Pak Agus,  kalau menikah lebih dari satu kali akan lebih kaya dari yang
nikah sekali aja , betul gak pak?

Pada tanggal 02/03/09, Agus Rasyidi <[email protected]> menulis:
>
>
> ----- Original Message ----- From: Ponijo Ponijo
> Sent: Wednesday, February 11, 2009 4:48 PM
>
> Ingin Cepat Kaya? Buruan Menikah!
>
>
> Penulis : Sultoni
>
> Majelis Ta’aruf Klab Santri :Pernikahan itu pasti indah, nyaman, dan
> menyenangkan. Itu garansi dari Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana tertuang
> dalam firman-Nya yang suci { “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
> Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu
> cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa
> kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
> tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (QS. Ar Ruum : 21) }. Apabila ada
> ungkapan “pernikahan tidak selamanya indah”, pasti ada error yang dilakukan
> oleh para pelaku pernikahan. Entah itu berupa pelanggaran atas rambu-rambu
> yang telah ditetapkan dalam proses pencapaiannya. Ataupun sikap manusia yang
> makin tidak apresiatif terhadap kewajiban universal dari Pencipta alam
> semesta ini.
> Islam memandang, pernikahan bukan saja sebagai satu-satunya institusi yang
> sah, tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Tapi
> yang tak kalah penting adalah, pernikahan sanggup memberikan jaminan
> proteksi pada sebuah masyarakat dari ancaman kehancuran moral dan sosial.
> Itulah sebabnya, Islam selalu mendorong dan memberikan kemudahan-kemudahan
> bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu. “Dan nikahkanlah
> orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak menikah
> dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki serta hamba-hamba sahayamu yang
> wanita. Jika mereka miskin, Allah akan membuat mereka kaya dengan
> karunia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS.
> An Nuur : 32).
> Dalam haditsnya, Rasulullah SAW juga menekankan para pemuda untuk bersegera
> menikah. “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu
> menikah, maka segeralah menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih
> menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barangsiapa yang belum
> mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa menjadi benteng (dari
> gejolak birahi).” (HR. Bukhari).
> Dari sini makin jelas, ke mana orientasi perintah menikah itu sesungguhnya.
> Tujuan pembentukan institusi-institusi pernikahan (keluarga) tak lain
> adalah, agar terpancang sendi-sendi masyarakat yang kokoh. Sebab keluarga
> merupakan elemen dasar penopang bangunan sebuah masyarakat. Dengan kata
> lain, masyarakat akan kuat dan kokoh apabila ditopang sendi-sendi yang juga
> kokoh. Dan kekokohan itu tidak mungkin tercapai kecuali lewat penumbuhan
> institusi-institusi keluarga yang bersih.
> Pasal kewajiban menikah adalah merupakan sunnah Nabi SAW yang harus ditaati
> setiap Muslim, tidak akan kita bahas lebih jauh di sini. Begitu pun soal
> pernikahan merupakan aktualisasi keimanan atau aqidah seseorang terhadap
> Tuhannya, juga tidak akan kita perpanjang dalam tulisan ini. Sehingga dia
> menjadi alasan mendasar Islam, kenapa pernikahan hanya sah jika dilakukan
> oleh pasangan manusia yang memiliki aqidah, manhaj (konsep) hidup, serta
> tujuan hidup yang sama. Yakni mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla.
> Ada sisi krusial lain dari pernikahan yang akan kita bahas lebih jauh.
> Yakni pernikahan dan kaitannya dengan peradaban manusia. Pasal ini yang
> mungkin jarang dicermati oleh kebanyakan masyarakat, termasuk masyarakat
> Islam.
> Bahwa ada korelasi kuat antara keberadaan institusi pernikahan dengan
> potret masyarakat yang akan muncul (seperti telah disinggung sebelumnya),
> adalah tidak bisa kita pungkiri. Sebab indikasinya gampang sekali dilihat
> dan dirasakan. Masyarakat yang menghargai pernikahan, pasti mereka merupakan
> masyarakat yang beradab. Demikian sebaliknya.
> Maka tatkala kita telusuri, apa penyebab masyarakat Barat menjadi
> masyarakat yang tumbuh liar tanpa nilai-nilai etika, moral, dan agama. Itu
> sangat mudah kita pahami. Lantaran mereka adalah masyarakat yang tidak
> memahami makna sakral pernikahan. Hasrat seksual menurut mereka, bisa mereka
> lampiaskan kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Sehingga tak ada
> kaitan antara kehormatan dan kesucian seseorang dengan pernikahan.
> Dari sinilah awal munculnya masyarakat Barat yang tidak beradab. Mereka
> menjadi masyarakat pemuja syahwat, menawarkan budaya buka-bukaan aurat alias
> telanjang, memamerkan secara vulgar budaya hidup seatap tanpa menikah antara
> laki-laki dan wanita. Maka kasus-kasus perceraian kian tidak terhitung
> jumlahnya. Ribuan anak-anak lahir tanpa jelas nasabnya (garis keturunannya).
> Setelah besar, generasi tanpa bapak itu pun membentuk komunitas anak-anak
> jalanan yang selalu menimbulkan problem bagi masyarakat mereka sendiri. Dari
> situlah siklus budaya nista bermula.
> Ironisnya, dalam masyarakat Islam pun mulai muncul sikap yang kurang
> apresiatif terhadap perintah menikah. Jika tidak sampai dikatakan enggan
> menikah, setidaknya ada gejala masyarakat Islam mulai bersikap mengulur-ulur
> waktu pernikahan. Padahal ini sangat berbahaya. Boleh jadi gaya hidup
> hedonis Barat yang sangat intens disuguhkan lewat bacaan dan film-film,
> telah menyebabkan perubahan pola pemikiran masyarakat Islam. Khususnya dalam
> menyikapi perintah menikah.
> Inilah barangkali yang menyebabkan pasangan muda-mudi dalam masyarakat
> kita, lebih senang berlama-lama pacaran ketimbang memikirkan untuk serius
> membangun rumah tangga. Kalau pun di sana-sini marak acara-acara pesta
> pernikahan, itu mungkin tak lebih hanya sebuah basa-basi kultural. Semuanya
> terlepas dari ikatan nilai-nilai religius yang sakral. Sehingga kita sering
> menyaksikan pesta-pesta pernikahan, tak lebih hanya sebagai ajang pamer
> kemewahan dan bahkan pamer kemaksiatan. Sebab boleh jadi, sebelum pesta itu
> berlangsung, mereka sudah menjalani praktek-praktek layaknya kehidupan
> suami-isteri. Astaghfirullah!
> Kenapa Islam menggesa para pemuda untuk menikah, semakin jelas kita pahami.
> Bahwa di tengah maraknya budaya hedonisme yang menjangkiti dunia, sudah
> barang tentu institusi-institusi pernikahan kian dibutuhkan keberadaannya.
> Namun tentu saja bukan hanya memperbanyak lembaga-lembaga Rabbani itu saja
> yang kita perhatikan. Tapi yang lebih penting adalah, bagaimana rambu-rambu
> suci untuk mencapainya, bisa tetap kita jaga. Sehingga banyaknya
> lembaga-lembaga pernikahan berbanding lurus dengan tumbuh suburnya budaya
> kesadaran masyarakat untuk memelihara kesucian diri. Dari keluarga-keluarga
> yang bersih inilah, kelak akan lahir generasi yang kokoh.
> Jika ini yang terjadi, dapat dipastikan janji Allah, bahwa masyarakat bisa
> makmur (kaya) dan kuat lewat jalur pernikahan, akan terbukti. Karena itu,
> makin tertutup alasan bagi para pemuda-pemudi untuk tidak segera menikah,
> jika mereka nyata-nyata telah sanggup melaksanakannya. Dengan kata lain,
> sikap menunda-nunda untuk segera menikah di kalangan muda-mudi, memang
> sangat aneh.
> “Aku heran dengan orang yang tidak mau mencari kekayaan dengan cara
> menikah. Padahal Allah berfirman : Jika mereka miskin, maka Allah akan
> membuat mereka kaya dengan Keutamaan-Nya,” kata Umar bin Khattab RA.
> Ayo, tunggu apa lagi? Jangan tunda-tunda pernikahan!
>
>
>
>
>
> ------------------------------------------------------------------
> - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
> - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -
>
> Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
> seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
> (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)
>
>

Kirim email ke