Mengapa PKS Keok? Asep Mulyana
Jumat, 10 Apr '09 11:32 Hasil Quick Count Pemilu 2009 menunjukkan suara PKS yang stagnan. Bahkan PKS keok di Jakarta. PKS yang pada 2004 menjadi jawara di Jakarta, pada pemilu ini hanya ada di posisi ketiga dengan suara 13,12 persen suara saja. PKS disalip Demokrat dengan 31,89 persen suara dan PDIP dengan 15,89 persen suara (http://pemilu.detiknews.com/read/2009/04/10/102741/1113556/700/pks-keok-di-jakarta). Ada banyak faktor, baik faktor eksternal maupun faktor internal, yang membuat suara PKS begitu stagnan, jauh di luar target yang ditetapkan para elitenya. Tulisan pendek ini hanya akan membatasi diri pada faktor internal yang berkaitan dengan isu yang diangkat PKS dalam kampanye kali ini. PKS melejit secara signifikan pada pemilu 2004 karena menekankan image bersih dan peduli yang kala itu merupakan barang mewah bagi Bangsa Indonesia. Rakyat yang benci dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme, menemukan kerinduannya pada PKS yang dalam sepak terjangnya mampu menunjukkan dirinya sebagai partai yang bersih dari isu korupsi. PKS juga mampu menunjukkan dirinya sebagai partai yang peduli terhadap sesama, terlihat dari tanggapan PKS terhadap bencana demi bencana yang menimpa negeri ini. Isu bersih dan peduli telah membuat PKS diterima semua kalangan. Karena isu bersih dan peduli kala itu, publik lebih melihat partai ini sebagai partai Islam yang terbuka. Pada Pemilu 2004, PKS memang tak menonjolkan isu-isu sensitif yang berkaitan dengan Islam karena disadari hanya akan membuat resistensi dari pemilih Indonesia yang plural. Pada pemilu 2009 ini, PKS kelihatan terlalu percaya diri dengan perolehan suara pada pemilu 2004 dan kemenangan para kader atau kandidat yang didukung partai ini dalam Pilkada di berbagai daerah. Memang partai ini masih menonjolkan citranya sebagai partai bersih dan peduli, bahkan mencitrakan dirinya sebagai musuh para koruptor. Partai ini juga berupaya keras menunjukkan dirinya sebagai partai terbuka dengan slogan "Partai Kita Semua" dalam iklan-iklan politiknya di televisi. Namun, sebelum dan selama kampanye Pemilu 2009, PKS lebih sering tampak dalam demo-demo mendukung Palestina, RUU Pornografi, dan bersikap sangat defensif terhadap isu poligami--satu hal yang semakin menegaskan PKS sebagai partai Islam yang cenderung eksklusif. Dalam isu korupsi, PKS tak lagi berdiri sendiri. Kali ini PKS punya saingan berat: KPK. Gerak-gerik KPK dalam mengungkap korupsi telah membuat publik sangat bangga dengan lembaga ini. Klaim PKS sebagai partai musuh koruptor dengan sendirinya tenggelam di bawah wibawa KPK. Apalagi selama 5 tahun ini praktis tak ada sama sekali kasus korupsi dalam skala sangat besar yang diungkap kader PKS. Bahwa banyak kader PKS mengembalikan uang suap, YA. Tapi kenapa mereka berhenti sampai di situ? Kenapa para kader PKS tak mengungkapkan secara luas ke publik praktek-praktek suap dan korupsi yang umum terjadi di lembaga legislatif? Publik tidak buta. http://politikana.com/baca/2009/04/10/mengapa-pks-keok.html Agus Rasidi wrote: > > http://www.republika.co.id/berita/43196/PKS_Optimistis_Raih_73_Kursi_DPR > > PKS Optimistis Raih 73 Kursi DPR > By Republika Newsroom > Jumat, 10 April 2009 pukul 16:29:00 > > JAKARTA—Partai Keadilan Sejahtera (PKS) optimistis meraih 73 kursi di > DPR atau naik sebesar 28 kursi (62,3 persen) dibandingkan jumlah kursi > PKS di DPR saat ini, yaitu 45 kursi. > > Penghitungan raihan kursi tersebut didapat dari hasil penghitungan > suara dengan metode hitung cepat (//quick count//) yang dilakukan DPP > PKS. Berdasarkan penghitungan suara di 6.025 TPS dari tujuh ribu TPS > sampel, PKS menyimpulkan, suara mereka berada pada level 11 persen > sampai 13 persen. > > Sekretaris Jenderal DPP PKS, Anis Matta, menjelaskan, setelah > membandingkan hasil hitung cepat dengan hasil hitung tepat (//real > count//) yang dilakukan partainya, PKS sukses mendongkrak jumlah > perwakilan mereka di parlemen pusat. > > “Dari perbandingan ini bisa diprediksikan kursi PKS di DPR menjadi 73 > kursi, naik sekitar 62,5 persen dibandingkan dengan kursi PKS saat > ini,” ujar Anis saat menggelar konferensi pers di kantor DPP PKS, > Jakarta, Jumat (10/4). > > Rinciannya, lanjut Anis, dari daerah pemilihan Sumatera Bagian Utara > 10 kursi, Sumatera Bagian Selatan enam kursi, Banten, DKI Jakarta, dan > Jawa Barat 24 kursi, DIY Yogyakarta dan Jawa Tengah 10 kursi, Jawa > Timur dan Bali enam kursi, Nusa Tenggara satu kursi, Kalimantan lima > kursi, Sulawesi delapan kursi, serta Indonesia Bagian Timur tiga > kursi. > > “Bahkan potensinya bisa lebih besar karena untuk Nusa Tenggara dan > Sulawesi ada kans bertambah satu sampai dua kursi,” papar Anis. > > Dikatakan, hitungan 73 kursi di DPR dilakukan setelah mengkonversikan > hasil raihan suara dengan alokasi kursi di masing-masing daerah > pemilihan. Menurut Anis, sukses PKS menambah kursi di DPR tak lain > lantaran perubahan strategi dengan melakukan pemerataan sebaran caleg > PKS di tiap dapil. Perubahan strategi yang dimaksud Anis yaitu dengan > mengirimkan para elit PKS ke dapil-dapil di daerah dan tidak > terkonsentrasi di kantung-kantung suara PKS. “Terbukti PKS bisa unggul > atas Demokrat di tiga tempat, yaitu Kalimantan Selatan, Sulawesi > Tengah, dan Maluku,” ucap Anis. > > Anis menambahkan, kendati posisi PKS tetap berada pada posisi keempat > partai pemenang pemilu di bawah Partai Demokrat, Partai Golkar (PG), > dan PDIP, namun secara kuantitas kursi PKS di parlemen sedikit lebih > tinggi dibandingkan persentase hasil hitung cepat. “Sama dengan > Golkar.” > > Dia menjelaskan, raihan kursi DPR PKS dan PG lebih tinggi karena suara > kedua partai ini cukup merata di tiap daerah pemilihan. “Suara PKS dan > Golkar cukup merata di daerah murah, sedangkan Demokrat dan PDIP > cenderung berada di daerah mahal.” > > Dengan kata lain, kata Anis, walaupun PD mampu mendapatkan dukungan > suara menembus angka 20 persen, namun belum tentu kursi yang didapat > PD memiliki persentase yang sama. Begitu pun dengan PDIP. > > “Sedangkan Golkar mendapat sekitar 100 kursi atau sama dengan 17 > persen, lebih tinggi dari raihan suara mereka yang ada pada kisaran > 15-16 persen,” tandas Anis.- ade/ahi > > =============================================== > > Suryama: Soliditas Kader Mentahkan 'Gempuran' Demokrat > Ahad, 12 April 2009 21:42 > > warnaislam.com — > > "Bagian terpenting (dalam Pemilu ini) adalah penghargaan atas kerja > keras kader, simpatisan dan jaringan struktur partai, dan (kita) > bersyukur atas pertolongan Allah," imbuh Suryama. > > Mengapa perolehan PKS nampak ‘stabil’ pada kisaran 7-8% pada pemilu > legislatif 2009? Ada beberapa analisis yang layak dipertimbangkan > sebagai jawaban sementara. Demikian dikatakan Anggota Komisi I DPR RI > dari Fraksi PKS Suryama M. Sastra kepada warnaislam, Ahad (12/4). > > Dipaparkan politisi PKS itu bahwa hampir semua partai suaranya > berpindah ke Partai Demokrat dalam jumlah yang sangat berarti, kecuali > PKS yang masih mampu memelihara posisinya seperti Pemilu 2004. Oleh > karena itu Suryama merasa bersyukur atas perolehan suara PKS pada > Pemilu 2009 ini. ”Kita wajib mensyukuri pertolongan Allah yang > memudahkan kerja dakwah di arena yang bergetah itu,” ujar dia. > > Lebih jauh Suryama menjelaskan, kemampuan Partai Demokrat menyedot > suara-suara dari PDIP dan Golkar memperlihatkan keampuhan uang, yakni > melalui turunnya harga BBM, pembagian BLT pada saat yang tepat, dan > pengurangan pajak bagi kelas menengah ke bawah serta dipadukan dengan > ketokohan SBY dan manajemen komunikasi massa yang efektif mengenai > kinerja pemerintahannya sebagai ‘pelayan rakyat’. > > Mantan orang pertama di Bahumas DPP PKS itu menilai bahwa kemampuan > PKS menjaga posisi suaranya memperlihatkan betapa efektifnya kerja > kader, simpatisan dan soliditas jaringan struktur partai, walaupun > kemampuan pembiayaannya sangat terbatas. > > “Bagian terpenting (dalam Pemilu ini) adalah penghargaan atas kerja > keras kader, simpatisan dan jaringan struktur partai, dan (kita) > bersyukur atas pertolongan Allah,” imbuh Suryama. > Suryama juga mencurigai masih bergetanyangannya maling-maling yang > berupaya memanipulasi hasil suara. “Demikian pula (masalah) soal aneka > ragam money politics, manipulasi rekap dan perpindahan saling-silang > dari dan ke PKS yang memerlukan rincian lebih utuh,” pungkas dia. ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

