TARHIB RAMADHAN
oleh Ihsan Tandjung

Istilah Tarhib Ramadhan sudah menjadi akrab di hati ummat Islam Indonesia.
Setiap tahun menjelang datangnya bulan suci Ramadhan ummat menghadiri
kegiatan bernama Tarhib Ramadhan. Kata tarhib berasal dari akar kata yang
sama yang membentuk kata Marhaban. Sedangkan marhaban artinya selamat datang
atau welcome. Maka Tarhib Ramadhan berarti Selamat Datang Ramadhan atau
Welcome Ramadhan.
Seorang muslim perlu membangun sikap positif dalam menyambut kedatangan
bulan istimewa Ramadhan. Bahkan berdasarkan sebuah hadits Nabi Muhammad
shollallahu ’alaih wa sallam biasanya sejak dua bulan sebelum datang
Ramadhan sudah mengajukan doa kepada Allah ta’aala dalam rangka Tarhib
Ramadhan atau welcoming Ramadhan.
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي
رَمَضَانَ

Adalah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam apabila memasuki bulan
Rajab berdoa: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan
berkahilah kami di bulan Ramadhan.” (HR Ahmad 2228)
Rajab, Sya’ban dan Ramadhan merupakan bulan ketujuh, kedelapan dan
kesembilan dari sistem kalender Hijriyah Ummat Islam. Hadits di atas seolah
mengisyaratkan bahwa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam punya kebiasaan
menyambut kedatangan Ramadhan bahkan dua bulan sebelum ia tiba. Artinya,
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin menggambarkan betapa istimewanya
Ramadhan sehingga dua bulan sebelumnya sepatutnya seorang Muslim sudah mulai
mengkondisikan diri menyambut Ramadhan lewat do’a seperti di atas.
Mengapa Ramadhan dipandang sebagai bulan istimewa? Coba perhatikan beberapa
hadits di bawah ini:
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ
الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu katanya: Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka
pintu-pintu Syurga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan
dibelenggu.” (HR Muslim 1793)
Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata: “Ada kemungkinan yang dimaksud adalah
makna yang sebenarnya, dan yang demikian itu merupakan tanda bagi para
malaikat akan masuknya bulan Ramadhan, penghormatan terhadapnya serta
dicegahnya syetan untuk mengganggu kaum muslimin. Ada pula kemungkinan ini
merupakan isyarat akan banyaknya pahala serta pengampunan dan berkurangnya
gangguan syetan, sehingga mereka seperti orang-orang yang terbelenggu.”
Al-Qadhi Iyadh rahimahullah melanjutkan bahwa kemungkinan yang dimaksud
dengan ”pintu-pintu surga dibuka” adalah ungkapan bentuk-bentuk ketaatan
yang Allah ta’aala buka untuk hamba-hambaNya, dan yang demikian itu
merupakan sebab-sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Sedangkan yang
dimaksud dengan ”pintu-pintu neraka ditutup” adalah ungkapan akan
dipalingkannya keinginan untuk mengerjakan kemaksiatan yang menjerumuskan
pelakunya ke dalam neraka. Adapun kalimat ”syetan dibelenggu” merupakan
ungkapan ketidakmampuan mereka untuk membuat tipu daya dan menghiasi
syahwat.”
Jika demikian, mengapa kita masih melihat kejahatan dan maksiat di bulan
Ramadhan? Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan: ”…kemaksiatan itu disebabkan
oleh sejumlah faktor selain syetan: seperti jiwa yang buruk, kebiasaan tidak
baik dan syetan dari jenis manusia.”
Oleh karenanya, seberapa besar kebaikan akan diperoleh seseorang sangat
bergantung kepada bagaimana orang itu sendiri menyikapi dan menyambut
kedatangan Ramadhan. Bila ia sikapi dan sambut Ramadhan dengan suka cita,
insyaAllah Ramadhan akan menjadi pembuka rahmat Allah ta’aala dan pintu
surga baginya.
Namun sebaliknya bila ia masih saja tidak peduli dengan kesucian Ramadhan
maka jangan harap ia akan bisa memperoleh kebaikan darinya. Sangat mungkin
ia malah menjadi orang yang penuh kegusaran di bulan Ramadhan. Sebuah rasa
gusar yang menghasilkan penyesalan di saat api neraka sudah terlihat di
depan matanya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَوَّلُ
لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ
صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ
فَلَمْ يُفْتَحْ
مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ
وَيُنَادِي مُنَادٍ
يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ
عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Bila tiba malam pertama
bulan
Ramadhan para syaithan dibelenggu, maksudnya jin. Dan pintu-pintu neraka
ditutup dan tak satupun yang dibuka dan pintu-pintu surga dibuka dan tak
satupun yang ditutup. Lalu ada penyeru yang menyerukan: ”Wahai para pencari
kebaikan, sambutlah (songsonglah) dan wahai para pencari kejahatan, tolaklah
(hindarilah).” Dan Allah ta’aala memiliki perisai dari api neraka. Dan yang
demikian terjadi setiap malam.” (HR Tirmidzi 618)
Saudaraku, marilah kita memohon kepada Allah ta’aala agar memasukkan kita ke
dalam golongan para pencari kebaikan di dalam bulan Ramadhan, bahkan
sepanjang hayat. Marilah kita berdoa semoga Allah ta’aala jauhkan kita dari
masuk ke dalam golongan pencari kejahatan di bulan Ramadhan apalagi seumur
hidup. “Ya Allah, berkahilah kami dalam sisa bulan Sya’ban ini dan
berkahilah kami di bulan Ramadhan.” Amin, ya Rabb.-

Tarhib Ramadhan: Menjadi Lulusan Madrasah Ramadhan dengan Gelar M.Tq.*

Bulan Sya’ban telah hampir kita masuki. Dalam bulan-bulan
mulai bulan Rajab, pendahulu kita menganjurkan untuk melantunkan do’a:
“Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’bana wa balighna Ramadhana.”
Yang artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini,
dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”

 Dalam lafadz do’a di atas terdapat kata “berkahilah”. Apakah makna dari
 “berkah” itu? Berkah memiliki makna ziyadatul hasan atau ziyadatul khair,
 yaitu bertambahnya kebaikan. Sesuatu itu bisa disebut berkah manakala ada
 sebuah peningkatan atau bertambahnya kebaikan yang dikarenakan sesuatu
 itu. Misalnya seseorang memiliki keberkahan rizki, itu berarti rizki
 tersebut memberikan tambahan kebaikan bagi dirinya dan orang lain. Entah
 dengan rizki itu dia dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik, atau
 menunaikan hak orang-orang fakir dan miskin, dan seterusnya. Yang jelas
 ada nilai kebaikan dari sesuatu itu, yang tentunya kebaikan tidak hanya di
 dunia namun juga di akhirat.

 Kaitannya dengan bulan Rajab dan Sya’ban ini, kita memohon kepada Allah
 keberkahan agar ada suatu pertambahan kebaikan dalam diri kita. Sehingga
 nantinya juga siap dalam memasuki sebuah masa tarbiyah selama sebulan yang
 telah diprogramkan Allah secara rutin. Rasulullah saw. pun senantiasa
 mempersiapkan diri dalam menghadapi Ramadhan ini sejak Rajab, salah
 satunya dengan memperbanyak puasa. Dan kita, tentunya juga harus melakukan
persiapan-persiapan menuju sarana tarbiyah kita, Madrasah Ramadhan ini
sehingga nantinya kita dapat memperoleh hikmah Ramadhan.

      Kita berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah Ramadhan kami kali ini hamparan
taman bunga, tempat kami merasakan indahnya hidup bebas dari segala amarah
dan syahwat.”

      Ramadhan adalah bulan dimana kita hendaklah melepaskan diri dari
amarah dan syahwat. Karena sejatinya berpuasa dalam bulan Ramadhan adalah
menahan diri dari syahwat (keinginan) baik mulut, perut dan apa yang ada di
bawah perut, serta menahan diri dari amarah. Dua hal itulah yang senantiasa
membebani hidup manusia sehingga tidak dapat merasakan hakikat hidup.
      Ketika kita bisa membebaskan diri dari amarah dan syahwat, maka hidup
ini  akan terasa enak, nikmat, ringan dalam beramal dan berbuat kebaikan.
Nah,  hal itulah yang menjadi target kualifikasi dari para lulusan Madrasah
Ramadhan. Lalu, bagaimanakah persiapan kita agar dapat menjadi murid yang
baik di Madrasah Ramadhan?

      Spesifikasi Madrasah Ramadhan
      Program Madrasah Ramadhan dirancang untuk menghasilkan lulusan dengan
gelar M.Tq. (Manusia Taqwa atau Master of Taqwa juga boleh dech ^___^).
      Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 183
yang
      artinya:
      “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dalam ayat itu terdapat kata “la’alla”. Kata “la’alla” ini jika yang
mengucapkan manusia maka memiliki makna harapan. Jadi “la’allakum
tattaquun” berarti “semoga kamu bertaqwa”. Akan tetapi lain halnya jika
yang mengatakan “la’alla” adalah Allah, maka bukan bermakna harapan lagi
namun bermakna kepastian (insya’i). Sehingga “la’allakum tattaquun”
berarti “agar kamu bertaqwa”.

      Dari makna “la’alla” di atas dapat dipahami bahwasannya menjadi taqwa
itu  adalah kepastian, meraih gelar M.Tq. adalah sebuah keniscayaan. Namun
      tentu saja dengan syarat, telah memenuhi kualifikasi tertentu.
Sebagaimana
      kita ingin meraih gelar sarjana, tidak mungkin kita mencapainya tanpa
kita
      melaksanakan aturan-aturan sebagaimana yang ditetapkan, misalnya kita
      sering sekali mombolos kuliah, tidak mengerjakan tugas yang diberikan
      dosen, tidak mengikuti ujian dan sebagainya. Untuk meraih gelar M.Tq.
pun kita diharuskan memenuhi beberapa kualifikasi.

      Gelar M.Tq. akan dianugerahkan jika memenuhi kualifikasi berikut ini.
      a. Tawadhu’
      Kesadaran bahwa seluruh kelebihan dan keistimewaan yang ada pada diri
kita bukanlah alat untuk menyombongkan diri.

      b. Qana’ah
      Selalu menerima dengan lapang apa saja yang Allah karuniakan. Mendekap
suka maupun duka dengan kadar kemesraan yang sama.

      c. Wara’
      Menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah. Pada bulan
Ramadhan,
      yang halal saja (makan dan minum) ditahan apalagi yang haram.

      d. Yakin
      Bahwa sesuangguhnya musibah yang ditimpakan kepada diri, suatau saat
akan  sirna tenggelam di batas cakrawala kehidupan yang tunduk di hadapan
      Kehendak dan Keagungan Allah.

      Coba kita lihat dari empat produk dari puasa (natiijatush- shaum)
yakni
      tawadhu’, qana’ah, wara’ dan yakin, apabila ditulis huruf bahasa Arab
maka huruf pertama dari masing-masing kata tersebut adalah ta’, qaf, wawu
dan  ya’. Apabila huruf-huruf pertama itu disusun, maka akan terbentuk kata
      TAQWA. Inilah sebenarnya sesuatu yang akan dicapai dari ibadah puasa
itu.

      Mari kita kaitkan dengan empat hal yang PASTI akan terjadi dalam hidup
      kita, yakni:
      1. Kita membutuhkan sesama manusia
      Kita tidak bisa hidup sendiri. Coba kita ambil contoh salah satu
kebutuhan
      pokok kita yakni sandang, dan kita ajukan beberapa pertanyaan yang
      berkaitan dengan asal muasal sandang itu. Baju yang kita pakai itu
siapa
      yang membuat? Baju itu dibuat dari kain, nah siapa yang membuat kain?
Kain  itu dari benang-benang yang dirajut, lalu siapa yang merajut benang
itu?
      Benang itu dipintal dari kapas, lalu siapa yang memintal kapas itu?
Kapas
      itu diambil dari pohon kapas, lalu siapa yang menanamnya? Dalam
budidaya  tanaman kapas, dibutuhkan beberapa alat, juga pupuk, obat dal
lain-lain.
      Siapa saja yang membuat itu? Nah, jika dirunut ke asal-muasal suatu
barang       yang kita punya, maka mungkin dia melibatkan banyak sekali
manusia dalam       proses pembuatannya. Coba bayangkan jika kita hidup
sendirian.

      Kita membutuhkan orang lain, maka harus bisa diterima oleh orang lain.
      Agar bisa diterima oleh sesama manusia, maka membutuhkan sifat tawadhu
’       (rendah hati). Orang yang tawadhu’ akan disukai oleh orang lain,
berbeda       dengan orang yang angkuh dan sombong, biasanya dibenci orang
lain.

      2. Kita membutuhkan harta
      Bagaimana kita bisa hidup tanpa harta? Semua benda fisik yang kita
miliki
      sejatinya adalah harta. Namun, semua harta di dunia tidak harus
dimiliki
      manusia agar manusia merasa cukup. Banyak orang salah mengira bahwa
dia       akan puas manakala memiliki banyak harta seperti rumah mewah,
mobil berlimpah, simpanan di bank meruah-ruah, istri... ya nggak hanya satu
lah.
      Nyatanya banyaknya harta itu tidak membuat bahagia, karena tidak
pernah merasa cukup.

      Nah, manusia akan senantiasa merasa cukup manakala ada sifat qana’ah
dalam  dirinya. Orang yang qana’ah dapat menerima apa saja dan bagaimana
saja  keadaan dirinya. Setelah berusaha apa saja yang dia bisa, dia akan
      menyerahkan sisanya pada Allah dan menerima apa saja yang dikaruniakan
padanya dan mensyukurinya. Orang qana’ah ini akan hidup pas-pasan, pas ada
pas butuh, dan pas tidak ada pas tidak butuh. Karrena dia tidak mau
mengada-adakan yang tidak ada, dan berpikir pada apa saja yang ada.

      3. Kita membutuhkan Allah swt.
      Selaku makhluk kita tentunya sangat membutuhkan Allah swt. Dialah yang
      menciptakan kita, menjaga kita, memberi rizki pada kita, menolong
kita,
      mengabilkan do’a kita, memberikan yang kita ingini ... apa saja. Maka
mau  jadi apa kita kalau tidak membutuhkan Dia?

      Orang yang membutuhkan Allah hendaknya berusaha semaksimal mungkin
agar  dincintai Allah. Dengan dicintai Allah, maka semua harapannya akan
      terpenuhi. Agar dicintai Allah maka haruslah wara’ karena wara’ adalah
      salah satu wujud ketaatan pada-Nya.

      4. Kita membutuhkan ketenangan
      Ketenagan adalah hal yang kita dambakan. Itulah salah satu faktor yang
      akan membuat kita bahagia. Ketenangan hidup dicapai manakala manusia
      mempunyai keyakinan, bahwa apapun yang Allah berikan adalah demi
kebaikan dirinya. Meskipun Allah memberikan musibah, pastilah itu juga demi
      kebaikan manusia. Meski pula apa yang kita harapkan belum terkabulkan.
      Allah tahu apa yang terbaik bagi kita. Keyakinan seperti itulah yang
akan
      memberikan ketenangan pada diri manusia.

      Ramadhan adalah hamparan waktu yang dibentangkan Allah Ta’ala agar
kita  bisa menjadi tawadhu’, qana’ah, wara’ dan yakin. Maka hendaknya kita
tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk menjadi murid yang baik dalam
Madrasah Ramadhan dan akhirnya nanti lulus dengan spesifikasi tersebut.

      Ramadhan yang akan datang adalah bagai tamu agung, yang tentu harus
      disambut dengan sebaik-baiknya. Ada adab yang berlaku untuk menyambut
tamu  yang juga berlaku untuk menyambut tamu agung Ramadhan.
      1. Tidak membiarkan rumah kita seperti rumah hantu
      Suatu hari kita berkunjung ke rumah teman kita. Ternyata setelah
sampai ke sana, halaman rumahnya penuh dengan daun-daun kering tanda tidak
pernah  disapu. Saat masuk, ternyata sarang labah-labah memenuhi sela-sela
      ruangnya. Banyak juga penghuni rumah selain manusia, ada tokek, banyak
      nyamuk, berkeliaran tikus, kecoak. Belum lagi saja terlihat seperti
mau
      roboh. Coba, apa yang ada di benak kita sebagai tamu?

      Maka jangan biarkan ’rumah’ yang kita miliki seperti itu. Kita jadikan
      rumah yang berujud hati kita, bersih, indah lagi menawan. Maka untuk
      menyambut tama Ramadhan kita, hati kita hendaknya bebas dari segala
      kotoran, bersih dari segala penyakit hati.

      2. Tidak menjadikan rumah kita, rumah yang ’tertutup’
      Bagaimana tamu mau masuk ke rumah yang tertutup? Rumah yang tertutup
bisa  jadi akan memberikan kesan bahwa si empunya rumah tidak menerima tamu.
Sehingga yang ingin bertamu menjadi segan. Berbedadengan rumah yang
      senantiasa terbuka, maka kapanpun ada tamu pasti akan disambut.
Maka jadikan rumah itu rumah yang senantiasa terbuka. Ketika rumah itu ,
      yaitu hati yang mudah tersentuh dengan segala kebaikan dan kemuliaan.

      3. Tidak membiarkan rumah kita, rumah yang  gelap gulita
      Agak meragukan juga melihat rumah yang gelap gulita. Tamu akan ragu
apakah di dalamnya ada penghuninya ataukah tidak. Dan yang akan bertamu akan
segera berpikir, rumah itu sedang kosong sehingga mau tidak mau dia tidak
jadi bertamu di rumah itu.

      Untuk menyambut tamu kita, kita terangi rumah (hati) kita dengan
      penerangan terbaik. Dan penerangan terbaik adalah dengan cahaya ingat
mati  dan rindu akhirat. Tanda hati yang bertabur cahaya adalah:
      a. telah kembali ke kampung akhirat, yakni selalu membayangkan atau
      berangan-angan telah berada di akhirat (merasakan suasana surga).
      b. bersih dari segala tipu daya dunia
      c. selalu siap kapan pun kematian datang menyapa

      4. Kita sambut semua tamu yang datang dengan ’senyum’
      Senyum itu adalah rasa bahagia hati kita menyambut tamu Ramadhan.

      5. Kita suguhi tamu kita dengan suguhan terlezat dan minuman ternikmat
      Suguhan yang disukai oleh Ramadhan:
      a. tilawah Al-Qur’an
      b. shadaqah dan infaq
      c. memperbanyak shalat
      d. puasa dengan ihtisab (ikhlas)


      --)0(--



      * Materi ini disampaikan oleh Ust. Syatori Abdurrouf dalam kajian
rutin
      Kamis sore di PPMi Darush Shaalihat, pada 10 Juli 2008 (7 Rajab 1429
H). Dituliskan oleh Cahya Herwening dengan perubahan sesuai ingatan dan apa
yang ada dalam catatan, juga perubahan style penyampaian dan tambahan
      penjelasan sesuai kebutuhan ^_^.


------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Rasulullah SAW bersabda, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, 
seratus kurang satu. Barangsiapa memperhitungkannya dia masuk surga.
(Artinya, mengenalnya dan melaksanakan hak-hak nama-nama itu) (HR. Bukhari)

Kirim email ke