Materi kuliah online di Wisatahati.com semoga bermanfaat.
Takwa dan Interaksi Dengan al Qur'an
Perjalanan hidup ini sepenuhnya rahasia Allah. Kita hanya perlu tahu bahwa
Allah akan mengatur yang terbaik, sudah mengatur yang terbaik, dan
memberikan hanya yang terbaik. Jalani hidup dengan percaya kepada Allah,
ibadah sepenuh hati, dan pasrah akan Kehendak-Nya. Sekuat mungkin lakukan
apa yang diperintah, baik wajib maupun apa-apa yang menjadi sunnat, dan
tinggalkan kemaksiatan dan dosa. Barangkali inilah dari sekian rahasia
supaya hidup mengalir tenang, aman, dan banyak kemudahan.
Dan dalam hidup ini, ada saja kemudian peristiwa yang kurang mengenakkan
terjadi di dalam hidup kita. Sehingga kemudian jadilah kita bahagian orang
yang malah tambah dekat dengan Allah, atau sebaliknya, malah meratapi dan
menyumpahi hidup ini. Ada orang-orang yang Allah bukakan jalan kedekatan
dengan-Nya, justru karena beban hidup yang bukan kepalang berat dan
besarnya. Tapi ada yang bertambah jauh dengan Allah sebab kesulitan
hidupnya.
Begitulah. Hidup ini isinya barangkali hanya ada dua pilihan; jalan lurus
dan jalan sesat; jalan syukur atau jalan kufur; jalan ibadah atau jalan
maksiat. Ada seorang yang merasa ga bisa memberi apa-apa buat orang tuanya,
lalu bergaul dengan para hedonis dan mengambil "manfaat semu" dari sana. Ia
berikan orang tuanya dunia. Tapi ia korbankan kehormatan dengan menjadi
pelacur misalnya; baik pelacur bener maupun yang samar. Namun ada juga
mereka-mereka yang ketika tidak bisa memberikan apa-apa ke orang tuanya lalu
ia tempuh jalan anak-anak saleh untuk orang tuanya. Tidak ada dunia yang
dibawa ke orang tuanya, tapi kebaikan demi kebaikan mengalir untuknya. Dan
ini juga kelak akan menghasilkan cahaya dunia untuk dia dan orang tuanya.
Ada keluarga dan anak istri yang disuapi dari harta haram. Bahagia hidup
bergelimang dunia tanpa keluarga dan anak istrinya sadar disuapi dari rizki
haram. Kelak, banyak sekali masalah di keluarga ini. Salah satunya bisa saja
justru keluarga ini bisa kehilangan sang suami. Atau suami yang kehilangan
anak istri, sebab satu dua kejadian.
Ada orang miskin yang mengambil hak-hak orang dan menempuh jalan judi
sebagai jalan yang bisa mengubah kemiskinannya. Banyak orang miskin yang
kemudian menjadikan tangannya sebagai wasilah meminta-minta. Tidak sedikit
orang miskin yang menjadi mitra tangan-tangan kotor lalu menyambung hidupnya
dengan rizki kotor. Sebab itulah hidup mereka ini tetap miskin dan bertambah
miskin. Kalaupun kemudian mereka-mereka ini kaya, mereka akan tetap miskin.
Allah akan buat hidupnya selalu kurang dan tak terpuaskan. Bahkan tidak
sedikit mereka yang jadi miskin lagi setelah mencicipi kekayaan, dan
bertambah lagi dengan satu predikat: hina. Sudah miskin, hina. Misalnya
sebab ketangkep, dipenjara, menderita satu penyakit, dan lain sebagainya.
Sementara itu, kita menemukan banyak juga orang miskin yang bertahan menjaga
perutnya dari barang-barang yang haram. Ia kejar kemiskinannya itu dengan
mempergiat bangun malam dan shalat dhuha. Ia prihatinkan diri dengan
berpuasa sunnah. Dan ia jalankan hidup ini dengan ridha dan ikhlas. Bisa
jadi hidupnya tetap miskin. Tapi Allah hadirkan ketenangan dalam hidupnya,
rumah tangganya langgeng, rizkinya sedikit tapi jadi daging dan enak
dimakan. Tidak berubah jadi penyakit. Petaka jarang sekali hadir di
kehidupannya. Dan banyak kemudahan di tengah-tengah kekurangan; anak sakit,
dikasih cepat sehat. Tanpa berobat. Anak kurang biaya, tapi Allah kirimkan
beasiswa dari tangan orang lain. Tak punya kendaraan, tapi Allah hilangkan
keperluan berkendaraan; bersaudara dekat-dekat, berkantor tinggal jalan
kaki, dan lain-lain. Beda dengan sebagian dari kita, yang punya kendaraan,
tapi Allah terbangkan ke sana kemari dengan kendaraannya itu, yang akhirnya
malah bertambah-tambah jauh dari keluarga dan Allah. Bahkan Allah tambahkan
kendaraan dengan kendaraan yang lebih hebat dan lebih mahal, yang malah
menambah jauh dirinya dengan keluarga dan Allah. Ada yang kepengen punya
usaha, lalu mencari modal dari selain Allah. Sementara ada yang menggiatkan
bangun malam dan dhuha, serta bersedekah.
Ya, saya tidak sedikit menerima konselingan gagal bayar kredit. Usahanya
halal, cara-cara usahanya benar. Ternyata sayang, di proses kreditnya, ada
kebohongan dan suap. Banyak data dimanipulasi supaya kredit bisa cair, dan
tidak jarang melakukan praktik suap walo sekedar dengan menjanjikan sesuatu
bagi officernya. Atau ada yang prosesnya benar, ikhtiarnya benar, usahanya
halal, tapi tetap bangkrut juga. Selidik punya selidik, shalat wajibnya jadi
keteteran, shalat-shalat sunnahnya malahan jadi hilang. Hubungan dengan
orang tua jadi jauh, dengan adik-adik malah tak ada silaturahim, dengan
tetangga menjadi tak lagi dekat. Jika demikian, maka dicabut usahanya oleh
Allah adalah jauh lebih baik. Sadari lagi saja, minta ampun sama Allah, dan
ikhtiar lagi yang benar. Insya Allah, Allah akan berkenan memberi lagi apa
yang dicabut-Nya. Ada di antara mereka yang bertahan tidak mengapa tidak
diberi modal lagi untuk pengembangan usaha. Mereka merasa cukup. Sehingga
tidak perlu mereka ini merekayasa laporan keuangan dan aset. Ternyata
kemudian Allah berikan keselamatan buat mereka dan usahanya berkembang juga
dengan izin dan takdir-Nya. Ada orang yang kepengen kerja. Ia tempuh
jalan-jalan kotor. Ia siapkan jalan pelicin. Dan tidak jarang perbuatannya
itu yang melahirkan orang-orang kotor yang tadinya bersih. Pekerjaan ia
dapatkan, namun keberkahan Allah hilangkan. Punya duit lebih dari tabungan
setiap kali kerja, lalu Allah giring dia untuk membeli kendaraan. Baru
sebulan dipake itu kendaraan, sudah mengantarkan maut untuk keluarganya.
Mobil ringsek, keluarga celaka, uang terbuang sia-sia. Sementara ada yang
meminta kepada Allah pekerjaan. Ia bertahan untuk tidak melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang membuat Allah murka. Ia minta sama Allah lewat
jalan ibadah. Ada yang belum Allah berikan pekerjaan, namun Allah tetap
tanggung rizkinya dan hidupnya tetap mulia. Ga jadi hina sebab tak ada
pekerjaan. Saya pun tidak sedikit menemukan yang begini ini. Tidak kerja,
namun Allah menyediakan keperluan hidup baginya. Ia tidak menjadi beban buat
orang lain, sebab ia tidak meminta. Banyaklah keanehan dari matematika dan
mekanisme hidup ini. Dan ada sebagian kawan yang bertanya, apakah selalu
begitu ya? Bahwa yang berbuat baik mesti berkehidupan baik dan yang jahat
akan berkehidupan buruk? Bisa ya bisa engga.
Pertama, silahkan kembali ke pembahasan materi tentang ukuran anugerah dan
masalah. Apakah betul rentetan masalah bener-bener disebut masalah? Bukan
anugerah? Dan apakah benar rentetan keberuntungan disebut anugerah? Bukan
justru masalah? Kacatama dan ukurannya pakai kacamata dan ukuran yang benar.
Sekedar menyegarkan ingatan, anugerah itu adalah jika kita bisa dekat dan
ingat sama Allah. Sungguhpun kita berada di situasi-situasi yang menurut
orang, berkehidupan buruk. Orang mukmin akan menimati sekali kedekatan
dengan Allah, meskipun dia ini cacat, miskin, hina dina dalam pandangan
orang, dan serba kekurangan. Orang mukmin tidak akan bahagia bila dia
dipandang bagus, mulia, terpandang, kaya, berkecukupan, namun Allah jauh
darinya. Dan kemudian sebaliknya, disebut masalah itu adalah jika kita hidup
jauh dari Allah dan lupa sama Allah. Ini justru masalah. Maka jika kemudian
kita-kita ini hidup banyak uang, karir pekerjaan dan usaha juga sedang
bagus-bagusnya, tidak akan ada guna juga jika bener-bener jauh dan lupa sama
Allah. Hanya akan membawa petaka saja. Jika ukuran dan kacamatanya sudah
benar, maka seseorang tidak akan salah menilai.
Kedua, bukan karena amal kita, lalu ditentukanlah hidup enak atau tidak
enak. Bukan. Semata karena Kehendak Allah. Tapi orang mukmin akan senantiasa
berhusnudzdzan, bahwa apapun yang ditetapkan Allah, ia akan ridha, ikhlas,
sabar, syukur. Termasuk mereka-mereka yang bertaubat. Dia akan menerima
segala kesusahan, dengan pengalihan kepada ampunan dan kasih sayangnya Allah
(lihat-lihat pembahasan sebelumnya yang berkaitan dengan ini ya). Kita tidak
sendirian. Hidup ini ada yang punya. Bahkan kalau Yang Punya Hidup ini
menginginkan kita menjadi sulit, ya tidak mengapa juga. Dengan keyakinan
bahwa DIA Maha Mengatur dan Berkehendak, insya Allah kesulitan yang DIA
beri, akan Allah ubah sendiri menjadi kemudahan. Ya. Di dalam ilmu tauhid,
mengenal Allah sebagai pusat segala kendali, memegang peranan penting untuk
membangun ketenangan dan kebahagiaan. Mereka yang mengenal Allah, akan
bersedia diatur, terserah kehendak-Nya. Dan tidak ada yang mengucapkan "ia
bersedia diatur", kecuali yang benar-benar ikut dan tunduk akan seruan-Nya.
Sebab ga bisa seseorang mengatakan, "Saya mah insya Allah pasrah Mas". Tapi
kemudian ia tidak bergegas memenuhi panggilan Allah. Tidak pula ia bisa
mengatakan, "Saya mengikuti seruan Allah", bila kemudian hidupnya tiada ada
ibadah yang serius. Maka tanda-tanda seseorang itu bertuhan Allah adalah
manakala ia bertakwa; Sekuat mungkin menjalankan perintah-Nya, dan sekuat
mungkin meninggalkan apa yang dilarang-Nya.
Sering saya katakan dalam banyak forum. Keberhasilan seseorang menuju hidup
enak, berhasil menggenggam dunia, dan hidup tanpa masalah, adalah dengan
hanya meniti jalan takwa ini. Dan keberhasilan seseorang keluar dari
kesulitannya, sungguh, apabila ia mampu meniti jalan ini. Barangkali jalan
ini sempat ia tinggalkan, tapi kemudian ia balik lagi. Maka orang-orang
seperti ini yang Allah akan anugerahkan jalan keluar. "Wa may yattaqillaaha
yaj'allahuu makhrajaa. Wayarzuqhuu min haitsu laa yahtasib. Wa may
yatawakkal 'alallaahi fahuwa hasbuhuu. Innallaah baalighu amrihii. Qad
ja'alallaahu likulli syai-in qadraa. Sesiapa yang bertaqwa kepada Allah,
maka Allah akan jadikan jalan-jalan keluar dari setiap kesulitannya dan
menghadiahkannya dengan rizki yang tiada ia sangka-sangka. Dan barangsiapa
yang memasrahkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya. Allah meliputi
semua urusan. Sungguh Allah telah jadikan segala sesuatu itu ada ukurannya".
(Qs. ath Thalaaq: 2-3).
***
Sungguh saya menganjurkan seseorang "mengarantina" dirinya, dan menempuh
jalan takwa ini dengan menyegerakan memperbaiki ibadah dan
kesalahan-kesalahannya. Ga usah mikirin solusi. Benahi aja semua-muanya.
Jalan-jalan keluar, niscaya menjadi urusan Allah. Coba para peserta membaca
buku Mencari Tuhan Yang Hilang. Bagaimana saya katakan kepada mereka yang
bermasalah, atau yang menginginkan kualitas hidup yang bagus. Jagain aja
hidup dengan ngebagusin ibadah. Insya Allah hidup akan bagus dengan
sendirinya. Dan sungguhan, banyak orang yang akal pikirannya menolak.
Bagaimana mungkin dengan saya sekedar shalat malam, lalu akan ada jalan
keluar, atau terangkat hidup? Bagaimana mungkin dengan saya bertaubat akan
ada jalan keluar? Bagaimana mungkin kalau saya bergegas shalat akan hidup
enak? Di luar sana banyak yang tidak shalat hidupnya enak, dan sebaliknya
yang shalat, pada hutangnya banyak, jadi pegawai rendahan, susah, miskin,
ngerepotin, jadi beban, dan lain sebagainya. Sama juga dengan protes orang
kepada saya, bagaimana dengan sedekah koq masalah "tiba-tiba" bisa selesai?
Ajaib amat? Ga mungkin lah. Ya sudah, kalo ga mungkin, ya udah. Manusia ini
koq heran. Manusia yang bikin masalah, lalu Allah datang menawarkan
bantuan-Nya. Sini, Aku yang akan urus. Kira-kira begitulah Allah menyeru, eh
kita ga percaya. Kan enak tuh seharusnya. Kita-kita yang bikin masalahnya,
Allah yang selesaikan. Baik benar Tuhan kita ini. Dan memang DIA ini teramat
baik. "Teramat baik" itu masih belum cukup untuk menggambarkan betapa
baiknya Allah.
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)