Assalamu'alikum...

Perbedaan itu wajar
Kritikan itu sah-sah saja 
Asal...
Perbedaannya tidak sampai melenceng dari norma-norma dan akidah agama
dan kritikannya itu dalam batas-batas yang bisa dimaklumi .

Kritikan itu kan tidak harus berbentuk menyalahkan atau membenarkan sesuatu dan 
saya setuju kalau suatu pertikaian itu dimulai dari saling menyalahkan, bukan 
hanya aspek agama saja yang bisa hancur tapi semua aspek kehidupan pun bisa 
berantakan kalau timbul sifat saling menyalahkan .
Saya pernah mengatakan ;
more science
more experience
making life will be better

Silahkan bapak / ibu mempunyai pendapat, selama pendapat itu bisa di terima dan 
tidak menyinggung apapun
Silahkan mengkritik selama kritikan itu tidak membuat suatu perpecahan ataupun 
pertikaian .

Wassalam
  ----- Original Message ----- 
  From: amin widada 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, February 24, 2009 9:24 AM
  Subject: Re: [Ar-Royyan-8700] [Fwd: Asal Muasal Jamaah Tabliqh]


  Sepakat, Pak Jojo.

  Namun supaya lebih realistis, kita tidak boleh menutup mata bahwa perbedaan 
itu memang ada. Baik dalam telaah dalil, maupun dalam mensikapi kondisi yang 
ada saat ini (misal soal Palestina). Mungkin istilahnya sekarang adalah 
bagaimana memenej perbedaan itu supaya produktif (minimal tidak kontra 
produktif).

  Soal sholat subuh dan jumatan, setahu saya istilah itu muncul dari mulut 
orang Yahudi. Intinya -kurang-lebih- dia (Yahudi) baru takut kepada umat Islam 
kalau jamaah sholat subuhnya sudah menyamai jamaah jumatan. Jadi perlu 
dipertimbangkan apakah ungkapan itu perlu dengung-dengungkan? Secara logika, 
apakah subuhan bejamaah otomatis ada korelasi (positif) nya dengan peningkatan 
ruh jihad? 
  Kita tidak bisa menutup mata, bahwa kesholihan seseorang bisa jadi baru tahap 
eskapis ('melarikan diri' dari kondisi 'edan' disekelilingnya, semacam 
pemenuhan kehausan spiritual, gitu ...), belum menjadi suatu kesholihan yang 
rahmatan lil'alamin.
  Silakan di-searching di net, mungkin saya yang salah. 

  Wallahu a'lam.
  Wassalam,
  --amin


  2009/2/23 jojo wahyudi <[email protected]>

    Assalaamualaikum Wr Wb

    Maaf, saya yg dhoif dan baru belajar dien Islam ikutan nimbrung
    karena bingung dgn "kalau boleh dibilang" pertikaian umat Islam sendiri
    yang malah sering menyalahkan sesama umat Islam (maaf, bahasa kasarnya : 
mudah membid'ah-kan saudaranya sendiri), padahal kalau saya lihat link dari yg 
pak Yahya kirimkan (walau berita aslinya sudah tidak ada di milis ini he he he 
saya belum sempet baca pak) atas permintaan seseorang saudara kita juga di 
milis ini (yang pasti beliau muslim juga donk)
    saya justru mendapatkan nukilan yang menganjurkan kita saling bersatu & 
menyayangi serta harus saling menyibukan diri dgn aib diri kita sendiri, bukan 
dgn menyibukan membicarakan aib orang lain yg notabene saudaranya sendiri. 
Jangan-jangan kita yg gampang menyalahkan (membid'ahkan) saudaranya sendiri, 
justru diri kita yang keliru dan tergelincir dalam kesalahan. Naudzubillah, 
semoga Allah SWT selalu menunjukan kita jalanNya yg benar. Adapun nukilan dari 
link tsb adalah sbb:

     
    afwan ya akhi..
    sebagai seorang thollibul 'ilmy ana banyak menemukan perselisihan diantara 
asatidz, di indonesia dan malaysia juga. bagaimana ya pendapat antum dan 
nasehat yg antum terima dari para ahlul ilmi dan ulama, kalau ada nash dan 
dalil lebih ana harapkan sebagai penguat dalam ibadah.
    jazakallahu khaiyr
    abu nada
    —————————-

      Akhy karim, Sebenarnya para ulama sudah berpesan akan hal ini. maka tidak 
pantas bagi ana memberikan nasehat, sementara para ulama jauh lebih mumpuni 
telah memberikan nasehat2 itu. berikut kita simak nasehat Syeikh Musa Alu Nashr;
      "Oleh karena itu, berbagai macam perbedaan dan perselisihan yang terjadi 
di tengah-tengah salafiyyin jangan sampai dicampuri oleh orang-orang awwam. 
Hendaklah mereka menyerahkan hal ini ke tangan para ulama' dan menyibukkan diri 
mereka dengan hal-hal yang bermanfaat seperti tazkiyatun nafs maupun menuntut 
ilmu. Janganlah mereka menyibukkan diri dengan isu-isu yang disebarkan dan 
jangan pula ikut campur menyebarkan isu-isu ini, tetapi hendaklah mengecek 
kebenaran akan berita yang mereka dengar, kemudian mengembalikannya kepada para 
ulama Rasikhin. Hendaklah mereka menyibukkan diri dengan aib-aib yang ada pada 
diri mereka. Karena dengan membuat laris isu-isu yang tak jelas ini akan 
membuat para pemuda bingung dan akhirnya merekapun menjadi mangsa syaithan dari 
jin dan manusia."

      Maka persatuan adalah hal yang harus digalakkan oleh setiap muslimin, 
sebagaimana wasiat baginda rosululloh shallallohu 'alaihi wasallam,
      مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه 
عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر
      "Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, 
tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu 
anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga."

      Dalam Kitab Rifqan Ahlassunnah biahlissunnah, Syeikh Muhsin Al-Abbad 
menasehatkan,
      ولا شك أن الواجب على أهل السنة في كل زمان ومكان التآلف والتراحم فيما 
بينهم، والتعاون على البر والتقوى. وإن مما يؤسف له في هذا الزمان ما حصل من بعض 
أهل السنة من وحشة واختلاف، مما ترتب عليه انشغال بعضهم ببعض تجريحاً وتحذيراً 
وهجراً، وكان الواجب أن تكون جهودهم جميعاً موجهة إلى غيرهم من الكفار وأهل البدع 
المناوئين لأهل السنة، وأن يكونوا فيما بينهم متآلفين متراحمين، يذكر بعضهم بعضاً 
برفق ولين.

      "Tidak ragu lagi, bahwa kewajiban Ahlus Sunnah di setiap zaman dan tempat 
adalah saling bersatu dan menyayangi di antara mereka serta saling bekerja sama 
di dalam kebajikan dan ketakwaan. Dan suatu hal yang sungguh disayangkan pada 
zaman ini adalah, apa yang terjadi pada sebagian Ahlus Sunnah berupa pertikaian 
dan perselisihan, yang berimplikasi pada sibuknya mereka satu dengan lainnya di 
dalam mencela, mentahdzir dan menghajr. Padahal seharusnya mereka kerahkan 
seluruh kesungguhan mereka ini dan mereka tujukan kepada selain mereka dari 
kaum kuffar dan ahlul bid'ah yang senantiasa memusuhi Ahlus Sunnah. Mereka 
seharusnya menjalin persatuan dan kasih sayang dan saling mengingatkan satu 
sama lainnya dengan kelemahlembutan dan cara yang halus." [lihat Rifqon Ahlas 
Sunnah bi Ahlis Sunnah. didonwload dari sahab.org hal. 7-8] 



    Semoga Allah SWT selalu membimbing kita pada jalanNya yang benar
    Dan memper-erat persaudaraan sesama muslim (sangat diharapkan Wahabi/Salafi 
penguasa di Arab & Mesir membantu saudaranya di Palestina, bukan justru 
membiarkan Zionis Israel membunuhi anak2 tak berdosa dengan mudah tanpa 
pembelaan sedikitpun dari saudara muslim terdekatnya tsb)
    Dan semoga Allah memudahkan hambaNya untuk saling mengajak dalam kebaikan 
dan kebenaran, salah satunya dengan saling mengajak "meramaikan masjid" sholat 
berjamaah di masjid, mendengar taklim di masjid, meramaikan masjid dgn puji2an 
thd Allah SWT dan Rasulnya baik dgn Maulid Nabi, Isra Mi'raj dll (ini semua 
bid'ah nggak ya?). Paling tidak, minimal meramaikan masjid dgn sholat Subuh 
berjamaah, karena dlm salah satu hadits (ini dhoif apa nggak ya?) Rasul 
bersabda: Bila umatku tahu akan manfaat sholat Subuh berjamaah di Masjid, maka 
mereka akan berusaha datang ke masjid, walau dengan merangkak sekalipun 
(mudah2an hadits ini nggak dhoif ya pak :)) Trus ada lagi (sesat juga nggak 
ya?) : Yahudi & Nashoro akan gentar bila melihat kaum muslim sudah meramaikan 
Sholat Subuh seramai Sholat Jum'at (lebih gentar lagi kalo sholat Subuhnya 
sudah seramai Sholat Idul Fitri/Idul Adha, wiiiiih pasti setiap subuh jalan2 di 
sekitar masjid tertutup sementara kali ya, karena melubernya jamaah sholat 
Subuh ke luar masjid)
    Lho koq saya jadi ngelantur kemana-mana...............
    Yah pokoknya saya yg awam ini berharap, sesama muslim saling bersaudara dan 
tidak saling menyalahkan
    Apalagi menyalahkannya atas dasar kata si A atau kata si B tanpa kita tahu 
dasar2nya yg jelas.

    Demikian, mohon maaf bila ada kata2 yg menyinggung perasaan saudara saya 
sendiri...........
    karena saya tidak bermaksud demikian, saya hanya ingin kita saling 
mengasihi sesama muslim, saling berjabat tangan, dan bisa meneteskan air mata 
kala ingat dosa2 yg sering kita perbuat 
    dan kala disebutkan Kebesaran Allah SWT dalam setiap Sholat.

    Kalau ada kekeliruan, pasti datangnya dari kemiskinan ilmu saya, dan kalau 
benar itu pasti dari Allah semata.

    Jazakallah

    Wassalaamualaikum Wr wb



----------------------------------------------------------------------------

    From: amin widada <[email protected]>
    To: [email protected]
    Sent: Monday, February 23, 2009 2:28:36 PM
    Subject: Re: [Ar-Royyan-8700] [Fwd: Asal Muasal Jamaah Tabliqh]


    Salam. 
    Terima kasih juga untuk responnya. Memang berat ya (resiko) jadi 
administrator? :-)
    Tapi saya setuju kok dengan syair di awal artikel, sbb:

       Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengikutinya.
       Akan tetapi untuk berhati-hati!
       Karena siapa yang tidak mengetahui kejahatan,
       dia akan terperosok ke dalamnya.

    Di era 'free trade' ini (wuiih, lagi ...  ), mungkin tidak bisa dihindari 
adanya kompetisi.
    Menurut KPU, negative campaign masih boleh ... black campaign dilarang. :-) 
    Gak pa-pa, konsumen bebas milih, dan bebas untuk tidak memilih ... 

    Wassalam,
    --amin




     
    Pada 23 Februari 2009 13:34, Achmad Y. Sjarifuddin <[email protected]> 
menulis:

      Asswrwb,
      Terima kasih masukannya pak Amin, sebenarnya saya hanya
      sekedar menyampaikan amanah saja, tapi karena beliau juga
      member milis, tentunya juga membaca saran dari pak Amin ini.

      Jadi sok atuh, mangga buat yang menitipkan amanah, disampaikan
      juga pendapatnya langsung biar yang lain juga mendapatkan
      'pencerahan' :)

      Nuhun.

      Wasswrwb,

             -- A. Yahya Sjarifuddin



      amin widada wrote:
      > Salam.
      >
      > Saran saya (khususnya buat pak Yahya), di era transparansi saat ini
      > (wuiiih ...) mestinya setiap yang ingin berpendapat di milis harus
      > 'berani' menunjukkan identitasnya. Apalagi kalau menyangkut isu-isu yang
      > cukup penting/krusial, khususnya terkait dengan persatuan umat.
      >
      > Lebih bagus lagi, kalau sudah menyangkut urusan memilih 'warna'
      > (ber-Islam), seseorang menuliskan sendiri apa yang membuatnya memilih
      > warna A (dan menafikan warna B hingga Z). Jangan menggunakan pendapat
      > orang lain dan sekedar "copy, paste, send to maillist".
      > Jadi kalau saya lebih memilih martabak daripada pizza, lebih baik saya
      > tulis sendiri dan promosikan martabak berdasarkan sejauh mana pemahaman
      > saya soal per-martabak-an dan per-pizza-an, bukannya copy-paste pendapat
      > penggemar martabak lain.
      >
      > Wallahu a'lam,
      > Wassalam,
      > --amin
      >
      >

      > 2009/2/20 Achmad Y. Sjarifuddin <[email protected] 
<mailto:[email protected]>>

      >
      >     Asswrwb,
      >     Ada titipan dari salah satu member milis yang tidak mau disebutkan
      >     namanya.
      >     Sekedar menyampaikan. Trims.
      >
      >        -- A. Yahya Sjarifuddin.
      >
      >     -------- Original Message --------
      >
      >

      >         * Awal <http://alatsar.wordpress.com/>
      >         * Tentang Aku <http://alatsar.wordpress.com/about/>
      >         * Buku Coret2 <http://alatsar.wordpress.com/saleum/>
      >         * Blog Ikhwah <http://alatsar.wordpress.com/blog-rakan/>
      >         * Manhaj Salafy <http://alatsar.wordpress.com/manhaj-salafy/>
      >

      --
      Achmad Y. Sjarifuddin.
      E-mail: abu [at] lathiifa.com
      Website: http://www.lathiifa.com

      ------------------------------------------------------------------
      - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
      - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

      Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
      seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
      (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. 
Bukhari)







Kirim email ke