Kapasitas untuk Mendhaifkan Hadits
Jumat, 14 Agustus 2009 11:40
Pertanyaan

Assalamu'alaikum wr.wb, 

Sebelumnya ana berdoa semoga forum ini menjadi semakin exist karena kita semua 
umat Islam sering bingung dengan banyaknya pertentangan di antara sesama muslim 
sendiri.

Akhir-akhir ini banyak sekali ana melihat perbedaan pendapat di antara ulama 
kita sudah semakin melihat khususnya mengenai hadits dhoif.

Sebetulnya sampai sejauh mana kapasitas ulama sehingga bisa mendhoifkan hadits, 
seperti syaikh albani banyak mendhoifkan hadits tirmidzi. Karena menurut ana 
setiap ulama hadits sebelum menyusun kitab pasti melalui proses yang panjang 
dan istikharah terlebih dahulu. Padahal kalo menurut ana Imam yang empat, Imam 
Tirmidzi dan yang lainnya lebih dekat ke zaman para Shahabat dibandingkan 
syaikh Al-bani sebagai ulama mutaakhir

Abu Hafiz

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Syeikh Al-Albani memang punya kapasitas sebagai muhaddits, di mana beliau 
memang secara tekun dan selama bertahun-tahun melakukan penelitian dan 
penelusuran di dalam perpustakaan Damaskus.

Memang seringkali muncul keberatan dari sesama pakar hadits di masa sekarang 
ini atas kesimpulan beliau. Sebab bukan hanya hadits yang dishahihkan oleh 
At-Tirmizy saja yang pernah beliau dhaifkan, bahkan yang telah dishahihkan oleh 
Imam Al-Bukhari pun juga ada.

Barangkali inilah yang kemudian menimbulkan berbagai keberatan dari para pakar 
hadits di masa sekarang. Siapa sih seorang Al-Albani, kok berani-beraninya 
mendhaifkan hadits yang Al-Bukhari saja telah menshahihkan? Kira-kira begitulah 
pertanyaannya.

Apalagi kemudian Al-Albani sering dianggap melewati batas kapasitasnya. Seorang 
muhaddits perannya hanya sampai kepada kesimpulan tentang keshahihan suatu 
riwayat. Tidak punya kapasitas dan otoritas dalam menyimpulkanhukum. Namun 
seringkali beliau juga ikut berijtihad layaknya seorang ahli fiqih. Bahkan 
sering mengeluarkan statetmen bid'ah dan sejenisnya. Dan banyak lagi 
keberatan-keberatan yang diarahkan kepada beliau.

Ijtihad Al-Albani

Apa yang beliau simpulkan dari penelaahan tentunya menjadi sebuah ijtihad 
pribadi beliau. Kita tentu perlu menghormatinya meski boleh jadi kita tidak 
pernah diwajibkan untuk selalu terpaku kepada hasil ijtihad seseorang.

Maka kalau misalnya suatu ketika beliau mendhaifkan sebuah hadits yang pernah 
dishahihkan oleh ulama di masa lalu, kita harus ber-husnudzdzan kepada beliau.

Pertama, kita yakin bahwa beliau tidak melakukan pendhaifan karena hawa nafsu, 
riya' atau keinginan untuk sekedar menonjol-nonjolkan diri. Orang-orang yang 
mengenal beliau tahu persis bahwa beliau jauh dari sikap-sikap seperti itu.

Kedua, kita yakin bahwa beliau adalah seorang yang telah memiliki kapasitas 
yang cukup untuk boleh melakukan al-hukmu 'alal hadits. Maksudnya memberi 
status hukum atas suatu hadits. Lepas dari masalah level beliau yang pastinya 
lebih rendah dibandingkan dengan para muhaddits di masa lalu seperti 
Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmizy, Ibnu Hajar Al-Asqalani dan seterusnya.

Ketiga, kita juga percaya bahwa ijtihad yang dilakukan oleh seorang ulama 
tidaklah mengugurkan hasil ijtihad ulama lainnya, apabila keduanya tidak sama.

Ketika kita lebih cenderung memilih salah satu hasil ijtihad, kita tidak perlu 
membenci orang yang memilih hasil ijtihad yang lain. Apalagi harus sampai 
memusuhi, mencaci maki, menjelek-jelekkan atau mengumbar kalimat yang 
melecehkan.

Kita menghormati Syeikh Al-Albani dengan segala ilmunya, tidak sedikit hasil 
ijtihad beliau yang sangat membantu tsaqafah umat Islam. Tentunya kita harus 
jujur mengucapkan terima kasih kepada beliau atas semua ini. Semoga Allah SWT 
menerima semua amal beliau dan meninggikan derajat beliau di sisi-Nya.

Kalau pun suatu ketika seseorang tidak setuju dengan hasil ijtihad dan 
pandangan beliau, karena barangkali sudah ada hasil ijtihad yang lebih 
diyakininya, tentu tidak harus melahirkan rasa tidak suka dari para murid dan 
pengikut beliau.

Sayangnya sebagian dari kalangan yang merasa sebagai murid beliau terkadang 
agak over dalam bersikap. Seolah-olah Al-Albani adalah segalanya dan 
satu-satunya tolok ukur kebenaran. Sama sekali suci dari kesalahan dan 
kekhilafan. Siapa pun yang tidak sepaham dengan syeikh itu, dianggapnya sebagai 
ahli bid'ah, sesat dan calon penghuni neraka. Kalau perlu diboikot, tidakdisapa 
dan kalau bertemu harus buang muka. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 

Ahmad Sarwat, Lc

www.warnaislam.com


Kirim email ke