---------- Forwarded message ----------
From: Meidy <[email protected]>
Date: Sun, 29 Mar 2009 23:58:55 -0700 (PDT)
Subject: [eramuslim] Situ Gintung - Hati kami pun ikut menjerit
To: [email protected], [email protected],
[email protected]
Cc: iklash Nori <[email protected]>

Hati kami pun ikut menjerit
by: Meidy

Gemeretak suara tembok tanggul seakan-akan memberikan tanda kepada
warga Gintung untuk tetap waspada, para pemuda Gintung segera
berjaga-jaga, sementara sebagian penduduknya lain terlena dibuai oleh
dinginnya malam.  Detik demi detik seakan-akan bom waktu yang setiap
saat siap untuk meledak … kumandang doa dan zikir tidak pernah lepas
dari para pemuda yang berjaga-jaga.

Allahu Akbar….Allahu Akbar….kumandang azan terdengar sayup dari Mesjid
yang tidak berapa jauh dari lokasi tanggul, para pemudapun segera
bergegas menuju mesjid …belumlah selesai pangilan azan
tersebut….tiba-tiba terdengar suara gemuruh, air bah meluncur,
menerjang dan menenggelamkan semua yang ada didepannya, para pemuda
pun yg hendak melaksanakan sholat shubuh ikut hanyut terbawa oleh arus
air yg begitu derasnya ….mereka hanyut bersama Mesjid tempat mereka
akan melaksanakan sholat.

Para pendudukpun berlari kocar kacir berusaha menyelamatkan diri dan
sanak saudaranya, mereka semua panik, tidak ada yang menduga bahwa
tanggul akan jebol pagi dini hari,  namun apa mau dikata? Allah sudah
menggariskan ini semua.

Alam terlihat marah …. Langit gelap….air menerjang di setiap tempat
yang dilalui tanpa mau perduli siapa yang ada di depannya, tangisan
dan jeritan tidaklah mampu menahan terjangan sang air bah.

Habis sudah …harta,  keluarga dan sanak family hilang ditelan air
bah…tak ada lagi yang tersisa…..suara jeritan dan tangisan dari sanak
saudara yg kehilangan keluarganya begitu meluluh lantakan hati…jenasah
ada dimana-mana.

Mbak, keluarga temanku ada yang terkena musibah Gintung juga, Dian
memberi kabar padaku. Nenek, kakak serta ketiga anaknya ikut hanyut
terbawa air bah…sampai sekarang belum diketemukan, temanku masih di
Aussie, sore ini aku ingin melihat kondisi keluarganya, gimana mbak?
tanya Dian.

Seharusnya hari ini kami mengadakan pertemuan untuk even Baksos,
langsung saja aku putuskan untuk menunda pertemuan ini dan meminta
Pungki, Tien dan m.Erry untuk bergabung dengan Dian menuju lokasi.

Segera kami mempersiapakan bantuan untuk para korban, ditengah jalan
aku mendapat informasi kalau kita belum bisa tembus kelokasi kejadian,
akhirnya kami putuskan untuk mencari di RS. Fatmawati.

Kami membawakan nasi bungkus, minuman serta obat-obatan untuk
diberikan kepada keluarga korban, kami langsung menuju UGD, ternyata
tinggal satu korban yang masih dalam perawatan, kami pun tidak bisa
berbicara banyak dikarenakan kondisi beliau masih terlihat shock,
kemudian salah seorang satpam mengarahkan kami untuk menuju kekamar
jenasah.

Ini adalah kali pertama kami langsung terjun membantu untuk korban
bencana, mendengar kamar jenasah, hati kami sedikit bergetar…terlebih
kami semua adalah wanita dan hanya ditemani oleh mas Erry, terbayang
sudah suasana kedukaan, dengan saling menguatkan kami tetap
melangkahkan kaki keruang jenasah.

Ternyata dugaan kami tidak meleset sama sekali, suasana begitu hiruk
pikuk…suara tangisan terdengar dimana-mana, dengan sigap aku, Pungky
dan Dian segera menerobos masuk, Dian mencari tau keberadaan keluarga
kawannya,  aku dan Pungky memberikan bantuan yang kami bawa untuk para
keluarga korban, sementara Tien dan Mas Erry menjaga perbekalan yang
kami bawa.

Alhamdullilah foto sang Nenek, Kakak dan satu anaknya sudah terpasang
di papan dan Dian juga mendapatkan informasi jenasah  sudah di ambil,
artinya tinggal dua anak lagi yang belum diketemukan, satunya berumur
12 th, adiknya berumur satu tahun.

Kulihat Dian terus memberikan kabar kondisi disini kepada temannya,
sementara aku terpaku melihat seorang laki-laki yang sedang meratap
disudut bangku kamar jenasah Rs. Fatmawati, ternyata beliau adalah pak
Oscar Anwar sutradara TVRI.

Beliau terlihat sangat terguncang, airmata terus membasahi wajahnya,
beliau kehilangan keempat anaknya, empat jenasah yang terbaring kaku
diruang jenasah itu adalah anak-anaknya pak Oscar, mereka  pergi tanpa
sempat berpamitan kepada sang Ayah yang disaat kejadian sedang
bertugas di Semarang, sementara sang istri masih belum diketemukan,
hanyut terbawa oleh keganasan air bah.

“apa salah dan dosaku sampai Allah menggambil semua ini dariku, kenapa
aku tidak juga ikut mati, aku gak bisa hidup tanpa istri dan
anak-anakku, siapa lagi yang menyayangi diriku, ratapan pak Oscar
begitu memilukan hati….aku terdiam dan hanyut terbawa oleh suasana
duka.

Pak Oscar mencium jenasah terakhir dari salah seorang anaknya sebelum
kafan penutup muka ditutup … kemudian satu persatu jenasah dimasukkan
ke mobil jenasah, 4 buah mobil jenasah keluar beriringan, sirine
meraung-raung, seakan memahami hati kami yg ikut meraung menyaksikan
suasana duka tersebut.

Qalam (pena) telah selesai menulis dan segala yang akan menimpa kita
telah ditentukan, oleh karena itu, janganlah kita merasa menyesal
terhadap sesuatu yang bukan menjadi milik kita. Jangan mengira kita
dapat mencegah pagar untuk tidak jatuh, air untuk tidak menetes, angin
untuk tidak berhembus, atau gelas untuk tidak pecah. Kita tidak dapat
melakukan itu semua, mau atau tidak mau, semua yang telah ditentukan
akan terjadi.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum Kami
menciptakannya.” (al-Hadid (57):22)

Sampaikanlah kepada malam akan datangnya pagi, berikut cahayanya yang
akan menembus gunung dan lembah-lembah. Ya Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang, berikanlah jalan keluar kepada saudara-saudaraku
yang terkena musibah secepat kecepatan cahaya atau secepat kedipan
mata.

Situ Gintung, 27 Maret 2009

Wassalam,
M e i d y

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke