dua buah tulisan Oase Iman yang terdapat di Eramuslim, namun dalam menulis Rejeki berbeda satu dengan yang lainnya, yang pertama Rejeki sedangkan yang kedua Rezeki ...
Selamat membaca .... ---------------------------------------------------------------------------- - Rejeki Juga Harus Dijemput oleh Fery Ramadhansyah Kamis, 16/07/2009 "pengumuman, PPMI (Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia) bilang, pihak JS (Jamiah syariyah) minta tajdid nama-nama penerima musaadah". Teriakku ke kawan-kawan dirumah. Aku dapat informasi itu dari seorang kawan. Langsung aja aku beritahukan kepada anggota rumah yang juga rata-rata penerima musaadah JS itu. "Lebih cepat kan lebih baik" tambahku. Kami serumah ada delapan orang. Huh.jumlah yang aku bilang membludak untuk kondisi rumah dengan satu shalah dan dua kamar. Itu juga kamarnya kecil. Ya kalaupun mau dibagi, berarti satu kamar buat empat orang. Lumayan hangat lah untuk musim dingin. Soalnya makin banyak orang, kalau rangannya kecil maka makin udaranya jadi hangat. Mungkin karena suhu-suhu tubuh penghuni kamar yang merubah tempratur ruangan. Bagiku, sempit juga, walau tidur susun ikan gembung, yang penting asyaiknya rame-rame. Dari delapan yang enam orang dapat JS,lumayan lah, tiap bulan dapat sembako plus uang lima puluh pon, kecuali Aku dan irfan. Kalau aku, memang dulu sebelum bareng mereka, aku tinggal di Qatameya. Daerah yang masih jarang orang indonesianya. Jadi, sedikit ketinggalan informasi. Jadi pas waktu buka pendaftaran, aku gak ikut daftar. Tapi, kalau kawan ku Irfan, menurut pengakuannya sih karena Iqamahnya dah mati. Jadi gak berani mo daftar, ntar kalau daftar trus diminta passpor dan dilihat izin tinggalnya itu dah habis, bisa bahaya. Langsung saja, setelah dapat info tajdid untuk penerima JS yang lama. Dan katanya, dibuka pendaftaran baru juga untuk yang belum menerima. Ada jatah lima ratus orang pertama. Saran kawan-kawan-kawan lain agar aku dan irfan juga daftar. Lumayan tuh, kalau semua dapat JS, uang rumah agak berkurang, karena sembako udah ada. Akupun langsung hari ketiga setelah pengumuman itu, meluncur ke PPMI. Ini peluang, jangan sampai kelewatan kayak kemarin, pikirku. Tapi, anehnya kawanku yang satu itu. Irfan, sudah diajak berulang-ulang bahkan disarani sama yang lain, Cuman tetap aja gak mau daftar. Sebenarnya sih, bukan pertimbangannya kita banyak duitnya atau tidak, tapi memang kenyataannya kita yang disini tergolong ekonomi menengah kebawa pasti berguna musaadah seperti itu. makanya sayang kalau dilewatkan. Lumayan tiap bulan bebas sembako plus nambah uang saku. Dan akhirnya, seminggu setelahnya iya berangkat juga ke PPMI buat daftar JS. Waktu aku daftar hari ketiga, aku ada diurutan dua ratusan. Itu untuk yang cowok belum lagi yang cewek. Karena pendaftaran nya dipisah. Yang pasti untuk yang hari ketujuh waktu irfan daftar, nomornya sudah hampir lima ratusan. itu artinya, kalau nama-namanya turun, aku lebih dulu menerima dari Irfan. Bulan januari daftar, bulan februari turun nama. Ternyata namaku belum turun. Yang keterima banyakan cewek untuk seratus orang penerima. Baru bulan kedua namaku turun. Al hamdulillah, akhirnya dapat juga. Tapi tidak untuk irfan. Namanya gak ada. Ditunggu, bulan berikutnya, juga gak ada. Bulan berikutnya juga tidak. Lebih empat bulan juga belum ada tanda-tanda. Satu yang jadi kesimpulanku, ternyata memang rejeki juga harus disambut dan dijemput. Saya jadi teringat ceramahnya aagym. soal mencari rezeki, sama seperti anak bayi yang sedang lapar. Anak bayi, yang belum bisa apa-apa, ngomong tidak dan berjalan juga tidak tapi waktu ia lapar, ia bisa mendapatkan makanannya. Si bayi yang lapar tadi, jika berpikir kan ASI adalah rezekinya, terus diam aja. Padahal lapar, mungkin ia bisa lapar terus. Tapi kalau dipikir, si bayi belum bisa ngomong, untuk bilang lapar kepada ibunya, juga belum bisa jalan untuk nyamperin sang ibu. Tentukan sangat kerepotan kalau dia butuh makan. Tapi, ternyata tidak. Dia ingat ada potensi yang bisa digunakan. Yaitu teriakkannya. Otomatis, kalau si bayi teriak maka si ibu langsung datang dan memberinya ASI. Contoh kecil itu menandakan bahwa yang namanya rezeki harus dicari. Memang kata orang, kayak yang di bilang pak MZ, rezeki itu laksana bayangan. Didekati kadang lari, eh didiami malah datang sendiri. Aneh memang. Tapi itulah kenyataanya. Cuman bukan berarti cukup dengan duduk-duduk bisa dapat rezeki. Ya kalaupun ada, tapi itu hanya satu banding berapa. Dan itu tidak setiap hari. Kalau orang Cuma modal yakin terus tidak ada usaha, enak dong. Tidak perlu yang namanya kerja. Bahkan, kalau ada yang bilang cukup banyakin ibadah dan tawakal, terus rezeki ngalir, mungkin dulu rasul gak perlu dagang. Tapi nyatanya, beliau berusaha, berdagang dan menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk mencari rezeki yang halal. Nabi-nabi yang lain juga begitu. Mereka kerja, untuk keperluan hidupnya. Nabi adam AS misalnya, belia bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya. Nabi idris sebagai tukang jahit, nabi nabi nuh sebagai tukang kayu, nabi musa sebagai pengembala. Begitu juga salafuna ashalih yang ibadahya jauh lebih baik dari kita. Mereka bekerja untuk mendapatkan rezeki. Tidaklah karena keshalehan seseorang lantas Allah swt menurunkan sekarung emas dari langit untuknya. Sungguh, lebih mulia dimata Allah, seorang hamba yang membawa tali, memikul kapak kemudian melangkah ke hutan lalu mencari kayu, dan kayu itu di jual sehingga menghasilkan uang, itu lebih baik daripada mereka yang Cuma berpangku tangan mengharap hujan emas turun dari langit. Tidaklah benar,tawakal sebelum berusaha. Kalau ada yang bilang, rezeki adalah urusan Allah aku serahkannya semua kepadaNya. Tapi ia tidak bekerja, tidak berusaha untuk memperoleh rezeki tersebut, maka ini bukanlah tawakal melainkan pasrah. Dan wajar kalau ia tidak bisa memperoleh rezeki yang diinginkan. Karena miskin atau kaya seseorang adalah takdir. Dan dalam menyikapi takdir diperintahkah agar tidak melupakan sebab akibat. Ya, kalau mau kaya maka kerja. Sebalikna, orang yang tidak kerja maka mustahil akan kaya. Untuk sebuah jawaban yang pasti, adalah usaha. Bukan semata angan-angan sampai berujung menempuh jalan yang salah. Hanya dengan waktu singkat,maka apa yang diinginkn bisa didapat. Ini kebanyakan yang membuat orang buta dengan kebenaran. Sehingga kalau rezeki itu berupa harta, maka ia tidak segan untuk memakan harta orang lain dengan bathil. Wal hasil, yang timbul adalah persengketaan terhadap sesama. salam ukhuwah [email protected] http://madhan-syah.blogspot.com/ Rezeki, Tapi Bukan Rezeki oleh Azti Arlina Senin, 13/07/2009 Saat saya menulis ini, saya sedang di angkot 97 jurusan cibubur yang mengantar saya ke rumah belajar RUMBEL KITA. Kebetulan angkotnya masih ngetem,dan saya ambil tempat duduk depan tepat sebelah pak sopir. Selain untuk menghindar dari nyasar seperti yang biasa saya alami, duduk di depan juga bisa lebih leluasa melakukan hal-hal yang privasi. Seperti nguap dan ngulet contohnya,hehe. "maaf ya saya sambil makan pepaya" kata pak sopir di sebelah saya, ramah. "silahkan pak.. Santai saja" kata saya sambil membenarkan posisi duduk. Dan satu hal yang paling saya suka kalau duduk di samping pak sopir adalah kaca spion. Ya, akhirnya mata saya menuju kaca spion,dan melihat posisi jilbab saya dari kaca. dan saat itu juga saya menangkap wajah saya yang agak beda. "kok kelihatan agak tembem ya...??? " Maklum, berat badan saya stabil kurus, sehingga akan sangat terlihat jika ada perubahan pada wajah, apalgi jika terlihat gemuk, tentu itu akan buat saya girang bukan kepayang. Tapi akhirnya saya segera menyadari akan perubahan pada wajah saya ini,bukan karena gemuk. melainkan karena bengkak2 sakit gigi. Ya, udah 2 hari saya menahan sakit gigi, bahkan sampai demam, maka jelas saja pipi saya jadi bengkak. Sakit gigi versi yang ini beda dari biasanya, ini akibat separator yang di pasang dokter dibeberapa sela gigi saya, hingga akhirnya membuat ngilu seluruh gigi. Maka terhitung, sudah 2hari ini, saya baru makan 1/2 piring nasi. Ya, Tadi akhirnya saya ga kuat menahan lapar. Saya pun singgah ke warung soto yang paling saya doyan. Soto gebrak. Harganya lumayan tinggi, di tembok warung tersebut banyak foto2 artis yang pernah makan disana. "mau pesen apa mba??" Si pelayan datang menawarkan. "mas,, pesen soto setengah porsi bisa ga?? Gpp dagingnya sedikit aja, yang penting kuahnya" kata saya menawar. Tapi ternyata ga bisa. Semua menu harus di pesan satu porsi. Saya pun mengamati daftar menu. Intinya semua adalah menu soto yang ga bisa dikunyah oleh gigi saya. "kalo yang paling empuk soto apa mas..? "semua empuk kok.. Daging jg empuk" kata si abang promosi. Dan akhirnya pilihan saya jatuh pada soto ayam. Nyam..nyam..nyam.. Soto ayam begitu menggoda. Dengan pede saya lahap sesendok nasi dan sepotong ayam. Huaaaap!! Uwaa... Ternyata saya meringis. Ternyata gigi saya 'not supported' untuk mengunyah ayam. Tp apa daya, soto sudah terlanjur saya pesan. Akhirnya saya menuang hampir seluruh kuah di atas nasi,hanya kuah tanpa isi, dan menambahkan lauk dengan telor asin. sempurna, semua saya telan tanpa dikunyah. Ketika si pelayan memberikan billing, saya katakan padanya : "mas, soto di mangkok ini cuma saya makan kuahnya. Ayam yang ini belum saya sentuh. Silahkan kalau mas mau tambah kuah, dan dibungkus untuk dirumah". Pelayan itu cuma tersenyum heran. Alhamdulillah.. Hari itu saya bisa kenyang. diperjalanan tadi saya berfikir ; soto ayam tadi, ada di depan mata saya. sudah jadi milik saya. Tapi tidak bisa saya nikmati. Ya.. Ternyata sesuatu yang sudah milik kita itu bisa jadi bukan rezeki kita. Allah sudah mengaturnya dengan sangat adil :) sumber : Eramuslim (oase Iman) ------------------------------------------------------------------ - Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 - - Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com - Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga. (Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

