Perang di Gaza: Menghancurkan Legitimasi Israel
Senin, 19/01/2009 17:04 WIB

Richard Falks, seorang kritikus Israel dan Reporter Khusus PBB,
mengatakan bahwa Israel sudah kalah dalam perang, dan hancurnya
legitimasi. Apa maksudnya?

Jawabannya ada dalam demonstrasi yang terserak di seluruh dunia. Bagi
semua orang, agresi berdarah Israel atas Jalur Gaza telah menghancurkan
semua kehormatan bangsa Yahudi dan nama baiknya (jika masih ada).
Sebagian besar aksi demonstrasi selalu membawa banner besar yang berisi
kata-kata yang membandingkan Israel dengan Nazi Jerman. Pembantaian
warga Gaza hanya menambahkan  wajah kejahatan bagi Israel yang telah
menorehkan sejarah kematian di Deir Yassin, Lebanon, dan wilayah Arab
lainnya.

Ari Avnery, seorang Israel yang terus-menerus mengkritik
pemerintahannya, pekan ini ia menulis, "Apa yang akan diingat oleh dunia
akan peristiwa ini adalah wajah monster Israel yang haus darah. Ini
niscaya akan memberikan konsekuensi jangka panjang bagi orang-orang
Yahudi. Pada akhirnya, agresi ini adalah kejahatan kepada kita sendiri,
kejahatan terhadap negara Israel!"

Seorang Israeli  lainnya, Avi Shalim, Profesor Hubungan Internasional di
Universitas Oxford mengatakan bahwa ia percaya Israel telah menjelma
menjadi negara biadab. "Sebuah negara biadab selalu melawan hukum
internasional, menguasai senjata penghancur massal, dan melakukan
terorisme, untuk semua tujuan politis. Israel memenuhi semua kriteria
ini."

Seorang rabbi Yahudi yang tinggal di Amerika, Michael Lerner, editor di
majalah Tikkun, menulis, "Semua ini membuat saya patah arang. Israel
benar-benar bodoh. Sebagai seorang Yahudi yang relijius, saya melihat
apa yang dilakukan oleh pemerintah Israel betapa begitu mudahnya
mengubah nilai-nilai Judaisme menjadi pesan kebencian."

Barangkali, kecaman orang Israel terhadap Israel yang paling kejam
datang dari Profesor Ilan Pappe, pengarang buku The Ethnic Cleansing of
Palestine. "Zionisme adalah sebuah idelogi yang memakai pembunuhan
etnik, pendudukan, dan sekarang pembantaian massal. Apa yang dihasilkan
oleh Israel di Jalur Gaza bukan saja mengutuk atas apa yang dilakukan
Israel tapi juga menghilangkan semua nilai ideologi Yahudi."

Zionisme, Pappe berdalih, telah diangkat menjadi sebuah 'ideologi rasis
dan hegemonik. Ini, tentu saja, bukan berita baru buat orang Palestina,
ataupun pada bangsa Arab dan Muslim lainnya. "Mudah-mudahan," ujar
Pappe, "suara kecaman dari seluruh dunia akan mengubah Israel bahwa
ideologi ini dan semua yang telah dilakukannya merupakan suatu hal yang
tidak bisa lagi ditoleransi dan tak bisa diterima. Israel akan diboikot
dan terjerat sanksi."

Apa yang dikatakan oleh orang-orang Israel ini menyiratkan bahwa Israel
telah menderita kekalahan dalam perang legitimasi. Dengan mengubah Gaza
menjadi reruntuhan, meneror dan membantai warganya, bukan saja hanya
merusak citra Israel tapi juga memperlihatkan moral dan politik Israel
yang rendahan.

Pertanyaannya; mengapa Israel melakukan hal ini? Israel boleh saja
mengklaim mengalami trauma masa lalu yang akut, namun perbuatan mereka
kali ini sangat menganggu dan amoral. Israel benar-benar gila dan
terlalu berlebihan dalam menderita paranoid akan keamanan mereka.

Sejak tahun 1948, lebih tepat sejak Deklarasi Balfour Inggris tahun
1917, para pemimpin Israel selalu mempersempit Palestina, dan mereka
ketakutan akan proyek mereka ini. Yang menggelikan, Israel selalu
bersikap bahwa tak ada ide dua negara dalam sejarah Palestina; Israel
menghendaki semua wilayah Palestina. Sebagian pemimpin Israel, seperti
Itzhak Rabin, membicarakan perdamaian, namun tak ada satupun
realisasinya. Siapapun partai yang berkuasa di Israel, baik Partai
Buruh, Likud atau yang sekarang, Kadima, sama sekali tak ada perbedaan.

Sekarang, perang Gaza telah menenggelamkan semua harapan orang Yahudi
akan adanya dua negara. Apa gerangan sekarang yang bisa menjadi
alternatif? Jelas sekali, mereka ingin menimpakan semua kesalahan kepada
Mesir yang tak mau membuka perbatasan Rafah. Ariel Sharon, mantan
Perdana Menteri, menarik semua kaum Yahudi dari Gaza pada tahun 2008
untuk konsentrasi di Tepi Barat. Ide ini masih terus ada sekarang.
Sekarang, para Yahudi Tepi Barat telah menjadi banyak dan mereka
menginginkan lebih banyak lagi tanah Palestina.

Bisakan Barack Obama menghentikan kecenderungan ini? Hillary Clinton,
calon Menteri Luar Negeri AS telah mengatakan bahwa visi dua negara
antara Israel dan Palestina tidak begitu saja diabaikan. Kita sudah
mendengar ini sebelumnya.

Tapi Hillary menegaskan bahwa AS tetap akan memberantas Hamas, dan ini
menjadi kesalahan pertama pemerintahan AS yang baru yang belum lagi
memulai kinerjanya. Bagaimana AS mengharapkan kombinasi dua negara dalam
satu wilayah sementara AS tak mau mendengarkan satu pihak lainnya?

Patrick Seale/dah



-- 
--
Achmad Y. Sjarifuddin.
E-mail: abu [at] lathiifa.com
Website: http://www.lathiifa.com

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke