LEBIH CEPAT LEBIH BAIK. BENARKAH ?

Slogan capres Jusuf Kalla dengan "Lebih Cepat Lebih Baik" memancing banyak 
komentar dan perdebatan. Benarkah dengan lebih cepat akan lebih baik? Atau 
sebaliknya, lebih cepat malah lebih hancur?

Saya sendiri lebih setuju dengan pendapat Drucker dan Covey. Menurut mereka 
yang lebih baik adalah yang lebih efektif.



Belakangan saya sering membaca buku dan tulisan bertemakan Slow Movement, 
gerakan hidup lambat yang sedang mewabah di Eropa sana. Ada yang namanya slow 
food, slow leadership, slow family, slow work, slow travel bahkan slow sex. 
Mereka semua sudah bosan dengan yang serba cepat dan instan. Saya yakin, slogan 
JK ini tidak akan laku di Eropa.



Oke, back to the topik soal cepat atau lambat. Saya punya cerita dalam skala 
domestik aja, cerita tentang pembantu di rumah.

Saya ada 2 pembantu, yang satu selalu bergerak cepat yang satu kebalikannya. 
Yang cepat sebut saja namanya Tuti. Tuti adalah mantan pembantu di Arab Saudi. 
Cara bekerja di sana memang keras dan dituntut serba cepat. Majikannya selalu 
memerintahnya dengan tidak sabaran. Kebiasaan itu terbawa sampai ke rumah kami.




Lawannya, sebut saja namanya Tina, lambat sekali kerjanya. Segala sesuatunya 
dikerjakan dengan pelan-pelan. Cara berbicaranya pun lembut dan nyaris tak 
terdengar.




Seminggu sekali ibu saya menginap di rumah kami. Salah satu tujuannya adalah 
untuk "transfer of knowledge dan experience" di bidang kuliner. Maksudnya 
mengajari istri saya dan pembantu resep masakan Minang klasik.




Si Tuti dengan cepat menangkap resep dan mempraktekkannya. Ketika masih dikawal 
oleh ibu saya, rasanya memang mantap. Tapi begitu mengulang dan tanpa 
pengawasan, rasanya mulai ngaco ke mana-mana. Meleset jauh. Lidah saya sangat 
peka dengan rasa. Meleset nol koma sekian derajat saja, ia sudah menjerit 
protes.




Masalahnya, si Tuti ini cara kerjanya serba cepat, ingin cepat selesai dan 
tanpa pikir panjang. Takaran bumbu yang sudah dihitung dengan cermat itu selalu 
diterjangnya secara membabi buta. Bawang, garam, cabe dan kawan-kawannya itu 
dicampurnya begitu saja tanpa takaran yang jelas. Bahkan ia tidak pernah 
mencicipi masakannya.Yang penting kerjaan selesai, mungkin itu alasannya.

Maka, ayam cabe hijau favorit saya itu warnanya kekuningan lantaran kebanyakan 
jahe. Dendeng goreng asam itu tak lagi garing dan renyah lantaran kurang lama 
menggoreng dan apinya terlalu besar. Udang goreng cabe merah warnanya jadi 
oranye dan berair lantaran tomatnya digiling bersama cabe. Mestinya tomat 
diiris saja dan dimasukkan belakangan. Masalah lain, Tuti ini termasuk orang 
yang ndableg alias keras kepala. Kalau diberitahu, ia sering membantah, merasa 
paling benar dan yakin dengan pendiriannya yang salah itu.




Akhirnya lidah saya pun hilang kesabarannya. Ia protes. Mogok makan. Kalau 
masih meleset begini juga, saya tidak mau makan, ancamnya. Ibu saya pun 
kemudian mentransfer ilmunya kepada Tina.




Ceritanya berbeda jauh dengan si Tina. Ia yang bekerja lambat itu ternyata bisa 
memasak dengan begitu lezat dan sempurna. Takaran bumbunya begitu pas. Cara 
memasaknya pun sesuai dengan SOP dari ibu saya. Setiap diajari, selalu 
dicatatnya di kertas. Bila tidak yakin atau lupa, ia selalu bertanya. Lidah 
saya pun girang gembira. Persis banget dengan masakan mama. Cuma, jangan harap 
ia bisa bekerja dengan cepat. Pasti akan kecewa. Kerjanya lambat sekali.




Dari cerita domestik tersebut saya semakin yakin dengan pendapat bahwa efektif 
lebih baik ketimbang lebih cepat atau lambat. Untuk pekerjaan tertentu, seperti 
menyapu, mencuci, menggosok baju, dibutuhkan kecepatan. Tapi jangan coba-coba 
dalam hal memasak. Memasak perlu kesabaran, ketelatenan dan passion yang 
tinggi. Ada kalanya diperlukan kecepatan, ada saatnya perlu lambat dan penuh 
pertimbangan. Kalau keduanya digabung, mungkin jadi kombinasi yang cantik. 
Sayang sekarang mereka - SBY dan JK - berpisah dan meninggalkan saya yang 
kebingungan menentukan pilihan.




Salam FUUUNtastic! SuksesMulia!
Wassalam,

http://www.roniyuzirman.com/

Kirim email ke