Darimana Mendapatkan Inspirasi? Oleh : Agus Ali Kamis, 14 Mei 2009 11:49 WIB . Setelah saya pikir-pikir, ternyata banyak sekali sumber inspirasi saya. Saya yakin anda juga begitu. Jadi, saya nggak percaya kalau seorang entrepreneur itu kekeringan ide atau inspirasi. Ini beberapa sumber inspirasi saya:
1. Jalan-jalan. Pusing-pusing kata orang Malaysia. Saya dan istri suka jalan-jalan. Bahkan ibu saya menggelari anak pertama kami,Vito sebagai "bayi mobil". Soalnya sejak usia 40 hari sudah di bawa ke mana-mana. Dalam perjalanan itu pikiran menjadi terbuka dengan melihat apa saja yang terbentang di depan mata. Seeing is believing and inspiring. Saya suka mengunjungi pasar/mall dan tempat keramaian untuk memperhatikan tren fashion yang sedang terjadi. Saya juga suka melihat arsitektur bangunan yang unik (sambil hunting properti, tentunya), 2. Seminar, pertemuan. Dulu saya pernah "seminar addicted". Tiap bulan selalu ada saja seminar yang saya ikuti. Selain mendapat pembelajaran, di sana saya bertemu banyak orang dan saling berkenalan dengan tukar kartu nama. Sekarang saya lebih banyak menghadiri pertemuan-pertemuan di TDA, seperti TDA Forum Pusat, TDA Forum Wilayah, Mastermind. Di TDA terjadi "wisdom of the crowd", kata Yuswohady dari MarkPlus. Itu betul. Saya banyak belajar, sekali pun dari pemula. 3. Internet.Ini sekarang bisa jadi sumber inspirasi utama, karena sebagian besar waktu saya habiskan secara online. Maklum bisnis saya adalah online, jadi harus punya online behavior, kata Pak Nukman Luthfie. Email, browsing, blog, Facebook dan Twitter adalah sumber-sumber inspirasi utama saya. Bahkan dengan membaca status teman di Facebook atau di Twitter, saya banyak mendapat pencerahan. 4. Buku, majalah.Itu sudah pasti. Membaca buku itu sangat perlu. Untuk mencari informasi yang mendalam, buku tetap diperlukan. Buku sering memancing saya untuk berpikir dan merenung. Buku belum bisa digantikan oleh blog dan media digital lainnya. Beberapa buku bahkan menjadi guidance saya dalam menjalan bisnis sehari-hari. Setiap ada masalah, saya selalu mencari jawaban di rak buku yang menjadi referensi saya. Untuk update berita dan tren bisnis terbaru saya mengandalkan majalah. Beberapa majalah yang kerap saya beli seperti, SWA, Marketing, Globe, Reader's Digest, Business Week. 5. Radio, CD. Saat ini cukup banyak radio yang isinya memberdayakan pendengar seperti PasFM, Trijaya dan Smart FM. Saya sering mendengarkan kedua radio ini di dalam perjalanan. Dari situ saya bisa mendapatkan inspirasi dari Jamil Azzaini, Arvan Pradiansyah, Kafi Kurnia, Prie GS sampai Ayah Edi soal parenting. Selain itu saya juga sering mendengarkan CD pembelajaran dari Aa Gym, Robert Kiyosaki, Robert Allen, Jim Rohn, Jay Abraham, Anthony Robbins dan sebagainya. Keluar dari mobil, langkah jadi makin mantap, meskipun baru lepas dari kemacetan. 6. Menonton TV, film. Yup, TV ternyata masih jadi rujukan saya, meski pun kadang-kadang terjebak dengan tayangan "sampah". Saluran favorit saya adalah BBC Knowledge, National Geographic, Discovery Travel and Living dan CNBC (terutama CNBC Life). Film juga sering menjadi inpirasi saya. Beberapa film yang menginspirasi saya adalah: Laskar Pelangi, Door to Door, The Secret, Dead Poet Society, Finding Forrester, Life is Beautiful. 7. Musik. Ternyata mendengarkan musik pun bisa menginspirasi saya. Koleksi saya terutama adalah Jazz, World Music dan New Age. Musik jazz menginpirasi saya untuk selalu berimprovisasi, berinovasi, kreatif, dan suka berpetualang menemukan hal-hal baru. Ada satu komposisi insturmental dari Chick Corea yang membuat saya begitu bersemangat berjudul "Charged Particles". Lagu ini saya jadikan "theme song" kemenangan saya. Maklum, dulu pernah ikut MLM Amway dan memimpikan untuk naik ke panggung diiringi lagu ini. Tapi tidak kesampaian. Lagu-lagu world music dari Yanni juga begitu memesona saya. Bahkan salah satunya saya jadikan theme song di Manet, yaitu Adagio in C Minor. 8. Ngobrol dan chatting. Ngobrol dan chatting, terutama dengan teman yang berenergi positif bisa sangat bermanfaat dan memberdayakan. Banyak ide dan inspirasi lahir dari ngobrol ngalor ngidul ini. Teman-teman di Komunitas TDA adalah sumber inspirasi saya yang selalu memompakan energi positif. Kalau saya lanjutkan, mungkin listnya akan terus memanjang. Tapi saya stop saja sampai angka delapan. Dilihat dari banyaknya sumber itu, maka, adalah mustahil kalau saya mengatakan kehabisan ide, kehabisan inspirasi untuk berbisnis atau menulis di blog atau membesarkan TDA. Oya, blog adalah salah satu sarana saya untuk "mengikat" ilmu atau inspirasi itu. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, kata Ali bin Abi Thalib. Bagaimana dengan anda? Salam FUUUNtastic! SuksesMulia! Wassalam, Roni, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas Tangan Di Atas Bisnis untuk Menolong Orang, Berbisnis dengan Logika Hati Oleh : Roni Yuzirman Rabu, 11 Februari 2009 16:36 WIB . Sekali lagi saya bertemu dengan Ustadz Lihan. Kemarin pagi. Bersama Pak Iim dan panitia Milad III TDA di Hotel Crowne, tempat ia menginap selama di Jakarta. Sekali lagi ustad miliarder ini meyakinkan saya dan teman-teman dengan keyakinannya dalam berbisnis yang berbeda dengan kebanyakan pebisnis. Alasan utamanya memulai sebuah bisnis adalah ingin menolong orang lain, dengan memperkerjakan mereka. Profit atau keuntungan menjadi adalah nomor dua. Itu hanya sebagai dampak saja. "Apakah Ustadz tidak mempelajari dulu feasibility study-nya, atau kapan BEP-nya?", tanya saya yang saya yakin juga mewakili rasa penasaran teman-teman. "Nggak", jawabnya langsung. "Saya hanya menghitung berapa banyak orang yang terlibat (baca: tertolong) dari bisnis ini". Wah, kalau kami terus terang masih jauh dari cara berpikir seperti itu. BEP dan profit tetap menjadi acuan utama dalam memulai bisnis. Begitulah pengusaha dari Martapura yang sempat menggemparkan dengan transaksi berlian Putri Malunya yang fenomenal itu. Kami, yang level spiritualnya masih merangkak ngos-ngosan itu yakin dan percaya itu. Tapi, dalam praktiknya, rasanya masih sulit untuk menerapkan "teori "berat itu. Dalam pertemuan sebelumnya dengan saya, Ustadz Lihan pernah bercerita tentang bisnis rumah makannya yang terus sepi dan merugi sampai 6 bulan. Tapi ia tetap bersikukuh mempertahankan bisnis itu dengan alasan tidak ingin memecat karyawannya. Apa yang terjadi kemudian? Di bulan berikutnya ada yang berminat menyewa ruangan di atas rumah makan itu untuk dijadikan kursus bahasa Inggris. Peminatnya membludak dan berdampak kepada rumah makan itu. "Percayalah, kalau anda berbisnis dengan niat menolong orang lain, anda pasti akan didoakan oleh orang banyak", lanjutnya. Saya percaya itu. Semakin banyak yang mendoakan kita, tentu semakin lancar bisnis kita. Saya ingat kata-kata dari Pak Haji Ali, sesepuh dan penasehat TDA itu. "Tolonglah hamba Allah, dan Allah akan menolongmu". Terbukti. Pak Sonny, salah seorang panitia Milad III TDA bercerita kepada saya sepulang dari pertemuan dengan Kompas.com beberapa hari lalu. Ia mendirikan GwGuyur, tempat cuci motor kurang lebih setahun lalu. Niatnya juga sama, ingin menolong orang, membuka lapangan pekerjaan. Sekarang cabangnya sudah 13. Masing-masing cabang menyerap sekitar 8 orang tenaga kerja. Silakan dikalikan 13. Sekarang pilihan di tangan kita. Mau berbisnis dengan logika (otak kiri), otak kanan, atau dengan hati. Kalau dengan hati, itulah yang namanya beyond business... Salam FUUUNtastic Wassalam, Roni, Owner Manet Busana Muslim. Sembilan Hal yang Harus Dikuasai dalam Berbisnis Oleh : Admin Kamis, 14 Agustus 2008 03:51 WIB . Saya sangat suka dengan definisi Brad Sugars mengenai bisnis, yaitu: bisnis adalah suatu usaha komersial yang menguntungkan dan berjalan tanpa keterlibatan anda. Untuk mencapai kondisi itu tentunya ada caranya. Ada ilmunya. Ada tahapannya. Menurut Brad Sugars, ada enam tahap dalam membangun dan mengembangkan bisnis: 1. Mastery 2. Niche 3. Leverage 4.Team 5.Synergy 6. Result Saya akan coba bahas mengenai tahap yang pertama. Mastery - adalah tahap awal dalam mengembangkan bisnis. Bagaimana bisnis itu bisa menghasilkan profit secara produktif berdasarkan informasi yang cukup untuk pengambilan keputusan. Apa saja yang harus di-mastery (dikuasai)? 1. Uang, atau cashflow. Yaitu bagaimana kita menguasai data keuangan historis dan bagaimana dengan data itu kita bisa melakukan sesuatu di masa depan. Cashflow is king. Dengan cashflow itu kita mau buat apa? Jangan terpaku pada mengejar profit di kertas, tapi uangnya nggak ada di tangan. Anda harus kuasai ini. Ini adalah pondasi bisnis anda. Dengan cashflow yang kuat, apa pun bisa anda lakukan. 2. Target break even atau titik impas. Berapa banyak produk yang harus dijual, atau berapa banyak pelanggan, atau berapa rupiah penjualan per hari yang dibutuhkan untuk mencapai target titik impas itu. Kalau anda nggak tahu ini, bisa bahaya. Misalnya, sewa tempat, biaya, plus gaji karyawan per bulan adalah 3 juta, artinya biaya anda adalah 100 ribu per hari, berarti keuntungan yang harus diperoleh adalah minimal 100 ribu per hari. As simple as that. 3. Profit margin atau marjin keuntungan. Harus ditarget atau dibuat budgetnya, berapa profit margin yang harus didapat per hari untuk mencapai target yang diinginkan. Harus jelas berapa persentasenya atau nilai nominalnya. Mengutak-atik hitungan margin ini merupakan keasyikan tersendiri bagi saya. Inilah salah satu permainan bisnis yang menggairahkan. 4. Reporting atau pelaporan. Anda harus tahu angka-angka vital dalam bisnis anda per hari, per minggu, per bulan sehingga anda bisa membuat keputusan berdasarkan ini di masa depan. Berapa produk terjual hari ini, berapa marginnya, berapa jumlah transaksi hari ini, berapa prospek yang masuk ke dalam toko, dan sebagainya. Anda harus tahu ini. 5. Test and Measure atau uji ukur. Apa pun yang anda lakukan harus diuji dan diukur hasilnya. Jangan pernah melakukan sesuatu tanpa diukur tingkat keberhasilannya. Buat indikator kinerja kunci, yaitu apa saja indikator-indikator di bisnis anda yang merupakan kunci atau penentu vital. Harus anda identifikasi faktor-faktor ini. Misalnya anda buat brosur. Berapa biayanya? Bagaimana hasilnya? Untung atau rugi? Kalau untung, lanjutkan. Kalau rugi, diubah, diperbaiki atau dihentikan. 6. Delivery. Delivery juga saya artikan memberikan apa yang anda janjikan. Kalau anda sudah terima uangnya, ya anda harus berikan barangnya sesuai yang anda janjikan mencakup jumlah, kualitas dan waktu pengirimannya. Jangan berusaha menjanjikan yang hebat atau superior. Lebih baik yang biasa-biasa saja tapi konsisten. Berusahalah menutupi setiap lubang kelemahan yang ada. Sedikit demi sedikit. 7. Time. Kuasilah waktu. Produktivitas anda, bisnis anda, organisasi anda sangat tergantung kepada kemampuan anda menguasai waktu. Banyak teori mengenai penguasaan waktu ini, misalnya teori pareto (prinsip 80/20) atau the power of least effort. 8. Goal atau tujuan. Tujuan itu harus jelas dan disampaikan kepada organisasi kita. Tujuan itulah sebagai penunjuk arah bagi orang-orang yang mengikuti di belakang kita. Dari mana kita melangkah dan sampai di mana kita nanti, harus jelas dimengerti oleh mereka. 9. Self mastery. Menguasai diri sendiri, atau pengendalian diri. Ini menyangkut disiplin. Ini menyangkut fokus. Ini adalah harga yang harus anda bayar untuk mencapai kesuksesan. Saya sendiri masih terus belajar dan mempraktekkan ilmu dari guru small business ini. Ilmunya banyak yang masuk akal buat saya. Cocok dengan kondisi bisnis yang saya jalankan saat ini. Mudah-mudahan cocok juga untuk bisnis anda. sumber : www.tangandiatas.com ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

