----- Original Message -----
From: masjid annahl
Sent: Tuesday, June 09, 2009 5:05 PM

 Seri : Akhlak

Rasullullah Tidak Pernah Mencela Makanan

Kenikmatan Allah Ta’ala tiada terkira. Ragam makanan dan minuman sangat
bervariasi. Kewajiban seorang muslim, menghargai nikmat-nikmat tersebut dan
mensyukurinya. Kendatipun makanan yang tersedian sepele, celaan tidak layak
muncul dari bibir seorang muslim.

Demikian juga, ketika makanan atau minuman tidak menggugah selera, atau
mengundang ketidaksukaan, karena cita rasanya yang kurang tajam, bentuknya
yang tidak menarik, atau bahan-bahannya yang dirasa tidak bergizi, cacian
tetap saja tidak cocok untuk dikeluarkan.

Keteladanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam masalah ini, beliau
tidak pernah mengeluarkan komentar miring sekalipun terhadap masakan atau
makanan yang boleh dimakan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:

“Rasullullah tidak pernah mencela makanan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari dan
Muslim)

Berbeda dengan makanan haram, beliau melancarkan celaan padanya. Bahkan
melarang mengkonsumsinya.

Apabila makanan yang dihidangkan beliau sukai, maka beliau menyantapnya.
Sedangkan sikap beliau saat menghadapi jamuan yang tidak menarik hati, maka
beliau tidak menjamahnya, tanpa mengeluarkan komentar miring apapun
terhadapnya.

“Kalau Beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak
menyukainya, beliau menyukainya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sikap di atas merupakan keagungan dan keluhuran akhlak Rasullullah. Beliau
menghormati perasaan orang yang telah memasak atau membuatnya. Rasullullah
tidak suka mencela hasil kerja orang yang membuatnya sehingga dapat
menyakiti hatinya. Sisi lain, tidak menutup kemungkinan, ada orang lain yang
menyukai makanan tersebut. Hadits di atas juga, mengajarkan sikap ksatria
dalam menghadapi makanan yang tidak disukai, yaitu dengan cara tidak
menyentuh dan meninggalkannya.

Selain itu, bentuk penghargaan lain terhadap makanan, walaupun tidak selalu
dilakukan. Rasullullah memuji makanan-makanan. Terdapat suatu riwayat;
Beliau bertanya kepada keluarganya atentang lauk yang tersedia. Keluarga
Beliau menjawab:

“Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka,”

Maka Beliau meminta untuk disediakan dan mulai menyantapnya. Lantas berkata:

“Sebaik-baiknya lauk dalah cuka. Sebaik-baiknya lauk adalah cuka”.      (HR.
Muslim)

Pujian sebagaimana hadits diatas bias bermakna pujian kepada objek makanan,
dan juga bias ditujukan untuk menghibur keluarga, bukan berarti pengutamaan
cuka di atas segala makanan.

Begitulah sekelumit kisah Rasullullah berkaitan dengan makanan, yang menjadi
kebutuhan penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Beliau tidak mencela
dan selalu bersikap qanaa’ah (menerima) dengan apa yang tersedia.

Semoga Allah Ta’ala memberiukan taufik kepada kita untuk meneladani Beliau
secara lahir dan Batin.

Sumber:

Syarh Riyaadhush Shalihin, Syaikh Al-’Utsaimin.

Bahjatun-Naazhiriin, Syaikh Salim Al-Hilali.

Diketik Ulang dari Majalah Nikah Edisi 12/Tahun XI/1429H/2008M Hal. 5



------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke