Mengapa Harus Mengawasi Dakwah?
August 24th, 2009 
Di bulan Ramadhan ini, Umat Islam mendapatkan 'hadiah' dari polisi, hadiahnya 
berupa 'diawasi'. Mengapa kegiatan dakwah harus diawasi? Adakah kegiatan para 
da'i di masjid-masjid, mushola-mushola, dan majelis taklim sudah menjadi 
ancaman terhadap negara? Apakah nilia-nilai Islam yang disampaikan oleh para 
da'i, mubaligh, dan kathib, sudah ada indikasi akan menimbulkan instabilitas 
dan bahaya yang sifatnya laten bagi negara?

Hal ini bersamaan dengan pernyataan Mabes Polri, 21 Agustus lalu, yang 
memerintahkan polisi di daerah meningkatkan upaya pencegahan terorisme, antara 
lain dengan mengawasi ceramah-ceramah keagamaan dan kegiatan dakwah. Jika dalam 
materi dakwah ditemukan ajakan bersifat provokatif dan melanggar hukum, Kadiv 
Humas Mabes Polri, Irjen Nanan Soekarna, mengatakan aparat akan mengambil 
langkah tegas.

Para da'i, mubaligh, dan kathib, selamanya yang disampaikan bersifat 
nilai-nilai, yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Prinsip nilai-nilai 
dalam Islam, yang akan menjadi missi kehidupan setiap muslim, tak lain 
menegakkan yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar. Dan, para pengemban dakwah 
(da'i, mubaligh, dan khatib), tidak akan keluar dari koridor itu.

Mereka akan berusaha menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam, agar setiap muslim, 
selalu komitment malaksanakan kehidupannya dengan menegakkan yang ma'ruf dan 
mencegah yang mungkar. Mengajak umat agar selalu bekerjasama dalam kebaikan dan 
taqwa (taawanu alal birri wattaqwa), dan tidak melakukan kerjasama untuk dosa 
dan permusuhan (wa laa taawanu alal ismi wal udwan). Esensi dakwah inilah yang 
akan selalu disampaikan oleh mereka. Karena, prinsip-prinsip inilah yang akan 
menjaga berlangsungnya kehidupan manusia.

Persoalannya,kebijakan polisi, yang ingin mengawasi dakwah ini, akan memberikan 
pembenaran, secara keseluruhan,bahwa para da'i, mubaligh, dan kathib terlibat 
dalam kegiatan-kegiatan yang dianggap membabayakan keamanan negara. Tentu, 
semuanya memerlukan bukti-bukti dan fakta-fakta,yang sifatnya transparan dan 
jujur, bukan semata-mata yang sifatnya insuniasi.

Karena, masalah dakwah yang dikaitkan dengan aktivitas terorisme itu, dampaknya 
akan menimbulkan disentregrasi antara umat Islam dengan pemerintah. Karena, 
fihak aparat pemerintah (polisi) telah menempatkan para da'i, mubaligh, dan 
khatib secara tidak langsung sebagai ancaman keamanan.

Tentu, yang paling penting, seharusnya pemerintah mencari akar lahirnya 
terorisme. Terorisme bukan hanya tiba-tiba muncul, tanpa ada yang 
melatarbelakanginya. Mengapa mereka sampai melakukan tindakan yang sifatnya 
eksesif (berlebihan), dan dianggap melawan kemanusiaan? Dan, sesungguhnya apa 
yang melatarbelakanginya, sampai mereka bertindak melakukan kegiatan terror?

Kalau disimpulkan, mereka yang melakukan kegiatan terorisme itu, hanyalah 
merespon atas kekejaman fihak lainnya,yang lebih kejam dan biadab. Seperti yang 
dilakukan oleh AS terhadap Iraq, Afghanistan, Pakistan, Palestina, Somalia, dan 
dengan menggunakan kekuatan militernya menghancurkan rakyat di negeri-negeri 
muslim, tanpa batas. Tapi, tidak ada satupun fihak yang mempersoalkannya, dan 
menanyakan atas dasar apa, sesungguhnya AS melakukan tindakan itu?

Sangat tidak sebanding dengan apa yang dilakukan para teroris dengan kejahatan 
yang dilakukan AS terhadap dunia Islam.Maka, seharusnya yang harus dihilangkan, 
sumber munculnya terorisme itu, dan tak lain harus ada langkah-langkah 
menghentikan tindakan AS yang sifatnya unilateral (sepihak) melakukan kampanye 
perang melawan terorisme. Karena, tindakan AS itulah yang akan terus menerus 
menimbulkan bencana bagi kemanusiaan.

Semuanya kejahatan AS itu, dapat dilihat secara telanjang. Tapi, anehnya semua 
tindakan yang dilalukan AS itu sebagai tindakan yang syah dan benar. "Kami 
semua akan menjadi Taliban, kalau AS terus membunuhi rakyat Afghanistan", ucap 
seorang penduduk di Helmand.

Klaim yang menghancurkan gedung WTC, pada tanggal 11 September 2001, sampai 
sekarang tidak dapat dibuktikan, bahwa itu tindakan teroris, yang didalangi 
Osama bin Laden. Semuanya, hanyalah asumsi dan stigma yang sudah ditempelkan 
kepada mereka yang dicap sebagai teroris, tapi tidak pernah dibuktikan dengan 
fakta-fakta,yang nyata dan dapat diuji kebenaran. Tapi, umat Islam sudah 
menjadi korban kampanye melalui media, sebagai teroris. Maka, hakekatnya yang 
sekarang dikumandangkan oleh Barat (AS), yang disebut, 'War on Terorism' itu, 
tak lain adalah 'War on Islam'.

Islam, hakekatnya agama yang memberikan rahmat bagi sekalian alam. Tapi, tentu 
Islam sebagai prinsip dan nilai-nilai yang disyariatkan oleh Allah Ta'ala, 
tidak akan pernah membiarkan kemungkaran itu menguasai kehidupan umat.

Mereka yang masih ingin melaksanakan misi kehidupannya dengan Al-Qur'an dan 
As-Sunnah akan selalu berusaha menegakkan misi yang dipikulnya, yaitu 
menegakkan yang ma'ruf dan mencegah segala yang mungkar, karena itu berlawanan 
dengan nilai-nilai Islam. Wallahu'alam. (em)

http://mediaislam.myblogrepublika.com/mengapa-harus-mengawasi-dakwah/

Kirim email ke