---------- Forwarded message ----------
From: Oyas Wahyunggoro <[email protected]>
Date: 2009/7/7
Subject: [ppi_utp] Gara-gara Facebook: Jodoh Melayang, Harta Pun Hilang


Gara-gara Facebook: Jodoh Melayang, Harta Pun Hilang (1)

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/03/11401464/gara-gara.facebook.jodoh.melayang.harta.pun.hilang.1

Selasa, 3 Maret 2009 | 11:40 WIB
Laporan wartawan Astrid Isnawati

Berselancar di dunia maya seperti
Facebook, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Terutama yang
menyangkut privasi. Kalau tidak hati-hati, risikonya cukup besar.
Bukannya kesenangan yang didapat, justru harta melayang.

Fenomena Facebook alias FB semakin tak
terbendung. Tak heran jika FB dinobatkan sebagai situs pertemanan
paling diminati di seantero dunia. Dan, seperti dua sisi berlawanan
dari koin, di samping menguntungkan, FB pun mempunyai sisi "buruk".
Fitur sederhana seperti status dan foto yang dilengkapi tag yang
digemari jutaan pengguna Facebook, ternyata berbahaya jika digunakan
secara sembrono. Pasalnya, FB memungkinkan teman (mutual friends)
mengetahui detail pribadi penggunanya. Bayangkan saja, cukup dengan
meng-update status atau mengubah status hubungan dengan pasangan,
secara otomatis semua teman mendapatkan notification (pemberitahuan).

Foto-foto yang diunggah lalu di-tag
sembarangan dan diset, bisa dilihat siapa pun yang memiliki jaringan
pertemanan, juga tak kalah bahaya, lho. "Di dunia maya,
pencitraan diri dicerminkan lewat apa yang di-posting oleh Anda atau
orang lain. Jadi, hati-hati dalam memilih foto untuk di-posting"
ucap Donny BU, Senior Researcher ICT (Internet and Communication
Technology) Watch.

Intinya, kata Doni, jangan sembarangan
menyebar data pribadi, mengubah status, menambah teman yang sama
sekali asing, atau mengunggah foto di dunia maya secara membabi-buta.
Di Inggris, contohnya, suami membunuh istrinya karena sang istri
mengubah status pernikahan mereka di FB, dari menikah menjadi lajang.
Sang suami pun naik pitam dan gelap mata. Menyeramkan, bukan?

Kado Puluhan Juta

Tak hanya di luar negeri, peristiwa
buruk menyangkut salah guna FB juga terjadi di sekeliling kita. Salah
satunya menimpa Vira (bukan nama sebenarnya), perempuan berusia 30-an
dengan jenjang karier eksekutif di perusahaannya. Sama seperti
pengguna FB di berbagai tempat, Vira juga keranjingan. Tiada hari
tanpa memperbarui perkembangan terbaru dari akun pribadi dan tak lupa
menjelajahi satu per satu kabar teman-temannya di FB.

Suatu hari, dalam boks friend requests,
sebuah nama dan foto asing muncul, meminta agar Vira menerima
ajakannya untuk berteman. Vira melihat profilnya dan ternyata pria
ini berasal dari Turki. Karena tidak memiliki mutual friends,
dipastikan dia menggunakan panduan advanced search sampai menemukan
akun Vira, sebuah upaya yang menunjukkan ada usaha lebih dari pria
itu. Paras rupawan sang calon teman sedikit banyak membuat hati Vira
melunak dan ikon Confirm tanpa ragu, ia klik. Alhasil, resmilah
pertemanan mereka.

Setelahnya, mereka rajin bertegur sapa
di wall untuk menjembatani jauhnya jarak dan perbedaan waktu. Karena
si lelaki sangat perhatian dan mengaku punya pekerjaan tetap, Vira
mengiyakan ajakan berpacaran. Tak lama kemudian, sang Arjuna datang
ke Indonesia.

Ia bersikap amat santun dan supel.
Dalam sekejap, keluarga besar Vira bisa dekat dengannya. "Dia
rajin sekali mendekati keluarga saya," kenang Vira. Ini adalah
faktor yang mengakibatkan Vira menaruh kepercayaan besar kepada sang
pacar. Belum lagi, pria Turki ini sangat royal secara materi, "Waktu
saya lihat dan menyukai sebuah cincin, dia langsung membelikannya,"
ujar Vira. Bahkan, saat Vira berulang tahun, dia mentransfer uang
puluhan juta ke rekening Vira sebagai hadiah.

Ajak Nikah Berujung Amarah

Singkat cerita, mereka memutuskan untuk
menikah. Tiba-tiba, Vira teringat sesuatu, "Kalau saya dinikahi
dia, berarti saya harus ikut ke Turki dan meninggalkan semua yang
saya miliki di sini." Mendadak, hati Vira menjadi kurang sreg.
"Apa benar dia suka dengan saya?" pikir Vira. Tak ingin
menyesal, Vira lalu memutuskan hubungan mereka secara baik-baik.
Reaksi tak terduga muncul dari negeri seberang. Sang pacar marah tak
karuan, sampai mengancam dan meneror tiada henti.

Diburu amarah, lelaki itu mendatangi
Vira ke Indonesia dan mengajaknya bertemu di hotel. Ancamannya tidak
main-main, Vira harus mengembalikan semua pemberiannya yang bernilai
ratusan juta rupiah, "Dia ingat detailnya, karena semua tercatat
dengan baik di pembukuannya." Kontan, Vira ketakutan. Bahkan,
ketika teman-temannya menyuruhnya melapor ke polisi, dia menolak.
"Saya malu dan takut," begitu alasan Vira.

Alhasil, Vira pontang-panting mencari
dana agar "utangnya" lunas. "Tabungan saya sampai
habis, akhirnya terpaksa meminjam sana-sini," keluh Vira.
Masalah belum usai, karena hingga sekarang Vira masih berutang kepada
teman dan keluarganya. "Sungguh melelahkan," keluhnya.
Kapokkah Vira main FB? "Enggak! Saya hanya lebih selektif
memilih teman. Interaksi di FB hanya dengan teman-teman yang
benar-benar dekat," tandasnya.

Kasus Vira, kata Doni, sebetulnya tak
akan terjadi jika saja Vira tidak asal menerima undangan berteman.
Apalagi kalau hanya untuk menambah jumlah teman. "Lihat dulu,
berapa banyak mutual friends. Semakin sedikit, berarti tidak banyak
teman yang mengenalnya. Ini berarti risikonya lebih besar. Tidak
perlu sampai ribuan teman, karena wajarnya, setiap akun FB memiliki
120 teman." *

Gara-gara Facebook: Jodoh Melayang,
Harta Pun Hilang (2)

http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/03/03/12555520/gara-gara.facebook.jodoh.melayang.harta.pun.hilang.2

Selasa, 3 Maret 2009 | 12:55 WIB
Laporan wartawan Astrid Isnawati

Pemalsuan jati diri juga mudah
dilakukan di situs pertemanan. Jadi, pelaku bertindak seakan-akan
dialah korban dan menyebarkan data pribadi korbannya atau lazim
disebut impersonation.

Peristiwa tidak mengenakkan ini
ternyata pernah terjadi kepada salah satu mahasiswa Donny, sebut saja
namanya Rima. Awalnya, "Dia mengadu ke saya, sering ditelepon
nomor tidak dikenal. Bahkan di tengah malam," kisah Donny. Pria
yang aktif menulis di portal berita Detik.com ini, kemudian bergerak
cepat menyelidiki pangkal persoalan. Ternyata, data pribadi sang
mahasiswa dikopi dari akun FB-nya dan dijadikan blog. Foto-foto di FB
juga diambil, lalu dengan menggunakan situs penyimpan foto gratis,
dengan mudahnya pelaku mem-posting ulang di blog tadi.

Bukan hanya menyebarkan data dan
foto-foto pribadi, pelaku juga menjelek-jelekkan citra korban alias
black campaign. "Isinya cenderung melecehkan martabatnya sebagai
perempuan," tutur Donny. Situasi bertambah buruk karena
pencantuman nomor telepon pribadi Rima yang diambil dari fitur
phonebook di FB. Jelaslah kini, dari mana asal semua telepon-telepon
asing itu datang menghampiri mahasiswanya. Alhasil, Rima mau tak mau
harus menjelaskan duduk persoalannya ke setiap nomor yang
meneleponnya.

Melihat kasus Rima, Donny menyarankan,
"Sebenarnya, tidak apa-apa menyebarkan nomor telepon di
internet. Semua tergantung kita siapa, apa alasan, dan tujuannya."
Lantas, apa yang bisa dilakukan seandainya kejadian ini terjadi pada
Anda? "Menghubungi langsung pengelola situs blog dan FB dengan
mengirimkan bukti identitas diri seperti KTP yang di-scan."
Beruntung bagi Rima, situs blog yang dipakai untuk mencemarkan nama
baiknya memiliki flag blog alias fasilitas untuk melaporkan jika ada
muatan blog yang merugikan.

Palsu Sekaligus Mengganggu

Meskipun tak separah dua kasus
sebelumnya, Monik Hapsari juga mengalami kejadian buruk gara-gara
tangan usil di FB. Tanpa peringatan apa pun, tiba-tiba Monik
(panggilan akrabnya) diserbu teman-temannya yang mempertanyakan akun
Facebooknya, "Selama ini, saya selalu menolak membuat account FB
karena memang tidak tertarik. Jadi waktu ada akun itu, semua pada
nanya," jelas pengarah gaya di majalah remaja ini.

Lantas, dari mana asalnya akun Facebook
dengan nama dan fotonya itu? "Saya juga enggak tahu. Tiba-tiba
ada dan orang ini mengisi dengan lengkap semua data pribadi saya.
Terus, kalau ada foto yang ada wajah saya, langsung di-tag oleh
pembuat akun itu, plus dikomentari," papar Monik. Si pembuat
rupanya memang iseng, Monik sampai dibuatkan fitur Fans Club dan
membuatnya diolok teman-temannya.

Kendati awalnya Monik tak pedul,
lama-lama ia merasa terganggu juga. "Kayaknya, teman sekolah
atau kuliah banyak yang meng-add dan mereka sering SMS atau nulis di
wall, bilang aku sombong karena tidak pernah balas sapaan mereka di
FB," keluh lulusan Desain Kria, ITB ini.

---- End forwarded message -----

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama,
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke