Aria Desti Kristiana : Kenapa Tuhan Harus Disalib?
By Republika Newsroom
Selasa, 31 Maret 2009 pukul 16:26:00

Aria Desti Kristiana : Kenapa Tuhan Harus Disalib?

Aria Desti Kristiana

''Tuhan itu siapa dan seperti apa sih , Ma? Tuhan kita siapa? Apa
bedanya Tuhan dengan Allah?'' Pertanyaan kritis itu meluncur
begitu saja dari mulut seorang bocah berusia enam tahun, Aria
Desti Kristiana. Semua pertanyaan bocah perempuan ini hanya
dijawab dengan satu kalimat, ''Tuhan itu yang kita sembah,'' ujar
sang bunda seraya menunjuk kepada sesosok patung laki-laki di
kayu salib yang berada di altar gereja.

Tentu saja, jawaban mamanya itu membuat gadis cilik ini tak puas.
Bukannya berhenti dengan jawaban itu, malah sebaliknya ia semakin
berusaha mencari jawaban yang bisa mengantarkannya pada kebenaran
hakikat Tuhan sebagai pencipta.

Bahkan, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
''Katanya Tuhan itu yang menciptakan kita. Lalu, bagaimana sebuah
patung yang tidak bisa bergerak dan disalib bisa menciptakan
semua yang ada di dunia ini,'' ujar Desti sapaan akrabnya yang
kini berusia 18 tahun saat ditemui  Republika akhir pekan lalu di
Jakarta.

Pertanyaan lainnya yang kerap muncul dalam benaknya adalah
''Mengapa Tuhan yang mesti disembah harus disalib?  Kenapa Tuhan
harus dirupakan dalam sebuah patung? Bukankah patung itu tidak
memberi manfaat?'' Pertanyaan ini tak kunjung mendapat jawaban
yang memuaskan dirinya.

Meski dilahirkan dan dibesarkan di tengah lingkungan keluarga
pemeluk Kristiani yang taat, untuk urusan pendidikan, kedua orang
tua Desti tak pernah mengarahkan gadis kelahiran Jakarta, 9
Desember 1991 ini ke sekolah khusus pemeluk Kristen. Oleh kedua
orang tuanya, Desti justru disekolahkan di taman kanak-kanak (TK)
dan sekolah dasar (SD) umum.

Ketika bersekolah inilah untuk pertama kalinya Desti bersentuhan
dengan agama Islam. ''Karena aku bersekolah di sekolah umum, jadi
pendidikan agama yang diperoleh justru pelajaran agama Islam. Itu
aku dapatkan pada saat di TK dan SD,'' paparnya.

Saat duduk di bangku TK, kata dia, oleh gurunya ia sudah
dibiasakan untuk mengucapkan kata  Bismillah sebelum makan.
Begitu juga, dalam menyebut nama Tuhan dengan sebutan Allah SWT.
Dari sini, mulai muncul kebingungan dalam dirinya mengenai konsep
ajaran agama dan ketuhanan yang ia anut selama ini. ''Saat itu,
aku bingung  kenapa beda sekali antara ajaran agama saya (dulu)
dengan yang diajarkan oleh guru di TK,'' ungkapnya.

Menurut Desti, kedua orang tuanya menganut agama Kristen, namun
berasal dari beberapa aliran. Ada yang Pantekosta, Kharismatik
(ibu), Katholik (nenek), dan Protestan (bapak). Perbedaan ini
semakin membuatnya bingung. Apalagi, ketika ia mendapatkan
pendidikan agama Islam di TK dan SD, yang hanya fokus menyebut
Tuhan dengan sebutan Allah SWT.

Karena itu, ia makin tertarik dengan ajaran agama yang diajarkan
oleh guru di sekolahnya. Ketika duduk di bangku SD, ia mulai
mempelajari lebih jauh mengenai ajaran Islam. Tidak hanya di
sekolah, keinginan untuk mempelajari ajaran Islam juga ia lakukan
dengan cara mengikuti pengajian di daerah tempat tinggalnya.


Berikrar syahadat

Suatu ketika, salah seorang guru mengajinya bertanya kepada
Desti, apa benar ia ingin ikut mengaji. Pertanyaan tersebut
dijawabnya dengan satu kata, ''Ya.'' Kemudian, oleh sang guru,
Desti dan teman-temannya diminta untuk melafalkan dua kalimat
syahadat. Peristiwa tersebut terjadi saat ia baru menginjak
bangku kelas satu SD. Dan, sejak saat itulah anak pertama dari
dua bersaudara ini berkomitmen untuk meninggalkan semua ajaran
agama lamanya, Kristen Pantekosta, untuk kemudian menjalankan
ajaran Islam.

''Memang prosesnya tidak seperti orang Kristen lainnya yang masuk
Islam. Karena, bisa dibilang baca kalimat syahadatnya tidak
secara resmi,'' ungkapnya. Dari situ, kemudian ia mulai belajar
mengenai cara shalat dengan mengikuti gerakan teman-temannya.
Tidak hanya shalat, ia juga mulai belajar untuk berpuasa ketika
sudah duduk di bangku kelas 3 SD.

Kendati sudah memeluk Islam, setiap akhir pekan, Desti tetap
datang ke gereja dan mengikuti kegiatan sekolah minggu. Hal
tersebut, kata dia, karena adanya paksaan dari kedua orang
tuanya. Tidak hanya memaksa dia untuk ikut kebaktian di gereja,
tetapi kedua orang tuanya juga kerap memarahi serta melarang
dirinya untuk melaksanakan shalat dan pergi mengaji ke masjid.
Sikap kedua orang tuanya ini hanya bisa ia tanggapi dengan cara
menangis.

''Tetapi, untuk urusan puasa, alhamdulillah mereka mau
ngebangunin aku untuk sahur. Dan, kebetulan nenekku yang beragama
Kristen Katolik kadang menjalankan puasa setiap Senin dan
Kamis,'' tambah Desti.Baru ketika ia naik ke jenjang kelas 5 SD,
kedua orang tuanya mulai bisa menerima keislamannya. Kedua orang
tuanya tidak pernah lagi memaksanya untuk pergi ke gereja setiap
akhir pekan serta tidak lagi melarang dirinya untuk melaksanakan
shalat dan mengaji.

Meski demikian, pertentangan masih kerap mewarnai hubungan Desti
dengan kedua orang tuanya. Pertentangan tersebut, menurutnya,
muncul manakala dirinya melakukan suatu kesalahan.''Misalnya,
kalau saya berbuat kesalahan, mereka selalu menyinggung-nyinggung
soal agama Islam. Karena saya tipe orang yang tidak mau menerima
begitu saja dan watak yang keras, saya katakan ke mereka apa
bedanya pada saat saya ketika masih memeluk agama yang lama,''
sindirnya.

Tak hanya dari orang tuanya, menurut Desti, pertentangan serupa
juga kerap ia dapatkan dari pihak keluarganya yang lain, seperti
nenek, paman, bibi, dan saudara sepupunya. Kendati demikian, ia
tetap menjaga hubungan kekeluargaan dengan sanak saudaranya ini.
''Pada saat Natal, aku tetap ikut  ngumpul . Tapi, tidak ikut
mengucapkan.''

Namun, ia bersyukur karena masih memiliki seorang adik perempuan,
Friday Veronica Florencia, yang bersama-sama dengannya memutuskan
untuk memeluk agama Islam di usia kanak-kanak. Di samping juga,
teman-teman sepermainannya yang kebanyakan beragama Islam.


Beasiswa gereja

Keinginan orang tuanya untuk mengembalikannya ke agama yang lama,
masih terus dilakukan hingga Desti memasuki jenjang SMA. Pada
saat ia memutuskan untuk mengenakan jilbab ketika duduk di bangku
kelas satu SMA, sang bunda meresponsnya dengan mengatakan bahwa
jilbab itu tidak penting dan diwajibkan.

Begitu juga, ketika selepas lulus SMA, ia memutuskan untuk
melanjutkan sekolah ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan
Bahasa dan Sastra Arab. Saat mau melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi, ia ditawari beasiswa dari gereja oleh kedua
orang tuanya. Tawaran beasiswa tersebut kemudian ia tolak.
''Beasiswanya ini bukan hanya untuk jenjang S1, tetapi sampai ke
jenjang apa pun yang saya mau. Namun, dengan syarat saya harus
mau mengabdi di gereja itu,'' ungkapnya.

Untuk memperkokoh keimanan dan memperdalam pengetahuannya tentang
Islam, Desti aktif dalam kegiatan Rohis (Rohani Islam--Red) yang
ada di lingkungan tempat ia bersekolah. ''Alhamdulillah semua
rintangan tersebut bisa dilalui dengan baik,'' ujar mahasiswi
semester dua Jurusan Bahasa dan Sastra Arab ini.

Kini, di usianya yang ke-18, Desti merasa menjadi orang yang
paling beruntung. Walaupun dijuluki sebagai anak 'hilang' oleh
keluarga, Desti merasakan kebahagiaan yang tiada tara karena
Allah SWT sudah memberikan hidayah kepadanya hingga hari ini
untuk menjalankan semua itu.

Meski mengakui kadang kala masih suka lalai dalam melaksanakan
kewajiban shalat lima waktu, ia berharap ke depannya bisa
menjalankan semua perintah Allah SWT dengan sebaik-baiknya. Ia
juga berharap kelak hidayah yang ia dan sang adik peroleh juga
akan didapatkan oleh kedua orang tuanya.''Saya ingin sekali
mereka bisa melihat mana jalan yang benar dan mana yang salah.
Karena menurut saya, saat ini mereka bukan berada di jalan yang
benar,'' ujarnya. dia


Biodata

Nama            : Aria Desti Kristiana
TTL               : Jakarta, 9 Desember 1991
Masuk Islam  : Sejak Kelas 1 SD (Tahun 1997)
Aktivitas    :

- Kuliah pada Jurusan Bahasa & Sastra Arab di Universitas Negeri
  Jakarta (UNJ) semester II
- Aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan


        -- A. Yahya Sjarifuddin

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke