lagi dengangelas tersebut
tetapi dengan perasaan yg berbeda, yakni perasaan iklas. Keesokannya pun
sang Dokter sembuh dari sariawan seperti sedia kala.
Wanita tersebut tetap asyik membersihkan batu Ka'bah dengan tisunya,
sementara antrean sudah mulai panjang dan berdesakan. Ingin sekali saya
melarangnya, namun karena nggak bisa bahasa Turki, lagian nggak lucu khan
kenalan didepan Ka'bah. Ketika ia hendak mencium batu Ka' ah - mungkin
setelah ia merasa bersih - desakan dari kerumunan orang dibelakang tak
tertahankan hingga mendorong wanita itu pada saat ia menciumnya sehingga
benturan hidung mancung dan batu tak dapat terelakkan. Iapun selesai mencium
batu Ka'bah dengan hidung mimisan (berdarah).
Kuwalat atau apa ini namanya ya ? Hati yg kurang bersih ? Saya jadi teringat
cerita Ka'bah di surat Al-Fiil dimana antara Abrahah yg mengendarai Gajah
pada masa itu dibuat tak berdaya olehburung-burung Ababil. Saya semakin
mengerti mekanisme ghoib. Mekanisme yg tidak kasat mata. Bahkan mekanisme
ini pun abstrak tak simetris. Terjadi di kasus ini namun kadang tidak di
kasus itu. Semuanya parsial-kondisional , namun saya fikir standarnya sama
jika kita ukur dari perasaan hati yg dalam. Mekanisme tsb tak kan pernah
dapat diukur karena sifatnya yg relatiftak pernah sama pada setiap individu.
Meskipun ia bukan ada di alam fisika, namun saya yakin ia ada dan bekerja
secara setimbang. Saya cenderung menyebutnya Metafisika daripada
Supranatural yg lebih berbauklenik / sihir, trick sulap yg diyakini sebagai
salah satu keajaibanoleh orang musyrik. Mekanisme ghoib pada alam Metafisika
inipun bekerja pada kawan saya Iqbal dimana setiap harinya, sepulang kami
dari sholat, ia kehilangan sandal. Bahkan sehari dapat lebih dari sekali ia
kehilangan sandal. Ia mencoba berdo 'a dan bertaubat dosa apa kiranya yg
telah ia buat. Namun tetap saja ia kehilangan sandal setiap harinya, hingga
ia harus membawa 5 real setiap sholat guna menjaga apabila sandalnya hilang.
Tahukah anda, kejadian kecil disini - dapat menimbulkan akibat besar disana.
Saya ambil contoh misalnya, hilangnya sandal Iqbal, mengakibatkan ia harus
membeli sandal di toko dimuka Masjid. Penjual di toko tersebut seharusnya
melayani seorang calon pembeli wanita misalnya, namun karena Iqbal membeli,
maka ia tidak jadi melayani wanita itu. Wanita itu pergi lebih cepat. Dalam
perjalanannya pulang, ia mengalami kecelakaan mobil (miss ditabrak mobil).
Seandainya Iqbal tidak kehilangan sandal, wanita tersebut mungkin akan 10
menit lebih lama untuk jalan pulang, yg tentu saja tak mengakibatkan ia
mengalami kecelakaan. Bukan disitu saja, sang suami wanita tadi (yg katakan
seorang jenderal), yg seharusnya berangkat melakukan perjalanan luar negeri
guna menandatangani sebuah kesepakatan perang, membatalkan rencananya,
sehingga kesepakatan serangan atau perang tadi ditangguhkan.
Hilangnya sandal seorang Iqbal, dapat mengakibatkan tercegahnya sebuah
rencana perang atau penyerbuan. Ini contoh ekstreem yg memang hanya teori
main-main, tetapi saya yakin bahwa semua ini ada mekanismenya dan jangan
coba-coba untuk engurainya,karena ia terlalu abstrak dan hanya tunduk patuh
pada sang Maha Penguasa. Penguasa alam fisika dan non fisika.
3.3 Kejadian 9
Malam besok adalah malam terakhir saya di Mekkah, oleh karenanya saya minta
kepada Tour guide untuk mengantar saya ke Goa Hira' pagi-pagi sekali. Tak
ada anggota rombongan yg mau ikut. Tidak juga H Tabrani maupun Iqbal
anaknya. " OK, nggak apa-apa, saya tetap mau berangkat sendiri", tegas saya
kepada Tour guide. Jadi biaya travel maupun biaya Tour guide saya tanggung
sendirian. Kamipun merencanakannya. Paginya seusai sholat Shubuh, saya
berkemas bersiap berangkat, dengan tas ransel dan sepatu sport. Dengan
menggunakan taksi, kami tiba dikaki bukit Gua Hira'. Perjalanan sampai
kepuncak memakan waktu kurang lebih satu jam. Terbayang oleh saya ketika
Nabi pulang pergi setiap harinya sampai ke puncak. Gua Hira' ternyata sangat
kecil. Lebih mirip dua batu yg saling bersandar daripada sebuah Gua.
Ditemani Tour guide, sayasujud ditempat Nabi Muhammad duduk menyendiri 1422
tahun yg lalu.
Dalam sujud saya bicara dalam hati, "Ya Malaikat Jibril, kenapa koqNabi
Muhammad diberi wahyu, kenapa saya tidak ?". "Kenapa Nabi Muhammad dapat
berjumpa denganmu, kenapa saya tidak ?" Tanpa sholat dan do'a, tanpa meratap
ke gua apalagi membuang sesaji (hanya sujud dan berkata dalam hati seperti
diatas saja), kami pulang menuruni bukit.
Saya pun membahas pertanyaan saya di dalam hati tadi kepada Tour guide. Saya
juga sering menyendiri di Villa, menyendiri di kaki bukit G.gede, tetapi
kenapa tak pernah datang yg namanya Jibril. Saya jadi ingat cerita-cerita
para sufi yg mempelajari hakekat sehingga pergi kegunung-gunung menyendiri,
lepas dari hubungan sosial, serta tak mempedulikan situasi dan kondisi diri.
Apakah tindakan Nabi Muhammad pada kala itu seperti para sufi tsb ?
Pertanyaan inipun saya simpan kembali tanpa tahu jawabannya. Esok hari
terakhir, hari dimana sayamesti melakukan tawaf wada', tawaf terakhir/ tawaf
perpisahan dengan Ka'bah. Saya tidur cepat setelah sholat Isya".
Subuh dini hari saya bangun, ketika saya hendak menggosok gigi, saya
tiba-tiba tersadar, "Subhanalloh, tadi malam saya bermimpi bertemu Jibril".
Buru-buru saya ketok kamar H Tabrani. Saya bangunkan ia, dan saya ceritakan
mimpi saya. "Bagaimana ceritera mimpinya ?", H Tabrani bertanya.
"Begini Pak, sesuatu berbentuk manusia dengan peci hitam datang kepada saya.
Saya bertanya siapa anda ? Ia menjawab saya Jibril, kemudian ia mengajak
saya untuk ikut. Saya berjalan mengikutinya, dan tiba-tiba kami tiba di
sebuah Masjid. Didalam mimpi saya Jibril berkata, " ini Masjidil Aqsa".
"Disini terdapat salah satu keajaiban yg anda cari".
H Tabrani pernah melawatke Masjidil Aqsa'. H Tabrani berfikir sejenak,
kemudian ia menjawab, mungkin yg dimaksud adalah "The Dome of the Rock.
Sebuah batu yg berada tepat ditengah Masjid ". "Aneh memang batu itu. Ia
menggantung, dan berada tepat ditengah-tengah Masjid, kami semua juga nggak
ngerti kenapa begitu".
Terus bagaimana tanya H Tabrani.
Terus Jibril bilang begini Pak, "Tolong Masjid ini dipelihara".
H Tabrani menepak kepala "Waduh…repot ini". "Kenapa Pak?", tanya saya.
"Masjid itu dikuasai Yahudi. You Nggak bisa keluar masuk seenaknya".
"You sholat dibatasi disana, Cuma 5 menit ".
"Wah saya nggak bisa jelasin artinya ".
"Tapi yg jelas, saya yakin you adalah orang yg disayang Allah".
"Subhanalloh" . Saya sudah berumur 63 thn, tapi saya belum pernah mimpi
bertemu Jibril, tapi you…you… luar biasa".
Saya juga tidak mengerti sampai sekarang arti mimpi saya, dimana saya tidur
diMekkah, bermimpi dibawa seseorang yg berkata sebagai Malaikat Jibril, yg
kemudian membawa saya ke Masjidil Aqsa' di Palestin. Saya jadi merinding.
Saya takut sendiri dengan kejadian-kejadian yg saya alami. Saya takut untuk
berbuat macam-macam. Saya mengalami semua ini dalam perjalanan ke Mekkah.
Kesadaran saya seperti sekarang ini amat saya syukuri, namun yg paling saya
takuti, adalah deviasinya, perubahannya apabila saya tidak menjaganya. Apa
yg akan terjadi nanti ditanah air. Saya harus menghadapi dunia nyata yg
penuh dengan godaan. Tidak seperti waktu di Mekkah, dimana fikiran, jiwa dan
raga kita bisa khusuk serta kita jaga kebersihannya.
Dari perjalanan ini, tidak semua kejadian saya ceritakan, hanya yg saya
anggap penting saja, namun sebenarnya, kejadian kecil lainnya ygmerujuk
kepada hidayah yg tidak saya ceritakan karena terlalu panjang banyak saya
alami, namun saya mempunyai beberapa kesimpulan:
1. Allah itu benar adanya yg menciptakan segala sesuatu.
2. Wahyu Allah turun pada setiap kurun waktu tertentu.
3. Wahyu Allah juga turun kepada Muhammad yg diutus sebagai Rasulnya.
4. Allah tidak punya banat/sarikat/ kompetitor.
5. Allah menurunkanWahyunya kepada Muhammad yg kemudian dibakukan dalam
bentuk kitab yg bernama Al-Qur'an.
6. Al-Qur'an adalah statemen dari Allah ygdidalamnya berisikan petunjuk bagi
manusia yg ingin berserah dirikepadanya.
7. Al-Qur'an bukan buatan Muhammad atau ideologi Muhammad.
8. Haji dan Umroh penting adanya dan bukan bisa-bisanya Muhammad. Biayayg
demikian mahal, sebanding bahkan melebihi hasil yg kita dapat
dariperjalanannya.
9. Daging Babi, darah, Alkohol, Judi, Zinah, dan perbuatan maksiat lainnya
adalah haram hukumnya. Tak perlu dianalisasecara metode ilmiah, karena
justifikasinya akan selalu ditemukanmanusia guna menghalalkannya, namun
demikian, coba fikirkan denganinstrument rasa/intuisi dari hati yg dalam,
bermanfaatkah jikadilakukan.
10. Kita manusia adalah manusia yg paling istimewa, karenakita mempunyai 2
pilihan, berserah diri kepada kemauan Pencipta, atauberserah diri kepada
kemauan kita sendiri.
11. Ada mekanisme Ghoib yg tidakkelihatan, yg memberikan balasan positif
apabila kita berbuat positif,dan berbalas negatif apabila kita berbuat
negatif pula.
12. Mekanisme Ghoib, berlaku pada orang-orang yg dicintai Allah, namun bagi
yg sudah kelewatan, ia akan dibiarkan, karena Allah menegur dengan sapaan
hirarki. Peringatan pertama mungkin dengan mencolek, jika ia tak mau,Allah
peringati ia dengan menepak, jika ia tak juga sadar Allahperingati ia dengan
menempeleng keras, namun jika ditempeleng keras ia tetap dableg dengan
perbuatan negatifnya, Allah akan membiarkannya, karena hanya hari akhir
setelah matinya yg akan membalasnya kekal abadidi Neraka Jahanam.
13. Mekkah dan Madinah bukan tanah suci (seperti yg saya duga sebelumnya
pada tulisan Muhammad punya bisa ), melainkantanah Haram, daerah dimana
diharamkan bagi siapa saja berbuatkerusakan, dan itupun hanya pada
batas-batas tertentu yg sudah diberipatok/ tanda.
Artikel ini copy-paste seutuhnya dari blognya si Erik (url sudah tidak ada).
Sangat menarik buat dibagi.
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)