--- Begin Message ---
Assalamu'alaikum Wr Wb, semoga bermanfaat, diambil dari www.informasihaji.com

Senin, 27 April 2009 9:45:15 AM 
Minta Tindaklanjuti Vaksin Meningitis Mengandung Babi 

Jakarta (MCH). Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni mendesak Menteri Kesehatan 
Siti Fadillah Supari untuk menindaklanjuti temuan MUI yang mendapati vaksin 
meningitis mengandung babi.

"Karena hal itu merupakan wewenang sepenuhnya Menteri Kesehatan, maka dalam 
waktu dekat, kami akan mendesak Menkes untuk menindaklanjuti dan mengambil 
langkah-langkah," kata Maftuh Basyuni di sela-sela kunjungan kerja ke Lampung, 
Ahad malam.

Sebelumnya Menag mengucapkan terima kasih atas informasi yang disampaikan oleh 
Lembaga Pengkajian Pangan dan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia 
(LPPOM MUI) Sumatera Selatan bahwa ada vaksin meningitis yang mengandung babi.

Namun Maftuh mengaku kecewa karena sikap MUI yang langsung mempublikasikan 
temuan tersebut.

"Tapi saya sangat kecewa dan menyayangkan cara penyampaiannya yang dilakukan 
oleh MUI. Mestinya cukup disampaikan kepada kami, Menteri Agama dan Menteri 
Kesehatan, sehingga tidak membuat gelisah calon jamaah haji," papar Menag. 
Temuan LPPOM MUI itu mulai menuai sejumlah reaksi dari kalangan ulama.

Sebelumnya Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Amidhan, memberikan reaksi 
dan meminta pemerintah untuk mencari alternatif vaksin lain yang bersifat 
halal. "Jika terbukti benar mengandung enzim babi, maka wajib dicari alternatif 
lain, yakni vaksin yang tidak mengandung babi. Haji itu ibadah, beredarnya 
kabar ini akan membuat jamaah haji tidak tenang," ia menegaskan.

Mantan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Depag itu mengaku belum mengetahui 
secara detail mengenai laporan tersebut. Namun ia berjanji akan 
mengkomunikasikan masalah vaksin ini dengan LPPOM MUI pusat. "Masih perlu 
penelitian lebih lanjut," katanya.

Selain itu, imbuh Amidhan, MUI pusat akan menindaklanjuti secepatnya. Pihaknya 
mengaku akan berkoordinasi dengan MUI Sumatera Selatan, Departemen kesehatan 
dan beberapa pihak yang terkait.

Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), Masykuri Abdillah dalam menanggapi 
berita tersebut mengatakan, pemerintah harus melakukan upaya-upaya dan 
memproduksi vaksin yang tidak dari babi. "Jika terbukti benar mengandung babi, 
maka harus diganti vaksinnya," tegasnya.

Namun ia pun buru-buru menegaskan, harus dilakukan pengkajian yang lebih 
canggih. Pasalnya, penelitian tersebut baru dilakukan di LPPOM MUI Sumsel. 
"Untuk itu harus ada kerja sama antara Depag, Departemen Kesehatan (Depkes), 
dan LPPOM MUI," ujarnya.

Setelah dilakukan pengkajian, kata Masykuri, akan ditemukan hasilnya, apakah 
halal atau haram. Hanya saja ada dua opsi dari waktu penelitian tersebut. Jika 
penelitian cepat, maka lebih bagus. Jika lambat, harus dilakukan musyawarah 
ulama.

"Jika hasilnya belum didapat hingga menjelang haji 2009, maka musyawarah ulama 
harus memutuskan apakah vaksin ini tetap dipakai atau sama sekali tidak 
dipakai," katanya.

Masykuri mengaku para ulama khususnya Ulama NU akan melakukan tindakan 
menyingkapi kabar yang beredar ini. "Kami antisipasi masalah ini. Saya tidak 
bisa mengatakan bagaimana tindakan kami, baru akan kami bahas," tegasnya.

Sementara itu, Sekditjen haji Depag, Abdul Ghofur Djawahir, mengaku masih 
meragukan hasil temuan dari LPPOM MUI Sumsel. Pihaknya menanyakan apakah vaksin 
meningitis yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah vaksin meningitis 
untuk jamaah haji atau bukan.

"Untuk itu perlu ada penelitian ulang. Kami akan cari tahu apakah ada jenis 
meningitis lain. Masalahnya saat ini banyak barang imitasi," katanya.

Abdul Ghofur mengaku pihaknya mengacu pada vaksin meningitis yang digunakan 
untuk ibadah haji seperti yang telah ditentukan pemerintah Arab Saudi. Vaksin 
ini merupakan kebijakan pemerintah Arab Saudi yang mengetahui penyakit apa saja 
yang mungkin didera jamaah haji disana. "Kami percaya sama Arab Saudi karena 
negara itu, negara besar yang juga memiliki alat-alat canggih," katanya.

Menurut Abdul Ghofur, vaksin dari Arab Saudi akan dibandingkan dengan vaksin 
yang diteliti oleh LPPOM MUI Sumsel. Jika vaksin yang digunakan sama, maka akan 
dikembalikan lagi pada kebijakan Arab Saudi.

Namun sebelumnya, imbuh Abdul Ghofur, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan 
Depkes, LPPOM MUI pusat, dan MUI pusat mulai Senin (27/4). "Perlu ada 
pembahasan lebih lanjut. Pembahasan masih memerlukan waktu," ujarnya.

Abdul Ghofur mengaku hingga kini pihaknya belum menerima laporan dari pihak 
LPPOM MUI Sumsel maupun MUI Sumsel. "Jika laporannya ke Depag provinsi jelas 
mereka tidak punya kewenangan," paparnya.
(*) 
B a c k 


      Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

--- End Message ---
------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke