> Hadits Kembali dari Jihad Kecil ke Jihad Besar
> Selasa, 20 Januari 2009 04:00
>
> Pertanyaan
>
> Assalamu alaikum wr wb.
>
> Semoga pak ustadz sekeluarga mendapat ridha Allah.
>
> Seorang mengatakan bahwa di masa kini sudah tidak relevan lagi bicara
> jihat dalam pengertian perang, apalagi ada hadits nabi yang mengatakan
> bahwa kita kembali dari jihad kecil menuju jihad besar, yaitu melawan
> hawa nafsu.
>
> Pernyataan ini mengusik rasa ingin tahu saya tentang kedudukan hadits itu.
>
> Siapa yang merawikan dan apa statusnya? Benarkah jihad secara pisik
> itu hanya jihad kecil?
>
> Sebelumnya saya ucapkan terima kasi
>
> Wasalam
>
> Jawaban
>
> Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>
> Kalimat ini menurut para ahli riwayat bukanlah sabda Rasulullah SAW.
> Namun di tengah masyarakat memang sudah terlanjur populer, bahkan
> tidak sedikit yang mengaitkannya dengan sabda Rasulullah SAW.
>
> Sebagai muslim, kita wajib bersikap kritis dan teliti. Jangan sampai
> kita salah dan menggampangkan masalah. Lebih baik kita bertanya kepada
> ahlinya sebelum bicara.
>
> Tidak ada salahnya bila kita banyak membuka kitab tentang kritik
> hadits untuk memastikan keshahihan riwayatnya. Atau setidaknya kita
> bertanya kepada para ulama ahli hadits, bukan kepada sembarang ustadz
> atau kiyai.
>
> Sebab urusan keshahihan suatu hadits tidak bisa ditetapkan oleh
> sembarang orang. Hanya mereka yang belajar serius di bidang ilmu
> hadits saja yang punya otoritas dan kompetensi untuk menjelaskannya.
>
> Bukan Hadits
>
> Lafadz ini oleh para ulama hadits ditetapkan bukan sabda nabi,
> melainkan perkataan orang lain. Adalah Ibrahim bin Abi Abalah yang
> disebut-sebut sebagai sumbernya.
>
> Kitab yang paling terkenal dalam ilmu periwayatan hadits, Siyar
> a'lamin nubala, yang disusn oleh Adz-Dzahabi, pada halaman 325 jilid 6
> menyebutkan bahwa Ibnu Abi Abalah berkata, "Kalian telah pulan dari
> perang terkecil, lalu perbuatan apa yang kalian perbuat untuk
> menghadapi perang besar (melawan hawa nafsu)?."
>
> Jelaslah bahwa yang mengucapkan lafadz ini bukan nabi SAW, melainkan
> orang lain..
>
> Dalam kitab Tasdidunnufus, Al-Asqalani berkata bahwa lafadz tersebut
> memang populer di kalangan umat, tetapi ini adalah perkataan Ibrahin
> bin Abi Abalah dalam kitab Al-Kina karya An-Nasai.
>
> Al-Qari menyebutkan bahwa lafadz ini terdapat dalam kitab Al-Ihya'.
>
> Muhaddits kontemporer, Syeikh Nashiruddin Al-Albani menyebutkan dalam
> kitab Silsilah Ahadits Dhaifah jilid 5, hadits nomor 2460 bahwa
> haditsnya diingkari (munkarul hadits).
>
> Siapakah Yang Mengucapkan?
>
> Sudah disebutkan di atas bahwa lafadz ini bukan sabda nabi, melainkan
> perkataan Ibrahim bin Abi Abalah.
>
> Ibrahim bin Abi Abalah adalah seorang yang termasuk generasi tabiin,
> satu level di bawah generasi shahabat.
>
> Disebutkan bahwa beliau lahir pada tahun 60 hijriyah, atau 50 tahun
> setelah nabi SAW wafat. Sebuah sumber menyebutkan bahwa beliau wafat
> pada tahun 152 hijriyah.
>
> Beliau adalah orang yang mengatakan lafadz ini dan bukan riwayat dari
> Rasulullah SAW seperti anggapan sebagian orang. Namun di luar lafadz
> ini, beliau tercatat pernah meriwayatkan sekitar 100-an hadits dari
> nabi SAW.
>
> Boleh jadi beliau memang tidak berniat memalsu hadits nabawi, namun
> orang-orang yang keliru mengutip perkataannya sebagai sabda nabi SAW..
>
> Karena itu kita boleh saja menyampaikan lafadz itu, selama tidak
> mengatakannya sebagai sabda nabi SAW.
>
> Dan intinya memang di situ, bahwa perkataan siapa pun bisa diterima
> atau ditolak, kecuali sabda nabi SAW.
>
> Lafadz ini bisa saja kita tolak karena bukan sabda seorang nabi.
> Apalagi ketika digunakan untuk mementahkan semangat jihad secara pisik
> di kalangan umat, wa bil khusus, generasi mudanya.
>
> Jihad melawan hawa nafsu memang berat dan banyak orang yang tidak
> lulus di dalamnya.
>
> Namun jihad secara pisik juga tidak ringan, karena memutuhkan
> pengorbanan yang tidak kecil. Mulai dari latihan, keterampilan,
> kekuatan pisik, kesehatan, biaya, kesiapan mental hingga resiko
> meninggal di medan tempur, semua bukan perkara ringan. Belum lagi
> resiko cacat seumur hidup bila selamat.
>
> Yang pasti, karena beratnya jihad secara pisik ini, Allah membebaskan
> para mujahidin yang syahid dari segala bentuk pertanyaan di akhirat.
> Mereka masuk surga langsung tanpa hisab, bahkan tanpa harus dikafani
> atau dimandikan jenazahnya.
>
> Pendeknya, surga sudah di tangan sejak masih hidup. Mana ada amal
> selain jihad yang sebesar itu ganjarannya?
>
> Apalagi Allah SWT telah berfirman
>
> Allah telah melebihkan mujahidin dari pada orang duduk dengan ganjaran
> yang besar (QS. Annisa 59)
>
> Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
>
> Ahmad Sarwat, Lc
>   

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke