Lebih cepat lebih baik adalah bagus asalkan efektif dan efisien. Kaidah efektif 
dan efisien tidaklah boleh dilupakan. Kalo sudah begitu maka akan ada 
pengurangan waktu, yang tadinya 1 tahun bisa dikerjakan 6 bulan. Bukan kah itu 
lebih baik?

Mungkin itu maksudnya JK - Wiranto, 

Wassalam 
diran
  ----- Original Message ----- 
  From: Agus Rasyidi 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, June 30, 2009 12:56 PM
  Subject: [Ar-Royyan-9050] Lebih Cepat Lebih Baik. Benarkah ?


  LEBIH CEPAT LEBIH BAIK. BENARKAH ?

  Slogan capres Jusuf Kalla dengan "Lebih Cepat Lebih Baik" memancing banyak 
komentar dan perdebatan. Benarkah dengan lebih cepat akan lebih baik? Atau 
sebaliknya, lebih cepat malah lebih hancur?

  Saya sendiri lebih setuju dengan pendapat Drucker dan Covey. Menurut mereka 
yang lebih baik adalah yang lebih efektif.



  Belakangan saya sering membaca buku dan tulisan bertemakan Slow Movement, 
gerakan hidup lambat yang sedang mewabah di Eropa sana. Ada yang namanya slow 
food, slow leadership, slow family, slow work, slow travel bahkan slow sex. 
Mereka semua sudah bosan dengan yang serba cepat dan instan. Saya yakin, slogan 
JK ini tidak akan laku di Eropa.



  Oke, back to the topik soal cepat atau lambat. Saya punya cerita dalam skala 
domestik aja, cerita tentang pembantu di rumah.

  Saya ada 2 pembantu, yang satu selalu bergerak cepat yang satu kebalikannya. 
Yang cepat sebut saja namanya Tuti. Tuti adalah mantan pembantu di Arab Saudi. 
Cara bekerja di sana memang keras dan dituntut serba cepat. Majikannya selalu 
memerintahnya dengan tidak sabaran. Kebiasaan itu terbawa sampai ke rumah kami.


   

  Lawannya, sebut saja namanya Tina, lambat sekali kerjanya. Segala sesuatunya 
dikerjakan dengan pelan-pelan. Cara berbicaranya pun lembut dan nyaris tak 
terdengar.


   

  Seminggu sekali ibu saya menginap di rumah kami. Salah satu tujuannya adalah 
untuk "transfer of knowledge dan experience" di bidang kuliner. Maksudnya 
mengajari istri saya dan pembantu resep masakan Minang klasik.


   

  Si Tuti dengan cepat menangkap resep dan mempraktekkannya. Ketika masih 
dikawal oleh ibu saya, rasanya memang mantap. Tapi begitu mengulang dan tanpa 
pengawasan, rasanya mulai ngaco ke mana-mana. Meleset jauh. Lidah saya sangat 
peka dengan rasa. Meleset nol koma sekian derajat saja, ia sudah menjerit 
protes.


   

  Masalahnya, si Tuti ini cara kerjanya serba cepat, ingin cepat selesai dan 
tanpa pikir panjang. Takaran bumbu yang sudah dihitung dengan cermat itu selalu 
diterjangnya secara membabi buta. Bawang, garam, cabe dan kawan-kawannya itu 
dicampurnya begitu saja tanpa takaran yang jelas. Bahkan ia tidak pernah 
mencicipi masakannya.Yang penting kerjaan selesai, mungkin itu alasannya.

  Maka, ayam cabe hijau favorit saya itu warnanya kekuningan lantaran 
kebanyakan jahe. Dendeng goreng asam itu tak lagi garing dan renyah lantaran 
kurang lama menggoreng dan apinya terlalu besar. Udang goreng cabe merah 
warnanya jadi oranye dan berair lantaran tomatnya digiling bersama cabe. 
Mestinya tomat diiris saja dan dimasukkan belakangan. Masalah lain, Tuti ini 
termasuk orang yang ndableg alias keras kepala. Kalau diberitahu, ia sering 
membantah, merasa paling benar dan yakin dengan pendiriannya yang salah itu.


   

  Akhirnya lidah saya pun hilang kesabarannya. Ia protes. Mogok makan. Kalau 
masih meleset begini juga, saya tidak mau makan, ancamnya. Ibu saya pun 
kemudian mentransfer ilmunya kepada Tina.


   

  Ceritanya berbeda jauh dengan si Tina. Ia yang bekerja lambat itu ternyata 
bisa memasak dengan begitu lezat dan sempurna. Takaran bumbunya begitu pas. 
Cara memasaknya pun sesuai dengan SOP dari ibu saya. Setiap diajari, selalu 
dicatatnya di kertas. Bila tidak yakin atau lupa, ia selalu bertanya. Lidah 
saya pun girang gembira. Persis banget dengan masakan mama. Cuma, jangan harap 
ia bisa bekerja dengan cepat. Pasti akan kecewa. Kerjanya lambat sekali.


   

  Dari cerita domestik tersebut saya semakin yakin dengan pendapat bahwa 
efektif lebih baik ketimbang lebih cepat atau lambat. Untuk pekerjaan tertentu, 
seperti menyapu, mencuci, menggosok baju, dibutuhkan kecepatan. Tapi jangan 
coba-coba dalam hal memasak. Memasak perlu kesabaran, ketelatenan dan passion 
yang tinggi. Ada kalanya diperlukan kecepatan, ada saatnya perlu lambat dan 
penuh pertimbangan. Kalau keduanya digabung, mungkin jadi kombinasi yang 
cantik. Sayang sekarang mereka - SBY dan JK - berpisah dan meninggalkan saya 
yang kebingungan menentukan pilihan.


   

  Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
  Wassalam,

  http://www.roniyuzirman.com/

Legal disclaimer
-------------------------
This email may contain confidential and/or legally privileged information. 
If you are not the intended recipient (or have received this email by error), 
please notify the sender immediately and delete this email. 
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this 
email is strictly forbidden.
 
Legal disclaimer
-------------------------
This email may contain confidential and/or legally privileged information. 
If you are not the intended recipient (or have received this email by error), 
please notify the sender immediately and delete this email. 
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this 
email is strictly forbidden.

Kirim email ke